SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
THE BABIES


__ADS_3

Kelakuan bayi memang jadi magnet tersendiri bagi semua orang. Terutama adanya Arshaka Dougher Young, bayi sepuluh bulan yang sangat bossy dan menggemaskan semua bayi menurut tingkah bayi itu. Bahkan tak jarang para kakak ikut serta dalam berbuat kekonyolan.


"Babies," keluh Widya pada semua anak yang tak berhenti mengerjai para pengawal dengan semua ulah mereka.


"Baby Harun, kamu sebagai kakak tolong diatur dong adik-adiknya!" pinta Widya pada Harun.


"Mommy, meuleta sepanat imi badhaipana Alun pilanina?" tanya Harun sampai menghela napas besar.


"Minta bantuan yang lain dong. Kan ada Azha, Bariana, Arraya dan Arion," sahut Widya.


"Oh Mommy, plis!' geleng Arraya.


"Pita bunya teusibutan peundili!" lanjutnya mendebat.


"Sibuk apa sih Baby?" tanya Luisa begitu geregetan.


"Mama, pita inin pisa pahasa wowan pewasa. Sadhi sepisa muntin pita mensoba pahasa wowan pewasa!' jawab Arion yang diangguki semua saudara seumurannya.


"Kalian baru empat tahun beberapa bulan lagi. Memangnya biar apa bisa bicara seperti orang dewasa?" tanya Leni kini.


"Nenet, pita bawu setolah. Basa pita pate pahasa beulanet pita peundili!" jawab Bariana sambil memutar mata malas.


"Oh astaga ... kenapa kalian mau besar sih!" sahut Beni gemas. Sriani juga gemas melihat semua cucunya, ia sedikit menyesal tidak dari dulu tinggal bersama.


"Nenet, talo pita teusil teyus. Pita eundat patalan sadhi wowan bintel!" sahut Azha kini.


"Alun bawu dantiin Daddy sadhi pesunaha!' ujar Harun.


"Peunusaha Alun!" ralat Bariana.


"Ya, matsudna ipu!" sahut Harun.


Semua orang tua tersenyum. Waktu memang tidak bisa ditahan atau ditunggu. Waktu akan terus berputar, hingga akhirnya mereka pergi meninggalkan semuanya.


Bart datang dan langsung minta sarapan. Pria itu tadi bangun kesiangan. Semua anaknya sudah pergi ke sekolah.


'Yuyut, pa'a yuyut pulu itut peulan?" tanya Ari yang tak dimengerti Bart.


"Apa katanya?"


"Apa Grandpa dulu ikut perang?" jawab Layla yang mengerti bahasa Ari.


"Oh, aku usia sepuluh tahun Eropa sudah merdeka. Jadi aku tidak ikut perang," jawab Bart.


"Peulalti Yuyut putan bahwawan don!" ujar Arraya yakin.


"Apa?" Bart kesal dengan ucapan Arraya.


"Biya, talena hanya teuntala yan pisa pipilan pahalwan ... eh palahwan nedala!" angguk Bariana membenarkan.


"Kalian!" geram Bart kesal.


"Bukan begitu sayang," kekeh Beni tertawa melihat Bart yang kesal.


"Seorang pahlawan bukan hanya tentara. Tapi, orang bayar pajak, tidak buang sampah sembarangan. Menaati peraturan pemerintah. Itu juga disebut pahlawan," jelasnya yang membuat Bart tenang.


"Jadi tidak melulu orang angkat senjata dipanggil sebagai pahlawan," lanjutnya.

__ADS_1


"Oh beudithu teulnyata!" angguk Harun, Bariana, Arraya, Arion dan Azha mengerti.


"Oh pita halus sadhi bahlawan sesunduhna!" ajak Harun semangat.


"Atuh setusuh!" sahut Bariana juga semangat.


"Peultama yan halus pita latutan atalah janan puan pampah seumpalanan!" ujar Arraya.


"Talo beudithu pita sali pampah yut pantauin Baby Della!' ajak Harun.


Della yang memang perhatian semua saudaranya, terkejut dengan semua kakak yang tiba-tiba bergerak membantunya.


"Baby ... pita pantuin ya," ujar Harun lembut.


"Matasyih Ata'!' ujar bayi cantik itu.


Mereka membantu Della memunguti mainan kecil yang berserakan. Bart dan lainnya senang melihatnya.


"Wah imi pa'a?" tanya Arraya ketika melihat paku halus.


"Sini Baby," pinta Sriani.


"Kok ada paku di sini sih?" tanyanya.


"Dari kemarin nggak habis-habisnya paku ditemukan bayi!" lanjutnya heran.


Terra cukup shock mendengarnya. Orang keluar masuk dalam rumah. Kemungkinan paku tersebut terbawa oleh pengawal atau pelayan.


"Ini sudah berapa kali dibersihkan Terra!' peringat Bart.


"Benda ini bisa saja tanpa sengaja terbawa dari sepatu kita yang tak pernah kita lepas dari luar,'' jelas Bart.


"Tapi kalo mereka di dalam, mereka jadi tidak belajar Grandpa," ujar Layla.


"Biar mereka di luar. Tugas kita yang memberitahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang berbahaya dan mana yang tidak," lanjutnya.


"Mumih!' pekik Arsh. "Alsh apan!"


"Baby, tadi kamu kan udah makan biskuit," ujar Mia gemas.


"Netnet ... pasih apan Alshna!" ujar bayi tampan itu sedih.


"Jangan khawatir sayang. Ini camilannya udah jadi. Sekarang cuci tangan dulu ya!" suruh Rahma.


Putranya meminta gendong pada Terra. Wanita itu tentu tak keberatan membantu semua bayi untuk cuci tangan.


Anak-anak pun pulang dari sekolah. Semua bercerita bagaimana tadi di sekolah mereka.


"Mommy, tadi Kak Ella nampar temen cewenya loh!" adu Bastian.


"Baby?" Widya tidak suka mendengarnya.


"Habis dua ngatain aku Mom!" sahut Ella membela diri.


"Nggak perlu pake nampar Ella. Mommy kan sudah bilang. Kalau perkataan yang tidak baik itu acuhkan saja," terang Widya menasehati.


"Mom dia ngatain aku jadi sugar baby!' teriak Ella.

__ADS_1


"Apa?!"


"Duh Kak, masa dikatain anak gula nggak mau sih?" celetuk Sky.


"Gula kan manis," lanjutnya polos.


"Sugar baby bukan anak gula Baby," ujar Ella.


Terra panik, wanita itu tidak ingin semua anak tau masalah dewasa. Di sana banyak anak bayi yang begitu antusias menelan kata-kata yang keluar dari mulut kakak-kakaknya.


"Baby!" peringat Terra.


Ella baru saja hendak menjawab arti sebenarnya jadi berhenti. Terra melirik semua bayi yang menunggu jawaban kakaknya.


"Mama Ella kan bukan sugar baby," keluh Ella.


"Iya sayang, kamu bukan sugar baby," jawab Terra lemah.


"Pastina butan. Basa Ata' pipamain pama dula!" sungut Arion tak terima.


"Talo Ata' dula banti babis dimatan peumut!" sahut El Bara.


"Biya, meuleta sanat podoh!' ujar Al Bara.


"Baby dari mana kata tadi?" tanya Bart lalu melirik Terra. Pria itu tak mau disalahkan.


"Meman podoh pa'a Yuyut?" tanya Ari dengan mata bulat.


"Bodoh itu perkataan tidak baik. Jadi kalian tidak boleh berkata seperti itu ya!" jelas Terra pada semua bayi dan melirik sebal pada kakeknya.


Pembahasan para bayi selesai. Mereka semua tidur siang setelah makan. Begitu juga orang dewasa. Luisa akhir-akhir ini cepat sekali lelah.


"Aku nggak sedang hamil kan?" wanita itu menggeleng pelan.


Ia sudah lima puluh tahun. Tentu tidak mungkin ia punya anak lagi. Ia juga sudah tidak lagi mendapat siklus setengah tahun yang lalu.


"Kenapa Jeng?" tanya Terra pada besannya. "Kok pucat?"


"Akhir-akhir ini aku cepat lelah. Kenapa ya?" tanya Luisa.


"Hamil kali!" tuduh Terra yang membuat Luisa kesal dengan itu.


"Loh siapa tau?" sahut Terra tak mau disalahkan.


"Aku menantikan cucu dari menantuku. Masa iya aku yang hamil!" ujar Luisa kesal.


"Jangan menolak rencana Allah, Jeng. Nai bisa kok punya adik ipar bayi," angguk Terra tak masalah.


"Nggak! Aku nggak mungkin hamil. Aku hanya kecapean saja!" tekan Luisa tak percaya.


"Ya, mudah-mudahan saja ya. Tapi kalo iya, alhamdulilah!' ujar Terra menenangkan Luisa yang mendadak panik sendiri.


Bersambung.


Hai Readers ba bowu 😍😍


next?

__ADS_1


__ADS_2