SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH PERISTIWA


__ADS_3

Dinar yang masih menciumi tiga bayi cantik dan tampan itu. Wanita itu menatap para perusuh yang meminta Azizah membacakan cerita. Dinar jadi mengingat ketika ia menikah enam bulan lalu.


Sehari sebelum menikah, istri dari Dominic sempat mengacau. Dinar tau karena Lidya yang menceritakannya. Perempuan itu memaki Dominic dan mengatainya peselingkuh.


"Kau yang selingkuh!" pekik Dominic nyaris membanting ponselnya.


"Pa blok saja nomor perempuan itu!' sahut Demian kesal.


"Dia yang lari dan memilih cinta pertamanya, kukira aku tak tau!' sahutnya lagi.


Lidya sampai menenangkan keduanya. Bahkan Jac ikut diteror oleh Ibu dari atasannya itu.


"Tuan, Nyonya Sarah Huge meneror saya!' adu Jac.


"Berengsek!" maki Dominic.


"Daddy!" tegur Lidya.


"Maaf sayang!" ujar Dominic.


Dinar tersadar ketika mendengar jeritan Aaima yang histeris karena digelitiki oleh Safitri. Wanita itu tersenyum, kembali mengingat kisah ketika hendak menikah waktu itu.


"Nyonya minta nona Aurora dijadikan manager salah satu anak perusahaan kita di Eropa," lanjut Jac.


"Perempuan itu benar-benar sialan!' maki Dominic.


"Ayah!" pekik Aaima mengagetkan Dinar.


Lamunan wanita itu buyar seketika. Ia melihat Aaima digelitiki oleh Herman hingga tergelak. Wanita itu pun tersenyum. Dominic yang melihat istrinya melamun datang mendekat.


"Sayang," panggilnya.


Dinar menoleh dan memberikan senyum indahnya. Wanita itu menatap pria tampan yang kini menjadi suaminya.


"Apa yang kau lamunkan? Dari tadi aku melihatmu melamun," tanya Dominic.


Pria itu memeluk istrinya, Dinar masih malu jika suaminya berlaku mesra di tempat umum.


"Mas," cicitnya malu.


"Tidak masalah sayang," ujar Dominic.


"Tadi aku melamun saat kita hendak menikah enam bulan lalu," jawab Dinar.


"Ya, pernikahan sangat sederhana. Para kolegaku sampai protes karena tak bisa hadir," ujar Dominic mengingat.


"Maaf," cicit Dinar lagi.


"Enam bulan sudah berlalu sayang, apa kau masih tak percaya jika aku sekarang suamimu?"


"Aku percaya sayang," jawab Dinar.


"Sayang, Sarah meninggalkanku ketika Demian masih berusia sembilan tahun. Wanita itu lari dengan cinta pertamanya, bahkan ketika Demian menikah, Sarah lebih mementingkan keluarga pilihannya,"


Dinar bukan tidak tau, wanita itu sudah diceritakan semua masalah putra sambung dengan ibu kandungnya.


"Jika memang seburuk-buruknya seorang ibu, maka Sarah adalah ibu terburuk yang pernah ada," lanjut pria itu.


"Sayang, sudahlah. Aku juga menyesal mendengar kata-katanya," ujar Dinar sedikit kecewa pada diri sendiri.


Sarah menelepon Jac, berpura-pura ingin mengucap selamat. Jac yang polos langsung mengaktifkan pengeras suaranya.

__ADS_1


"Hei kau wanita yang diperistri Dominic, ingat. Pria itu menikahimu agar lepas dari bayang-bayangku. Seumur hidupnya tak akan mencintaimu, kau hanyalah pelarian!"


Begitu kata-kata Sarah. Beruntung perempuan itu menggunakan bahasa Inggris. Tapi, hal itu membuat Dominic malu bukan main. Jac langsung meminta maaf karena tak mengetahui maksud busuk mantan nyonya sekaligus mantan ibu asuhnya itu.


Acara aqiqah selesai, semua pulang ke hunian mereka masing-masing. Virgou seperti berat melepas gendongannya pada Aaliyah. Ia menciumi wajah bayi cantik itu hingga merengek.


"Daddy!" peringat Azha galak.


Virgou gemas dan akan mencium pipi gembul batita itu.


"Daddy janan sium-sium Aaliyah, pipina pisa pemble!' larangnya.


Akhirnya bayi itu bisa tidur dengan nyenyak. Gomesh mengundang acara selamatan anak kembar sepasang miliknya besok sore.


"Hanya acara makan-makan bersama saja Tuan," ujarnya.


"Saya sudah membaptis Fael dan Angel kemarin," jawabnya.


"Lalu kebaktiannya?" tanya Bart.


"Setelah dibaptis kemarin sudah Tuan, tak lama hanya memberi pemberkatan bagi bayi yang lahir,"


Bart mengangguk begitu juga yang lainnya. Maria sudah dimintai memasak banyak kue oleh para perusuh.


"Mommy ... pototna pesot halus ada tue yan panat ya!" ujar Harun memperingati.


"Iya Baby," jawab Maria terkekeh.


"Bom, mau nginep di rumah nggak?" ajak Sky.


"Nggak ah, mau bantuin Mommy jaga Babies," tolak Bomesh.


Sky mengangguk tanda mengerti. Mereka pun akhirnya memisahkan diri karena pulang ke rumah masing-masing.


"Byul ... pandi pate pabun ... pial wani pial halum ... latsana buna peulati yan butih peulsih!"


Jac terkekeh mendengar lagu putrinya. Tak lama Septian datang, pria itu belum juga mendapatkan kekasih baru setelah dua tahun gagal nikahnya.


"Baby, Ayah Tian datang nih!"


"Sebentar Papa!" sahut Putri.


"Kau masih betah aja jomblo, apa belum move on?" ledek Jac bertanya.


"Ck ... apaan sih Mas!" dumal Septian kesal.


Pria itu datang ke mari atas perintah ibunya untuk mengambil Aaima dan juga kakak berserta Kakak iparnya.


"Mama sama Bapak kangen, minta kalian nginep," ujar Septian memberitahu.


"Sayang, Mama sama Bapak minta kita nginep," ujar Jac mengulang.


"Iya, Mas. Bisa minta tolong bantuin nggak?" ujar Putri.


Baju wanita itu basah semua berkat perbuatan putrinya. Septian mengambil alih, ia akan memasangkan popok dan memberikan minyak telon dan bedak ke tubuh keponakannya itu.


Sementara di tempat lain. Lidya sangat santai dengan semua anak-anaknya. Al dan El Bara itu lebih suka berada di tangan nenek baru mereka.


"Sayang, kasihan Bibu udah cape," ujar Demian.


"Ih ... tuh Al dan El yang nggak mau di tangan Iya," prosesnya.

__ADS_1


"Mama ... Mama ... Al Pala bawu matan!" pekik bayi satu tahun dua hari lagi itu.


"Baby makan buah dulu yuk!" ajak Demian.


"Eundat pawu Papa ... pawu matan masi lama yayam dolen!" ujar Al lagi.


"Baby ini masih terlalu sore buat makan berat!' larang Lidya.


"Net ... Mama eundat poleh pita s


matan!'' adunya.


"Iya!' tegur Dinar.


"Nanti ada waktunya baby," Lidya memberi pengertian pada bayinya yang suka makan itu..


"Makan ini yuk," tawar Dinar.


Dua buah kue sus masuk dalam mulut mungil Al dan El Bara. Tiba-tiba.


"Huueek!"


Semua panik dan meminta wanita itu beristirahat. Lidya langsung mengambil alih dua putranya.


"Bibu terlalu lelah," ujar Lidya meminta maaf.


"Tidak apa-apa, sayang," ujar Dinar menenangkan menantunya.


Sementara itu Rion tengah pergi ke toko buku. Pemuda itu sedang mencari buku sebagai hadiah untuk ulang tahun Rasya dan Rasyid juga Dewa dan Dewi.


Tak sengaja ia menyenggol seseorang hingga buku yang ada di tangan orang itu jatuh semua.


"Sampeyan mboten nopo-nopo Nduk?" sahut pria mendekati anaknya.


Sepasang mata hijau menatap netra coklat terang milik Rion. Pemuda itu langsung mengenali siapa gadis itu.


"Sahira?" gumamnya pelan.


"Sahira mboten nopo-nopo, Pak," sahut gadis itu lembut.


Rion tersenyum mendengarnya. Pemuda itu buru-buru minta maaf dan membantu sang gadis dengan buku-buku yang jatuh tadi.


"Maaf ya,"


Pemilik manik hijau itu mengangguk. Ternyata ia lupa dengan pemuda yang ada di depannya.


"Kita pernah bertemu?" tanyanya masih penasaran.


"Ya, di sebuah perkebunan milik Tuan Starlight," jawab Rion antusias.


Sementara itu di tempat lain. Seorang pria tampan turun dari pesawat jet pribadi milik Darren. Pria kebangsaan Jepang.


"Selamat datang Tuan Rurouni Kenshin!' sambut Iskandar ketika menjemputnya.


"Terima kasih Tuan Iskandar!" sahut pria tampan itu.


"Azizah ... aku datang," gumam pria tampan itu dalam hati.


bersambung.


oh ... eh ...

__ADS_1


next?


__ADS_2