SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HEBOH


__ADS_3

"Halo ladhi ... dud fifnin!" seru Harun di depan mik.


Semua anak sudah bergoyang pinggul di atas panggung. Kean menjadi DJ dan pemain keyboard. Remaja itu juga bergoyang asik. Remario sangat terkejut dengan suasana yang mendadak heboh di bawah panggung. Beberapa pebisnis yang tau bagaimana suasana pesta tentu sangat antusias dengan apa yang ditampilkan para perusuh dari seluruh keluarga besar itu.


"Pita dandutan!" pekik Harun ikut bergoyang pinggul.


"Yan ... yan ... yan ... dipoyan-poyan yan ... dut ... dut ... dut yot pita peuldandut ... yan didoyan, didoyan yan ....!"


"Dandut ... set aset ... dandut!" seru Harun lagi. "Sel ... poha!"


"Uma jodet Uma!" ajak Maryam.


Saf pun menyawer anak-anak dengan uang dua puluh ribuan. Semua langsung bergoyang heboh melihat uang yang diberikan.


"Sel poha!" seru Arsh ikut bergoyang.


Bayi sembilan bulan itu menggoyang bokongnya. Semua tertawa melihat tingkah lucu para bayi. Luisa tertegun, ia tak menyangka jika orang sekaya Dougher Young berjoget dangdut di sana. Nai dan Arimbi mendekati panggung dan ikut berjoget.


"Itu lah mereka Mom," bisik Langit pada ibunya. "Seru kan?"


Luisa mengangguk, selama ini, ia hidup dengan hedon sosialita. Ia harus bergaya jet set dengan baju bermerek dan perhiasan mahal. Ia tak melihat satu perhiasan pun yang menempel di tubuh Nai.


"Mungkin karena ia berkerudung. Tapi beberapa anak perempuan di sana juga hanya memakai anting sederhana," gumam Luisa.


"Istri dari Tuan muda Rion juga tak pakai, Mom. Hanya cincin kawin saja," sahut Langit.


Luisa mengangguk, ia menjadi malu sendiri, bahkan beberapa istri pebisnis juga berpenampilan sederhana walau gaun yang mereka pakai adalah branded ternama.


"Daddy doyan Daddy!" seru Bariana bergoyang bahunya.


Virgou, Frans dan Leon ikut-ikutan joged di sana. Haidar tak mau kalah, Demian, Jac juga Budiman turut serta bergoyang.


Semua heboh hingga tiba-tiba, Najwa meringis sampai ia terduduk di lantai.


"Nini!" pekik Kaila dan Dewi.


Musik berhenti, Saf, Arimbi dan Nai langsung mendatangi Najwa. Saf wanita paling kuat. Ia dengan santai menggendong nenek sambung suaminya dan membawanya ke kamar. Pesta dilanjutkan dengan yang lain keluarga sebagian menenangkan para tamu, Haidar, Frans Darren, Demian dan Jac kembali melanjutkan acara.


Panggung sepi, para perusuh tak mau tampil setelah melihat nini mereka kesakitan.


Di ruang lain, Saf bisa merasakan rembesan air dari bawah Najwa.


"Nini pecah ketuban," ujarnya.


"Nai akan siapkan semua peralatan!"


Arimbi melapis kasur dengan alas perlak berukuran besar. Safitri membantu Najwa mengganti baju dan membuka semua **********.


"Udah bukaan delapan!" seru Arimbi ketika memeriksa mulut rahim Najwa.


"Nini, tidak mungkin kami melakukan Cesar, mulut rahim sudah terbuka bahkan air ketuban sudah pecah. Jadi Saf akan mencoba metode tekan agar bayi lahir ya!" jelas Safitri.

__ADS_1


"Hmmm!"


Najwa tak bisa lagi berkata-kata, mukanya pucat peluh sudah membanjiri tubuhnya. Perutnya terasa melilit sedangkan mulut rahimnya sudah panas. Leon ada di luar kamar, Bart menenangkan putranya.


"Ketika David lahir, Patricia melahirkan secara Caesar begitu juga Gisel. Ini dua bayi sekaligus!"


"Tenanglah, Najwa istrimu adalah wanita kuat!" tenang Bart.


Kini keduanya memilih menunggu di kamar lain. Para perusuh di sana bersama Rion, Azizah, Seruni dan lainnya.


"Mana Satrio?" tanya Bart.


"Ada sama Ayah," jawab Seruni.


Di tempat lain. Satrio menemani Herman dan Khasya, mereka membeli beberapa kebutuhan untuk bayi yang akan lahir. Di cottage juga ada toko kecil dengan berbagai keperluan dasar, seperti pembalut dan lainnya.


"Yah ... ini apa rasa pisang?" tanya Satrio sambil memegang kotak bertuliskan Sutra.


"Ini alat pembungkus Baby," jawab Herman sedikit kesal.


Pria itu mengambil benda khusus orang dewasa itu pada tempatnya. Satrio merasa penasaran, ia benar-benar tidak tau benda pembungkus apa itu.


"Ada pembungkus dengan banyak rasa?" tanyanya bergumam.


Remaja itu mengangguk, ia akan membawa semua saudaranya dan memperlihatkan benda itu. Herman, Khasya kembali ke kamar di mana Najwa tengah berjuang melahirkan bayi-bayinya. Lastri begitu khawatir, dua putrinya tampak terlelap di boks mereka.


"Kean," panggil Satrio.


"Apa?" sahut Kean.


Kean menarik saudara kembarnya, Calvin. Lalu Sean, Daud dan Al ikut serta. Hanya Affhan, Dimas dan Dewa saja yang tak diajak. Satrio menilai mereka masih terlalu kecil.


Satrio membawa semuanya ke toko kecil itu lagi dan menunjuk sebuah kotak bertuliskan Fiesta dengan berbagai varian rasa.


"Kalian tau ini apa?" semua menggeleng.


"Nggak ... aku nggak tau?" seru mereka dengan muka bingung sekaligus penasaran.


"Kata Ayah ini adalah alat pembungkus," sahut Satrio.


"Alat bungkus apa?" tanya Sean. "Kok ada rasanya?"


"Eh ... ini ada yang berduri!" seru Al melihat satu kotak dengan bentuk duri-duri.


"Ada petunjuknya nggak?" Satrio membalik bungkus dan menyipitkan mata.


"Alat khusus dewasa, untuk menambah kenikmatan hubungan anda?"


Semua saling menatap dengan polos. Sedang penjaga kasir tampak senyum-senyum sendiri.


"Beli Sat!" seru Kean begitu penasaran.

__ADS_1


"Beli satu aja?"


"Beli semua!" Sean mengambil semua kotak kecil itu dan menyerahkan di kasir.


Mereka keluar dari toko itu dan memilih duduk di teras cottage. Kean begitu penasaran segera membuka kotak.


"Eh ... dikemas kek gini?!" tunjuknya.


"Buka-buka!" seru semuanya makin penasaran.


Kean membukanya, lalu menarik benda tersebut. Semua menatap bingung dengan bentuk yang dipegang oleh saudara mereka.


"Apa ini?" Kean menariknya keras hingga melar.


"Balon!" seru Al tercerahkan.


"Balon dengan ada rasa pisang, anggur!" lanjutnya.


Kean meniup benda itu hingga menggelembung. Daud mengerutkan keningnya, ia seperti pernah melihat benda itu. Tapi lupa.


Budiman dan Gomesh kehilangan para tuan muda dan mulai mencari mereka. Semua tempat didatangi bahkan para pengawal juga tak tau keberadaan tuan muda mereka.


"Langit di mana Tuan muda?" tanya Budiman..


"Saya melihat Tuan muda keluar Ketua!" jawab Langit.


"Ketua, Tuan muda ada di teras cottage!" lapor salah satu pengawal.


Budiman dan Gomesh ke teras, mereka menemukan enam remaja laki-laki ada di sana memegang sesuatu, bahkan mereka seperti berlomba meniup benda tersebut.


"Astaga ... kok susah ya?" keluh Al.


"Balon apaan sih nih? Kok kemasannya kek gini amat!" lanjutnya kesal.


"Mungkin karena ada varian rasanya jadi dikemas berbeda," jawab Sean sambil berusaha menggelembungkan alat pembungkus itu.


"Kalau ini emang balon. Kok Ayah bilang alat pembungkus sih?" tanya Satrio.


"Eh ... denger nih ... gue kempesin!" seru Kean melebarkan pangkal benda tersebut.


"Tuuuuiiiittt!" semua tentu terbahak mendengarnya.


"Eh ... punya Lu coba!" perintah Kean pada Al.


Al melakukan hal yang sama. Bunyi berbeda terdengar. Tambah riuh tawa mereka.


Budiman dan Gomesh saling pandang. Mereka sangat mengenal dengan benda yang dipegang oleh tuan muda mereka.


"Kita kasih tau nggak?" bisik Gomesh.


"Nggak usah ... biarin aja," jawab Budiman ikutan berbisik.

__ADS_1


Bersambung.


ET dah ... perusuh senior 🤭🤦


__ADS_2