SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HAPPY STORY


__ADS_3

Anak-anak sekolah masih libur satu minggu lagi. Mereka benar-benar istirahat total setelah perjalanan pulang kemarin.


Azizah berencana untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Ia ingin mengurus adik-adiknya dan melakukan program hamil.


"Jangan dulu resign Zah," pinta Rommy.


"Kami masih butuh kamu," lanjutnya.


"Banyak pengembang data di berbagai perusahaan. Mereka ingin sekali chip pengamanan data lebih diperbarui," jelas Rommy.


Azizah melihat kakak iparnya. Darren memang masih butuh otak adik iparnya karena banyaknya pengusaha yang meminta chip pengamanan data.


"Tuan ada yang mencoba masuk gerbang data dan berhasil mengelabui anjing cyber!" lapor salah satu tenaga IT.


Azizah langsung bergegas menuju panelnya. Wanita itu melihat bagaimana data asing masuk dan mampu mengelabui anjing cyber ciptaannya.


Semua melihat langsung bagaimana Azizah membereskan penyusup itu hanya dalam hitungan jari. Darren melihat kembali ibunya ketika di depan komputer.


"Apa ini perlu diungkap?" tanya Azizah.


"Apa ketahuan?" tanya Darren.


Azizah menggerakkan jarinya cepat di atas keyboard. Tak ada yang tau apa yang disentuh wanita itu karena begitu cepat.


"Satu ... dua ...!"


"Tolong lihat berita online di ponsel!" pinta Azizah.


Darren melakukannya, pria itu membuka ponselnya.


"Viewers of one of the Czech cyber companies went bankrupt as the government discovered embezzlement and data theft!" (Pemirsa salah satu perusahaan cyber Ceko bangkrut karena pemerintah menemukan penggelapan dan pencurian data).


Sebuah kanal memberitakan kejadian besar. Semua menatap Azizah, Rommy dan Aden terharu. Mereka melihat Terra ketika awal bekerja di perusahaan itu.


"Nyonya tolong jangan pergi, tak ada lagi penerus kami kesulitan mendapatkan pengganti Nyonya," pinta Aden.


"Dik, Kakak tau kau sangat ingin mengurus adik-adik. Jangan khawatir sayang, mereka baik-baik saja dengan Mama," ujar Darren memohon.


Azizah memang tidak bisa meninggalkan perusahaan yang membesarkan namanya. Wanita itu harus memupuk salah satu adiknya agar bisa menggantikan dirinya kelak.


"Hueek!" tiba-tiba Rion mual.


Bobby mengelus punggung pria besar itu.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" Rion menenangkan dirinya.


"Hueeek!" Rion kembali hendak muntah.


Pria itu berlari menuju ruangan pribadinya. Ia langsung ke closed dan muntah di sana. Tak ada yang keluar kecuali cairan bening yang begitu pahit.


"Tuan, sepertinya anda kelelahan. Sebaiknya anda beristirahat Tuan!" pinta Bobby khawatir.


Muka Rion langsung pucat, ia kembali muntah. Bobby harus menggotong atasannya. Pria itu juga langsung meneriaki para pengawal. Hendri, Rio dan Febi langsung mendatangi kamar pribadi tuan mereka.


"Tuan," Rio langsung menelepon Haidar melaporkan jika Rion sakit.


"Cepat bawa ke rumah sakit!" titah Haidar.


Empat pria menggotong Rion, tentu bukan hal mudah karena tubuh Rion yang besar. Dua sekuriti ikut mengangkat tubuh Rion.


Mobil berhenti di depan lobi, Rion dimasukkan ke dalam bersama Hendri dan Febi. Rio yang menjadi supir.

__ADS_1


"Bawa ke rumah sakit ya!" pinta Bobby.


"Baik Tuan!" sahut Rio lalu melajukan mobilnya.


Hanya butuh waktu lima belas menit Rion sudah sampai rumah sakit milik Lidya.


"Tolong!" teriak Hendri.


Putri yang ada di sana langsung mengambil brangkar dan mendorongnya sambil berlari.


"Baby!" pekiknya kaget melihat tubuh Rion dibaringkan di sana.


"Astaga ... Baby kenapa?" tanya wanita itu langsung menangis.


"Dia dari tadi muntah tak berhenti Nyonya!" jawab Rio.


Mereka berlarian menuju UGD. Lidya langsung mendatangi ruangan itu.


"Baby!"


"Kak Iya ... hiks!" rengek bayi besar itu.


Rion dalam pelukan Lidya, pria itu sangat tenang dan tak lagi muntah-muntah. Tak ada penyakit serius kecuali kelelahan. Azizah datang bersama Darren, Budiman, Haidar dan Virgou.


"Sayang, Mas Baby!" Azizah langsung memeluk suaminya yang dalam pelukan Lidya.


Dua orang besar memeluk Lidya. Wanita itu mencium keduanya.


"Baby nggak apa-apa sayang. Mungkin kelelahan," ujar Lidya menenangkan semuanya.


"Baby ... apa yang kau rasakan?" tanya Budiman sedih.


'Mual Baba, pahit muntahannya," rengek Rion menjawab.


Virgou tak berkata apapun. Pria sejuta pesona itu hanya sedih melihat bayinya lemas.


"Daddy," rengek Rion sangat manja.


"Apa Baby," Lidya digantikan oleh Virgou.


"Biar Daddy yang gantikan kamu sayang," Lidya pun bangkit.


Azizah dan Rion langsung memeluk Virgou setelah meletakkan dirinya di tengah-tengah sepasang suami istri itu.


"Minta Mommy bikinin rujak serut sih," pinta Rion yang mengagetkan semuanya.


"Apa?" tanya Haidar.


"Mintain Mommy bikinin rujak serut Papa!" rengek Rion.


"Iya sayang, nanti Daddy akan minta Mommymu buatkan rujak," ujar Virgou lalu tersenyum.


"Sayang, kamu mau periksa tidak?" tawar Lidya pada Azizah.


"Kakak ... yang sakit kan Mas Baby! Bukan Zizah!" sahut Azizah mengerucutkan bibirnya.


"Periksa saja sayang, ayo!" ajak Lidya lalu menarik tangan adik iparnya yang tiba-tiba manja juga itu.


"Nanti, masih mau meluk Daddy," tolaknya.


"Sayang, Daddy masih di sini kok," ujar Virgou.

__ADS_1


Akhirnya Azizah mau diperiksa. Tak lama Herman datang bersama Terra dan Khasya. Mereka langsung berwajah khawatir.


"Baby?" panggil Herman.


"Ayah!" rengek bayi besar itu.


"Nggak perlu khawatir, habis infus Baby boleh pulang kok," ujar Putri memenangkan semuanya.


Azizah datang dengan wajah ceria semua yakin dengan asumsi mereka masing-masing.


"Bagaimana sayang?" tanya Haidar.


"Azizah hamil," cicit wanita itu lirih.


"Yang keras sayang!" pinta Rion tak yakin dengan apa yang ia dengar.


"Azizah hamil Mas Baby ... kita akan punya anak!" jawab ulang Azizah.


"Alhamdulillah ya Allah!" seru semuanya penuh syukur.


"Kandungannya sudah dua minggu," lanjut Lidya.


"Mama dan Papa juga harus menyambut cucu baru dari Iya," lanjut wanita mungil itu.


"Kamu hamil juga Dik?" Lidya mengangguk.


Darren memeluk adiknya sayang. Mereka kini dilanda kebahagiaan yang sangat besar.


"Bommy hamil, Aini hamil, Azizah hamil, Iya juga hamil," kekeh Darren dengan penuh mata haru.


"Jangan lupa ada Baby Arimbi dan Baby Nai!" seru Budiman.


"Kita benar-benar membuat satu negara!" lanjutnya bersorak.


Akhirnya Rion pulang, bayi besar itu begitu manja dan mau tinggal dengan Terra. Ia mau ibunya yang mengurusnya. Azizah pun jadi ikutan manja. Semua adiknya bersorak karena akan mendapat keponakan.


"Holeee ... atuh buna adit dali Mama Pizah!" pekik Arsyad bersorak.


Rumah Terra penuh dengan manusia. Bram datang bersama istrinya, Kanya mencium Azizah berkali-kali sampai Rion protes.


"Oma ... Ion yang cucu Oma!"


Kanya terkikik geli. Akan banyak keturunan yang hadir di sini. Wanita itu tak akan khawatir lagi.


"Keturunanku banyak, ketika aku sudah tiada nanti. Akan banyak yang mendoakan aku," gumamnya dalam hati.


"Jadi Ion kek Papa dong. Ngidam tapi yang hamil Kak Ijah!" sahut Kean.


"Untung bukan Kean yang jadi suami Kak Azizah," lanjutnya mengelus dada.


Tak! Darren menjitak remaja itu. Kean langsung mengadu pada ibunya.


"Mommy Abah jitak Kean!"


"Kakak!" peringat Rion tak suka.


Darren menghela napas panjang. Pria itu pun meminta maaf pada remaja yang manja itu.


Bersambung.


Huhu ... semua hamil euy ...

__ADS_1


Othor hanya bisa halu 😭


next?


__ADS_2