
Pagi datang, menyambut hari kemerdekaan perusahaan Hudoyo Grup mengadakan perlombaan khas tujuh belasan, seperti tarik tambang, lomba makan kerupuk, balap karung dan lain sebagainya. Tim divisi bertanding dengan para karyawan, yang dimenangkan para karyawan.
Kini divisi kepala perusahaan melawan para karyawan. Darren, Aden, Budiman, Iskandar, Rommy dan Sean melawan enam karyawan yang bertubuh kekar. Mereka saling tarik menarik, tak ada yang mau kalah. Sean yang bertubuh lebih besar dari Darren ada di belakang.
“Yo ... ati-ati friends ... jangan kuat-kuat. Yang dilawan Boss itu!’ tegur pembawa acara hingga menimbulkan gelak tawa.
Tapi memang kekuatan karyawan yang selau berada di bagian paling keras. Tenaga mereka jauh lebih kuat. Aden dan Rommy sudah tua, jadi tenaga mereka jauh berkurang. Semua kekuatan mengandalkan Darren, Sean, Iskandar dan juga Budiman.
“Udah seri aja kali ya Boss!” pinta pembawa acara.
“Udah lima belas menit ngga ada yang ngalah,” lanjutnya.
“Oke deh,” sahut Darren.
Akhirnya permainan seri. Para karyawan lapangan salut akan kekuatan para boss mereka. Walau hanya bekerja dalam ruangan ternyata kekuatan mereka tak bisa dianggap remeh. Mereka pun saling bersalaman dengan senyum lebar di pipi.
“Hadiahnya kalian ambil aja.” ujar Darren.
“Yah,” protes Sean.
Darren berdecak, Sean cemberut. Padahal dia sangat menginginkan hadiah itu. Darren ternyata lupa jika adiknya adalah perusuh senior yang paling suka berebut hadiah bersama adik-adik atau perusuh junior di rumah.
“Nanti kakak belikan baby,” ujarnya.
“Maunya hadiah,” rengek Sean manja.
“Baby,” peringat Darren lembut.
“Ini Tuan Muda,” ujar salah seorang karyawan memberikan hadiahnya untuk Sean.
“Nggak usah buat kamu aja,” sahut Sean setengah hati karena mendapat lirikan tajam dari kakaknya.
“Tuan,” karyawan itu tak enak hati terlebih melihat raut salah satu bossnya sedih.
“Sudah tidak apa-apa, ambil saja hadiahnya,” ujar Budiman.
Pria itu mengajak Sean menjauh dan menenangkan salah satu bayi Pratama itu. Jangan salah, para remaja jika sudah merajuk akan mengalahkan para bayi, seperti Aaima, Arsyad, Maryam bahkan Arshaka sekalipun.
“Baba ... Sean mau hadiahnya,” rengek remaja itu dengan mata menggenang.
“Baby, nanti Baba belikan ya,” ujar pria itu.
Sean benar-benar sedih, ia sudah menarik kuat tali itu tapi para karyawan ternyata tenaganya jauh lebih kuat dibanding dirinya.
“Kalau gitu besok Sean mau kerja lapangan aja deh. Nggak mau kerja di kantoran!”
__ADS_1
“Baby, jangan buat Mama khawatir dong,” sahut Budiman sedikit pusing jika Sean mulai merajuk seperti ini.
Remaja itu tak menanggapi. Ia berlalu dan memilih pergi dari tempat itu. Budiman langsung meminta para pengawal menjaga remaja yang sedang ngambek itu. Hendro, Lukman dan Bayu mengejar tuan mudanya dan langsung menggiring Sean ke mobil lalu membawanya pulang.
“Mana Baby?” tanya Darren.
“Ngambek sayang,” jawab Budiman.
Darren menghela napas panjang, sedang Aden, Rommy dan Iskandar sudah terbiasa melihat kelakuan para remaja dari mereka merah hingga sebesar itu. Sedang di perusahaan Haidar juga mengadakan perlombaan yang sama.
“Pa, gimana kalau kita adakan juga upacara pengibaran seperti di tempat lainnya pas di hari yang sama?” saran Al ketika mendukung para karyawan yang berlomba.
“Wah sepertinya bagus itu.” sahut Rion antusias.
“Boleh juga, kalian atur saja. Sepertinya harus berlatih dari sekarang,” sahut Haidar setuju.
“Bagaiman jika selesai pertandingan ini kalian buat timnya. Nanti yang jadi pembina upacaranya adalah Kakek kalian,” lanjutnya.
“Boleh Papa. Besok ajak Kakek ke sini buat latihan ya,” ujar Al antusias.
“Siap,” sahut Haidar.
Al dan Rion saling toss., keduanya langsung ke tempat manager HRD memilih tim pengibaran bendera merah putih. Hal itu disambut antusias karyawan, karena akan ada reward bagi semua karyawan berupa bonus dari perusahaan.
Haidar menatap Rion. Bayi besarnya itu jauh lebih dewasa setelah menikah dua hari lalu. Bahkan Rion mampu menutup mulut ketika para ayah menanyakan perihal malam pertama bayi polos itu.
“Udah apanya Dad?” tanya Rion pura-pura tak tahu.
“Buka segel istrimu sudah kau lakukan?” sela jac membuat semua orang kesal.
“Loh, salahku di mana?” tanya pria itu tanpa dosa.
“Nggak salah sih,” sahut Demian.
“Papa waktu lepas segel Bibu dua jam perjuangannya,” celetuk Dominic.
“Astagfirullah,”
Dinar memilih pergi bersama Seruni dan juga Azizah. Tiga perempuan itu langsung malu jika para pria mulai mengobrol prihal dewasa seperti itu.
“Gimana menyusu pertama kali?” tanya Bart sambil menaik turunkan alisnya dengan seringai jahil.
Semua menanti jawaban pemuda yang baru saja melepas masa lajang dan juga keperjakaannya itu. Rion memandang semuanya dengan senyum yang sangat tipis hingga membuat semuanya geram terlebih Herman.
“Baby, jangan buat kami penasaran!”
__ADS_1
“Ayah ... kan pernah ngerasain juga waktu menikah dulu sama Bunda. Ya begitu juga yang Ion rasakan,” jawab pemuda itu bijak.
“Baby ... mana sifat polosmu kemarin?” ledek David terkekeh.
“Iya. Kemarin perasaan ia belum tau apa itu bercinta, bahkan istilah kumpul kebo,” sahut Virgou mencibir.
“Daddy, waktu itu Ion benar-benar nggak tau!” sergah pemuda itu cemberut.
“Sekarang?” tanya Virgou lagi.
“Masih belum tau juga sih,” jawab pemuda itu.
Semua menepuk kening dan berdecak melihat bayi besar yang polos tapi sudah melakukan malam pertamanya dengan sukses. Haidar menghentikan lamunannya, ia lalu mengalihkan pandangannya pada salah satu putranya, Al.
“Siapa dan seperti apa ya jodohnya Al, Satrio, Kean, Sean, Daud, Calvin, Nai dan Arimbi nanti?” tanyanya bermonolog.
“Siapapun jodohnya. Aku harap mereka adalah yang terbaik dari Allah,’ lanjutnya berharap.
Pria itu mendatangi putranya, ia bersiap dan menikmati perjalan cinta semua putra dan putrinya. Berdoa agar usianya panjang hingga bisa melihat semua putra dan putrinya menemukan tambatan hati mereka dan melepas semuanya di jenjang pernikahan.
Sementara di perusahaan Virgou tak kalah serunya. Kali ini lomba tarik tambang dilakukan oleh dua tim yang berhadapan. Semua karyawan menolak Gomesh dan Satrio untuk ikut serta. Hal ini membuat keduanya marah.
“Boss kan besar! Yang ada kita dua ratus orang juga nggak bisa narik talinya!” seru karyawannya protes.
Virgou hanya melihat Gomesh dan Satrio berseteru dengan karyawannya seperti anak kecil. Ia menggeleng kepala, sedang Fabio dan Pablo hanya tersenyum saja. Semua tak ada yang tau bagaimana kekuatan kedua ajudan Virgou yang masih betah melajang itu.
“Sudahlah baby,” sahut Virgou menyela.
“Daddy, Trio mau hadiahnya,” rengek remaja itu sambil menghentakkan kaki ke tanah.
Para karyawan begitu gemas dengan tingkah salah satu boss mudanya itu. Ketampanan Satrio memang begitu memukau semua orang terlebih para kaum hawa. Mereka akan bermimpi tujuh hari tujuh malam jika Satrio membalas sapaan mereka.
“Begini saja, yang tanding aku berlima dengan kalian berdua puluh. Bagaimana?” tawar pria itu.
Semua karyawan saling pandang. Hadiah pertama menjadi incaran para karyawan yakni satu unit sepeda motor matic terbaru untuk pemenang. Jika mereka berdua puluh, Virgou harus membelikan dua puluh motor dengan jenis yang sama.
“Setuju!” seru para karyawan sepakat.
“Oke kalau begitu,” sahut pria dengan sejuta pesona itu.
Bersambung.
Wah ... dua puluh orang lawan lima? Apa sebanding ya?
jujur othor juga taunya kumpul kebo ya di usia Rion itu, dua puluh tahunan
__ADS_1
Next?