
"Tuan transaksi ganja akan terselenggara sepuluh menit lebih awal dari sekarang!" lapor Leo.
Azizah terkejut mendengarnya, ia masih memegang telepon di telinganya. Wanita itu berseru memberitahu pada Herman.
"Yah, Zizah matiin dulu ya! Kita mau acak-acak transaksi barang haram!"
Virgou mengurut pelipisnya. Ia sangat yakin akan mendapat amukan paman dari Terra itu.
"Daddy ayo Daddy!" ajak Azizah begitu semangat.
Begitu semangatnya perut wanita itu sampai kencang. Tetapi Azizah tak merasa sakit sama sekali.
"Sayang, kandunganmu naik!" peringat Virgou.
Daud memeriksa kakak ipar yang seharusnya adalah bibinya itu. Tak ada yang dikhawatirkan kecuali tekanan darah Azizah yang naik akibat terpacu adrenalin.
"Daddy ayo!" rengek Azizah tak sabaran.
Sementara itu di mansion Herman, pria itu memanggil Budiman.
"Bawa semua personil! Kita seruduk markas itu!" perintahnya.
Budiman mengangguk, Reno, Langit tentu saja ikut. Beberapa pengawal diminta menjaga mansion.
"Ayah ikut," pinta Affhan, Raffhan, Dewa dan Dewi.
"Kalian di rumah!" tekan Herman tak mau dibantah.
Tak ada yang berani menyanggah, bahkan Khasya tak bisa berbuat banyak.
"Mana blue print area itu?" pinta Herman.
"Ada di Bravesmart ponsel Yah!" jawab Budiman.
Herman mengeluarkan benda canggih itu. Semua bayi menatap para orang tua dengan seksama. Mereka mengamati dan pastinya akan mereview ulang perbuatan orang tua mereka.
"Paling tidak di sangka adalah pintu bagian selatan. Aku dapat kabar jika The Titan sedang mengadakan sweeping dengan senjata laras panjang!' ujar Herman.
"Kita harus bergerak cepat, Yah. Ada transaksi jual beli ganja di sektor M!" ujar Langit memberitahu.
"Ayo!"
"Ikut!" seru Haidar, Remario dan Bram.
"Di rumah!" tekan Herman garang.
Tiga pria bungkam, tak ada yang berani menyanggah. Bart bahkan tak bisa berkata apa-apa.
Herman pergi dengan membawa dua puluh pasukan inti. Budiman, Gomesh dan Deni ikut serta rombongan itu.
"Ata' ... Ata'!" panggil Dita pada Della.
"Biya Paypi!"
"Padhi Ata' mama Mama mawu teumana syih" tanya Dita.
"Tata Mama syih tepentat fifiya!" jawab Della.
"Woh ... napain telumah Mama Iya?" tanya El Bara bingung.
__ADS_1
"Tan Mama lada pi syimi!" lanjutnya.
"Bastina eundat atan peutemu Mama lah!" sahut Arsyad yang diangguki oleh semua bayi.
"Eh ... Baby Del, tadi tebut-tebutan ya?" tanya Harun.
"Biya padhi pita lalapan woh!" jawab Della antusias.
"Lalapan ladhi?" seru Aisya, Fathiyya heboh.
"Pate lele dolen tlispi eundat Ata'?" tanya Aaima kini.
"Eundat lada lele tlispi det," jawab Della.
"Peubental. Watu ipu Ata' Tean pilan enat lalapan pate lele tlispi. Pa'a ipu lele tlispi?" tanya Fatih.
"Buntin seceunis peubutan puwat peumpalap?!" jawab Firman.
"Beulalti pambel pelasi judha don!" sahut Ari ikut-ikutan.
"Pisa sadhi beudithu!"
Semua bayi mengangguk setuju. Para orang tua hanya bisa diam, mereka tegang tapi terhibur dengan obrolan para perusuh paling junior itu.
Hanya sekejap, Herman dan tim masuk markas mafia. Sebuah daerah paling tersembunyi. Jika diibaratkan kawasan itu seperti kawasan studio laga perang. Jalan yang tak diaspal, kawasan perumahan desa tapi dikuasai oleh orang-orang kaya dan sangat tertutup.
"Ayah pakai rompi Yah!'
Budiman menyerahkan rompi anti peluru pada Herman. Pria itu segera memakainya.
"Bagian barat sudah dikuasai oleh tim Ayah!" lapor Deni.
Semua bergerak, tim bodyguard memakai senjata bius. Herman mampu merobohkan beberapa penembak.
"Tuan, kita dapat sokongan dari dalam markas!" lapor Exel.
"Semua bergerak!'
Herman berlarian menuju pilar-pilar rumah yang sudah penuh dengan lubang peluru. Suara desingan senjata memekakkan telinga.
Dalam markas Leo dan kawan-kawan sudah memberi perlindungan dan menyerang siapa saja yang hendak melukai atasan mereka.
Giant Almero murka. Pria berdarah Itali-Slovaskia memerintahkan semua anak buahnya mundur.
"Siapa yang berani mengobrak-abrik area kekuasaanku!" teriaknya.
"BlackAngel yang menggempur semua pertahanan Tuan!" lapor Kedrick Salacas.
Giant terdiam, tentu saja ia sangat tau siapa itu BlackAngel. Bahkan tiga putranya juga sangat terkenal di kalangan para mafia.
"Tuan, The Giant ada di kelompok BlackAngel!" seru Kedrick lagi.
"Tuan DeathAngel dan ShadowAngel juga ikut serta!" lanjutnya.
"Mundur semua!" perintah Giant Almero benar-benar menahan malu.
Pria besar itu harus mengaku kalah. Empat nama disebutkan yang membekingi BlackAngel mampu membuatnya ciut.
"The Giant melindungi pria kecil. Sepertinya orang pribumi?" sahut salah satu anggota.
__ADS_1
Giant Almero keluar dari sarangnya. Ia benar-benar penasaran dengan sosok yang ada di depan The Giant.
Gomesh dijuluki The Giant karena tubuhnya yang seperti raksasa.
"Hey ... mau apa kau mengacau di tempat ini!" teriak Giant Almero.
Herman menatap tajam pria yang tingginya 180cm dengan berat 100kg.
Giant terpaku, ia tak pernah mendapat tatapan super tajam seperti itu. Rombongan Herman melewati begitu saja markas The Titan. Jarak antar markas memang tak begitu jauh. Hanya sekitar dua kilo saja.
Pintu gerbang markas dibuka. Herman masuk dan mendapati semua anak-anak sudah memegang senjata. Bahkan Azizah ikut serta di sana.
"Virgou!" teriak pria itu marah.
"Ayah ... udah ah!' potong Azizah yang membuat semua menunduk bahkan Herman sampai melotot mendengarnya.
"Ayo kita gagalkan jual beli ganja itu!" ajaknya lalu menggandeng Herman dengan santai.
Tak ada bantahan, pria tua itu ikut. Virgou mengelus dadanya. Semua anak seperti kegirangan mendapat mainan baru.
Mobil-mobil bergerak meninggalkan halaman markas. Memang jual beli ada di distrik M yang sangat jauh dari lokasi. Tak ada yang ikut karena memang semua memiliki peran masing-masing.
Dua puluh menit mereka sampai pada satu pasar. Virgou telah memberi petuah agar semua anak jangan ada yang menangis karena pasar itu menjual apa saja.
Satrio menyelinap di balik kandang macan kumbang.
"Hai!" sapanya berbisik.
"Kau mau keluar?" tanyanya lagi.
Hewan itu mengaum hebat. Sepertinya binatang itu mengerti apa yang diinginkan Satrio.
Pemuda itu mengambil satu batang lidi besar. Ia hanya mencongkel sedikit lalu pintu kandang terbuka pelan.
"Keluar!" bisik Satrio lagi.
Binatang berwarna hitam keluar kandang sambil menggeram. Macan kumbang itu menoleh pada Satrio yang berlindung di balik pintu kandang. Hewan itu berlari.
Sean, Al dan Daud mengikuti langkah saudaranya itu. Beberapa kandang hewan dibuka dan semua dilepas agar terjadi kepanikan.
"Ada macan kumbang lepas!" teriak Calvin.
"Hrrraaaauuummm!!' pekik macan kumbang yang siap menerkam siapa saja.
Tentu hal itu jadi kepanikan di tempat itu. Semua orang berlarian, termasuk hewan-hewan lainnya. Beberapa anggota mafia hendak menembak hewan buas seperti macan, harimau dan cheetah. Herman membidik senjata dan melepaskannya. Panah yang dilumuri obat bius langsung menancap di leher dan bekerja cepat.
Beberapa orang jatuh terkapar. Banyak yang pingsan karena terinjak-injak.
Azizah melihat orang di atas atap yang hendak membidik. Wanita hamil itu mengangkat senjatanya. Memicingkan sebelah mata lalu menekan pelatuk dan ....
Dor! Pria di atas atap jatuh dengan lubang di kepala. Semua tim menatap Azizah begitu juga Rion.
"Sayang ... kamu hebat!" puji sang suami yang menimbulkan senyum lebar di bibir Azizah.
Bersambung.
Ah ... gitu deh ...
next?
__ADS_1