
"Welcome new Year!" pekik Jac semangat.
"Epom yuyil!" tiru Arsyad.
"Pompom uwil!" El dan Al Bara mengikuti.
"Oum wilwil!" Arsh tak mau kalah.
"Owil!" seru Zizam ikut-ikutan.
Jac tertawa terbahak mendengar bahasa baru dari mulut para bayi. Putranya bahkan berusaha untuk bisa bicara. Padahal usianya baru mau tujuh bulan.
"Weltom mu yil!" seru Harun juga.
"Apa sih kalian!" gemas Andoro lalu menciumi para bayi hingga tergelak.
"Apah ... Alsh mpat!" Arsh menerjang pria besar itu, keduanya tertawa.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Anyelir.
"Ini sarapan sudah siap. Nasi goreng sosis!" lanjutnya.
"Holeee matan!" seru Firman.
Para bayi tentu tidak makan nasi goreng mereka makan bubur merah yang dipadu dengan sosis yang dihaluskan. Semua sarapan dengan lahap.
"Hujan masih mengguyur beberapa tempat ketua!" lapor Budiman pada Gomesh.
"Oh ya bagaimana dengan penyerang Ko Ashen kemarin?" tanya Gomesh.
"Sudah diserahkan pada polisi. Kami juga tidak menemukan kelompok mafia yang menaungi Toro dan kawan-kawan," jawab Budiman.
"Mereka mengaku ingin menculik Babies karena yakin jika semua adalah anak orang kaya," lanjutnya.
Gomesh menghela napas besar. Pria raksasa itu memang begitu posesif pada semua anak-anak. Tetapi jika ia kekang maka anak-anaknya tidak bisa bertahan lama hidup di luar sana.
"Apa menurutmu kita terlalu memanjakan mereka?" tanyanya kemudian.
"Baby Trio mampu menumpas kepala mafia walau terluka dan kita membantunya," jawab Budiman.
"Mereka bisa kuat walau tanpa kita Bro!" lanjutnya.
"Aku mau mengajukan cuti. Ibuku masuk rumah sakit," ujar Gomesh pelan.
"Apa sudah beritahu Ketua umum?" tanya Budiman.
"Sudah, beliau menyerahkan cuti lama padaku, hanya saja ...," Gomesh menghentikan ucapannya.
Gomesh menatap semua orang dalam rumah. Ia tak mungkin datang sendirian ke Eropa. Gomesh harus membawa istri dan anak-anaknya.
"Mereka pasti tidak mau ikut," ujarnya lagi.
"Mau bertaruh jika nanti Tuan Bart akan membawa kita ke sana walau hanya lima hari saja?" celetuk Gio tiba-tiba.
"Jangan bilang ...."
"Gomesh!"
Belum juga Gomesh selesai perkataannya, Bart sudah memanggilnya. Pria tua itu sudah seperti kakek, ayah, teman dan musuh ribut.
"Tuan," Bart berdecak dengan panggilan itu.
"Grandpa," ralat Gomesh.
"Apa benar kau ingin ke Eropa?" tanya Bart.
__ADS_1
Gomesh mengangguk. Bart menatap pria besar itu. Tampak guratan cemas ada di mata Gomesh.
"Kita akan kesana!" ucap Bart.
"Grandpa ...."
"Kau pikir mereka akan mau ikut denganmu?" tanya Bart lalu menunjuk semua anak dan istrinya.
"Di sana juga banyak ponakanmu. Tetapi, mereka tak sedekat begini kan?" Gomesh mengangguk membenarkan.
"Urus semua pasport, visa dan tiket PP Indonesia-Eropa!" titah Bart tak bisa dibantah.
Gomesh mencium pria gaek itu hingga Bart kesal.
"Anak sialan!" makinya.
Semua bayi yang berteriak tiba-tiba hening. Bayi perusuh itu menoleh pada asal suara. Terra benar-benar kesal dibuatnya.
"Woh ... sadhi peulama imi nanat sisilan ipu Papa Dom!' seru Al Bara dengan mata bulat tak percaya.
"Baby ... itu perkataan yang buruk. Jadi nggak boleh diucapkan ya!" ujar Terra menasihati semua bayinya.
Bart memilih menyingkir sebelum cucu cantiknya itu mengomelinya. Gomesh senang luar biasa melihat penderitaan pria tua itu.
"Awas saja kau nanat sisilan!" ancam Bart pada Gomesh.
"Cepat urus sana!" titah pria gaek itu lagi.
Gomesh membungkuk hormat. Semua bayi meniru perbuatan pria itu. Gomesh pun pergi bersama Dahlan dan Fendi.
"Eh ... duys!" panggil Harun pada semua saudaranya.
"Pa'a Alun?" sahut Arion.
"Badhaibana pita imi atuh teunyan setali!" ujar Harun sambil mengelus perut buncitnya.
"Nasi dolenna enat soalnya," sahut Harun.
"Wah ... Ata'bebat ... pisa pahasa wowan pewasa!" Aaima bertepuk tangan.
"Babies main yuk!" ajak Kean.
"Bain pa'a Ata'?" tanya Firman.
"Main lompat tali yuk!"
"Pompat pali?"
"Iya, kita lompat tali yang diputar kek skiping," jawab Kean.
"Mereka masih kecil Kak!" peringat Nai.
"Spasa pilan!" sahut Azha tak terima.
"Kalau begitu kita pemanasan dulu ya biar kaki nggak kram!" ajak Kean.
"Pake tali apa Kak?" tanya Deta.
"Ini, kakak kemaren beli tali karet udah jadi!" seru Kean lalu memperlihatkan tali karet yang dikepang sedemikian rupa hingga membentuk tali panjang.
"Kapan Kakak beli?" tanya Rasya bingung.
Remaja itu hanya cengengesan ketika ditanya. Semua orang dewasa menatap Virgou. Pria itu hanya bisa mendengkus kesal.
"Kenapa kalian menatapku?" tanyanya sebal.
__ADS_1
"Biasa juga kau yang mengetahui pergerakan pada Babies," sahut Remario.
"Aku tau, tapi karena nggak berbahaya, jadi kucuekin aja," sahut Virgou santai.
"Kean belinya pas di kafe Adiba. Ada dekat kampung sana, anak-anak perempuan pada main karet. Aku beli deh murah harganya, cuma dua ratus ribu," jelas Kean.
"Pita noblol aja tah?" tanya Harun menyindir.
"Ayo kita pemanasan!" ajak Kean.
Semua bergerak ke teras belakang. Hujan rintik-rintik menemani pemanasan mereka. Setelah pemanasan, Kean menjelaskan cara mainnya.
"Nih Kakak yang jaga dulu. Pemain pertama harus melompati putaran tali ini," ujar Kean.
Tali diputar, Calvin yang ada diujung tali memutar arah yang sama.
"Pompat!"Harun menerobos putaran tali ketika tali di atas. Semua bayi mengikuti.
"Beunti pulu!" teriak Arsh marah. "Alsh au ewat!"
Della sangat ingat bagaimana permainan itu. Di tempatnya dulu, ia sering melihat kakak-kakak perempuan di sana bermain. Bayi itu menerobos masuk dan menangkap tali tepat di tengah. Hal itu diperbolehkan untuk menolong teman-teman segrupnya.
"Baby Del tau cara mainnya?" tanya Kean.
"Pahu Ata'!" angguk Della.
"Padhi pemen pisa tayat dhini puat pemen yan lain!" lanjutnya.
Kean tersenyum. Akhirnya semua menerobos terowongan itu. Lalu berlanjut pada lompatan berikutnya dengan gaya biasa.
"Ata' ... lolonin Alsh!" pinta bayi tampan itu pada Della.
"Tayat dhini Paypi,"
Della mengajari Arsh bagaimana cara melompat, setelah dua kali diajari Arsh baru bisa melakukan lompatan itu.
Sean menginjak tali, remaja itu tertawa dan kini gantian berjaga. Kean pun bermain.
"Ape!' keluh Arsh.
Semua bayi memilih menyingkir. Karena sekarang bagian paling sulit yakni lompat sambil berjongkok. Della juga menyerah, bayi itu belum bisa melakukan hal tersebut.
"Babies ... kalian itu belum mandi!" teriak Dinar.
"Dingin Bibu!" teriak para remaja.
"Mandi!" teriak Dinar lagi.
Permainan berhenti. Para bayi laki-laki diajak mandi oleh kakak laki-lakinya. Sedang bayi perempuan mandi bersama kakak perempuan mereka.
Selesai mandi, mereka mengaku lapar. Bukan Seruni namanya jika tidak menciptakan menu baru, karena memang anak-anaknya sangat aktif jadi harus bisa memasak tiap jam.
"Kita makan bubur sumsum ya!" wanita itu menghidangkan satu mangkuk kecil pada anak-anak.
"Nenat Amih!" puji Arsh ketika memakan makanan itu.
Gomesh mengatakan jika semua berkas keberangkatan ke Eropa telah selesai. Uang bukan masalah bagi Bart.
"Anak-anak, siapkan semua baju kalian. Kita ke Eropa!' seru Bart.
"Holeee pibulan!" seru para perusuh paling junior bersorak.
Bersambung.
Ah ... ke Eropa.
__ADS_1
Next?