
Diablo menyuruh pengacaranya datang untuk membagikan warisan. Semua dapat dengan adil. Mereka setuju, setelah penandatanganan serah terima. Gomesh membagikan semua warisannya pada seluruh keluarga.
“Nak, apa kau masih marah dengan Papi hingga menolak semua harta ini?” tanya Diab;o sedih.
“Bukan begitu Papi. Aku sudah punya harta banyak di negara yang membuatku seperti ini. Sebuah negara yang memiliki kepedulian tinggi satu dan lainnya. Negara unik dan banyak lagi,” jawab pria raksasa itu.
“Buat Bastian saja hartanya,” celetuknya dengan senyum lebar.
“Baby,” tegur Leon.
“Sayang Grandpa,” sahut remaja itu dengan seringai jahilnya.
Semua hanya menatap heran pada anak lelaki itu, cuma Gomesh yang mengerti bagaimana sikap para perusuh yang memang usil dan tak terkendali.
“Papa akan berikan jika kamu berusia tujuh belas, Baby,” sahut Gomesh.
“Benar Papa?” Gomesh mengangguk.
“Hore ... soalnya Bas udah punya rencana mau buat perusahaan yang mewujudkan semua mimpi anak!” serunya antusias.
“Perusahaan macam apa itu?” tanya Geonesh dengan kening berkerut.
“Perusahaan taman bermain dream land!” jawab Bastian dengan semangat.
“Bermain di awan, naik perosotan pelangi dan turun di kolam bening bersama kupu-kupu,” lanjutnya.
‘'Apakah ada kuda poni bersayap?” celetuk Martin, putra dari Gorgon.
“Tentu saja!” sahut Bastian.
“Wah ... aku ingin kemping di awan sambil masak marsmellow!” pekik Andrea putri dari Geomitha.
“Itu akan terjadi!”
“Aku mau bertarung dengan Raja Nepthunus!” pekik Sania, putri Gometrio
“Semua ada ... bahkan kau bisa naik kereta kencana bersama Zeus!”
Semua anak bertepuk tangan, mereka mengatakan mimpinya yang menunggangi kuda catur dan memimpin percaturan. Kuda putih yang menumbangkan raja hitam dengan skakmat. Ada yang ingin bermain bersama kunang-kunang di kegelapan malam dan banyak lagi.
Semua mimpi anak telah ditangkap oleh Bastian, ia pernah jadi anak kecil. Jadi ia tau apa mimpi semua anak yang hampir semua sama.
“Apa di sana ada mimpi buruk juga?” tanya Natalie.
“Ada, kalian harus melewati mimpi buruk itu untuk bisa mendapatkan hadiah,” jawab Bastian.
“Aku takut mimpi buruk,” sahut Jodie, putra Georgina.
“Aku juga ... Mommy .. aku tak mau mimpi ibu peri mencabut semua gigiku!” rengek Haiden, putra Gorgon.
Semua tertawa mendengar hal itu. Sepertinya Haiden, bayi berusia satu tahun setengah itu ditakuti oleh kakak-kakaknya.
Gomesh memeluk lagi ayah dan ibunya. Mereka sedih karean pria itu hanya sebentar, semua anak menangis ditinggal oleh Bastian dan Leon.
“Apa kau tak bisa menginap nak?” pinta Anneth.
__ADS_1
“Mami masih merindukanmu,” lanjutnya.
“Menginap lah Gom,” suruh Leon.
“Papa!” Bastian merangkul kuat lengan pria raksasa itu.
"Baby, Papamu pasti kembali sayang,” ujar Leon.
“Tapi ....”
“Baby, sini sayang,” Leon menarik cucunya dan merangkulnya.
Bastian menatap Gomesh dengan pandangan memohon, Gomesh terharu. Sebegitu diinginkannya dia di keluarga Dougher Young hingga takut jika dirinya tak kembali pada keluara super besar itu.
“Papa pasti kembali, Baby,” janjinya tegas.
“Jangan lama-lama,” pinta Bastian.
Gomesh mengangguk kuat, Bastian memang jarang bertemu dengannya karena tinggal di Eropa. Tetapi semua anak pasti lengket padanya. Bahkan kini pria itu sudah merindukan para perusuh terutama istrinya.
Leon membawa Bastian pulang, Najwa sampai menoleh dan mencari keberadaan Gomesh.
“Mana Gomesh?” tanyanya.
“Aku suruh dia menginap bersama orang tuannya,” jawab Leon.
“Kok disuruh nginap sih!” pekik Najwa tak terima.
“Sayang ....”
“Aduh ... Papa! Kenapa dibiarkan, gimana kalau Gomesh pergi dan kembali pada keluarganya ... trus anak dan istrinya dibawa semua ke situ!” seru Najwa ketakutan.
Leon diam, ia tak menyangka jika hal itu bisa serunyam ini. Ia menyesal mengijinkan Gomesh menginap untuk melepas rindu kedua orang tuannya. Najwa mengomel panjang pendek, Bastian di sisinya dan terus memprovokasi wanita hamil itu.
“Papa ... ih!” dumal Najwa kesal.
Sore menjelang, Frans datang bersama istrinya. Najwa langsung mengadu perial perbuatan Leon suaminya.
“Apa!? kenapa kau membiarkan dia menginap!” seru Frans juga tak setuju.
“Tapi Ibu dan ayahnya begitu sangat merindukannya!” sahut Leon tak mau disalahkan.
“Itu konsekuensinya. Gomesh sudah mereka buang, mestinya jangan seenaknya minta Gomesh kita begitu saja!” protes Frans kesal.
“Bagaimana jika Virgou tau?” celetuk Lastri.
Semua saling pandang. Bastian menoleh pada semuanya.
“Bas udah bilang,” ujarnya memberitahu sambil memperlihatkan ponselnya.
“Baby!” pekik semua orang dewasa gemas.
Mereka hanya menunggu nasib dimarahai oleh pria sejuta pesona itu. Hingga selesai makan malam, Virgou tak memarahi mereka. Semua saling tatap kembali, Bastian sudah tidur lelap di kamarnya.
“Sepertinya Virgou sendiri yang bertanya pada Gomesh. Atau membiarkan pria besar itu memilih sendiri,” sahut Frans.
__ADS_1
Semua mengangguk, Frans memilih menginap bersama istrinya. Hari terlalu malam membawa Lastri pulang. Sementara itu di rumah besar. Diablo dan Anneth sudah tidur di kamar merka yang berkasur empuk.
“Tidur di sini, sayang,” pinta Anneth. “Mami ingin memelukmu.”
Gomesh merebahkan dirinya di antara ayah dan ibunya, hal yang tak pernah mereka lakukan, bahkan ketika Gomesh kecil dulu. Napas teratur terdengar dari sepasang suami istri itu. Sungguh Gomesh tak dapat memicingkan matanya di sana.
“Sayang ... aku kangen,” gumamnya lirih ketika melintas wajah sang istri.
Akhirnya pria besar itu pun terlelap di antara pelukan ayah dan ibunya. Pagi menjelang rumah besar itu sudah penuh dengan manusia. Anak-anak yang saling berteriak dan mengusili satu dan lainnya. Gomesh terkekeh melihat kericuhan itu, ia lagi-lagi merindukan keluarganya di rumah.
“Sayang, sarapan dulu!”
Semua anak pun duduk dengan manis dibantu oleh ayah dan ibu mereka. Sarapan diberikan pada anak-anak dan semua makan dengan lahap. Anneth melihat tatapan lain dari putranya yang baru saja kembali itu.
“Kau merindukan keluargamu?” tanyanya dengan pandangan sendu.
“Jujur, iya Mami. Aku punya anak banyak di sana,” jawab Gomesh.
Anneth mengecup kening putranya. Ia masih merindukan Gomesh. Sebuah kesalahan yang harus ia bayar mahal sekarang. Ia akan berpisah jauh dari putranya itu.
“Mami dan Papi bisa tinggal di sana,” tawar Gomesh.
“Kami juga mau di sana Mami,” ujar Gorgon.
“Perusahaan kalian bagaimana?” tanya Diablo.
“Papi, kami sudah mensurvey dan bisa membuka perusahaan di sana. Istilah investasi. Kami akan merekrut pekerja asli pribumi dan membawa sebagian kecil tenaga ahli,” sahut Gonesh.
“Aku setuju,” sahut Joe suami Georgina.
“Lalu aku bagaimana?” tanya Geonesh.
“Ya terserah kakak,” sahut Georgina santai.
“Aku ikut tapi, pasti menyusahkan Mami, karena aku sendiri tak memiliki istri dan anak,” sahut Geonesh.
“Ya maka itu. Kau ikut mengurusi Papi dan Mami,” sahut Gorgon.
“Sudah ... jangan ... kita di sini saja. Jika rindu kita kan bisa saling mengunjungi,” putus Diablo.
Akhirnya semua menuruti apa kata ayah mereka. Walau berat, Anneth menyuruh pulang putranya.
“Aku bukan mengusirmu. Tetapi, kau seperti tersiksa di sini. Pulanglah dan datanglah lagi membawa semua keturunanmu,” ujarnya.
“Thanks Mi,” sahut Gomesh bahagia.
Gomesh kembali ke mansion Leon. Semua lega dan memeluk pria besar itu. Diablo dan Anneth merasakan cinta besar di keluarga itu. Mereka berkenalan dan mengucap terima kasih telah mencintai putra mereka.
“Sayang ... sepertinya kita harus belajar banyak dari Keluarga Dougher Young dalam mengartikan kata keluarga,” ujar Diablo ketika pulang dari mansion mewah itu.
“Kau benar sayang. Mereka sebenarnya keluarga,” sahut Anneth.
Bersambung.
The truely familly is Terra Arimbi Hugrid Dougher Young ... setuju Readers?
__ADS_1
Next?