SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENJELANG LEBARAN


__ADS_3

Semua ada di mal terbesar di kota itu. Mereka membeli pakaian bagus untuk merayakan hari kemenangan.


"Mama padahal udah masak ketupat sama rendang," keluh Aini.


'Mana ketupatnya mau habis lagi!" lanjutnya.


"Ada apa sayang?" tanya Gio.


Aini merengek manja pada suaminya itu. Gio yang suka semua masakan istrinya itu memang yang paling banyak makan dibanding anak-anaknya.


"Ketupat mau habis!' rengeknya.


"Besok kita makan di rumah Nyonya Terra sayang," kekeh Gio.


Plak! Terra memukul lengan Gio. Wanita itu mendumal pelan. Gio tertawa.


"Nyonyamu itu. Kau pikir sejak kapan majikan kasih makan pegawainya!" dumalnya pelan.


"Mama," rengek Aini.


"Nanti Aini aduin Arsyad ya!" ancamnya lagi.


"Oh ... astaga ... kau mau aku dikerumuni perusuh-perusuh sebatalion itu?!" sengit Terra.


Aini tertawa terbahak-bahak, dua putrinya juga menjadi bar-bar berkumpul dengan semua saudaranya.


"Terlebih Nabila dan Sabila itu!' Terra gemas sendiri.


Tiba-tiba ia mengusap perutnya. Dua kembarnya sudah kelas satu SD. Putrinya sebentar lagi memberinya cucu.


"Jangan mikir buat anak lagi Ma!" geleng Aini.


'Kau melarangku?"


"Ma ... lihat itu!" tunjuk Gio pada semua perusuh yang mengerjai para pengawal.


Virgou menugaskan satu pengawal untuk satu anak. Sky, Bomesh dan Arfhan yang dijaga ketat. Karena walau mereka sudah besar, tetapi sifat mereka yang selalu ingin tahu membuat semua orang tua panik.


"Mami ... Azha mau ini!' pekik Azha pada ibunya.


"Ambil yang penting sayang!" peringat David.


"Ini penting Pih!" sahut Bariana mendukung.


"Double stick penting buat apa? Tawuran?!" sengit David.


"Nggak Pi!'


Azha memainkan benda itu dengan begitu baik. David harus tahan napas walau ia begitu bangga akan kemahiran putranya itu. Tak ada yang mengajari, tetapi semua anak pasti langsung mengerti bagaimana berbuat walau hanya dengan memegang bendanya saja.


"Hati-hati sayang!' peringat Puspita cemas.


Semua perusuh paling junior bertepuk tangan melihat Azha memperlihatkan keahliannya.


"Atuh au ipu judha Amih!" teriak Sabila.


"Itu bukan mainan baby!" sahut Maria.


"Ayo ... sudah beli bajunya belum?!" teriak Virgou.


Akhirnya semua sudah membeli baju mereka. Setelah membayar barang yang jumlahnya banyak itu. Semua pulang untuk buka bersama, kali ini mansion Herman jadi tempat mereka berbuka puasa untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Nai bermanja dengan ayahnya, Haidar. Kehamilannya menjadikan ia sedikit malas. Sedang Arimbi Reno yang mengalami couvade syndrom tak ikut karena mabuk.


"Papa gendong!" rengek Nai.


"Iya sayang," Haidar menggendong putrinya kemanapun.


"Kamu manja baby!" Terra mencium putrinya itu, ia sudah berdamai jika ia akan punya cucu.


Sampai mansion Herman dikejutkan dengan kedatangan seorang pria.


"Bapak?" panggil Lana.


Triple eL langsung bersembunyi di belakang Virgou. Satrio mendatangi pria itu.


"Mau apa kau kesini?" tanyanya datar.


Herman menyuruh semua orang masuk ke dalam membawa semua anak-anak.


"Saya mau kerja di sini!" terang Santo yang sudah takut.


"Kami tak menerima pegawai!" sahut Gomesh.


"Pergilah sebelum aku menghancurkan semua tulang-belulangmu!' ancam raksasa tampan itu.


"Tuan ...."


"Pergi!" usir Gomesh lagi.


Air mata Santo menetes sudah sepuluh tahun ia meninggalkan anak-anaknya. Tentu Lana, Lino dan Leno tak menganggapnya ada. Terlebih ketika terakhir ia bertemu dengan tiga kembar itu. Santo tak pernah lagi berhubungan dengan mereka.


"Tolong Tuan. Saya tidak tau harus kemana lagi,' pintanya lalu bersimpuh di depan Gomesh dan Satrio.


Gomesh dan Satrio bukan orang kejam. Mereka tentu sangat sedih jika ada orang sampai bersimpuh seperti itu.


"Bawa dia masuk!" titah Herman.


"Ayah!" protes Gomesh dan Satrio.


Di sana Virgou juga menahan Herman menolong pria yang meninggalkan keluarga itu.


"Ayah ...."


"Nak, kita juga pernah melakukan kesalahan. Ingat dulu aku sempat ingin memisahkan Darren, Lidya dan Rion ketika kecil dulu bersama Terra," ujar Herman.


Virgou mencebik, Santo masuk langsung bersimpuh di depan Herman. Pria tua itu menghela napas.


"Kau bekerja mengurus kebun rumah Rion! karena anak-anak diasuh oleh Azizah!" ujar Herman yang langsung diberi ucapan terima kasih dari Santo.


Kini semua menanti buka puasa bersama. Keriuhan kembali terjadi, Santo memang belum diterima baik oleh anak-anak. Bahkan Ryo melempar pria itu dengan sendal ibunya.


"Baby ... Mama nggak ngajarin kamu seperti itu!" tegas Azizah pada putranya.


"Biya sahat Mama!' tuduh Ryo langsung menunjuk Santo dengan berani.


Azizah tentu percaya jika insting anak-anak sangat peka. Fio mengerti lalu membawa Santo pergi dari sana dan menempatkannya bersama para pekerja pria yang jauh dari keluarga utama.


"Tidak apa-apa ... tidak apa-apa," ujar Santo dalam hati.


"Mungkin sekarang mereka belum percaya dengan ketulusanku. Aku buktikan kalau aku bisa merubah diri lebih baik!" lanjutnya bertekad.


Sementara, di daerah lain. Delia kini duduk sebagai pimpinan perusahaannya. Ia perempuan yang sedikit bodoh untuk urusan pekerjaan.

__ADS_1


"Mas ... kamu tega sekali ninggalin aku dengan kerjaan segini banyak!' keluhnya.


Lalu ia menatap foto pernikahannya di sana. Santo yang tersenyum begitu terpaksa.


"Nyonya ... ada pertemuan dengan perusahaan Andara Perkasa!' ujar asisten perempuan.


Delia menghela napas panjang, ia mengecup foto pernikahannya.


'Mas ... aku akan membawamu kembali padaku. Aku mencintaimu!"


Kembali ke mansion Herman. Semua berbuka setelah adzan berkumandang. Takbir menggema dari mulut Kean, Calvin dan Satrio.


Semua anak-anak hanyut dalam lantunan takbir yang menggema. Tak ada petasan atau pun kembang api.


"Nak, ada yang ingin aku sampaikan terutama pada Azizah dan semuanya!" ujar Virgou.


Azizah menatap Virgou. Pria yang paling ia hormati.


"Makam ayah dan ibu kalian sudah Daddy pindah ke makam keluarga ..."


"Daddy!"


Azizah langsung memeluk Virgou dan menangis. Adiba ikut menangis, Ajis memeluk kakaknya. Pada akhirnya makam kedua orang tuanya sudah pindah dan mereka tak jauh lagi untuk berziarah.


"Makasih Daddy, makasih!" ujar Azizah lalu mencium kedua pipi pria sejuta pesona itu.


"Sama-sama sayang," sahut Virgou tersenyum.


Rion memeluk pria yang selama ini membuat hatinya bergetar hebat. Entah aliran apa yang membuatnya merinding ketika memeluk salah satu ayahnya itu.


"Daddy adalah ayah Ion! Ion bangga punya Daddy!"


"Daddy juga bangga punya anak seperti kamu Baby," ujar Virgou menitikkan air mata.


Semua makan enak. Gio mengambil ketupat dan dimasukkan ke dalam kresek hitam.


"Papa teunapa masutin matanan?" tanya Sabila putrinya.


"Buat Papa sahur sayang," kekeh Gio usil.


"Bawa yang banyak Gio!" perintah Khasya lembut.


"Bunda juga sudah siapkan lauknya," lanjutnya sambil memperlihatkan kotak makan yang berisi rendang, gulai dan opor.


"Makasih bunda ... bunda yang terbaik!"


Gio mencium perempuan itu hingga dimarahi Herman.


"Anak sialan!"


"Ayah!" Terra cemberut.


"Ah ... Nanat sisilan balu!" keluh Arsh santai.


Bersambung.


Marhaban ya ramadhan!


selamat hari raya idul Fitri!


ba bowu Readers ❤️😍😍

__ADS_1


next?


__ADS_2