SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
WISUDA


__ADS_3

Nai, Arimbi dan Daud telah memakai toga mereka. Nai dan Arimbi begitu cantik. Sedang Daud juga sangat gagah. Terra dan Haidar terharu begitu juga Herman dan Khasya. Putra dan putri mereka akan bergelar dokter sebentar lagi.


Bart, Bram, Kanya , Labertha ikut serta dalam satu rombongan. Mereka duduk di kursi pengantar. Seperti Lidya ketika wisuda dulu. Semua ikut serta hingga memenuhi ruangan aula. Acara dimulai dengan lagu nasional Indonesia Raya, semua hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu tersebut, satu-satunya yang tak bernyanyi adalah Labertha. Sedang para perusuh mereka hapal walau dengan bahasa mereka sendiri. Usai menyanyikan lagu kebangsaan. Acara dibuka dengan bacaan basmalah dan beberapa sambutan-sambutan. Haidar tak lagi jadi Rektor, kepala Rektor dijabat oleh seorang Profesor.


"Selamat pada anak-anakku sekalian. Kalian telah melewati banyak ujian dan test demi sebuah gelar yang akan membawa kalian ke jenjang lebih baik ...." semua berteriak aamiin menyahuti pidato rektor itu.


Usai kata-kata sambutan. Kini mulai puncak acara, penyebutan nilai dan nama sebagai lulusan terbaik dari masing-masing universitas. Hingga sampai pada universitas kedokteran. Semua riuh dengan mengelu-elukan nama. Satu barisan heboh bertepuk tangan. Keluarga Dougher Young, keluarga Pratama, Keluarga Triatmodjo dan Keluarga Starlight. Satu deret manusia dengan pahatan sempurna pada rupa mereka.


"Naisya Putri Hovert Pratama, nilai IPK 3,99. Usia tujuh belas tahun, masih jomblo. Tidak ada yang tidak mungkin selama manusia mau berusaha dan berdoa!"


Nai berjalan dan menyalami para dekan, dosen dan Rektor yang menyematkan tali di topi toga gadis itu.


"Raden Ayu Arimbi Putri Triatmodjo, nilai IPK 3.9 ....."


"Daud Nakendra Putra Hovert Pratama dengan IPK 3,9!'


Usai pemanggilan pada mahasiswa dan mahasiswi. Para wisudawan dan wisudawati kedokteran langsung ke sebuah aula untuk mengambil sumpah mereka. Usai bersumpah barulah semua mahasiswa berteriak senang dan melempar topi toga mereka ke udara.


"Semua riuh dan saling memberi selamat. Nai, Daud dan Arimbi mendatangi keluarganya. Semua mencium ketiga remaja itu dengan perasaan bangga. Labertha tak menyangka ia masih bisa menyaksikan cicitnya diwisuda.


"Ayo kita ke restauran!" ajak Bram.


Semua berangkat. Nai, Arimbi dan Daud diundang di pesta perpisahan kampus. Semua harus hadir di pesta itu. Di restauran bintang lima milik Bram, semuanya duduk di ruang eksklusif.


"Uma ... bawu pentan dolen!" pinta Harun.


Safitri mengambil makanan yang diinginkan bayi tampan itu. Semua makan dengan nikmat lalu pulang bersama. Kembali menginap di mansion Bram. Para perusuh minta berkaraoke. David langsung memasangnya dan lima bayi mulai beraksi. Bertha yang mulai paham dengan apa yang terjadi mulai tertawa dan para perusuh tak memarahi wanita uzur itu.


"Kok, Uyut ketawa ngga marah baby?" tanya Nai pada Bariana yang tengah bernyanyi.


"Pidat pa'a-pa'a Ata' tan puyut pidat meunelti," jawab bayi cantik itu.


Usai bernyanyi mereka pun tidur di ruang tengah depan televisi. Lima perusuh plus dua bayi tampak tumpang tindih. Para orang tua membiarkan mereka. Hingga sore tiba mereka bangun.


"Eh ... budah lama eundat pain dobat dodol eh sodol," ujar Harun.


"Bain yut!" sahut Azha.


Kelima bayi dua tahun itu ke taman belakang. Harun membuat garis yang pastinya tidak lurus.


"Bedhini aja ya?!" sahutnya melihat hasil karyanya.

__ADS_1


"Oteh! Spasa yan jadha?" tanya Arion kini.


"Atuh pama tamu ajha!" Harun mengajak Azha berjaga.


Permainan di mulai. Arion mengecoh Harun lalu ternyata Arraya yang berlari sambil tertawa-tawa. Tawa bayi cantik itu membuat semua orang melihat apa yang dilakukan Arraya.


"Ayi pasut pepat!" teriak Bariana yang tengah mengecoh Azha.


Arion berlari sayang Harun menyentuh tangannya.


"Tamu tena!" seru Harun.


"Ah ... atuh teluan," sahut Arion dengan nada menyesal.


Kali ini Arraya mengecoh pertahan Azha dengan menggoyangkan bokongnya.


"Ajha ... pantap atuh!" ledeknya.


Harun yang menganggur berlari dan hendak menyentuh Arraya. Bariana berlari menembus pertahanan Harun. Arraya yang melihat Bariana yang berlari sedikit tak fokus. Hingga ....


"Tena!" teriak Azha menepuk pundak Arraya.


"Ah!" teriak Bariana kesal.


"Tamu teulpatal!" teriak Harun dan Azha bersamaan.


Bariana kesal. Para orang dewasa bertepuk tangan dengan kecerdasan Harun dan Azha. Poin satu untuk tim Harun.


"Kakak ikut!" sahut Sky dan Bomesh masuk lapangan. Bomesh menambah satu garis ditengah.


Rumput sintetik harga puluhan juta rusak akibat goretan para perusuh. Bram tak mempermasalahkan sama sekali. Baginya kebahagiaan anak-anak jauh lebih penting dibanding harga rumput itu.


Mainan berlanjut. Kini tim Harun bertambah personil kakak mereka yakni Bomesh.


Gelak tawa mewarnai permainan. Para orang dewasa menyemangati bahkan berteriak-teriak agar tak kebobolan atau menyuruh menangkap lawan mereka.


"Anak-anak ayo mandi!" titah Terra.


Semua mengakhiri permainan mereka. Peluh membanjiri tubuh dan membasahi baju mereka yang kotor karena bergulingan di rumput yang mereka rusak.


"Tate ... bumputna lusat!" tunjuk Bariana.

__ADS_1


"Tidak apa-apa baby, besok dibenerin sama tukang kebunnya," sahut pria itu.


Usai mandi, mereka makan pangsit dan pastel goreng buatan Saf dan Seruni. Tidak ada Najwa yang membuat pangsit tidak membuat para bayi ribut karena makanan itu tetap tersedia.


"Kalian pinter masak ya, apa Seruni buka toko kue?" tanya Bertha.


"Iya nek, istriku buka toko kue dan kafetaria yang bekerja sama dengan kafe milik Sean," jawab David panjang lebar.


Bertha senang, ia pun mengangguk. Wanita itu akan pulang minggu depan. Ia tak bisa meninggalkan bisnis suaminya terlalu lama.


"Tadinya aku ingin Al ikut aku ke Eropa untuk menjadi CEO di sana, tapi aku sadar usia mereka belum cukup," jelas wanita itu.


"Ya, kau sepemikiran denganku Bertha, aku malah mengajak semua cucuku untuk masuk di perusahaan sebagai direktur utama. Tapi pemerintah Eropa membuat peraturan baru tentang usia jabatan," timpal Bart.


"Semua?" tanya Bertha bingung.


"Ya, Kean, Calvin, Sean, Al dan Satrio," jawab Bart santai.


"Tapi mereka ...."


"Mereka cucu-cucuku!" sahut Bart menekankan siapa mereka.


"Anak-anakku tak perlu ke Eropa, bisnisku juga banyak di sini," timpal Herman tak mau dianggap remeh oleh ibu dari Bram itu.


"Ayah," tegur Terra.


Pria itu berdecak, Bart menepuk bahu pria itu. Bertha merasa bersalah dan menjadi tak enak hati sendiri.


"Mommy," keluh Kanya.


Padahal sudah sering Bram dan dirinya telah mengingatkan pada wanita itu tentang semua adalah keluarga. Bertha lupa jika Nai dan Daud dihadiahkan rumah sakit oleh Bart.


"Maafkan aku ... tolong," pintanya pada Herman.


Pria itu hanya mendengkus kesal, walau akhirnya ia memaafkan dan memaklumi keadaan Bertha yang jauh dari keluarga.


bersambung.


beda uyut!


maaf ya hari ini satu aja up nya ... mata othor bermasalah. ba bowu ❤️❤️❤️

__ADS_1


next?


__ADS_2