
Dua hari berlalu, akhirnya Arfhan sudah boleh pulang. Bocah itu hanya menjalani theraphy untuk memulihkan otot tangannya.
"Arfhan anak kuat, jadi cepat sembuhnya," ujar Arimbi mengelus kepala bocah laki-laki itu.
Arfhan tersenyum, memang tangannya sudah tak mati rasa lagi. Ia sudah bisa menggerakkan tangannya dengan baik.
Arfhan menganga ketika sampai depan mansion Virgou. Ia tak menyangka rumah yang akan ia tempati sangat besar dan mewah.
"Ini rumah Pa?" cicitnya bertanya pada Gomesh.
"Iya sayang, ini akan jadi tempat tinggalmu dan adik-adik," jawab Gomesh.
Mereka turun, memang Gomesh yang menjemput Arfhan dari rumah sakit. Semua memilih menunggunya di mansion Virgou.
"Assalamualaikum!" salam Arfhan.
"Wa'alaikumusalam! Selamat datang Nak!" sambut Bart.
Tulisan "Belpom hom" melintang di ruang utama.
"Pelpom hom Ata'Fafan!" seru semua anak.
"Apang!" pekik Della.
Firman melompat kesenangan melihat kakaknya datang selama satu minggu ia mencari sang kakak. Walau ia mendapatkan perhatian penuh di hunian besar itu, kehadiran Arfhan memang dibutuhkan oleh tiga adiknya. Arfhan hendak menggendong Della.
"Uuuh!" keluhnya kesakitan.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Gomesh sangat khawatir.
"Sakit Pa," keluh Arfhan.
"Jangan dulu gendong adik ya," ujar Virgou mengelus bahu putranya.
"Apang ... endong ... hiks ... hiks!' Della ingin digendong oleh kakaknya.
"Sayang, abangnya sakit. Nanti ya gendongnya," ujar Kean lalu menggendong Della yang menangis.
Firman dan Alia juga digendong oleh Sean dan Calvin. Tiga bayi itu ternyata rindu dengan kakaknya.
"Sayang, sekarang kamu sudah jadi anaknya Daddy dan Mommy. Jadi ini adalah kakak-kakak kamu," ujar Puspita memperkenalkan semua anak-anak.
"Nah ini adik kamu, Harun, Bariana, Azha, Arion, Arraya, Maryam, Aisya, Al Fatih, Al dan El Bara, Arsyad, Aaima, Fathiyya, Izzat, Zizam, Angel, Fael, dan Aliyah," Arfhan tertawa mendengar semua adik yang harus ia ingat namanya itu.
"Adikku jadi banyak ya Mom," kekehnya.
Puspita tersenyum lalu mengecup sayang Arfhan. Maria juga sangat menyayangi bocah laki-laki itu.
"Sayang, sekarang mama kamu juga banyak. Ini Mama Terra, Bommy Gisel, Mami Seruni, Mama Aini, Ibu Putri dan Bibu Dinar," ujar Terra memperkenalkan semua ibu.
Arfhan tak berhenti mengumbar senyumnya. Begitu riuh bahkan adik-adiknya yang biasa diam karena menahan lapar kini tertawa paling keras karena semua kakak menggelitiknya.
__ADS_1
"Sayang, makan yuk!" seru Seruni.
Semua anak bersorak kegirangan. Mereka mencuci tangan sebelum makan. Rion mendekati Arfhan, bocah itu menatap takjub rajanya para bayi itu.
"Panggil Kakak Ion ya, ini istri Kakak, panggil Kak Izah," ujar Rion memperkenalkan diri.
"Kak Ion," Arfhan tersenyum bocah itu memeluk pria besar yang juga memeluknya.
Usai makan, semua harus tidur siang. Arfhan kini tidur di kamarnya sendiri, ketiga adiknya juga punya kamar sendiri. Hanya Alia yang tidur bersama Puspita. Wanita itu kesampaian memiliki seorang anak perempuan.
"Sayang, dia kurus sekali," ujar Puspita ketika mengelus lengan Alia.
Bayi delapan bulan itu tengah menghisap kuat botol susunya.
"Kata Darren juga Baby Rion dan Baby Lidya jauh lebih mengenaskan dari Baby Alia," jawab Virgou ikut sedih.
"Iya sayang, sudah jangan diingat lagi. Kita harus membuat Arfhan, Firman, Della dan Alia bahagia," ujar wanita itu.
Virgou mengecup pipi istrinya. Ia tentu setuju dengan rencana sang istri. Ia juga ingin berlaku seperti Terra yang membesarkan anak-anak hasil kesalahan ayahnya. Sama dengan Darren, hidup Arfhan jauh lebih keras dibanding kekerasan fisik yang dilakukan ibu kandungnya sendiri.
Sore menjelang anak-anak sudah ramai di halaman belakan mansion Virgou. Lima puluh anak angkatnya Bart membentuk grup bermain gobak sodor.
"Ata' lali teusana!" pekik Al Bara gemas pada kakaknya.
"Apang endong!' Alia mengangkat tangan pada Arfhan.
Arfhan pun menggendong hati-hati adiknya. Bahunya sedikit sakit, tapi bocah itu menahannya. Alia langsung menyurukkan kepalanya ke bahu Arfhan.
"Sayang,"
"Tidak apa-apa Kak Cal," ujar Arfhan.
Affhan menyodorkan tangan pada Alia agar mau berpindah padanya. Tapi Alia menolak, bayi itu rindu pada kakak yang selama ini mengurusnya.
"Tidak apa-apa Kak, Alia memang harus Arfhan gendong seperti ini," ujar bocah laki-laki itu.
"Apang, Della Pang,"
"Man lulu!" Firman juga mau digendong oleh sang kakak.
Tiga bayi yang menempel pada Arfhan mengingatkan Terra ketika menemukan Darren di rumah sakit. Tubuh kurus dengan banyak luka lebam di sekujur tubuhnya, belum lagi tatapan sayu ketiga adik satu ayahnya.
"Oh sayang, Mama ingat kamu," ujarnya lirih pada Darren.
Darren memeluk sang ibu. Pria itu juga mengingat masa-masa sulit itu. Delapan tahun ia menunggu wanita yang kini ia panggil Mama.
"Arfhan jauh lebih keras hidupnya dibanding Darren Ma, Arfhan harus bekerja untuk menghidupi tiga adiknya. Kalo dulu Darren masih ada Ayah," ujarnya lirih.
Terra memeluk erat Darren. Semua sedih melihat pemandangan bagaimana Arfhan menjadi pilar kokoh bagi ketiga adiknya.
"Sini sayang. Sama Daddy. Daddy tidak akan membiarkan kalian sedih lagi!" ujar Virgou memeluk empat anak kecil itu.
__ADS_1
"Daddy, endon!" Firman langsung memeluk pria sejuta pesona itu.
Virgou mencurahkan kasih sayang pada keempatnya. Gomesh pun mengangkat Della dan memeluknya.
"Ada papa di sini sayang, biar kakak sembuh dulu ya,' ujarnya.
Keseruan di belakang halaman mansion Virgou membuat semua anak ada yang marah-marah dan ada yang bersorak kegirangan.
"Ata' Wawa teusana batal Ata' Peni!" pekik Harun marah.
"Bakar!" pekik Dafwa pada Beni yang terkepung dengan dua saudaranya yang lain.
"Mah beudithu dali padhi!" seru Harun lagaknya pelatih pro.
Akhirnya tim imbang. Tak ada yang menang tak ada yang kalah. Semua makan kudapan yang dibuat oleh Safitri dan Seruni.
"Apan ... pita pisimi matan teyus, peuntal ladhi Della demut!" ujar bayi cantik itu memakan pangsit rebusnya.
"Aahh!" pekik Alia kesal pada Maisya yang menggodanya.
Gadis itu menyuapi tapi tak sampai mulut ditarik lagi. Alia sampai menangis dibuat gadis itu.
"Baby!" tegur Aini.
"Maaf Ma," ujar gadis itu.
Akhirnya Alia memakan lahap makanan yang memang khusus dibuat untuk para bayi.
Usai makan malam, semua menginap di hunian besar itu. Affhan mendatangi kamar ayahnya, remaja itu tidur memeluk sang ibu yang mendekap Alia.
"Ada apa sayang," ujar wanita itu.
Virgou ada di ruang kerjanya bersama Satrio dan Gomesh. Affhan ingin bermanja dengan sang ibu.
"Mom udah lama nggak mendongeng," ujar remaja itu.
Puspita berbalik badan dan memeluk putranya. Wanita itu mulai mendongeng, hingga Affhan terlelap.
"Sayang," Virgou masuk dan mendapati istrinya tengah diapit dua anak beda usia.
Virgou mencuci kaki dan menaikkan tubuhnya ke ranjang perlahan ia mengangkat Affhan dan memindahkannya ke tengah, kini ia menggantikan memeluk sang istri.
"Good night my love!'
bersambung.
Next?
Maaf ya Readers dari kemarin hanya satu up nya karena othor lagi ada acara.
insha Allah Senin tiga up!
__ADS_1
next?