SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
THE BOYS


__ADS_3

Dominic menangis melihat bayinya yang begitu kecil. tangannya terjulur ke dalam boks inkubator. Perut bayi itu naik turun, seakan sulit bernapas.


"Nak ... Daddy mencintaimu ... hiks ... hiks!"


Saf menutup mulutnya, ia mengelus punggung ayah mertua dari adik iparnya itu. Demian datang, pria itu tertegun melihat kotak besar berisi bayi mungil yang tengah bertarung dalam hidupnya.


"Baby ... baby!" pekiknya.


Demian memeluk ayahnya. Keduanya menangis, Demian tak dapat mengucap apa-apa selain memanggil adiknya yang terbaring tak berdaya.


"Dik ... ayo bangun Dik ... kamu pasti bisa, kamu kuat ... huuuu ... hiks!" ratap Demian.


Pria gagah dan kuat itu hancur melihat adiknya yang kecil. Dominic, tak berhenti meminta pada sang Khalik untuk keajaiban, putranya bisa bertahan.


"Ya Allah, tolong hidupkan dia. Nggak apa-apa jika nanti dia nakal, nggak apa-apa jika nanti dia sedikit menyusahkan ... tidak apa-apa jika nanti dia membantah ayah dan ibunya!"


"Dad, Bibu sudah sadar, Bibu cariin Daddy," ujar Demian sesenggukan.


Dominic segera menghapus air matanya. Ia menekan dadanya dan beristighfar berkali-kali. Saf mengelus dadanya memberikan kekuatan.


"Daddy yang kuat ya," pinta wanita itu.


"Insyaallah, Nak," sahut pria itu lirih.


Dominic keluar menemui istrinya. Dua bayi telah menyusu setelah sang ibu sadar. Dinar diliputi wajah bahagia menatap dua putranya. Semua bermata biru dan berambut pirang sama seperti sang ayah. Tak ada satu pun putra yang mirip dengan Dinar.


"Mas," panggilnya dengan senyum yang indah.


"Sayang," sahut Dominic lalu duduk di pinggir ranjang.


Lidya, Jac dan Putri membiarkan sepasang suami istri itu. Mereka menuju sebuah ruangan di mana Demian berada.


"Sayang terima kasih!" Dominic mengecup kening istrinya.


Dinar menatap mata suaminya. Ia sangat yakin jika ada yang disembunyikan oleh pria itu, karena dia melihat kesedihan yang dalam di mata suaminya.


"Mas ... kenapa sedih?" tanya Dinar ingin tahu.


"Tidak ada sayang, aku bahagia sangat bahagia!" jawab Dominic tentu sedikit berbohong.


"Kau tidak bisa berdusta padaku sayang," sahut Dinar sangat yakin jika suaminya menyembunyikan sesuatu.


Sementara itu di ruangan lain. Putri, Jac dan Lidya menangis melihat bayi mungil terbaring di kotak inkubator dengan berbagai selang medis dan oksigen. Bayi tampan itu berjuang untuk hidup.


"Baby ... sayang!" Lidya menghampiri adik iparnya yang baru lahir beberapa jam lalu.


Tangannya mengulur dalam kotak, menyentuh dan membelai. Ia menyalurkan seluruh cintanya pada sang bayi. Saf mengecup kepala adik iparnya yang berhijab itu.


"Kak ... dia tampan kan?"


"Iya sayang ... dia tampan sekali," jawab Saf lirih.

__ADS_1


Layar monitor tiba-tiba berbunyi, detak jantung bayi begitu lemah. Semua menangis dan memanggilnya.


"Boy ... boy ... bangun ... kakak menunggumu boy!" pekik Jac.


Pria kaku, dingin dan datar itu seketika menjadi sosok yang begitu lemah dan hancur di mana ia melihat sang adik sedang sakaratul maut. Layar monitor terus menunjukkan detak jantung yang lemah tanda bahaya akan datang. Para dokter tidak bisa mengambil tindakan karena bayi terlalu kecil. Saf memeluk dua adik iparnya, Lidya dan Putri. Mereka bertangisan di sana. Sang bayi seakan menanti ibunya datang.


"Baby!" suara Dinar masuk dalam ruangan bertepatan bunyi monitor yang menandakan jika pemilik tubuh dalam bahaya. Dinar masuk menggunakan kursi roda ia memaksa ingin melihat anak bungsunya, ternyata Dominic tak bisa menyembunyikan jika ada satu anak yang tengah berjuang hidup dan mati.


"Baby ... ini Bibu Nak ... huuuuu ... uuuuu ... hiks ... hiks!" ratap Dinar.


"Bibu!" tangis Demian dan Jac bersamaan.


Lidya dan Putri mengeratkan pelukan pada bidan bongsor, Saf. Mereka juga tak kuasa menahan isak tangisnya.


Dinar mendekat, ia ingin mengambil putranya dari dalam boks. Ia menatap Safitri agar mengambil bayinya itu.


"Sayang ... Bibu mau peluk Baby boy,"


Saf mengurai pelukannya. Putri dan Lidya saling berpelukan dan menahan tangis mereka. Jac dan Demian menyingkir mendekati istri mereka masing-masing.


Dengan hati-hati Safitri mengangkat bayi dalam boks. Lalu meletakkan di dada Dinar. Wanita itu langsung memeluk dan menciumnya. Ia bersyahadat di telinga bayi itu.


"Bibu ikhlas Nak," ujarnya lirih.


"Jika surga Allah lebih indah dari dekapan Bibu. Pergilah," lanjutnya yang membuat Dominic menitikkan air mata.


Saf mendekati pria itu memberikan bahunya untuk ayah mertua dari adik iparnya.


Dominic memeluk wanita bongsor itu. Pria itu menangis tersedu di sana, sedang Dinar terus mengucap doa di telinga putranya.


Sementara di rumah Terra. Biasanya anak-anak semua ramai dengan celoteh mereka. Entah kenapa mulut mereka diam seperti terkunci. Bahkan mereka saling pandang satu dan lainnya.


Terra yang melihat bayi-bayi yang diam ikut gelisah. Maria, Seruni dan Widya ikut hening bersama anak-anak.


"Ada apa ini?" tanyanya pada semua.


"Kenapa kalian diam?" lanjutnya.


"Mama ...," Harun hendak mengucapkan sesuatu tetapi urung.


Arsh yang biasanya mengganggu juga ikut duduk tenang. Baby Fael, Baby Angel, Baby Aliyah dan Baby Izzat juga tenang tak rewel sama sekali.


"Ata' Alun ... hamilauna tan zatuh. Ali lupa pa'a hamilauna ipu pisa nait ladhi pataw pidat," ujar Ari masih mengingat mimpinya.


"Ata' judha lupa, pati hamilau yan zatuh tan peulupah walna dali pijo sadi walna memas!" jawab Harun dengan mata menerawang.


"Bibu pa'a tabalna ya?" celetuk Azha.


Terra pun jadi teringat, ia tadi diberi kabar jika Dinar dioperasi cesar hari ini. Tapi sudah lebih setengah hari, kabar kelahiran belum ia terima.


Sementara itu Herman mendatangi Virgou dan membawanya ke rumah sakit di mana Dinar di rawat. Arimbi menyambut mereka.

__ADS_1


"Ayah, Daddy!"


"Baby ... bagaimana dengan kondisi Bibu-mu?" tanya Herman langsung.


"Rimbi nggak tau Yah. Rimbi baru saja selesai operasi cesar di ruangan lain," jawab gadis itu.


Mereka bertiga hendak pergi ke ruangan Dinar. Darren memanggil mereka. Gio, Felix dan Hendra tengah menanti di depan ruangan di mana Lidya berada. Mereka bertiga menunduk dan menyusutkan air matanya.


"Apa yang terjadi!" pekik Herman gusar.


"Ayah ...."


Herman tak bisa dicegah. Pria tua itu masuk ruangan dan melihat pemandangan yang memilukan.


"Sayang?"


"Ayah ... anak Dinar sudah tiada ... huuuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"


Herman merosot ke lantai. Virgou langsung memeluknya, pria sejuta pesona itu tak bisa berkata apa-apa.


"Ayah!" pekik semuanya.


Herman menatap bayi di dada putri angkatnya. Bayi yang baru saja pergi menghadap Tuhannya. Pria itu berdiri.


"Cabut semua selang yang menempel di tubuhnya!" titah Herman.


Saf mencabut semua selang dan alat medis yang menempel di tubuh bayi yang sudah mulai dingin. Wanita itu menahan air matanya.


Bayi tampan yang kini memejamkan matanya itu tampak begitu tenang dengan senyum indah. Herman mengangkat dan menggendongnya.


"Cucuku ... Kakek sangat menyayangimu," ujarnya mengecup kepala mungil sang bayi.


"Virgou!" panggil Herman.


Pria dengan sejuta pesona itu hanya diam membeku. Sosok bayi yang dingin diletakkan di tangannya. Entah kenapa ia melepas kancing bajunya dan meletakan di dadanya.


"Baby ... dengarkan detak jantung Daddy," pintanya lirih.


Pria itu mendekapnya, mengecupnya pelan. Lidya mendekati Virgou berharap keajaiban datang.


"Daddy ... ikhlaskan Daddy," pinta Lidya.


"Innalilahi wa innailaiyyihi radjiun ...!" ujar Dinar benar-benar mengikhlaskan putra bungsunya pergi.


"Uhuk!" bayi terbatuk lalu perlahan ...


oooeeek ... oooeeek ... oooeeek!!


bersambung.


😭😭😭😭😭

__ADS_1


next?


__ADS_2