
Bagaimana jika mansion milik Andoro Clementino Dewangga didatangi keluarga besar. Mansion besar itu jadi penuh manusia dengan berbagai usia. Bart sengaja membawa lima puluh anak angkatnya. Maid langsung repot menyuguhi minuman dan makanan. Semuanya duduk manis di sofa, Langit memerintahkan untuk menyusun banyak sofa karena datang dengan semua keluarga.
"Sebuah kehormatan dengan kedatangan keluarga Dougher Young, Pratama, Triatmodjo dan Starlight," ujar Andoro.
Luisa hanya bisa memperhatikan barang-barang mewahnya, matanya menyisir semua anak-anak yang dibawa oleh Bart.
"Kenapa melihat adik-adikku seperti itu Nyonya?" tanya Frans dengan nada tidak ramah.
"A-adik?" cicit wanita itu.
"Ya ... mereka semua adalah Dougher Young!" tekan Frans lagi.
"Mungkin dia takut guci palsunya pecah," celetuk Virgou.
'Hush!" Khasya memukul pelan tangan Virgou.
Pria sejuta pesona itu mengerucutkan bibirnya. Bukan Virgou tidak tau kenapa nyonya rumah sangat memperhatikan semua anak angkat Bart.
"Sudah-sudah!' sahut Bart.
"Kita di sini untuk menyambangi anda Tuan Dewangga, Nai dan Langit telah menikah secara agama. Kami akan mengurus pernikahannya nanti setelah pulang ke Indonesia!" lanjutnya.
"Kenapa tidak menikah di sini saja?" tanya Luisa langsung.
"Iya, menikah secara resmi di sini dan langsung resepsi," sahut Remario.
Herman melotot pada Remario, pria itu langsung menunduk.
"Saya kira anda bukan orang egois Tuan Triatmodjo," ujar Luisa membuat Herman menatap datar perempuan itu.
"Egois di mana?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Langit adalah putra kami satu-satunya. Kami pun sudah memenuhi semua permintaannya menikah dengan Naisya Pratama. Sudah saatnya Langit memenuhi baktinya pada kami!" lanjut wanita itu.
"Aku tidak mau!" tolak Langit langsung. "Aku tidak mau meninggalkan istriku pada kalian terlebih pada Mama!"
"Langit ... yang sopan Nak!" peringat Khasya. "Itu ibumu!"
"Bunda ... Langit nggak mau Nai jadi wanita sosialita yang sibuk menjaga imagenya. Langit nggak mau Nai berubah sombong dan menjadi angkuh pada semua orang!" sahut Langit beralasan.
"Langit! Jangan membantah!" bentak Luisa marah.
"Kami sudah menuruti semua kemauan kamu! Gantian kamu yang harus nurutin kami!" lanjutnya menekan Langit.
"Nggak Ma. Aku nggak mau istriku kayak Mama!" Langit berdiri dan langsung menggandeng Nai.
Pemuda itu membawa istrinya keluar dari mansion. Semua pun bergerak berdiri, Andoro mengurut keningnya. Ini lah yang ia takutkan jika sang istri terlalu memaksa.
"Sepertinya kami juga pergi," ujar Bram santai.
Semua bergerak meninggalkan hunian mewah itu. Virgou melirik guci dengan gambar burung Phoenix ingin sekali memecahkan benda itu.
"Sayang," peringat Kanya.
__ADS_1
"Mom, aku ingin sekali memecahkan guci itu," bisiknya gemas.
"Sayang, jangan ya!" Kanya menggandeng Virgou keluar dari tempat itu.
Mansion Andoro langsung sepi. Pria itu masih tetap duduk di sofa. Luisa kesal bukan main pada suaminya.
"Apa kau tidak bisa melakukan apapun?" desisnya bertanya.
"Sudah kukatakan jangan memaksa Langit," ujar pria itu.
'Kau selalu memaksakan kehendakmu Luisa," lanjutnya. "Kita kehilangan putra kita."
Luisa menangis, wanita itu memang selalu memaksakan kehendaknya. Bahkan sebelum Nai hadir, Luisa menjodohkan putranya dengan salah satu putri teman sosialitanya. Langit melarikan diri dan bekerja di SavedLived. Pemuda itu memang selalu melawan ibunya.
Kini tiga bus besar melintasi jalan raya. Mereka akan pergi ke sebuah pemakaman.
Bart memberi satu buket bunga krisan yang cantik. Pria itu mengelus nisan dengan dua patung malaikat di atasnya.
"Hai Maisya Berthold ... apa kabarmu sayang?" tanya pria itu lirih.
Bart mengecup nisan itu dan meletakkan bunga di pot yang ada di sana.
"Maaf aku tak lagi mengunjungimu. Aku pindah ke sebuah negara yang membuat aku jatuh cinta. Kau baik-baik saja ya di sana," ujarnya lagi lalu mengusap nisan bertuliskan.
"Rest in Peace Maisya Elizabeth Berthold."
Kini mereka pergi menuju sebuah perumahan Villa yang diperuntukkan pada semua anak-anak. Bart memang mengosongkan semuanya.
"Tidak sayang. Ini investasi yang bisa kita nikmati semua anak cucu kita," jawab Bart.
Sementara itu Langit memeluk istrinya, mereka kini menatap kolam teratai. Musim dingin telah tiba. Semua diminta untuk masuk ke hunian mereka masing-masing.
"Sayang," panggil Nai.
"Apa Mama nggak bisa berubah?" tanya Nai.
"Maksudmu Ibuku?" Nai mengangguk.
Langit menggeleng dengan senyum getir. Pemuda itu sangat kenal dengan ibunya. Ia memang selalu bertentangan dengan wanita yang melahirkannya itu.
Kini keduanya berada di kamar mereka. Langit memeluk istrinya, ia meraba bagian sensitif sang istri hingga membuat Nai terlonjak kaget.
"Kak!" pekiknya.
"Apa masih lama sayang?" tanya Langit dengan pandangan bergairah.
"Dua hari lagi Kak," jawab Nai seperti hembusan angin.
Langit mencium bibir istrinya. Sedang di tempat lain Reno pun melakukan hal sama, pemuda itu kini mengajari istrinya apa itu bercinta.
"Kakak ... hhh!" lenguh Arimbi menggeliat.
"Gimana sayang?" tanya Reno dengan napas menderu.
__ADS_1
"Kak ... ini ... memabukkan," jawab Arimbi jujur.
Sedang di tempat lain, Bart menggendong Aaric. Pria itu begitu gemas dengan bayi yang kini bertambah bobot tubuhnya. Sedang Remario tidur bersama Maryam, Al Fatih, El Bara, dan bayi-bayi lainnya.
"Apa dia sudah tidur Dad?" tanya Dinar.
"Sudah sayang," jawab Bart lalu menyerahkan bayi berusia tiga bulan itu.
Dinar mengambil Aaric dari gendongan Bart. Kini pria itu sendirian, menatap salju yang mulai turun. Ia menghela napas panjang.
"Nggak enak sendirian," ujarnya.
"Apa aku menikah saja ya?" tanyanya bergumam.
"Gila kau Bart!" makinya pada diri sendiri.
"Sudah mau masuk liang kubur, masih kepikiran untuk menikah!" runtuknya kesal.
Bart yang duda semenjak Frans, Ben dan Leon berusia remaja. Maisya meninggal akibat kanker getah bening yang dideritanya. Maisya salah satu wanita yang selalu membela Virgou.
"Sayang ... kau wanita yang luar biasa, tak ada satupun yang bisa menandingi kecantikan dan juga kasih sayangmu," monolognya.
"Grandpa," pria gaek itu menoleh.
Virgou mendatanginya dan duduk di sebelah pria itu. Menatap salju yang mulai turun perlahan.
"Dulu aku sering menampung salju dan membuat es sirup di gelas,'' ujar Virgou mengingat sebuah kejadian.
"Ya dan kau membuat semua orang menertawaimu termasuk aku," ujar Bart.
"Grandma mengikuti tingkahku," sahut Virgou membuat Bart menghela napas panjang lalu mengangguk.
"Aku juga ingat bagaimana kau mematahkan hidung sahabat Frans yang merusak boneka saljumu," ujar Bart.
"Dia bukan sahabat. Sahabat tak mencuri istri sahabatnya sendiri!" tukas Virgou.
"Boy ... semua itu sudah berlalu," ujar Bart.
"Frans sudah bahagia sekarang begitu juga Leon," lanjutnya.
Bart memeluk Virgou dengan penuh kasih sayang. Sebuah pelukan yang dulu enggan ia berikan pada sosok yang dulu selalu membuat ulah.
"Ben selalu bilang jika yang genius adalah kau Boy. Ben selalu bangga dan ingin semua keturunannya mirip denganmu," ujar Bart.
"Kau lihat kan? Baik Terra dan semuanya malah mirip kamu bukan Ben," lanjutnya.
Virgou membalas pelukan kakeknya. Pria dengan sejuta pesona itu kini tak mau menggantikan apapun keluarganya.
"Kalian adalah hidupku. Aku akan menjaga kalian dengan nyawaku!" tekad pria itu dalam hati.
Bersambung.
Ba bowu semuanya ❤️😍😍❤️❤️😍😍❤️
__ADS_1