SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SANG PEWARIS BAB 127 Acara Pemakaman


__ADS_3

Lisa menutup pintu dibalik punggungnya,ia bersandar di daun pintu yang sudah terkunci.Bibirnya mengulas senyum sembari jemarinya meraba bibirnya yang merona.Ia melirik ke samping,perasaannya mengatakan Andrew pasti masih berdiam ditempat yang sama.


"Andrew,meskipun ciuman ini bukan ciuman pertamaku.Tapi ciuman ini adalah yang paling membuatku bahagia.Meskipun aku tahu ini adalah ciuman terakhirku"Lisa berucap membatin.


Ia tak mau membuang waktu lebih lama lagi,ia harus menuntaskan niatnya sebelum Neneknya kembali.Lisa bergegas masuk kembali kedalam kamarnya tanpa diketahui siapapun.Lalu ia mengunci pintu dari dalam.


Sejenak ia memejamkan matanya untuk memantapkan niatnya agar tidak terpengaruh oleh apapun.Ia tidak akan membiarkan adiknya mati dengan sia-sia.


Lisa membuka lemari,ia mengambil kater dan sebuah baskom berukuran medium.Biasanya baskom itu ia gunakan untuk menyimpan permen coklat kesukaannya.


Sebelum itu,Lisa mengambil secarik kertas lalu menulis sesuatu disana.Lalu meletakkannya di atas Nakas dengan ditindih oleh ponsel miliknya.


"Lucy,,,kamu harus hidup tanpaku setelah ini.Tidak ada lagi yang akan membelamu jika guru mengataimu.Tidak akan ada lagi yang akan memarahi teman-teman yang mengatai kamu orang aneh.Kamu adalah saudara terbaikku"Lisa mengecup kening Lucy dengan begitu mendalam.


"Aku menyayangimu,meskipun terkadang aku iri padamu"


Lisa duduk melantai dengan bersandar ke tepian kasur.Dengan kepedihan yang mendalam ia menggores urat nadinya hingga putus.Lalu ia letakkan tangannya diatas baskom.Darah kental mengalir deras, semakin banyak darah yang keluar,keadaan Lisa semakin melemah.


Matanya terasa berat,tatapannya memburam.Dalam keremangan ia melihat bayangan Ibunya tersenyum padanya sembari mengulurkan kedua tangannya.


"Ibu...."Suaranya Lirih tak terdengar,ia mulai kehilangan kesadaran.


___


Bu Minah berniat kembali ke kamar Cucunya setelah menyelesaikan sarapan.Zulkarnain mengikuti dari belakang untuk melihat kondisi anaknya sebelum ia berangkat kerja.


Namun alangkah kagetnya Bu Minah begitu tahu pintu terkunci dari dalam.Padahal tadi ia tidak menguncinya.


"Zul...pintunya terkunci"


"Ibu sengaja ngunci atau gimana?"


"Tidak,aku tidak menguncinya Zul"Bu Minah mulai khawatir.Pasti sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi."Cepat dobrak Zul"


"Baik Bu"


Zulkarnain dengan sekuat tenaga menghantamkan tubuhnya ke daun pintu,tak butuh waktu lama pintu sudah terbuka lebar.Mata Zulkarnain terpana melihat Lisa tergeletak di lantai.


"Lisa"ia berlari menghampiri putrinya,Kepanikan langsung memucatkan wajah Zulkarnain ketika melihat apa yang ada didepan matanya.

__ADS_1


"Bu"Seru Zulkarnain tercekat.


"Kenapa?"Langkah tua Bu Minah yang dibantu sebatang tongkat berusaha dipercepat."Lisa"Bu Minah terpana,tubuh tuanya gemetar melihat pemandangan yang tersaji.


Lisa sudah mewadahi darahnya sampai habis,dan ia sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Pandangan Zulkarnain teralih oleh sebuah kertas yang bergerak-gerak tertiup angin pagi dari jendela.Ia meraih kertas tersebut lalu membacanya.


Ayah... ILOVE YOU


Meskipun kebersamaan kita tak sampai satu tahun,namun hal itu sudah cukup mengobati kerinduanku akan sosok mu selama bertahun-tahun.


Terimakasih Ayah,jangan tangisi kepergianku.Ini sudah takdir Ayah,aku akan menemani Ibu disana.Ayah jaga Lucy ya,berikan darahku kepadanya.Dia tidak pantas mati demi aku yang keparat ini.


Saudariku terlalu baik,terlalu lembut hati.Tolong jaga dia ya Ayah.


Salam untuk Nenek dan Mbak Laras


...****************...


Kertas putih itu jatuh dari genggaman,Zulkarnain terduduk lemas dibibir kasur.Air matanya tumpah,hatinya begitu sakit seperti disaat ia mendengar istri terkasihnya tiada.


"Bantu aku Zul,kita tidak punya pilihan lain sekarang"Seru Bu Minah kepada menantunya yang seperti orang kurang waras.Tatapannya kosong tanpa ekspresi.


"Zul!!"Bu Minah meninggikan suaranya karena Zulkarnain tak merespon.Barulah pupil netranya bergerak,Ia segera bangun membantu mertuanya memberikan minum Lucy dengan darah segar milik Lisa.Hati Zulkarnain sangat teriris,darah itu begitu kental.Darah pengorbanan seorang kakak kepada adiknya.


Usai meminumkan darah Lisa,keduanya membaringkan tubuh Lucy kembali ke tempat semula.Zulkarnain menggotong mayat Lisa ke atas perbaringan.Ia memposisikan mayat itu seperti orang yang tengah tidur pulas.


Bibirnya menyunggingkan senyum kegetiran,"Lisa terlihat seperti orang tengah tidur pulas Bu"Gumam Zulkarnain.


"Cepat kita makamkan Lisa selayaknya di halaman belakang Zul"Titah Bu Minah.


"Kenapa dihalaman belakang Bu?"Zulkarnain merasa aneh dengan permintaan Mertuanya itu.


"Kita harus menguburnya tanpa ada orang lain tahu Zul.Aku tidak mau nanti semua rahasia tentang Lucy akan terjejas"


Zulkarnain diam,memang benar apa yang dikatakan Ibu mertuanya.Ia tidak ingin sampai orang luar tahu alasan Lisa meninggal.


"Cepat panggil supirmu,biar dia bantu kamu mengurus mayat Lisa"

__ADS_1


Zulkarnain mengiyakannya,ia keluar untuk memanggil Riky.Tanpa sengaja Zulkarnain bertembung dengan Andika.


"Loh masih belum berangkat Bang?"


Zulkarnain menggeleng,"Tolong kamu tangani perusahaan dulu ya,aku absen hari ini"


"Oh ok Bang"Andika menyanggupi tanpa banyak pertanyaan.Ia sudah berpikir pasti Abangnya sibuk ngurusin si kembar yang sakit.Meskipun ia sendiri penasaran mereka sakit apa?


...----------------...


Pemakaman Lisa dilakukan dengan ala kadarnya.Karena tidak ingin menimbulkan berbagai pertanyaan yang bisa mencuatkan rumor tentang Lucy.


Nouval sendiri dan Andika belum tahu tentang kabar itu,hanya anggota keluarga yang berada di Rumah saja yang tahu.


Laras tidak henti-hentinya menangis didepan nisan yang tertera nama Lisa binti Zulkarnain.Ia benar-benar tidak menyangka orang yang ia rawat mendahuluinya pergi.


Zulkarnain mengusap punggung gadis itu agar lebih sedikit tenang.Namun Laras malah makin tergugu,sampai punggungnya bergetar.


"Lebay"Gumam Niken dengan sinis.Hanya dia seorang yang tidak menangis.Malah memasang wajah ketus melihat Laras menangis dan mendapatkan perlakuan baik dari suaminya.


Usai mengubur jenazah Lisa,semua orang berkumpul di kamar Lucy.Menunggu ia sadar dari komanya.


"Bagaimana Bu?"Tanya Zulkarnain ketika melihat Bu Minah baru saja memeriksa denyut nadi Lucy.


"Dia sudah melewati masa kritis,ku rasa tidak akan lama lagi dia akan siuman"Bu Minah menjelaskan dengan tenang.


"Tapi dia tidak akan sakit lagi kan Buk"Laras ikut bertanya.


"Kamu kok tanya begitu?"Sahut Mumun merasa heran.


"Kalau dia sakit lagi,semua pengorbanan Lisa akan sia-sia"


"Dia sakit karena mengeluarkan energi Qi nya untuk menyelamatkan Lisa.Padahal semua itu percuma,karena Lisa sudah memang tidak bisa diselamatkan"


"Begitu dahsyat akibat buruk dari topeng itu"Gumam Laras.


"Sebenarnya,jika Lisa hanya membunuh satu orang saja.Efeknya tidak akan seburuk ini.Tapi Lisa telah membunuh dua orang sekaligus dalam sekali pakai"


Semua orang terperangah mendengar penjelasan dari Bu Minah,apalagi Zulkarnain.Ia rasa kurang percaya kalau putrinya membunuh orang.

__ADS_1


"Kalian tidak perlu bertanya lebih,karena hanya itu yang aku tahu"Penuturan Bu Minah menyekat semua orang agar tidak bertanya.Ia membelai rambut Lucy dengan lembut berharap agar cucunya bisa cepat sadar kembali.


__ADS_2