
Reno mendengar keinginan Arimbi yang ingin prewedding di tempat ini langsung memberanikan diri maju.
"Tuan ...,"
"Berhenti di sana Reno!" sentak Gabe.
Reno menatap kumpulan singa yang menatapnya dengan beringas. Pemuda itu tetap tegap berdiri memandang semua dengan tenang. Arimbi tidak tau menahu tentang yang terjadi mulai bingung.
"Ada apa Dad? Kenapa Daddy membentak Kak Reno?" tanya gadis itu.
"Tidak ada sayang," sahut Gabe.
"Nona maukah engkau menjadi istriku!" pinta Reno langsung.
Arimbi langsung membelalak. Pemuda tampan yang kini berubah warna iris matanya, Arimbi sudah mengetahui warna asli mata pemuda itu.
"Kakak buka kontak lensanya?" tanya sang gadis.
"Iya Nona, saya sudah buka kontak lensa," sahut pemuda itu.
"Nah ... jadi lebih ganteng kan?!" puji gadis itu.
"Nai ... bener kan kataku?" ujar Arimbi pada keponakannya.
"Iya Mbi, akhirnya Kak Reno buka juga lensa matanya," sahut Nai.
Dua gadis polos itu manggut-manggut, Reno menghela napas panjang, rupanya Arimbi tak fokus dengan lamarannya tadi. Gabe dan semua ayah sangat yakin jika baik Arimbi mau pun Nai belum memiliki rasa cinta pada pemuda yang mengidamkannya.
"Baby ... apa kau dengar tadi apa permintaan Reno, Nak?" tanya Gabe.
Rion menatap Reno lama, ingatannya kembali pada masa kecil di saat ia dan salah satu ayahnya ke kandang mafia.
"Daddy apa iya dia pria yang dulu berkelahi itu?" tunjuknya pada Reno.
"Kok masih tetep muda?" lanjutnya.
"Dia anaknya Baby," jawab Virgou.
"Ah ... begitu," sahut Rion.
"Kau sudah tanya ayahmu apa yang kukatakan dulu?"
Rion berjalan ke depan Reno. Rion sama tinggi dengan Reno, tetapi pesona Rion tentu tak bisa ada yang menandingi. Para balita menonton para orang dewasa yang sepertinya ingin berkelahi.
"Ata' Izmat ... Ata' Izmat!" panggil Al Bara pada salah satu anak angkat Bart.
"Iya Baby?" sahut bocah itu.
"Meuleta napain ... tot tayat bawu peulamtem?" tanya Al Bara.
"Wah ... yan meunan spasa nih? Pita taluhan yut!" sahut Harun tiba-tiba.
Semua orang dewasa tentu menoleh pada balita bermata biru itu, lalu menatap Virgou. Tentu saja pria dengan sejuta pesona itu menggeleng dan menolak sangkaan semua orang jika dia yang mengajari Harun kata-kata itu.
"Lalu tau dari mana bayimu kata-kata itu!' Herman begitu gemas dengan kakak dari keponakan cantiknya itu.
"Eh ... kalian lanjutkan mau berkelahi, aku ingin tau apa perkataannya lagi," suruh Virgou pada Rion dan Reno.
__ADS_1
Hal tersebut tentu membuat semua menepuk dahi mereka. Rion yang memang sedikit error otaknya meneruskan apa yang ingin dia lakukan. Pria yang kini pesonanya sama dengan Virgou itu mengangkat kerah Reno.
"Kak," Arimbi langsung memeluk Rion.
"Ah ... Ata'Bimbi ... pial Apah Baby putun Ata' Pleno!" sahut Arsyad memprovokasi.
Reno menutup mata mendengar namanya berubah di mulut bayi dua tahun itu. Rion tertawa mendengar nama yang salah itu.
"Ata' Alun padhi bawu taluhan ... pemana taluhan ipu pa'a?" tanya Aisya.
"Taluhan ipu yan tasih duwit puat yan menan!" jawab Harun.
"Pita eundat bunya duwit Alun!" seru Bariana.
Ketika mereka tengah berdebat tiba-tiba terdengar suara yang sama seperti awal kedatangan paus biru.
"Nguuung!"
"Itan salden latsatsa datan ladhi!" seru Maryam..
Semua nyaris tersedak mendengar perkataan Maryam. Para bayi berharap ikan itu muncul di sisi kiri dan berlama menatap mereka.
"Ipu itan latsatsa!" teriak Al Bara sambil melompat kegirangan.
"Hoi ... itan salden latsatsa ... tamu janan detet-detet banusia ya!" peringat Maryam.
"Banti tamu pibasutin talen!" lanjutnya.
Kean mengusili bayi itu. Sedang pertunjukan tadi tak digubris sama sekali. Arimbi dan Nai ikut-ikutan melihat binatang raksasa itu.
Kean maju mendekati Maryam. Remaja itu memang paling usil dari semuanya.
"Ikan ke sini ikan ... biar Kean masukin kaleng, ini ada Baby Maryam yang doyan sama ikan sarden!" serunya.
"Ata'!" Maryam menendang kaki Kean sampai remaja itu mengaduh.
"Baby!" peringat Saf, sang ibu.
"Rasakan kau!" sengit Darren pada Kean.
Kean mestinya adalah keponakannya, remaja itu mengerucutkan bibirnya. Aisya langsung memeluk remaja itu.
"Ata' ... ipu syatit?" tanyanya.
Kean mengangguk, remaja itu pura-pura menangis.
"Wawo woh ... ayis!" sahut Arsh.
Maryam merasa bersalah, ia hanya kesal dengan perkataan kakaknya. Melihat Kean menangis membuatnya ikut menangis.
"Baby," keluh semua ibu.
Acara lihat ikan pun selesai, mereka makan siang bersama. Usai makan, anak-anak disuruh tidur siang.
Reno menatap Arimbi, pemuda itu benar-benar sudah jatuh pada pesona nona mudanya. Arimbi menunduk dengan rona merah di pipinya.
"Maaf kak, aku sengaja berbuat demikian agar menenangkan para ayah," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Arimbi juga menyukai Reno, belum bisa dikategorikan cinta. Tetapi jika sang ayah merestuinya, gadis itu siap untuk dinikahi Reno.
Dua insan yang saling tatap itu tak luput dari perhatian seorang ayah yang gusar setengah mati. Ingin sekali ia mencongkel keluar mata pemuda yang menatap putrinya.
"Ayah," panggil sang istri lembut.
"Ikhlaskan sayang. Arimbi sudah pantas berumah tangga. Kita tentu ingin cepat punya cucu kan?" lanjutnya.
Herman menatap sang istri. Wanita yang ada di sisinya dan menenangkan dirinya itu mengangguk kuat walau dengan mata berkaca-kaca.
"Baby masih kecil sayang," Khasya menggeleng.
"Dia sudah besar, dia pasti bisa menjadi istri yang baik. Bukankah selama ini kita telah mendidiknya seperti itu?" terang Khasya.
Haidar yang dekat dengan Khasya mendengar perkataan wanita itu. Ia juga menatap anak gadisnya, ia sempat menolak jika Nai sudah siap untuk menikah.
Terra mendekati suaminya, memeluk erat tubuh kekar yang menghangatkannya setiap malam.
"Jika Arimbi menikah, Nai pasti ingin menikah juga," ujar wanita itu.
"Papa belum siap Ma," bisik Haidar.
"Tapi Langit adalah pemuda yang cocok untuk putri kita sayang. Benar kata ayah. Kita tak mungkin mempercayakan putri kita dengan orang lain selain pada orang-orang yang kita kenal," jelas Terra.
Haidar mendekati Herman, dua ayah itu ingin menolak jika dua putri mereka sudah besar. Ketakutan seorang ayah adalah melepas putrinya. Tetapi dua kandidat terbaik telah tersedia.
"Ayah ... Babies masih kecil," bisiknya dengan suara serak.
Herman memeluk Haidar. Tubuh tinggi pria itu masuk dalam rengkuhan pria tua yang juga berat melepas putrinya. Bart dan Bram mendatangi keduanya. Dominic dan lainnya menyerahkan semua keputusan pada dua ayah yang masih saja berperang dengan kata hati mereka.
"Nak ... Grandpa juga mau punya cicit dari cicit. Aku akan bahagia sekali masih bisa melihat cicitku menikah dan punya anak," ujar Bart.
"Papa juga mau punya cicit sayang," ujar Bram.
Kanya memeluk Terra begitu juga Khasya. Reno telah kembali ke satuannya dari tadi. Ada beberapa drone tanpa awak kembali masuk area pulau dan harus segera ditangani.
"Kita nikahkan mereka tahun depan ya," ujar Bart.
Baik Herman dan Haidar mengangguk. Rion, Virgou, Darren dan lainnya menyerahkan semua keputusan pada ayah dari dua gadis itu.
"Ah ... mereka masih kecil!" rengek Herman.
"Herman ... lama-lama kupukul kau!" ancam Bart kesal.
"Eehem!" dehem Virgou.
"Kau juga mau kupukul?" ancam Bart pada Virgou.
Bersambung.
Dah ... kalah dah ... yuk pantau sampai halal.
maaf ya readers ... udah berapa hari ini othor cuma up satu. Ada masalah sama kesehatan othor, minta doanya ya ...
ba bowu 😍😍😍
Next?
__ADS_1