SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KERICUHAN BAYI


__ADS_3

Akhirnya semua berangkat walau dengan teriakan para ayah. Sedang para istri hanya bisa menghela napas panjang.


"Yang telat siapa, yang marah-marah siapa!" gerutu Saf.


"Sayang," peringat Seruni.


"Habis Mami, Mas Darren nyalahin Saf," sahut wanita itu.


"Udah itu main tinggal lagi!" lanjutnya tambah kesal.


Saf akhirnya meminjam motor salah satu milik pengawal. Jika ada Virgou tentu hal itu tidak akan terjadi. Tapi waktu yang begitu mepet membuat wanita itu melesatkan kuda besinya dengan kecepatan sedang.


"Astaga anak itu. Bukannya naik mobil sendiri!" keluh Puspita.


Rupanya Saf juga lupa jika memiliki mobil dan diantar oleh para bodyguard. Tiga pengawal kini harus mengejar Nyonyanya agar tak dimarahi sang tuan nantinya.


Sementara para bayi sudah berkumpul, Della sibuk meminggirkan semua mainan-mainan berukuran kecil dan meletakkannya di dalam boks.


"Makasih sayang," ujar Seruni melihat kesigapan Della.


"Syama-syama Mami!" sahut gadis kecil itu.


Ari, Aminah, Firman, Aaima, Fathiyya, Arsyad, Maryam, Aisya, Al Fatih, Al dan El Bara sudah membentuk kelompok sendiri. Mereka semua seumuran, hanya beda bulan saja.


"Ali ... tamuh panyat piem aja ya?" sahut El Bara melihat satu saudaranya yang banyak diam.


"Minah judha pitam," sahut Ari.


"Selita don setali-seutali!" sahut Fatih juga.


"Selita pa'a?" tanya Ari bingung.


"Selita seupelum tamuh pama Ata' Pijah," ujar Azha kini.


"Tan pemuwa pahu atuh pindal pibanti sasuhan,' ujar Ari memandangi semua saudaranya.


"Biya pahu. Pati bastina lada selita tan pas pindhal pi banti pasuhan?" kini Arraya yang berbicara.


"Hmmmm!" Ari tampak berpikir dan mengingat semuanya.


"Atuh pisa selita dali wawal atuh pitemutan,'' ujarnya sambil mengingat lintasan memori tiga tahun lalu.


"Atuh pitindhal peudhitu bi pelatan deulobat. Talian pisa panya pama Ata' Fena," ujarnya memulai cerita.


"Ipu Erna yan penuin atuh, pas ladhi nayis .... huuuu ... uuuuu ... dithu," ujarnya sambil mengekspresikan orang menangis.


Maria merekam pembicaraan itu Tugas dari Virgou agar semua orang harus mengabadikan semua kegiatan anak-anak jika sudah berkumpul.


"Telus?" pinta Azha.


"Atuh pitemutan woleh Pipu Elna ... biopatin pama Ata'Bimbi pama Ata'Nai," lanjutnya.


"Telus pa'a ladhi?"


"Ya telus, atuh pindhal pama Ata' Lalan, Ata' Wewa, Ata' Lea," jawab Ari santai.


"Eundat ada selita ladhi?" kini Arion yang bertanya.


Ari menggeleng, tanda tak ada kisah yang harus ia bagi pada semua saudaranya. Ia sangat senang hidup di panti karena semua menyayanginya.

__ADS_1


"Talo Aminah padhaipana?" tanya Arion pada adik iparnya.


"Atuh tan pindhal pama Ata' Jijah,' sahut bayi cantik itu.


"Eundat lada selita yan meunalit?" Aminah mencoba mengingat.


Bayi cantik itu menggeleng, tanda ia tak ingat apapun. Aminah terlalu kecil ketika mereka diusir keluar dari rumah ayah dan ibunya.


"Pita bitin selita yut!" ajak Bariana tiba-tiba.


"Selita pa'a?" tanya Arion.


"Pita atan pitin dlama tayat Ata'pita dulu," ujar Bariana memberi ide.


"Oh paitlah ... Pati janan selita yan sama ya," sahut Harun.


"Selita yan tayat pi lumah Umi Layla poleh eundat?" tanya Arion.


Semua menoleh pada Arion. Firman mengerutkan keningnya. Tentu saja ia belum tau siapa itu Umi Layla. Wanita berprofesi guru itu tidak tinggal di sana. Ia tinggal di hunian sang suami. Juno tentu bekerja mengawal Adiba.


"Umi Layla spasa?" tanya Della.


Bayi cantik itu mendatangi semua saudaranya. Ia sudah lelah menjaga semua bayi yang sepertinya terlalu aktif. Maria tentu tak tega jika membebani Della mengurus Aliyah, Angel, Fael, Zizam dan Izzat.


Lima bayi itu memang tidak bisa diam, padahal baru mau menginjak delapan bulan.


"Ata'!" panggil Aliyah pada Della. "Nih!"


"Peubental Paypi ... Ata' pawu dudut dulu ya," pinta Della tampak kelelahan.


"Oh sayang, maafin Mommy ya. Tapi kamu luar biasa sayang," puji Maria pada Della.


"Mmy ... au Ata' Ela!" tolak Aliyah pada Maria.


"Baby sama Mommy oteh!" Maria tak peduli.


Wanita itu mengangkat semua bayi dan meletakkannya di boks mereka.


"Sadhi pain dlama eundat?" tanya Al Bara mulai emosi.


"Ya sadhi ... suma pita pinun pawu pain dlama pa'a?" tanya Harun berpikir keras.


"Sanan lama-lama don Ata', pita ipu panyat lulusan!" sahut El Bara sok sibuk.


"Pemana tamuh napain?" tanya Al Fatih pada dua bersaudara kembar identik itu.


"Atuh siput ... atan lada beulpemuan pentin pama toledha dali luan nedeli!'


"Toledha?" Ari mengernyit kening.


"Biya Apah suta pilan dithu pama Muma," sahut El Bara.


"Oh ... tayat padhi ya peubelum pelantat teulja?" sahut Aminah kini mulai bersuara.


"Biya tayat padhi. Pasa talian eundat deunel talo Apah Dallen malah-palah mama Muma?!" sahut Al Bara memberi info.


"Deunel syih," angguk Maryam.


"Man pampe atut woh," bisik Firman takut-takut.

__ADS_1


"Tamuh atut? Badahal ipu peultama tali tan tamuh deunal?" Firman mengangguk.


"Atuh pebiat hali deunel Apah palah-palah ama Muma!" adu Al Bara.


Seruni tentu mencatat hal itu dan akan mengadukannya pada Terra. Terra dan Puspita tadi pergi berbelanja ke pasar bersama Khasya.


"Awas ya Darren ... Mami aduin sama Mama Te, kalo perlu ama Daddy!' tekad Seruni dalam hati.


"Tasihan Muma pibalahin Apah," ujar Aisya.


"Janan tuwatil ... atuh atan palahin Apah Dalen banti!" ujar Arsyad.


"Pita atuin syaja pama Daddy!" sebuah ide cemerlang diberikan oleh Ari.


"Wah poleh judha!" sahut Harun setuju dan diangguki oleh yang lain.


"Tamuh pisa tiluin Apah Dalen pas balah-palah eundat?" tanya Aaima.


"Tayat dhini ... Muma ... Apah ipu peubental ladhi pawu pintin ... tot eundat panunin padhi-padhi syih!" seru Al Bara menirukan ayahnya memarahi ibunya.


"Apah ... Muma judha tesianan ... mamap yah!" ujar El Bara kini menirukan ibunya.


"Atuh ... Muma ... pana taos tati Apah? Tompet Apah pana?" Al Bara berkacak pinggang menirukan sang ayah yang kelimpungan mencari benda yang disebutkan.


Seruni nyaris tertawa melihat ekspresi yang digambarkan oleh duo Bara itu. Betapa seriusnya Al dan El Bara menirukan ayah mereka.


"Dallen pa'a yan tamuh latutan pada pistli mu?!" tiba-tiba Harun berperan seperti Virgou.


"Daddy ... Dalen tesianan dala-dala Muma," jawab Al Bara yang menirukan ayahnya.


"Teunapa tamuh eundat panun beuldili?" tanya Harun gusar, mirip Virgou yang sedikit kesal pada semua anak-anaknya.


Seruni benar-benar merekam semua anak-anak. Permainan drama yang menirukan para orang tua membuat cerita sendiri.


"Sayan ... teunapa balah-palah?" tanya Arraya pada Harun.


"Tamuh sadhi spasa?" tanya Azha pada saudarinya itu.


"Mommy Busbita," jawab Arraya.


"Eundat pawu sadhi Mama Tela aja?" tanya Bariana.


"Mama Tella tamuh aja yan sadhi Baliana. Soalna tamuh pama dalatna tayat Mama Tella!" sahut Arion.


"Tamuh eundat pahu talo Mommy atuh sauh lepih dalat dali Mama Te," sahut Bariana.


"Janan peuljanda tamuh Baliana. Mommy ipu bait!" sahut Azha tak suka.


"Eh ... pati syini deh," sahut Azha melirik ibunya.


Seruni gemas menatap putranya yang berbisik pada semua saudaranya itu.


"Mami ... pa'a tamuh peunel-peubel sedalat ipu?" tanya Aisya, Maryam dan Aaima tak percaya.


bersambung.


Atur aja Babies 🤦


Al dan El Bara malah gosipin pamannya sendiri ... Maryam, Aisya dan Al Fatih mengamini gosip saudaranya

__ADS_1


next?


__ADS_2