
POV LUCY
Aku tidak bisa berkata apa-apa, seseorang yang aku rindukan tiba-tiba saja berada dihadapanku.Pelukan hangatnya selalu menggoda aku untuk memimpikannya.Aku belai pipi yang mulai menua itu.Ini nyata bukan lagi mimpi.
Ibu... Ayah sekarang ada didepanku.Seseorang yang selalu ku tanyakan padamu apakah dia sehat ?? apakah dia makan dengan lahap hari ini ? Apakah dia tidur nyenyak ?? Apakah dia bahagia ?? Semua hal yang ingin aku tahu tentang sosok Ayahku selalu ku tanyakan walau tak ada jawaban.
Dan sekarang keberadaannya di hadapanku apakah jawaban yang ku tunggu ??Dia menatapku dengan linangan air mata.Aku balas dengan senyuman agar ia menyusutkan air matanya yang menggores hatiku.
"Jangan menangis Ayah"hatiku memohon tanpa ucapan.Aku usap air matanya.Tak banyak kata yang bisa aku ucapkan.
"Apa kamu baik-baik saja selama ini Nak??Kamu makan enak kan tiap hari ?? kenapa badanmu kurus kerempeng seperti ini ??"Ayah bertubi-tubi bertanya namun aku tak mampu menjawab,hanya senyum terpaksa yang ku sunggingkan agar ia tahu aku baik-baik saja.
"Kau mirip sekali dengan ibumu, cantik"
"Lisa jauh lebih cantik Tuan"Sebuah suara yang aku kenal menimpali.Aku melihat dibalik punggung ayahku.Benar itu Andrew, cowok brengsek yang sangat menyebalkan sekali.Aku lihat Ayahku tersenyum padanya.Apa hubungan ayahku dengan dia??
"Aku tahu informasi tentangmu dari temanmu ini Nak"Ayah menjelaskan,Aku menatap Andrew tanpa senyuman.Dia terlihat berusaha menyembunyikan diri dibalik tubuh seseorang yang aku ingat seperti supir Ayahku."Kalau bukan karena dia,aku tidak akan bisa bertemu denganmu.Dan entah bila aku bisa menemuimu"
Aku tersenyum kepada Ayahku,aku terbayangkan bagaimana ia berusaha mencariku dan Lisa,Yah Lisa!dia belum bertemu dengan Ayah.
"Nak... pulanglah..Ayo kita berkumpul bersama.Ibumu pasti bahagia melihat kita bisa bersama-sama "
"Lisa??"Aku menyebut nama saudaraku.Agar ayah sadar kalau dia juga ada Lisa.
__ADS_1
"Yah kita ajak Lisa , semuanya "
"Nenek ??"
"Nenek ??"ayahku mengulang kalimatku, seolah ia ingin tahu siapa yang aku maksud.
"Yang merawat dan membesarkan kami Ayah.Ada nenek dan Mbak Laras"
"Nak... siapapun itu dia berhak untuk tidak berpisah denganmu"Jawaban Ayahku membuat aku tersenyum senang.
"Tuan...."Suara Andrew terdengar lagi, membuat ayah mengalihkan perhatiannya pada bocah tengik itu."Boleh saya pulang "
Aku merasa geram,rasa marahku padanya yang membawa Lisa pergi tanpa ijin belum lagi hilang.Aku melesat cepat melayang ke arahnya.Dan ku remas kuat Krah bajunya.Ia terlihat ketakutan dan pucat pasi.
Ia gemetaran, keringat dingin meleleh dari keningnya"Ma maafkan aku Lucy,aku janji...suwer dech..nggak akan ngulangin lagi"Ia mengangkat dua jarinya.
"Lucy ada apa ini ??"Ayah bertanya,ia heran melihat kemarahan ku kepada Andrew."Tolong lepaskan dia"Aku menurut karena yang meminta adalah Ayahku.Aku hempaskan tubuhnya ke aspal.Membuatnya meringis kesakitan."Nak... kenapa kau begitu marah dengannya?"
"A-anu Tuan... Lucy hanya salah paham,saya hanya ingin berteman baik saja dengan Lisa.Tapi Lucy marah..."Jawaban Andrew membuat aku berang, Ia seolah-olah menyudutkan diriku.Aku ingin menyambarnya tapi bahuku ditahan oleh Ayah.
"Nak....tolong maafkan dia, bagaimanapun Ayah berhutang budi padanya"Ayahku memohon ampunan untuknya.Aku bisa apa?
"Awas kau kalau mengulangi perbuatanmu,akan aku buat kau menyesal seumur hidupmu"Aku mengancam Andrew agar ia segan untuk melakukan kesalahan yang sama.
__ADS_1
"O-ok siap!!"Ia buru-buru lari menjauh pergi.Barulah aku menghela nafas pelan.
"Saya jujur juga kurang menyukai anak itu,dia ngeyel dan banyak bicara"Supir ayah membuka suara.
"Sudahlah Rik.. jangan menambahkan amarah dihati anakku"Ayah mencoba menengahi."Nak ayo antar Ayah menemui Lisa"
"Jangan sekarang Ayah, aku harus meminta pendapat Nenek.Aku tidak mau mengambil langkah sesuka hati"Ayahku diam mencoba mengerti.
"Baiklah,Ayah minta no telfonmu"
"Aku tidak pegang hp Ayah,Lisa yang punya"
"Kenapa ??"
"Aku tidak membutuhkannya "
"Lalu bagaimana aku menghubungimu??"Ayah bertanya dengan penuh keraguan.
"Mana hp Ayah?"Aku minta handphonenya,dan dengan senang hati Ayah memberikannya padaku.Aku genggam erat hp itu.Dengan kelebihan yang Allah berikan kepadaku,Aku bisa menyimpan no handphone Ayahku di otakku.Bukan hanya nomer Ayah,tapi seluruh nomer yang ada di handphone itu.
"Nanti aku akan menghubungi Ayah"Aku serahkan kembali hp itu ke tangan Ayahku."Aku pulang dulu Ayah, Nenek pasti merisaukan aku"
"Baiklah Nak... hati-hati "Ayah mengucapkan kalimat perpisahan,aku tersenyum lalu melangkah pergi.
__ADS_1