
Ariya melihat etalasenya, gadis itu senang. Beberapa karyanya sudah terpajang cantik di sana.
Tring-tring! Bunyi kerincing yang dipasang di atas pintu menandakan seseorang datang. Kepala gadis itu bergerak ke arah bunyi.
"Selamat pagi menjelang siang. Ada yang bisa saya bantu?" sapanya dengan senyum lebar.
Calon pembeli pertama masuk. Tulisan di luar memang menarik pengunjung yang datang. Gadis itu dibantu oleh Dewa yang menulis kaca toko dengan tulisan timbul yang sangat cantik.
"Ini toko perhiasan perak dan monel?" tanya pria itu.
"Benar Pak, di sini adalah toko perhiasan dari monel dan perak juga emas," jawab Ariya senang.
Pria itu menatap perhiasan di etalase. Ariya menawarkan jasa custom agar pria itu bisa memesan sesuai dengan keinginannya.
"Saya mau dibuatkan gelang sepasang, untuk putri dan ibunya. Apa bisa?" tanya pria itu.
"Bisa sekali Pak, ini ada contohnya. Bapak bisa pilih!" Ariya memberikan satu buku model.
Pria itu duduk, Ariya memberinya layanan satu minuman teh hangat dan juga kudapan ringan.
"Wah, eksklusif sekali!" puji pria itu mengangguk puas.
"Silahkan Pak, ini adalah promo pengenalan dari kami!' ujar Ariya mempersilahkan.
Pria itu pun mencoba teh jahe yang membuat perutnya hangat seketika. Bahkan kudapan yang diberikan mengganjal perutnya.
"Baru kali ini saya makan klepon," kekeh pria itu menghabiskan tiga kue klepon yang tersaji.
"Saya minta rekomendasi dari Nona saja. Mana yang lebih bagus!' ujar pria itu.
Ariya dengan senang hati memberikan beberapa pilihan gambar. Pria itu akhirnya memilih gelang dengan bandul bintang dengan permata rubi merah.
"Saya bayar berapa?" tanya pria itu.
"Bisa 50% dari harga seharusnya Pak. Dan dilunasi setelah pengambilan barang," jawab Ariya.
"Saya bayar cash!" sahut pria itu yang membuat senyum Ariya makin lebar.
"Kami akan melakukan yang terbaik Pak, anda bisa ambil barangnya tiga hari lagi!' ujar Ariya.
Satu nota tertera kapan benda itu diambil. Pria itu pun pergi. Lalu bermunculan pelanggan-pelanggan baru. Ariya melayani mereka dengan ramah. Walau dari semua yang datang hanya sekedar bertanya-tanya.
Tak terasa toko tutup. Rio dan dua rekannya datang membantu.
"Kak, saya menginap di sini. Karena ada empat pesanan custom," ujar Ariya.
Rio menatap gadis itu. Ia sedikit berat jika harus menginap di tempat ini terlebih Ariya adalah seorang gadis.
"Apa tidak apa-apa ditinggal sendiri?" tanya Rio.
Ariya sedikit diam. Gadis itu masih suka bermimpi buruk. Terkadang, ia memanggil salah satu adik panti tidur bersamanya.
Tiba-tiba terdengar orang berteriak-teriak dan berlarian. Tiga pengawal langsung sigap. Ariya ketakutan setengah mati.
"Huuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"
Tubuh gadis itu bergetar hebat. Rio kebingungan, ia takut memeluk gadis itu. Ariya berjongkok sambil meringkuk takut.
__ADS_1
"Nona ...."
"Kak ... hiks ... aku takut ... hiks," begitu lirih.
Keributan makin ramai. Tiga pengawal terpaksa masuk kedalam dan berjaga-jaga dengan senjata seadanya. Rio menelepon markas meminta bantuan.
"Ada keributan anak geng motor A dan geng motor B tawuran Tuan. Kalau bisa minta dua pengawal wanita!" lapornya pada Deni yang ada di markas.
Tak butuh waktu lama seratus pengawal berhasil mengamankan situasi. Tiga pengawal wanita menenangkan Ariya.
"Ini masih bergetar ketua!" lapor Desi, salah satu pengawal wanita yang memeluk Ariya.
"Apa mesti telepon Nona Baby?" tanya Rio. "Tapi ini sudah malam sekali!"
Ariya digiring pengawal ke kamarnya. Gadis itu memeluk erat Desi.
"Jangan tinggalkan aku Mba ... please," pintanya lirih.
"Tenang Nona. Nona aman di sini," ujar Desi mengelus punggung Ariya.
Ariya tak bisa tidur. Gadis itu tak mampu memejamkan mata sedikit pun. Pagi hari Herman datang ke toko gadis itu.
"Ariya!"
"Ayah!"
Ariya berlari dan memeluk Herman, gadis itu menangis ketakutan. Herman memeluk dan memberikan ketenangan.
"Jangan takut Nak. Memang di sini terlalu ramai. Tapi, lokasinya sangat strategis. Jadi sangat bagus untuk mengembangkan bisnis kamu," ujar pria itu.
Tak lama Lidya datang. Ariya kini terlelap. Dewi, Kaila, Rasya, Rasyid dan Dewa mampu ke toko itu.
"Loh, kok kalian ke sini? Bukan pulang?' tanya Rio heran.
Empat pengawal yang menemani lima remaja itu hanya bisa menunduk.
"Mereka mengancam akan kabur dari pengawalan kalau tidak dituruti Tuan," sahut salah satunya.
"Ih ... bukan ...."
"Baby!" keluh Rio.
"Astagfirullah, kenapa kalian kemari!' Herman turun dari lantai dua.
Lima anak menunduk di depan Herman. Pria itu kesal bukan main.
"Ayah ...."
"Kalian pasti belum makan kan?" tanya Herman.
Semua menggeleng. bahkan perut Kaila berbunyi keras menandakan dirinya lapar saat ini.
"Rio!"
"Baik Tuan!"
Para remaja makan dengan lahap. Begitu juga dengan semuanya. Terra menelepon Herman tentang keberadaan lima anak yang tidak pulang ke rumah.
__ADS_1
"Mereka ada di toko Ariya sayang," jawab Herman.
".......!"
"Tenang, mereka sedang makan siang di sini!" jawab Herman lagi.
Sambungan telepon terputus. Usai makan, Dewi melihat-lihat berkas milik Ariya. Gadis itu menemukan empat custom yang mesti dibuat oleh kakaknya itu.
"Wah, kasihan amat Kak Ariya jika harus menyelesaikan ini semua!" serunya iba.
"Kita tanya dulu, boleh nggak bantuin. Kan Kakak punya seni sendiri yang mungkin kita tak bisa," sahut Rasya.
"Oh iya ya," angguk Dewi setuju.
Ariya sudah merasa segar. Lidya memang sudah pulang sebelum anak-anak datang. Wanita hamil itu hanya memberikan treatment pada Ariya untuk menanggulangi traumanya.
"Tapi, ini merepotkan," cicit Ariya.
"Nggak Kak. Mumpung besok kita libur Gong xi fat cay!" sahut Dewa santai.
Herman membiarkan lima remaja membantu Ariya. Pria itu meminta Rio menjaga semua. Sedang dirinya pergi ke perusahaan di mana Kean sudah pergi duluan keluar kota.
Hanya butuh tiga jam empat perhiasan telah rampung dibuat. Begitu indah dan cantik.
"Kalian semua berbakat dalam seni ternyata!' puji Ariya.
"Kita kata Ayah boleh nginap!" seru Dewa melihat ponselnya.
Tak lama toko milik Ariya penuh dengan manusia. Semua tidur berhimpitan di lantai dua.
"Ata' pelut Della syini!' Della merentangkan tangannya pada Ariya.
Gadis itu langsung memeluk bayi cantik itu. Kehangatan langsung dirasakan Ariya.
Arsh belum mau tidur bayi itu bersikeras ingin begadang.
"Alsh au ihat owan lelantem!" serunya galak pada Rio.
Tiba-tiba, kembali keributan terjadi. Teriakan orang-orang malah membuat Arsh penasaran. Bunyi deru motor yang bising tak membuat bayi galak itu takut.
"Leuleta papain Papa?" tanyanya.
Bayi itu dalam gendongan Rio. Pria itu mencium gemas pipi gembul Arsh.
"Mereka sedang menunjukkan kekuatannya," jawab Rio.
Arsh mengangguk, ia pun menguap bosan.
"Papa sasut yut ... Alsh antut!" ajak bayi itu.
"Ayo Baby," ajak Rio lalu beberapa pengawal menutup rolling dan membiarkan keributan itu ditangani oleh kepolisian setempat.
Bersambung.
Ah ... gitu deh ...
next?
__ADS_1