
Prapto dilarikan ke rumah sakit milik Daud. Pria itu jatuh pingsan ketika hendak ke kamar mandi.
Wajah pucat dan kurus langsung terlihat. Daud dan beberapa tim medis memeriksa keadaan Prapto.
"Dia sudah mengalami gagal fungsi hati," ujar Vania salah satu dokter muda di sana.
"Bagaimana apa pendonor sudah ada?" tanya salah satu dokter lagi.
"Ada empat pendonor yang cocok dengan pasien. Tetapi, tubuh pasien seperti menolak semua aliran darah yang masuk," jelas Daud.
Dr. Daud Nakendra Putra Hovert Pratama, dua puluh satu tahun. Pemuda kalem dan pendiam. Sosok laki-laki tampan dengan tubuh tegap dan kekar. Kulit putih bersih. Wajahnya mirip dengan sang ibu Terra.
"Dok, tekanan darahnya sangat rendah, kita bisa kehilangan detaknya!' lapor perawat.
"Beri penanganan!" perintah Vania.
Vania Larissa, dua puluh tujuh tahun. Gadis cantik anak pasangan pengusaha mutiara budidaya. Cantik dan sangat modern.
Rambut yang tergerai dengan wajah dirias tipis. Gadis itu benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai anak orang kaya.
"Tapi detaknya sudah tak teraba dok!" ujar perawat itu.
Vania tadinya sama sekali tak mau menyentuh Prapto. Seorang narapidana. Beberapa dokter lapas yang menangani pria itu.
"Anda tidak memeriksanya, bagaimana anda tau keadaannya?" tanya Daud dengan kening berkerut.
"Biasanya kondisi pasien memburuk saat awal tapi akan lebih baik kemudian Jadi saya tidak perlu menyentuhnya!" jawab Vania dengan senyum manis.
Daud memeriksa detak jantung pria itu. Mencari titik nadi yang masih bisa teraba. Jangan tanya dari mana keahliannya. Saf dan Lidya tentu sudah mengajari semua ilmu mereka.
"Ini ... tekan di sini Sus, jangan sampai hilang!" pinta Daud lalu menuntun tangan perawat ke lengan Prapto.
Vania melirik tangan kekar itu dengan pandangan gusar. Ia dokter baru di rumah sakit ini. Tadinya tak menyangka jika pemilik dari tempatnya bekerja adalah seorang dokter yang masih sangat muda.
Prapto dipersiapkan untuk menerima donor hati. Seseorang pendonor yang baik hati tak mau disebut namanya, memberikan sebagian kecil hatinya untuk kesehatan orang lain.
"Hati sudah pada tahapan pembesaran sempurna. Tinggal ditransplantasikan saja," jelas salah satu perawat.
"Cek penerimaan semuanya jangan ada gagal!' perintah Profesor Gilbert.
Prof. dr. Gilbert Pangabean, lima puluh tujuh tahun. Pria ini adalah ahli organ dalam manusia. Bahkan ia mampu mendeteksi orang memiliki penyakit apa dengan hanya melihat saja.
"Semua diterima Dok!" seru perawat ketika memberikan transfusi darah.
"Kita siapkan operasi dua jam lagi!" perintah Gilbert.
Beberapa perawat dan juga dokter termasuk Daud dan Vania segera menyiapkan ruang operasi.
Setelah itu mereka melakukan brifing untuk menangani kendala yang dilakukan ketika operasi berlangsung.
__ADS_1
Dua jam berlalu, Prapto dibawa ke ruang operasi. Sementara di hunian Bram, semua orang menunggu hasil.
Anak-anak yang tengah berpuasa juga tak melakukan aktivitas apapun Semua bayi pun larut. Gino menatap halaman belakang dengan pandangan kosong. Seno menghampirinya. Lilo baru keluar dari rumah sakit lusa. Virgou masih setia menemani balita itu.
"Kak," Seno mendekatkan dirinya pada kakak sepupunya.
"Kakak kepikilan Papa ya?" lanjutnya bertanya.
Gino enggan menjawab, ia masih setia pada pikirannya yang melayang. Dinar mendekatkan dirinya pada Gino dan Seno.
"Sayang," panggilnya.
Seno menoleh tapi Gino masih dalam mode yang sama. Hening. Dinar sedih bukan main. Ia memeluk dan mengecup Gino.
"Bibu," Gino akhirnya terlepas dari pikiran kosongnya.
"Berdoalah biar papa cepat sembuh," ujar Dinar.
Gino seolah menggeleng pelan. Dinar sedih melihatnya.
"Gino takut Bibu," ujarnya lirih.
"Gino takut jika Papa sembuh dan minta Gino kembali," lanjutnya.
"Sayang ... sayang," Dinar memeluk bocah itu.
Tangisan bocah itu pecah. Semua tentu mendekati mereka ikut sedih. Dita dan Verra juga sedih. Mereka kemarin melihat ayah mereka. Tapi baik Aldo dan Heru tak mau memeluk atau memanggil nama mereka.
"Jujul kami enggan beldoa untuk almalhumah mama dan papa. Kami takut jika meleka kembali dan mengambil kami," lanjutnya dengan linangan air mata.
Dinar tak menjawab pertanyaa Seno. Ia tau betapa semua anak-anak ini sangat kecewa dengan orang tua mereka. Dulu ia juga sama. Tetapi, Herman mengembalikan semua miliknya.
Dinar memiliki perusahaan retail yang dicuri oleh beberapa kerabat yang serakah. Herman mengambil semua milik Dinar. Bahkan kedua orang tua wanita itu sangat berterima kasih.
"Sayang, biar seburuk apapun dia adalah orang tua kita. Kita sebagai anak wajib mendoakan orang tua," ujar Rahma.
"Lalu kewajiban mereka sebagi orang tua apa Umi?" tanya Gino yang membuat Rahma terdiam.
"Kenapa hanya selalu kami anak-anak yang harus diingatkan kewajiban. Kami dipaksa untuk menurut dengan diancam dengan kata-kata durhaka!" lanjutnya dengan terisak.
'Kami nggak minta dilahirkan!"
"Berarti Allah salah menciptakan Baby?" sahut Layla yang kali ini membuat Gino terdiam.
"Apa Baby menyesal hidup dan bertemu kami?" tanya Layla lembut namun penuh penekanan pada bocah berusia tujuh tahun itu.
"Kemari sayang,"
Layla adalah seorang ustadzah, tentu saja pemahaman agama jauh lebih dalam dibanding Rahma. Sebenarnya Dinar bisa menjawab pertanyaan Gino. Tetapi wanita itu juga adalah korban keegoisan orang tua.
__ADS_1
Gino menangis dipelukan Layla. Dua bayi kembarnya sedang asik bergulingan di karpet dan menyedot botol susunya bersama bayi-bayi lain.
"Semua adalah garis yang Allah buat untuk Baby. Allah punya rencana besar yang akan dibentuk oleh kamu nantinya," ujar Layla.
"Allah lebih tau dari kita manusia. Mungkin Gino nanti akan jadi penyelamat kami semua di akhirat kelak?" Gino menyandar di dada Layla.
Wanita itu mengecup kening bocah piatu itu. Gino memejam, ia memejam dan sadar, ia kini bahagia bersama semua suadaranya.
"Ata' Dhino!' Arsh mendatangi Gino.
"Alsh meman pidat pahu tentan adama. Pati Alsh yatin Allah itu maha penasih ladhi maha penayan. Sadhi janan ladhutan sintana Allah pada pita!"
"Uh ... putraku!" pekik Widya terharu pada kata-kata putra bungsunya itu.
Sriani, Fery, Mia, Beni dan Leni juga ada di sana. Mereka menciumi bayi-bayi belum satu tahun itu.
"Assalamualaikum Mama ... kami pulang!"
Satrio datang bersama Fabio dan Pablo. Tiga laki-laki yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan mereka.
Satrio jadi calon pengantin paling muda di sana. Adiba bersemu merah jika ada Satrio datang.
"Days ... pihat muta Ata' Piba!' tunjuk Fathiyya pada Adiba.
Semua bayi menoleh hingga membuat wajah gadis itu makin memerah seperti kepiting rebus.
"Muta Ata' tayat bampu palu pintas!' sahut Fathiyya lagi.
"Wah ... tanpan tuninna tot tipa-tipa mewah mutana?!' tanya Arsyad dengan kening berkerut.
"Talo tunin pulu tata Papa lolan batal nebut eundat bawu peulhenti," timpal Dita.
"Sadhi lansun mewah?" tanya Rinjani.
"Buntin tan muta Ata' Piba yan tayat pampu palupintas," jawab Fathiyya menggendikkan bahu.
Adiba malah berlari dan merengek pada Terra. Sedang Satrio hanya tersenyum lebar mendengar percakapan adik-adiknya yang super rusuh itu.
"Faza tamuh bawu sadhi penantin pidat?" tanya Arsyad pada Faza, putri bungsu Lidya.
"Au!" angguk bayi cantik itu.
"Pesot pita beunitah yut pama Bas Pastlio pama Ata' Piba!' ajaknya yang membuat semua orang tua berdecak.
"Baby!"
"Pa'a syih?" tanya Arsyad yang bingung.
Bersambung.
__ADS_1
Hadeh bayi baru tiga tahun udah mau menikah aja! belum waktunya baby Arsyad!
Next?