
Bart sampai hunian Terra di sore hari. Rion tengah bermain dengan para perusuh. Rion tersenyum lebar. Bart memeluknya erat.
"Selamat ya baby, kau berhasil memenangkan tender raksasa," ujar pria itu.
"Ion dan tim grandpa," sahut Ion manja.
"Grandpa bersih-bersih dulu ya," Rion mengangguk.
Semua remaja sudah masuk kamar mereka masing-masing. Semua lelah dan memilih tidur walau sebentar saja.
"Aya pamu beustina bainna eundat bedithu!" seru Azha memperingati.
"Tata Ata' Ion bainna bedhini tot!" sanggah bayi cantik itu.
"Pita lempan bulu gacutna, beupelti imi,' ujar Aya.
Mereka bermain engklek. Arraya melempar gacoannya dan tepat di kotak yang mesti di lompati nanti.
Arraya mengangkat kakinya satu dan melompat. Tetapi begitu turun malah kedua kakinya menyentuh tanah.
"Butan bedhitu Ata' Ion tatina puma injet syatu!" seru Bariana.
'Kalian masih kecil jadi tidak apa-apa dengan dua kaki asal melompat," sela Rion menengahi.
Akhirnya Arraya melompat dengam dua kakinya hingga ketika di kotak yang ada batunya. Ia haru melangkahi kotak itu.
"Ata' totatna peusal!' seru bayi itu.
"Berusaha baby!' seru Rion.
Arraya mengambil ancang-ancang. Ia menundukkan tubuhnya. Bayi itu sudah tak menggunakan popok. Bayi itu melompat setinggi dan sejauh yang ia bisa.
Brug!
"Astaghfirullah!"
Tubuh mungil itu jatuh ke depan matras yang bergambar kotak-kotak itu.
"Baby,"
Rion mengangkat bayi itu. Hidungnya memerah begitu juga keningnya. Bayi cantik itu tak menangis, tapi matanya sudah berkaca-kaca.
"Kamu kuat, kamu kuat!" ujar pemuda itu menciumi wajah adiknya.
"Sudah jangan main lagi ya, bahaya," ujarnya.
"Pati pita peulum bain Ata'," ujar Arion ingin bermain.
"Sudah jangan. Kakak lupa ini mainan untuk Baby Maisya dan lainnya. Kak Sky sama kak Bomesh saja belum bisa main ini," ujar Rion.
Ia melipat matras itu dan menyimpannya di tempat tinggi agar adik-adiknya yang rusuh ini tak dapat mengambilnya.
"Masih sakit baby?" tanyanya pada Arraya.
Arraya mengangguk. Rion sedih, saking begitu ingin dibilang kuat oleh dirinya Arraya sampai harus menahan tangisnya.
"Oh baby ... sayang," Rion memeluknya maka pecahlah tangis Arraya.
"Baby kenapa?" tanya Terra mendengar tangisan putrinya itu.
"Tadi main, jatuh ma," ujar Rion merasa bersalah.
Terra tersenyum lalu mengelus punggung putrinya.
__ADS_1
"Mama ... mawu mama ... hiks ... hiks!"
Terra menggendongnya. Hidung dan keningnya yang memerah menandakan betapa keras bayi cantik itu tersungkur ke depan.
"Uuh ... baby sayang cantik, kuat kok!" ujar Terra menyudahi tangisan putrinya.
Ia menciumi wajah Arraya yang setia terisak. Rion mencium pipi adiknya itu.
"Maaf ya baby, kakak maksa kamu main itu," ujarnya.
"Eundat ... hiks ... hiks ... pa'a-pa'a Ata' ... hiks!'
Harun, Azha, Arion dan Bariana ikutan sedih melihat saudaranya jatuh dan menangis.
Mereka makan puding yang dibuat oleh Maria. Arraya kembali ceria. Rion sedang mood manja, ia ingin disuap oleh Maria.
"Mommy Ion lelah ... tangan Ion tidak bertenaga," rengeknya.
Terra mencibir bayi besarnya itu. Rion jika baru berpergian jauh, maka ia akan seperti itu mengganggu semua ibunya dengan alasan lelah.
Maria menyuapi pemuda itu dengan telaten. Kehamilannya kali ini tak begitu menyusahkannya. Bahkan trimester pertamanya hanya diawali pusing dan mual saja setelah itu biasa saja.
"Ini belum keliatan mommy?" tanya Rion masih menguyah makanan dan tangannya mengusap perut Maria.
'Sudah tuh dikit," jawab wanita itu.
"Mommy juga Ion lihat jarang makan," sahutnya lalu membuka mulut lebar ketika satu sendok puding meluncur ke dalam mulutnya.
"Entahlah ... mommy juga kurang napsu makan selama hamil ini," sahut Maria.
"Kenapa nggak dipaksain?" ketus Saf.
Wanita itu datang bersama tiga anaknya yang kini sudah merambat ke mana-mana.
"Sudah mama ... yang jawab Bik Ani," jawab Saf.
Lalu ia mendekati Maria memeriksa nadinya. Masih normal tapi lemah.
"Nanti Saf kasih vitamin napsu makan sama tambah darah ya!" lanjutnya.
Maria mengangguk. Susah jika berurusan dengan Bidan galak seperti menantu dari atasan suaminya itu.
Tak lama Lidya muncul bersama Putri dan Aini.
Arsyad dibawa jalan-jalan oleh Deno dan Gina. Pasangan suami istri itu memang tak memiliki keturunan.
"Arsyad mana ma?" tanya Aini.
"Sama Mang Deno sayang,"
Aini mengangguk. Ia, Lidya dan Saf juga putri ke kamar mereka. Di semua rumah mereka ada kamar sendiri.
"Aaima belum pulang dari rumah ayah ma?" tanya Putri setelah ia berganti pakaian.
Para remaja turun dari lantai dua di mana kamar mereka berada.
"Mereka dalam perjalanan ke sini sayang," jawab Terra.
Akhirnya rumah itu penuh dengan manusia. Semua bercengkrama dan senang dengan oleh-oleh dari semuanya.
"Jadi Baby Satrio diculik sama Fernandez?" tanya Haidar bingung.
"Kenapa aku baru tau?" lanjutnya kesal.
__ADS_1
"Untuk apa kau tau?!" sahut Bart gusar.
"Lagian Baby Satrio itu nyaris diculik, jadi dia belum diculik!" tekanya melanjutkan.
Haidar melipat bibirnya. Herman sedang malas berdebat dengan pria tua itu. Hatinya sedikit terhibur karena Aaima bersamanya seharian. Tak lama Demian datang bersama Jac dan Dominic.
Herman mengajak Dominic untuk bicara berdua. Khasya hendak ikut tapi suaminya melarangnya.
"Biarkan kami bicara!" tekan pria itu tegas.
Khasya akhirnya diam dan ditenangkan oleh Terra. Haidar, Darren, Dav, Virgou menatap Bart.
"Kenapa kalian memandangku!" pekiknya marah.
"Grandpa kemarin katanya langsung memarahi ayah, jadi sekarang ayah pasti melampiaskannya pada Dominic!" sahut Virgou asal.
Plak! Khasya memukul lengan pria itu gusar.
"Bunda!" rengek Virgou cemberut.
"Jangan bilang begitu. Kemarin dia sudah marahin bunda karena itu!" sahutnya kesal.
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Bart heran.
"Katanya membiarkan dia mengijinkan Satrio ikut ke Eropa," jawab wanita itu. "Padahal saya saja baru tau ketika Satrio berbenah."
"Pria itu tak mau disalahkan!" protes Bart menggerutu.
Semua mencibir pada pria itu. Bart tak ambil pusing. Selama ia tak dimarahi siapapun masalah Satrio yang nyaris diculik kemarin.
Di tempat lain Herman menatap Dominic gusar. Ingin ia ajak berkelahi tapi pasti dimenangkan pria di depannya itu. Usia mereka terpaut dua puluh lima tahun. Dinar kemarin sudah mengutarakan hatinya dan juga keinginannya.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanyanya gusar.
Dominic menghela napas panjang. Ia memang harus berbicara pada pria itu.
"Jika Ayah ingin bertanya tentang perasaanku pada Dik Dinar, itu benar yah, aku mencintai putri angkatmu itu," aku pria itu jujur.
"Kau tau kan status Dinar apa?" tanya Herman lagi.
"Saya tau yah,"
"Dan saya tak mempermasalahkannya," lanjut Dominic meyakinkan pria di depannya.
Herman menitikkan air matanya. Sungguh berat melepas putra dan putrinya untuk menikah. Walau hanya sekedar anak angkat tetapi masa kelam semua anak, dilewati bersama olehnya.
"Ayah ... aku sangat mencintai Dinar ayah ... ijinkan saya mengambil alih tugas ayah menanggung semuanya," pinta Dominic memohon.
Herman menangis. Ia belum siap. Dominic memeluknya erat memberikan rasa percaya jika Dinar berada di tangan yang tepat.
"Ayah ... percayakan Dinar padaku ayah," ujarnya.
"Kau tau, dia mengalami hal tersulit dalam hidupnya ... selama dua minggu Dinar mengigau memanggil ayah dan ibunya juga neneknya ... huuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"
Dominic mengeratkan pelukannya. Ia sudah tau itu, sang telah menceritakan masa kelamnya.
"Jika kau mengambilnya nanti ... aku mohon jangan menyakitinya ... jika kau tak sanggup ... kembalikan ia padaku, aku masih sanggup untuk mencintainya hingga penghujung napasku!"
"Ayah ... terima kasih ayah ... terima kasih!"
bersambung.
ah 😪
__ADS_1
next?