
Herman menjemput salah satu putri angkatnya yang dikembalikan oleh pihak pengadopsi. Sebenarnya Ariya bisa menuntut keluarga itu, tetapi gadis itu memilih minta dipulangkan ke negara asalnya.
Herman yang telah lama berpisah dengan Ariya tentu tidak mengenal perubahan gadis itu. Pria itu menuliskan nama putrinya dengan huruf besar, ia ditemani oleh dua bodyguard.
"Ayah?" sebuah panggilan membuat Herman menoleh.
Sosok tinggi dan langsing dengan balutan kemeja dan celana kulot. Ariya tampak begitu modis dengan rambut tergerai warna kemerahan. Kulit wajahnya jadi bersih. Dua puluh tahun tinggal di Amerika tentu merubah penampilan sederhana gadis itu.
"Ariya?" Herman memastikan gadis kecil yang dulu pergi dengan tangisan seluruh penghuni panti.
Ariya melepaskan kacamata hitamnya, gadis itu memeluk Herman dengan luapan kegembiraan.
"Nak, apa kabarmu?" tanya Herman.
"Aku baik Yah," ujar gadis itu.
Herman tentu paham, didikan dan pergaulan berbeda pasti membuat Ariya jauh dari kata adab leluhur. Pria itu tak mempermasalahkannya. Selama itu masih sopan. Herman membawa putrinya ke panti.
Ariya menatap bangunan menjulang tinggi. Ia pergi dari negara Indonesia ketika berusia sebelas tahun. Usianya kini menginjak tiga puluh satu tahun.
"Ah ... bangunan ini masih sama," ujar gadis itu.
Herman tidak menanggapinya. Mereka masuk panti yang hanya terisi beberapa anak asuh yang baru masuk. Ariya tentu tidak mengenali mereka.
"Sari dan lainnya mana Yah?" tanyanya.
"Mereka sudah menikah dan tinggal bersama suami dan istri masing-masing. Bahkan mereka juga telah dikaruniai anak," jawab Herman panjang lebar.
"Assalamualaikum, Bu Erna, Bu Dwi, Bu Ratih, Bu Reni!" Herman masuk memberi salam dan memanggil empat wanita pengurus panti.
Ariya tentu mengenal keempatnya. Erna dan lainnya terdiam melihat sosok gadis yang berdiri di sisi Herman.
"Ini Ariya Bu," ujar Herman.
"Nak Ariya?" Ariya mengangguk.
Gadis itu memeluk keempat wanita yang dulu memberi persyaratan berat pada Tuan Boxter untuk mengadopsi Ariya. Sepasang suami istri itu menyanggupi, mereka jatuh cinta pada sosok cantik dan mungil Ariya.
"Kau mestinya menuntut mereka Nak," ujar Erna.
"Nggak Bu. Malas, apalah aku di negara itu?" Ariya menggeleng.
"Ayo duduk!" ajak Erna lagi.
__ADS_1
Herman duduk, Ratih membawa beberapa cangkir teh dan juga kudapan. Ariya bercerita di sana selama kedua orang tua angkatnya ada, ia diperlakukan dengan baik.
"Aku sudah merawat mereka ketika keduanya sakit. Jadi aku tak memiliki utang budi sama sekali," ujar Ariya lagi.
"Oh ya Nak, apa kau di sana bekerja atau apa?" tanya Herman setelah menyeruput teh dan meletakkannya di meja.
"Aku mau buka toko design perhiasan, Yah. Kebetulan, di sana aku juga punya usaha kecil-kecilan. Walau mereka rampas semua, tetapi aku berhasil mempertahankan sebagian kecil karyaku," jawab Ariya.
"Baiklah, nanti ayah bantu," ujar Herman lalu berdiri.
Pria tua itu pamit, Ariya pun masuk kamarnya setelah kepergian Herman. Gadis itu menghela napas panjang. Satu kasur kecil, walau sama kecil dengan miliknya di sana. Gadis itu sedikit berbohong pada ayahnya agar tak terlalu khawatir.
Ariya menggulung lengannya yang terdapat luka memar dan banyak sundutan rokok.
Gadis itu memang diperlakukan manis di awal. Tetapi semua berubah total ketika ibu angkatnya mengandung lalu melahirkan seorang putri cantik.
Semua berubah ketika sang putri kandung tidak menginginkan Ariya menjadi kakaknya. Terlebih hasutan semua saudara dan sepupu putri dari ibu angkatnya itu.
Angela Boxter, secantik namanya. Bermata biru dengan rambut pirang. Ariya selalu disalahkan sang ibu angkat jika putrinya menangis.
"Aku nggak menyentuh Angela Mom,' bantah Ariya.
"Jangan membantahku anak haram!" bentak Nyonya Boxter.
"Jangan panggil aku Mommy. Aku bukan ibumu!"
"Hiks!'
Satu titik bening jatuh di pipi sang gadis. Ia sangat menyesal mau ikut dan diadopsi. Gadis itu ingin punya orang tua lengkap padahal Herman juga sangat menyayanginya.
"Ini salahku .... hiks ... ini salahku," ujarnya terisak pelan.
"Aku pantas mendapatkan luka ini semua karena meninggalkan tempatku," lanjutnya mengusap seluruh bekas luka yang ada.
Ariya berhasil lari dari mansion besar itu berkat pertolongan maid di hunian mewah itu. Ariya nyaris diperkosa oleh ayah angkatnya sendiri jika saja ia tidur di kamarnya. Beruntung sang ibu angkat menghukumnya tidur di gudang.
"Mom Belonny," panggilnya lirih.
"I miss you Mom," ujarnya.
Marthena Belonny, warga negara Columbia yang bekerja di mansion Boxter. Wanita itu mengajak pergi Ariya yang berusia tujuh belas tahun.
Bahkan Marthena rela kehilangan pekerjaan untuk menolong gadis cantik yang ia lihat selalu disiksa oleh seluruh majikannya itu.
__ADS_1
"Ini Mommy bisa mencuri paspormu dari Tuan Boxter. Jika kamu besar nanti, kamu bisa kembali ke sana," ujar Ena panggilan wanita itu.
"Mom, apa mereka tidak akan mengejar kita?" tanya Ariya ketakutan.
"Tidak sayang. Mereka tidak akan berani, dengan kondisimu seperti ini. Mereka tentu akan segera melupakanmu," ujar Ena yang memang meminta Ariya memanggilnya Mommy.
Ariya disekolahkan di tempat yang elit. Marthena bekerja keras agar mewujudkan mimpi putri angkatnya itu. Ariya pun belajar giat dan selalu mendapat beasiswa.
Gadis itu berhasil dan dapat meraih cita-citanya. Sayang, Ena mendapat penyakit keras. Semua uang dan hasil kerja keras Ariya habis untuk pengobatan wanita itu hingga menutup mata.
Ariya sengaja memberi berita bohong pada ayahnya. Gadis itu tidak mau semua tau betapa buruk kelakukan keluarga barunya di sana.
"Biar itu jadi hukumanku karena meninggalkan cinta besar di sini," monolognya.
Gadis itu menyeka jejak basah di wajahnya. Ia tau apa agamanya jika berada di sini. Walau gadis itu sudah lama tidak menjalankan ibadahnya. Ariya ingin belajar dari awal lagi.
"Bu," gadis itu mendatangi Ratih.
"Iya sayang," sahut wanita itu lembut.
"Ajari aku ngaji Bu," pinta gadis itu lirih.
Ratih menatap mata Ariya. Ada cerita besar di sana. Ratih sangat tau jika gadis di hadapannya tengah menyimpan luka besar.
"Baik sayang," ujar wanita itu menarik sudut bibirnya lembut.
Sedang di tempat lain, Herman nyaris menghancurkan sebuah laporan yang baru saja ia dapatkan. Matanya nyalang dengan napas kasar. Kean sampai takut melihatnya.
"Ayah ... huuuu ... uuu ... jangan marah Yah!" tangis Kean pecah menyadarkan Herman.
"Maaf Baby ... maaf,"
Herman langsung merengkuh Kean yang ketakutan. Remaja itu menangis dan memeluk erat pria itu.
"Tenang Baby. Kamu di sini sebentar ya," pinta pria itu lalu mengecup kening Kean.
"Atau mau ikut Ayah beraksi?" lanjutnya memberi tawaran yang menghentikan tangisan Kean..
"Aksi apa Yah?" tanya remaja itu penasaran.
"Ikut ayah aja ya," ajak Herman dengan kilatan sadis.
Bersambung.
__ADS_1
Eh ... Herman mau ajak Kean ngapain?
Next?