SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KENCAN PERTAMA


__ADS_3

Kehebohan kemarin membuat semua orang jadi takut dan segan dengan keluarga Aini. Dokter yang dituduh sembarangan. Tetangga yang menuduh memilih pindah rumah, kembali ke kampung halaman mereka.


"Mba maafin saya ya. Kemarin telah menuduh suami Mba yang enggak-enggak!" ujar wanita itu menunduk.


"Iya," sahut Aini masih kesal dengan tetangganya itu.


Sebagai manusia biasa tentu, ia masih marah dengan tuduhan palsu tersebut. Suami wanita itu juga meminta maaf pada Aini dan Gio.


"Saya akan mendidik istri saya lebih baik lagi di desa, Pak, Bu," ujarnya.


Sepasang suami istri itu pergi bersama dua anaknya yang masih kecil. Masing-masing, digendong oleh ayah dan ibunya.


"Hush ... hush sana pergi!' usir Aini dengan suara pelan.


"Ma," peringat Gio.


Aini mengerucutkan bibirnya ia benar-benar kesal. Gio sang suami hanya bisa menghela napas panjang. Arsyad sedang tidur di kamarnya, sedang Ditya dan Radit sudah berangkat sekolah tadi pagi.


Gio menutup pintu dan mengajak istrinya ke kamar. Hari ini ia diliburkan karena kejadian kemarin. Pria itu menginginkan sang istri.


"Sayang," panggilnya dengan suara berat.


Aini bukan tidak tau. Ia sangat paham keinginan suaminya. Tapi ini pagi hari, Arsyad bisa-bisa terbangun dan mengganggu kegiatan mereka nanti.


"Arsyad Mas," lenguhnya ketika bibir sang suami sudah sampai di leher wanita itu.


"Aku ingin sekali sayang," rengek Gio.


Aini pun pasrah di bawah kukungan suaminya. Ia berharap, putranya masih tertidur lelap hingga kepuasan mereka datang nanti.


Sedang di ruang kerja Rion. Pemuda itu baru saja memeriksa beberapa berkas yang ada, Bobby juga sama, ia bersama Andi asisten kedua pengganti Bobby yang sebentar lagi pensiun. Pria itu sudah berusia lima puluh tahun lebih, ia sedikit kesulitan menyeimbangkan kinerjanya bersama Rion yang aktif.


"Tuan, ini adalah berkas terakhir yang sudah diperiksa," ujar Andi lalu meletakan tumpukan kertas di atas meja.


"Oke makasih!"


Rion cepat memeriksa kembali semua berkas. Setelah semua benar baru ia menandatanganinya.


"Akhirnya makan siang!" ujar Rion lega.


Pemuda itu pun keluar ruangan. Di sana ada Bambang, Rocky dan juga Adrian, bodyguardnya. Mereka mengikuti kemanapun tuan mudanya. Tadinya Rion meminta mereka pulang, tetapi Terra melarang.


"Mereka harus menunggu Baby sampai pulang!"


"Mama, Ion udah besar!" rengek pemuda itu kesal.


"Baby!" peringat Haidar.


Rion cemberut, Terra mengecup bayi besarnya penuh kasih sayang. Setelah berbagai kejadian kemarin membuat Terra mengetatkan penjagaan pada semua anak-anaknya.


Rion memilih makan di perusahaan kakaknya, Darren. Pemuda itu merindukan Azizah.


"Assalamualaikum Zah. Tunggu aku di kantin perusahaan Kak Darren ya!" pintanya dalam sambungan telepon.


".......!"

__ADS_1


"Tunggu aku!" putus Rion lalu memberi salam kemudian menutup sambungan teleponnya.


"Ke perusahaan Kak Darren!" ujarnya ketika masuk mobil.


Rocky menyetir, Bambang di sebelah supir, sedang Adrian ada di sisi Rion. Kendaraan roda empat itu melesat menuju perusahaan Hudoyo Grup. Butuh waktu sepuluh menit mereka sampai di halaman perusahaan. Bambang membuka pintu untuk tuan mudanya. Rion turun dan langsung menuju kantin yang terkenal dengan masakan enaknya.


Kepalanya memutar mencari keberadaan gadisnya. Beberapa karyawati menyapanya.


"Ish ... ganteng amet sih?" puji salah satu di antara mereka.


"Duh, Tuan tampan," sahut satunya lagi berpikiran mesum.


"Tuan muda!" panggil Azizah.


Gadis itu ada di dekat jendela. Rion mendatanginya langsung duduk di sebelahnya. Azizah langsung merona malu dan menundukkan wajahnya.


"Tuan muda ingin pesan apa?" cicitnya.


Rion menopang kepalanya menatap gadis itu dari samping. Ia sangat menyukai ekspresi kikuk dan serba salah. Tangan Rion yang lain begitu nakal, mengambil helaian rambut panjang Azizah.


"Tu-tuan," cicit Azizah lagi.


"Baby!"


Sebuah suara menginterupsi. Rion sangat kenal dengan suara itu. Darren dan Budiman ada di sana.


"Baby duduk sama Kak Darren ya!" perintah Budiman dengan menyeringai jahil.


'Kubalas gangguanmu setiap kali aku kencan dulu Baby!,' kekeh Budiman dalam hati.


"Tuan Baby!" peringat Budiman dengan senyum jahil.


"Baby duduk sama kakak sini!' ajak Darren.


Akhirnya dengan wajah ditekuk, Rion pindah tempat duduk di sebelah kakak tercinta.


Makanan sudah tersaji. Rion sengaja duduk di depan Azizah. Pemuda itu selalu saja mencari kesempatan menyentuh gadisnya entah itu jemari, pipi atau pura-pura mengusap sisa makanan di bibir Azizah.


"Baby!" peringat Budiman.


"Baba, sudah lah," Darren membela adiknya.


"Nikahin dong jangan bikin baper!' dumal Budiman kesal.


"Oke, besok Ion minta Papa buat melamar Azizah!" sahut Rion santai.


Kini Budiman yang nyaris tersedak. Pria itu masih menganggap Rion adalah bayi berusia dua tahun.


"Kamu masih baby!" sahutnya.


"Ion udah bisa buat baby Baba!" sahut Rion santai.


"Astaga Baby!"


"Jangan khawatir Tuan, saya juga belum mau menikah muda. Adik-adik saya banyak," sahut Azizah.

__ADS_1


"Eh ... memangnya kenapa kalau adikmu banyak?" tanya Budiman bingung.


"Ya, mereka adalah tanggung jawab saya. Tak mungkin saya lepas begitu saja," jawab Azizah.


"Kau pikir aku tak sanggup membiayai hidup sembilan adikmu?" sahut Rion sombong.


"Hei ... nggak boleh sombong!" tegur Darren.


"Lah insyaallah, Ion bisa membiayai semua adik-adikmu Azizah sayang," ujar Rion sungguh-sungguh.


"Ayo Ba!" ajak Darren.


Mereka sudah selesai makan. Budiman berat meninggalkan keduanya, ia masih ingin mengganggu kencan bayi besar keluarga Terra ini.


"Ayo Baba!"


Darren menarik tangan pria itu dan menggandengnya meninggalkan Rion berdua dengan Azizah. Kantin sedikit sepi karena sebagian karyawan sudah kembali bekerja.


Rion mengajak gadisnya ke roof top perusahaan. Di sana mereka bisa duduk di bangku dan melihat pemandangan sekitar.


"Panas Mas Baby," keluh Azizah.


Memang hari itu sangat terik. Rion menariknya ke sebuah bawah plafon di mana matahari tak menyinar langsung.


"Di sini?" Azizah menggeleng.


Rion mengusap peluh di dahi gadis itu. Netra keduanya saling menatap, kini pemuda itu sangat yakin dengan perasaannya.


"Kita menikah yuk. Aku nggak mau jadi dosa setelah ini berduaan dengan kamu," ajaknya.


Azizah terdiam gadis itu masih ragu dengan semuanya. Ia masih banyak yang dipikirkan.


"Seperti yang aku bilang tadi. Aku akan bertanggung jawab atas semua yang ada di dalam diri kamu," ujar Rion lagi.


Pemuda itu menggenggam tangan Azizah yang dingin sedingin tangannya. Sungguh butuh keberanian besar bagi Rion melakukan ini. Tetapi, sebagai laki-laki, ia tak mau menggantung lama hubungannya.


"Azizah, mau kah kau menikah denganku?" pintanya.


Manik hitam milik Azizah menatap lekat iris coklat terang kepunyaan Rion. Ada kesungguhan di sana. Azizah mengangguk pelan. Pemuda itu tersenyum lebar ia mengecup buku jari gadis itu.


"Mas!" cicit sang gadis lalu menarik tangannya.


Rion memeluk Azizah, untuk pertama kalinya. Pemuda itu merasakan kehangatan yang berbeda, jantung keduanya berdetak sangat kencang.


Rion kini mengerti apa yang dikatakan kakaknya. Seorang laki-laki akan terasah naluri kelelakiannya jika sudah berada pada wanita yang tepat.


"Kamu jodoh aku sayang!"


bersambung.


wah ... akan ada pernikahan kah?


next?


__ADS_1


mampir ke karya baru othor ya ... makasih


__ADS_2