SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
JODOH UNTUK NAISYA DAN ARIMBI


__ADS_3

Haidar berhadapan dengan Herman. Bram tak bisa berkutik terlebih Kanya. Haidar tak bisa melawan Herman.


"Tapi Baby masih belum sembilan belas tahun!'' sahut Haidar.


"Umur berapa kau menikahi Terra?" tanya Herman datar.


"Aku tak suka jika Baby nanti ada yang ngajak pacaran!" lanjutnya tegas.


"Baby pasti nggak mau. Kan terbukti, Baby Nai nggak pacaran!" sanggah Haidar masih belum merelakan putrinya menikah.


"Pa," peringat Terra.


"Haidar, Baby Nai memang putrimu, aku tak berhak atas apapun pada Baby Nai. Jika kau enggan menikahkan putrimu. Maka aku akan menikahkan putriku!" tukas Herman.


"Ayah ... Baby Arimbi masih kecil!" seru Virgou.


"Dia sudah dokter kandungan!" sahut Herman.


"Memang ayah mau nikahkan Baby dengan siapa?" tanya David.


"Reno!" panggil pria itu.


Reno gemetar mendengar panggilan itu. Seakan menghadap malaikat pencabut nyawa. Pria itu tetap datang setelah Langit menguatkan rekan kerjanya itu.


"Tuan!"


Herman menatap lekat pria tampan yang memakai lensa mata coklat itu. Sekali lagi di sini kepekaan Herman yang begitu kuat dan mampu membaca apa yang terjadi di sekitarnya. Hal ini yang membuat takut semua lawan bisnisnya.


"Mana anting strawberry milik putriku!" Herman meminta anting putrinya.


Reno terpaku sejenak, ia tak menyangka jika pria di depannya tau apa yang ia sembunyikan selama ini. Dengan hati berat, ia mengeluarkan anting dari dalam dompet dan menyerahkan benda itu pada Herman.


"Buka kontak lensa matamu!" titah Herman.


Lagi dan lagi Reno terkejut, semua pengawal Herman juga terkejut bukan main. Hanya mereka yang tau apa warna mata rekan seprofesinya itu.


"Ayah?" Virgou merasa kecolongan.


"Bud ,Gom?" kedua pria itu juga menggeleng.


"Jangan marahi mereka. Tak ada larangan bagi siapapun yang bekerja di perusahaanmu kan?" sahut Herman menghentikan kemarahan Virgou..


Reno melepas lensa kontaknya. Virgou hendak menerjang pria itu. Ayahnya kemarin saja ingin dihajar, tetapi karena Bart yang mengundangnya, ia melepas pria itu.


"Reno Alejandro Sanz!" panggil Herman.


"Apa, jadi dia adalah putra dari Remario Sanz?" seru Bart.


"Remario sekaya dirimu Vir!" lanjutnya.


Virgou menggaruk kepalanya. Gomesh dan Budiman memang sudah tau siapa pria yang kini menunduk di hadapan Herman. Namun karena semua bisa masuk dalam PT SavedLived selama mereka berdedikasi dan loyal pada perusahaan. Maka semua diterima oleh perusahaan itu.


"Reno Alejandro Sanz, apa kau diminta ayahmu untuk mendapatkan putriku?" tanya Herman dengan suara berat.


"Benar Tuan. Ayah saya Remario Matteo Sanz meminta saya untuk meminang putri Tuan, Arimbi Triatmodjo!" jawab Reno tegas.


Herman menampar keras Reno hingga tubuh pria itu terjajar ke samping. Bart langsung memeluk Herman dan menenangkan pria itu.

__ADS_1


"Nak!"


Reno kembali ke posisi tegak, ia rela dipukuli atau dihajar habis-habisan oleh pria yang sangat ia hormati itu Virgou berdiri ikut menampar Reno hingga pemuda tampan itu terpelanting ke lantai. Bart mulai marah.


"Sudah cukup! Hentikan!"


Budiman, Gomesh hanya berdiri saja tak melakukan apa-apa. Dua pria itu menunggu perintah, Langit menelan ludah. Namun, tekadnya sudah bulat, ia memang mencintai nona mudanya.


"Putriku masih kecil Daddy!" rengek Herman..


Bart memutar mata malas. Herman sendiri yang ingin menikahkan putrinya tadi, malah pria itu belum siap melepas putrinya.


"Ya sudah jangan dinikahkan!" sahut pria itu.


Herman terdiam, ia tentu sudah melacak siapa Reno, bahkan ayah dari pemuda yang kini kesakitan dan berdarah bibirnya.


"Bangun kau sialan!" bentak Herman.


"Langit ... maju kau!" lanjutnya.


Langit melangkah dengan tegap, pemuda tampan itu menatap Herman. Haidar mulai mengerti kini, sebagai ayah tentu ia ingin putrinya berada di tangan yang terbaik. Tetapi, pria itu masih menganggap Naisya masih kecil. Ia masih sanggup menyayangi anak gadisnya itu.


"Haidar ... dia laki-laki yang menyukai putrimu!" tunjuk Herman.


"Bangsat!"


Haidar tak perlu mengeluarkan tenaga, Virgou meninju muka tampan Langit, David dan Gabe menahan laju Virgou jika tak ingin membuat Langit babak belur.


"Berani sekali kalian naksir putriku!" bentak Virgou marah.


"Putri anda cantik dan genius ... siapa yang tidak bisa jatuh dalam pesona Nona Muda Pratama Tuan?" sahut Langit sambil meringis.


"Kak!" Gabe dan David sampai harus setengah menyeret tubuh Virgou.


"Gomesh!" teriak Virgou.


Gomesh ingin bergerak. Herman memelototi pria raksasa itu. Tentu saja, Gomesh ciut dipelototi Herman.


"Ketua, Ayah melototi aku!" adunya.


"Ayah!" rengek Virgou kesal.


"Diam ... lagian siapa yang menyuruhmu memukuli Langit dan Reno!" sentaknya.


"Emang nggak ya?" tanya Virgou polos.


"Ya nggak apa-apa sih," jawab Herman pada akhirnya.


Kini baik Langit dan Reno duduk bersimpuh di hadapan Haidar dan Herman. Dua ayah yang menatap dua pemuda itu gusar.


"Jadi kemarin ayah dan ibunya datang, Yah?" bisik Haidar.


"Iya, Andoro dan Luisa Dewangga adalah ayah ibunya!" tunjuk Herman pada Langit dengan dagu.


"Dewangga yang memiliki punya banyak perusahaan di seluruh dunia?" Herman mengangguk.


"Kaya dong dia?" sahut Virgou mencibir.

__ADS_1


"Lalu Reno?" tanya Bart.


"Ayahnya mantan mafia dengan julukan The Bandit, memiliki delapan perusahaan yang juga tersebar di seluruh dunia termasuk Indonesia," jawab Herman.


"Wah ... kaya juga ternyata," celetuk Budiman.


"Mereka anak-anak CEO, kenapa mau jadi pengawal?" tanya Gabe.


"Tanya mereka," tunjuk Herman lagi.


"Kenapa woi?" tanya Gabe.


"Karena kami memang ingin menjadi kuat dan belajar disiplin," jawab Langit.


"Saya disuruh Papa untuk mencari Nona yang memberinya anting sebagai hadiah ketika dikeroyok anggota mafia dulu," jawab Reno.


Pletak! Reno mengaduh karena dijitak Gomesh. Pria raksasa itu kesal sekali dengan pemuda itu.


"Jujur Tuan, saya jatuh cinta dengan Nona Naisya! Sangat-sangat mencintainya!' aku Langit jujur.


Haidar mendengkus kesal Reno pun mengungkap perasaan yang dirasakannya.


"Saya juga jatuh cinta pada Nona Arimbi Tuan,"


"Kau tau, mereka masih punya Ibu!" sahut Haidar.


"Ayah ... aku masih berat melepas Baby Nai dan Baby Arimbi!" rengek Haidar tak rela.


Terra mengangguk setuju. Wanita itu ada di sana karena terbangun.


"Mereka masih bayi!" lanjutnya.


Herman menghela napas panjang. Ia juga masih berat melepas putrinya, tetapi dua pria di depannya bukanlah pria sembarangan. Ia juga tak mau kehilangan Langit atau pun Reno.


Herman membisikkan sesuatu pada Haidar. Pria itu terdiam.


"Apa kau rela?" tanya Herman.


Haidar menatap keduanya. Jujur, apa yang dibisikkan Herman padanya itu benar.


"Kalian kembali bertugas. Kami akan merundingkan hal ini!" titah Herman.


Baik Langit dan Reno berdiri lalu membungkuk hormat. Dua pemuda itu sangat berharap jika tuan mereka merelakan putri-putrinya.


"Jika gagal, apa kau menyerah Lang?" tanya Reno.


"Tidak!" jawab Langit tegas.


"Aku akan tetap membuktikan pada Tuan dan Nyonya Pratama jika aku adalah pria terbaik untuk putrinya!" lanjutnya.


"Kalau begitu, aku juga kan melakukan hal yang sama. Nona Arimbi pantas untuk diperjuangkan, aku tak akan rela jika Nona Arimbi menjadi milik pria lain!" sumpah Reno.


bersambung.


Ah ... senangnya diperjuangkan oleh laki-laki ...


Othor masih jomblo.

__ADS_1


Next?


__ADS_2