
Reno dan Langit sudah setuju soal mahar, bahkan lebih dari ekspetasi dua gadis itu yang kini sesenggukan.
"Ayah ... hiks ... entar ... hiks ... aja nikahnya ... hiks ... hiks ... masih mau manja ama ayah ... hiks!"
"Iya Ayah ... Nai curiga ... Kak Langit udah punya pacar!" karang gadis itu.
"Saya tidak punya ...."
"Diamlah Lang!" tekan Darren.
Langit diam, ia kini menunduk begitu juga Reno. Kedua pria itu setengah kecewa dengan dua gadis mereka. Herman melihatnya, ia tak mau jika Langit dan Reno menyerah dan pergi meninggalkan putrinya.
"Nak, kalian masih bisa bermanja selama Ayah masih hidup!" tekan pria itu menenangkan.
"Kau sudah berucap tadi. Kau harus menepati ucapanmu!" lanjutnya.
Herman mengusap jejak basah di kedua anak perempuannya. Satu adalah putrinya dan yang satu adalah cucunya. Bram menenangkan Haidar. Pria itu menyerahkan penuh semua keputusan pada Herman. Bram sangat yakin jika apa yang dilihat oleh Herman adalah yang terbaik.
"Emang nggak bisa di Indonesia aja nikahnya Yah?" tanya Nai.
"Kamu yang bilang jika akan menikahi mereka jika menyanggupi mahar lima miliar?" Herman memutar mata malas.
Nai dan Arimbi saling lihat. Dua gadis itu sama sekali tak menyangka jika permintaan mereka disanggupi langsung bahkan Langit dan Reno menyiapkan lebih.
"Apa Nona mau lihat lima miliar dalam bentuk tunai?" tantang Reno.
"Jangan sombong Kak!" tegur Nai.
"Sungguh bukan jumlahnya yang membuat kami sefrontal itu mengucapkan mahar!" lanjutnya.
"Maaf, Nona. Tapi kami hanya mengatakan jika apapun yang nona minta, kami akan usahakan sekuat tenaga kami!" sahut Langit.
"Jika pun Nona masih ragu, kamu akan menunggu hingga batas waktu ...."
"Maksud Kakak apa?" tanya Arimbi.
"Kami juga batas kesabaran Nona,. jika cinta itu tidak bisa dipaksakan Maka kami akan mundur teratur," jawab Reno tak berbasa-basi.
"Jangan dong!" sahut Nai tak terima.
"Nona, kamu ingin perjuangan kami juga diimbangi dengan penerimaan. Jika gagal, kami tidak akan memaksa," lanjut Reno.
"Ayah menyerahkan semua keputusan pada kalian," ujar Herman ketika Nai dan Arimbi menatapnya.
Arimbi menatap Haidar. Pria itu mengusap kepala putri dari paman istrinya itu dan mengangguk, begitu juga Bram, Bart, Virgou, David, Gabe, Leon dan Frans.
"Baba?"
"Sayang, Baba juga menyerahkan semua pada kalian Babies. Baba cuma bilang, Langit dan Reno adalah pria baik dan bisa menjadi imam untuk kalian," jawab Budiman.
"Papa Gom?" tanya Nai.
Gomesh dari tadi mengusap ingusnya. Ia tak tahan, pria raksasa itu kembali kehilangan cintanya.
"Asal cinta nona masih ada saya. Saya tidak masalah," ujar pria raksasa itu terisak.
"Gom!" peringat Virgou.
__ADS_1
"Ah ... Tuan nggak asik!" gerutu Gomesh mencebik.
"Papa Gio?" tanya Arimbi.
"Nona ... kami selaku pengawal hanya mengatakan Langit dan Reno adalah kandidat terbaik dan tak ada yang meragukan itu!"
"Mama, Bommy, Mommy, Bunda?" air mata Nai mengalir.
Para ibu hanya mengangguk dan sibuk mengusap air mata mereka. Nai menoleh pada Kanya, Najwa dan Lastri . Mia dan lainnya bersama anak-anak ke kelas.
"Abah, Uma, Mam Lid, Papa Dem, Papa Jac?"
"Sayang ... kami semua menyerahkan semua keputusan pada kalian," ujar Darren dengan suara tercekat.
"Kak Ion?" Nai menatap kakak panutannya.
Rion dan Azizah mengangguk. Mereka berdua hanya berharap jika keputusan Nai dan Arimbi adalah yang terbaik.
"Bu'lek?" Arimbi mengangguk pelan sekali.
Dua gadis itu saling berpelukan. Mereka berdoa dan meminta petunjuk, lalu mereka menghadap ayah mereka.
"Papa ... Ayah ...," panggil Arimbi dengan suara lirih.
Langit dan Reno buru-buru duduk di sisi gadis mereka masing-masing.
"Nai dan Arimbi minta maaf ... hiks ... hiks ... minta ampun .... huuuuu ... uuuu ... hiks!"
Arimbi berlutut pada Herman dan Haidar. Kedua pria itu sudah tak karuan wajahnya. Sedang yang lain berpelukan menahan tangis. Gomesh tersedu di pelukan Budiman. Gisel sampai kesal pada pria raksasa itu. Tapi ia juga memeluk kedua pria itu dan menangis.
Dua gadis itu mencium kaki ayah mereka. Herman dan Haidar langsung merengkuh bahu kedua putri mereka masing-masing. Hujan tangisan tumpah di sana.
"Ayah ... Papa ... percaya lah ... putri Papa dan Ayah akan bahagia di tangan kami!" sahut Reno tegas.
Herman mengurai pelukannya dan menghapus jejak basah di wajah putrinya. Haidar melakukan hal yang sama.
"Ketika ijab kabul diucapkan. Maka lepas tanggung jawab Papa dan ayah pada kalian. Lepas tanggung jawab para kakak laki-laki pada kalian," ujar Haidar dengan suara tercekat.
"Namun begitu, tetap jaga kehormatan kami, karena nanti kami akan ditanya juga tentang kalian sebagai pertanggungjawaban di akhirat nanti," jelasnya panjang lebar.
"Reno ... Langit!"
Dua pria itu langsung sigap. Haidar memeluk Langit dan Reno.
"Jaga putri-putriku segenap jiwamu. Aku akan mengejar kalian hingga ke neraka jika menyakiti mereka sedikit saja!" ancamnya.
"Jika kalian tak memiliki rasa lagi, segera kembalikan pada kami. Kami sanggup mencintai mereka hingga napas penghabisan!" sahut Darren.
"Saya bersumpah atas diri saya sendiri akan mencintai, menyayangi dan menghormati istri saya sampai akhirat nanti, insyaallah!"
Herman mengangguk pada Haidar. Secepat kilat, pelaksanaan pernikahan terjadi. Mereka dinikahkan saat itu juga.
Seperti syarat-syarat nikah dalam agama Islam adalah
Beragama Islam syarat calon suami dan istri adalah beragama Islam serta jelas nama dan orangnya.
__ADS_1
Bukan mahram. Bukan mahram menandakan bahwa tidak terdapat penghalang agar perkawinan bisa dilaksanakan.
Wali nikah bagi perempuan.
Dihadiri saksi.
Sedang tidak ihram atau berhaji.
Bukan paksaan.
"Ananda Reno Alejandro Sanz bin Remario Matteo Sanz aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan putri pertamaku Raden Ajeng Arimbi Triatmodjo binti Raden Mas Herman Triatmodjo dengan mas kawin mahar sebesar lima miliar dibayar tunai!" sahut Herman begitu tegas.
"Saya terima nikah dan kawin Raden Ajeng Arimbi Triatmodjo binti Raden Mas Herman Triatmodjo dengan mas kawin uang lima miliar rupiah dibayar tunai!" sahut Reno tegas dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi apa sah?" tanya Bram dengan suara tercekat.
"Sah!" sahut Gio dan Felix bersamaan.
Arimbi mencium punggung tangan Reno yang telah sah menjadi suaminya. Uang lima miliar sudah ada di rekening gadis itu. Reno telah memperlihatkan bukti transfernya.
Pria itu juga menyematkan cincin yang selalu disimpannya.
"Ini milik almarhumah mamaku," ujar nya lembut dan mencium kening Arimbi penuh kehati-hatian.
Setelah Arimbi kini giliran Nai. Terra memeluk Kanya, dua wanita itu menangis. Darren memvideokan semua kegiatan itu.
Semua perusuh sudah dipanggil begitu juga lima puluh anak angkat Bart. Mereka menjadi saksi pernikahan yang sangat sederhana dengan mahar fantastis.
"Ananda Langit Clemnetino Dewangga bin Andoro Clementino Dewangga, aku nikahkan engkau dengan putri pertamaku Naisya Putri Hovert Pratama binti Haidar Putra Hovert Pratama dengan mas kawin uang lima miliar rupiah dibayar tunai!" sahut Haidar tegas.
"Saya terima nikah dan kawin Naisya Putri Hovert Pratama binti Haidar Putra Hovert Pratama dengan mas kawin uang lima miliar rupiah dibayar tunai!" Langit mengucap tegas dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Bram lagi masih bernada serak.
"Sah!" seru Felix dan Gio.
Nai tergugu ketika mencium punggung tangan suaminya. Satu cincin emas putih dengan mata biru yang cantik bertengger di jari manis Nai. Langit juga memperhatikan bukti transfer uang lima miliar.
"Aku bersumpah akan membahagiakanmu, sayang. Jika ada yang tidak berkenan, langsung katakan agar aku cepat memperbaikinya!" pinta Langit begitu tegas.
Nai mengangguk, ia tak akan menuntut banyak. Ibunya mengajarkan kesederhanaan dan menerima kekurangan orang lain.
Sean, Al dan Daud memeluk saudari mereka begitu juga Satrio. Kean dan Calvin ikut serta. Mereka tak pernah terpisahkan dari bayi.
"Jika kau coba-coba memisahkan kami ... aku pastikan yang pertama kali memenggal kepalamu!' ancam Daud seram.
Kini semua remaja memeluk kakak mereka yang baru saja melepas masa lajangnya. Nanti ketika pulang. Akan ada pesta besar.
"Atuh bawu panyi dandut!" pekik Harun senang.
Bersambung.
Ah ... 🥲 terharu.
Next?
__ADS_1