
Virgou marah mendengar salah satu putrinya hendak dilecehkan. Pria itu ingin mendatangi rumah yang hendak mencium putrinya itu.
"Udah Daddy, kan Ella udah kasih pelajaran. Dia pipis di celana loh," ujar Ella menenangkan ayahnya yang pemarah satu itu.
Virgou menatap gadis tanggung itu. Ella tersenyum manis pada pria itu. Akhirnya kemarahan Virgou mereda.
"Dougher Young kok dilawan," gerutunya kesal.
"Wiya ... Owel Yon pot iwawan!" ulang Arsh ikutan menggerutu.
"Hei bayi ... kenapa kau mengikuti kata-kataku?" tanya Virgou gemas.
"Papa tata atuh brbehhdushsusubecudusgbsueh!' oceh Arsh menantang Virgou.
Pria sejuta pesona itu gemas dengan bayi itu dan mengangkat tinggi-tinggi. Gelak tawa terdengar, semua bayi ingin diperlakukan sama.
"Daddy ... Gino mawu poleh?" tanya Gino hati-hati.
Mata jernih Gino menembus hati Virgou yang keras. Pria itu tak tega, ia tentu mau mengangkat bayi yang tak diharapkan oleh orang tuanya itu. Bahkan Zhein sampai detik ini tak mengambil lima keponakannya.
Gelak tawa bayi terdengar. Kanya kesal dengan menantunya itu. Tetapi kondisi kesehatan Zhein tengah buruk. Ia juga mengerti keadaan putrinya yang juga belum pulih benar.
"Sayang," panggilnya pada Virgou.
"Apa Mom?" sahut pria itu.
Semua bayi bermain. Della si bayi perhatian, selalu memungut benda yang bisa membahayakan adik-adiknya.
"Sayang, maukah sementara ini kau mengurus semua cucu dan cicitku?" pinta Kanya.
"Mom, apa yang kau katakan, mereka semua anak dan cucuku juga," ujar Virgou tak suka mendengar perkataan Kanya.
Wanita item tersenyum, ia memeluk pria sejuta pesona itu. Melihat sisi Terra pada sisi Virgou. Kini ia yakin jika sifat baik menantu kesayangannya itu berasal dari pria besar ini.
"Thanks dear," ujarnya lirih.
"Anytime Mom,"
Bram terharu, memang ditangan semua orang di rumah Terra menjadi ayah dan ibu bagi semua cucu dan cicitnya. Ia menatap Raffhan dan Zheinra yang manja pada semua ibu di sana, begitu juga Setya dan Davina.
"Mami!" rengek Zheinra.
"Apa Baby?" Seruni mengusap wajah gadis seusia Rasya itu.
"Mami, besok Zheinra bawain sosis gulung roti kek kemarin ya," pintanya.
"Iya sayang. Nggak sama kentang gorengnya?"
"Itu juga, yang banyak ya," pinta gadis itu manja.
"Iya sayang," ujar Seruni memencet hidung mancung gadis kecil itu.
Zheinra merengek dan memeluk Seruni. Lalu tingkah Setya yang juga manja pada Darren, Raffhan pada David dan Davina pada Luisa.
"Davina, sini sama Kakek," Bram merentangkan tangannya.
"Kenapa jika dia bersamaku Pa?" tanya Luisa tak suka.
__ADS_1
"Aku juga mau memeluk cicitku!' sahut Bram kesal.
"Oh, Papa udah tua ternyata," ledek Lusia.
Bram berdecak mendengarnya, Davina tersenyum lebar. Ia pun mendatangi sang buyut dan memeluknya. Andoro tengah mengganggu para bayi empat bulan.
"Becahbecahbecah!" oceh Fael sampai muncrat liurnya.
"Bayi ... kau masih bayi!" ledek Andoro gemas.
"Apah mununusnehshdbehhdbhehbajajajabdgsgsbehBduususus!" kini giliran Zaa yang mengomeli Andoro.
Pria itu gemas, ia ingin sekali punya anak dari istrinya. Andoro menatap Luisa yang kini memangku salah satu anak angkat Bart. Perempuan itu berubah total semenjak tinggal dan memaafkan dirinya.
"Sayang," panggilnya ketika melihat Nai turun dari kamarnya.
Langit tengah diajak Rion untuk keluar kota. Jadi menantunya itu dijaga oleh bodyguard lainnya.
"Iya Dad," Nai mendatangi ayah mertuanya.
"Nak, apa ini sudah berisi?" tanya pria itu hati-hati sambil menunjuk perut menantunya itu.
"Maaf Dad," ujar Nai menunduk.
"Sekarang Nai aja haid," lanjutnya lirih.
"Oh sayang. Tidak apa-apa ... tidak apa-apa!' ujar Andoro langsung memeluk menantunya.
"Daddy nggak memaksa kok, hanya bertanya ya. Jangan sedih, sedikasih Allah saja," ujarnya lagi menenangkan menantunya.
"Jangan sedih ya," sambung pria itu.
"Daddy apain anakku?" tanya Luisa marah.
"Daddy nggak apa-apain Ma," ujar Nai menenangkan ibu mertuanya.
"Sudah, abaikan dia. Kita belanja yuk!" ajak Luisa.
Nai adalah perempuan yang tak hobi belanja. Wanita muda itu selalu dibelikan ayah ibunya. Bahkan seluruh gaun yang ia miliki adalah hasil design saudaranya Anyelir, Dewi dan Kaila.
"Nai nggak suka shoping Ma," ujarnya.
"Hah ... mana ada perempuan nggak suka shoping?" Luisa heran.
"Nai nggak suka Ma. Semua keperluan Nai Mama yang beliin, bahkan sampai pembalut juga Mama yang belikan," jawab Nai apa adanya.
"Semua kayak gitu?" Nai mengangguk.
"Oke ladies ... ikut Mama belanja yuk!' ajak Luisa.
"Pita poleh itut pidat Net?" tanya Maryam dengan mata bulat.
Luisa menatap seluruh anak-anak yang berharap diajak. Bahkan para ibu juga.
"Kita semua ke mall!" ajaknya.
"Holeee!" seru para bayi bersorak.
__ADS_1
Satu mall besar milik Virgou mendadak sepi pengunjuk. Beberapa bodyguard mengamankan dan mensterilkan seluruh bangunan itu.
"Jangan lepaskan Babies Sky, Bomesh dan Arfhan!" titah Bart tak mau tiga cicitnya itu mendadak hilang di mall.
Hendra, Rio dan Bambang menjaga trio itu. Semua bayi dalam kereta dorong khusus. Haidar mendorong kereta bayi dua kembarnya. Rasya dan Rasyid memilih pergi ke salah satu toko di mana alat-alat peraga bela diri. Mereka ingin belajar double stik. David bersama mereka.
"Papa Frans, Leo boleh beli ini nggak?" tanya salah satu anak angkat Bart.
"Boleh sayang, memangnya buat apa bunga plastik itu?" tanya Frans.
"Ada deh," jawab Leo begitu rahasia.
"Hmmm ... mulai rahasia-rahasiaan ya sama Papa," goda pria itu.
Leo terkikik geli karena digelitiki salah satu ayahnya itu. Setelah mendapat persetujuan, Leo mendatangi semua saudaranya dan membisikkan sesuatu. Mereka mengangguk setuju. Kean penasaran.
"Baby ... kalian rencanain apa?" tanyanya.
"Tapi Kakak nggak bilang siapa-siapa ya?" pinta Leo.
"Janji!" sumpah Kean pada adiknya itu.
Leo membisikkan sesuatu pada remaja tampan itu. Kean tampak manggut-manggut, ia setuju dengan rencana adiknya itu.
"Kakak bantu ya!"
"Bener Kak?"
"Tentu saja!" Kean serius.
"Makasih Kak!"
Kean memberi kode pada semua saudaranya. Dewi cepat tanggap, ia belajar bahasa isyarat. Gadis itu kadang jadi penterjemah bahasa isyarat di sekolahnya.
Setelah puas berbelanja, Haidar yang kemarin gagal beli baju untuk semua bayi tampak senang dengan hasil buruannya.
"Babies ... lihat Papa bawa apa?" ujarnya bahagia menunjukkan semua baju-baju lucu pada seluruh anak-anak.
"Papa peuliin puwat Vella judha?" tanya bayi cantik itu dengan mata bulat tak percaya.
"Tentu sayang," jawab pria itu dengan senyum lebar.
Verra dan Dita langsung memeluk sampai menangis. Mereka jarang dibelikan baju oleh kedua orang tuanya. Nyaris seluruh baju mereka sudah kekecilan.
"Matasyih Papa hiks!"
"Sama-sama sayang," Haidar mencium dua bayi cantik itu.
Kasih sayang keluarga dituangkan pada semua anak-anak. Leo mengangguk pada seluruh saudaranya.
"Besok subuh udah siap ya," ujarnya dengan bahasa isyarat.
"Siap!" Kean mengacungkan ibu jarinya.
Bersambung.
Wah kejutan apa nih?
__ADS_1
next?