
Para remaja pria kini tengah berada di sebuah distrik. Wajah-wajah tampan dengan postur tubuh tegak, tinggi mereka yang 180cm, bahkan ada yang menyentuh 190cm. Membuat semua orang memandang mereka penuh kekaguman.
""Kak Sean ini mainan kereta yang kemarin Kakak cari!" seru Rasya.
Mereka pun masuk ke sebuah toko yang menjual barang-barang antik. Sean pemburu mainan jaman dulu kala.
"Halo Tuan, selamat datang di toko kami!" sapa pramuniaga dengan ramah.
"Ah, boleh saya lihat itu?" tunjuk Sean pada sebuah mainan kereta api.
Pramuniaga itu mengambil mainan itu.
"Pilihan anda sangat jeli sekali Tuan. Itu adalah miniatur kereta api pertama di dunia," jelas pramuniaga itu.
Sean mengangguk, remaja itu meletakkan kembali miniatur itu. Ia jadi tidak tertarik.
"Ini apa?" tanya Calvin menunjuk sebuah miniatur kereta yang bertabrakan satu dan lainnya. Miniatur itu diletakkan dalam kaca.
"Itu adalah kecelakaan kereta api terbesar di Indonesia, yang telah menewaskan 139 penumpangnya," jawab pramuniaga itu.
"Kecelakaan kereta api di Indonesia?" tanya Rasya.
"Sebentar, pemilik toko ini yang mengetahui sejarah itu," jawab pramuniaga.
Tak lama seorang pria berusia delapan puluhan mendatangi mereka. Pria itu meminta semuanya duduk.
"Dean, tutup tokonya. Kita akan melayani tamu kita agar nyaman," titah pria tua itu.
Dean menutup toko. Gomesh, Budiman dan Gio yang mengintai para remaja panik. Mereka langsung menggedor pintu itu.
"Buka sebelum aku dobrak!" teriak Budiman kalap.
Pintu dibuka, Budiman, Gomesh dan Gio masuk dan melihat anak-anak duduk beralaskan tikar dengan banyak makanan dan minuman.
Deru napas Budiman dan Gomesh juga Gio terdengar jelas. Sedangkan semua remaja menatap mereka dengan pandangan polos.
"Baba, Papa Gom, Papa Gio duduk sini!" seru Kean dengan tersenyum lebar.
Akhirnya tiga pria dewasa itu ikut duduk bersama anak-anak. Pria tua itu terkekeh melihat tatapan galak mereka padanya.
"Easy son ... your children was oke with me!" ujarnya menenangkan.
"Jadi kalian ingin tau kisah kecelakaan yang dialami dua kereta ini?" semua remaja mengangguk antusias.
"Baiklah,"
Pria itu menghela napas panjang. Lalu ia mulai bercerita.
"Pada tanggal 19 Oktober 1987 dua buah kereta saling bertabrakan di Bintaro. Kecelakaan yang menelan ratusan nyawa dan juga luka-luka berat maupun ringan," ujarnya.
__ADS_1
"Kecelakaan terjadi hanya karena masalah sepele. Yakni miskomunikasi internal stasiun. Tragedi Bintaro terjadi di jam padat penumpang sekitar pukul 07.00 WIB. KA 225 Rangkas Bitung - Jakarta Kota mengangkut 1.887 penumpang, yang disebut melebihi kepadatan maksimal 200 persen dari kapasitas kereta. Kondisi penerapan kebijakan kereta api saat itu di antaranya penumpang masih dapat memenuhi lokomotif dan atap gerbong," lanjutnya bercerita. "Sementara itu, KA 220 Tanah Abang - Merak masih dalam batas kapasitas normal, yaitu 72,6 persen atau sekitar 478 penumpang yang duduk di kursi penumpang masing-masing."
(sumber. detikedu.com).
Para remaja mendengarkan dengan seksama. Seakan ikut larut dalam cerita. Pria tua itu menceritakan bagaimana hanya karena tidak fokus bekerja.
"Kereta melaju dengan kecepatan maksimal 120km/jam. Terdengar peluit kereta, salah satu masinis mencoba mengerem dan banyak penumpang yang melompat dari atas kereta ... hingga!"
Semua menahan napas, mereka menantikan bunyi dua benda besar yang saling bertabrakan.
"Blam!" kejut pria tua itu.
Semua terlonjak kaget, hanya tiga pria dewasa yang santai mendengar cerita itu. Para remaja mengelus dada karena kaget.
"Bagai mendengar bunyi bom, getarannya sampai hingga ratusan meter. 156 korban meninggal di tempat dan 300 lainnya luka-luka," lanjut pria itu.
"Yang meninggal kebanyakan terhimpit besi kereta api yang penyok, bahkan ada yang masih hidup namun meninggal ketika hendak diselamatkan," pria itu selesai menceritakan kisahnya.
"Miniatur ini tidak dijual," ujar pria itu lagi dan mendapat decak kecewa dari para remaja terutama Sean.
"Kenapa dipajang kalo nggak dijual?" tanyanya.
"Apa kau sangat ingin benda ini?" Sean mengangguk antusias.
Pria itu berpikir lama, lalu benda itu akhirnya ada di tangan Sean. Dengan harga yang cukup mahal, remaja itu senang luar biasa.
Semua pergi meninggalkan toko tersebut. Pria tua itu menatap pegawainya dengan kesal.
"Maaf Tuan, mereka ingin merobohkan toko. Dari pada kita mati konyol, lebih baik aku bukakan saja!" ujar pegawai toko membela diri.
Pria tua menatap cangkir-cangkir dan piring-piring yang masih penuh dengan isinya. Para remaja tak menyentuh sedikitpun dari makanan dan minuman yang terhidang.
"Buang itu semua!" titahnya kesal.
"Apa kita pindah lagi Tuan?" tanya pramuniaga itu.
"Menurutmu?" tanya pria itu lagi kesal.
"Ini pertama kali kita mendapat mangsa yang banyak, namun gagal gara-gara tiga pria itu!" sahut pria tua itu ketus.
Kriet! Pintu terbuka, sosok dengan sejuta pesona masuk ruangan. Pria tua menelan saliva kasar.
"Halo Russel Snake!"
"BlackAngel?" sahut pria itu dengan muka pucat.
"Ada perlu apa kau?" tanyanya menebalkan keberaniannya.
"Kau tau tadi siapa yang datang?" tanya Virgou melepas kacamatanya.
__ADS_1
Pria itu menarik senjata dari balik kemejanya lalu menodongkan tepat di kepala pria tua itu. The RusselSnake salah satu mafia tua yang mengincar anak-anak muda untuk dilatih sebagai pembunuh berdarah dingin.
Pria itu menyuntikkan satu racun yang mampu membuat orang akan hilang rasa empati, cinta dan halusinasi tinggi. Pria tua bernama asli Robby White ini dulunya sangat ditakuti di dunia mafia. Bisnis Robby habis akibat distrik D yang hancur akibat penyergapan kepolisian.
"Apa yang kau lakukan!" sentak pramuniaga lalu hendak mencabut pistol.
Sleb! Terdengar raungan tertahan dari mulut pria itu. Virgou menembak kakinya hingga tersungkur. Senjata Virgou memakai peredam suara.
"Kau tau jika berurusan dengan BlackAngel?" tanya Virgou dengan senyum sinis.
Robby langsung berlutut, ia sungguh tidak tau siapa tadi yang datang ke tokonya.
"Mereka adalah anak-anakku RusselSnake!" jawab Virgou menatap datar Robby.
"Sungguh Tuan, aku tidak tau!"
Tak lama dua puluh pria berpakaian hitam-hitam masuk dan mengangkut dua pria itu. Bergerak dalam senyap, toko itu tutup selamanya.
"Tuan, kami menemukan dua puluh pemuda tengah dicuci otaknya!" lapor Denis.
"Urus dan obati. Lacak orang tua mereka!" titah pria itu.
Dua orang pria membungkuk hormat. Virgou menghela napas panjang, beruntung ia menugaskan Gomesh, Budiman dan Gio mengikuti remaja-remaja yang memang haus informasi itu.
"Saatnya bersama mereka dan memberitahu apa yang mereka ingin tahu!" putus pria dengan sejuta pesona itu.
Virgou kembali memakai kacamata hitamnya. Pria itu menyusul langkah para remaja yang kini masuk ke sebuah toko lagi.
"Kenapa mereka ke daerah ini sih!" keluh Virgou kesal.
Daerah yang didatangi Satrio, Kean, Calvin, Sean, Al, Daud, Dimas, Affhan dan Dewa adalah distrik tempat pasar gelap. Pria itu takut jika nanti semua remaja mendapat manusia dijual.
"Satrio masa nggak tau ini tempat apa?" keluhnya lagi.
Namun lagi-lagi Virgou menghela napas panjang. Pria itu selalu menugaskan Satrio ke markas dan membereskan masalah internal. Jarang menugaskan keluar seperti mengambil alih jual beli senjata ilegal atau obat-obatan terlarang.
Virgou berlari menuju toko yang didatangi semua remaja. Ia juga kesal dengan tiga pria yang mengikuti semua remaja.
"Babies!" panggilnya.
Semua menoleh dengan tatapan polos mereka. Sedang tiga pria yang bersama mereka menunduk malu.
"Daddy ... kok di sini banyak cewek nggak pake baju?" tunjuk Rasya pada seorang wanita tanpa busana meliuk di sebuah tiang.
"Itu bukan cewek Baby Ras!" sahut Satrio.
"Itu ulet panjat tiang!" lanjutnya.
bersambung.
__ADS_1
Ah ... next?