
Sky dan Bomesh menikmati bakwan goreng yang dibelikan oleh Arda. Virgou menatap kagum pada anak laki-laki seusia kedua putranya itu.
"Sayang, tadi yang narik becak siapa?" tanya Virgou.
"Oh itu ibu saya, pak!" jawab Arda bangga.
Senyum langsung terbit di bibir pria sejuta pesona itu. Gomesh hanya diam dan menikmati makanannya.
"Kenapa kamu traktir Sky dan Bomesh bakwan?" tanya pria itu lagi.
"Kalena kemalin Sky dan Bomesh kasih saya nasi goleng dua bungkus pak. Memang apa yang saya kasih ini tidak sebanding dengan yang kemalin," jelasnya sambil menjawab.
"Tapi, kata almarhum ayah dulu bilang. Walau kita tak punya apa-apa, jangan sampai memanfaatkan kebaikan orang lain. Jika bisa balaslah kebaikan orang tersebut walau apa yang kita balas tak sebanding dengan kebaikan yang diberikan," jelasnya, lagi-lagi penuh dengan rasa bangga.
Virgou terenyuh. Harga diri orang miskin yang memang terkadang kita anggap remeh. Banyak di luar sana memberi dan memposting pemberian mereka, dengan alasan bukti untuk atasan.
"Kau benar sayang, kebaikan memang harus dibalas, walau apa yang kita beri tak sebanding, tapi ada loh balasan yang setimpal untuk membayar kebaikan orang lain," ujar Virgou memberitahu.
Arda tampak tertarik mendengar itu. Ia ingin sekali membalas semua kebaikan orang-orang yang telah berbuat baik padanya.
"Apa itu pak?" tanya semangat.
"Doa nak," jawab Virgou singkat.
"Doa?"
"Ya, doakan mereka yang pernah berbuat baik secara sembunyi-sembunyi. Karena Allah suka kebaikan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi," jelasnya.
Arda seperti tercerahkan. Bocah itu mengangguk kuat. Ia akan mengikuti apa kata pria tampan di depannya itu. Virgou mengelus kepala Arda penuh kasih sayang. Satu tetes bening menitik dari sudut mata bocah itu.
"Kok kamu nangis?" tanya Bomesh khawatir.
Arda menggeleng cepat dan menghapus air matanya. Ia merindukan belaian tangan ayahnya. Ketika hidup, sang ayah selalu membelai kepalanya dan berdoa.
"Oh, ya. Kalian tinggal di mana?" tanya Virgou mengalihkan kesedihan bocah itu.
"Kami tinggal di rumah tempel di jalan belakang pasar," jawab Arda tanpa malu.
Virgou mengangguk. Bel berbunyi. Anak-anak kembali masuk ke kelas. Pria beriris biru itu menelepon Terra adiknya, menanyakan apakah bekas usaha laundry yang dulu punya Putri apa masih kosong.
"Kosong kak, kenapa?" tanya Terra di seberang telepon.
__ADS_1
"Aku ingin meminta salah satu wali murid yang sangat cerdas untuk mengolahnya," jawab pria itu.
Terra menyerahkan semuanya pada sang kakak. Ia memberikan kunci ruko itu dan menyuruh salah satu pengawal memberikan kunci pada kakak sepupunya itu.
Virgou menerima kunci itu dan menyuruh Gomesh menyimpannya. Waktu pulang tiba, semua anak pulang. Ibu dari Arda sudah menunggu di luar dengan becaknya. Virgou mendekatinya.
"Assalamualaikum, Bu. Boleh kita bicara?"
Wanita itu seperti ketakutan. Ia langsung cemas takut putranya berbuat macam-macam.
"Iya tuan, apa Arda melakukan kesalahan?" tanyanya cemas.
"Tidak kok bu," jawab Virgou.
"Kita ngobrol sambil makan siang?" ajak Virgou.
Wanita itu seperti gelisah. Ia merogoh sakunya. Ia hanya mendapat lima puluh ribu hari ini.
"Sudah Bu, jangan khawatir," ujar Virgou lagi.
Arda keluar bersama Sky dan. Bomesh. Arda yang melihat ibunya masuk bersama Virgou langsung kaget.
"Bu," panggilnya cemas.
Mereka kembali ke kantin. Virgou memesan soto ayam dan nasi juga ayam goreng. Anak-anak memakan nasi dan ayam goreng juga soto ayam. Gomesh, melayani anak-anak makan. Virgou langsung pada intinya. Ia meminta kesediaan perempuan itu mengolah salah satu laundry. Ternyata wanita itu tau soal laundry milik salah satu orang kaya yang diberikan cuma-cuma pada salah satu keluarga yang tinggal di perkampungan kumuh dekat pasar sana.
"Apa tuan yakin memberikan kepercayaan itu pada saya?" tanya wanita bernama Marni.
"Buat saya percaya jika ibu bisa mengelolanya!" tantang Virgou.
Netra Marni berkaca-kaca. Inilah yang dikatakan suaminya tentang sabar dan ikhlas. Allah akan menjawab dan memberikan apa yang kita butuhkan. Ia mengangguk setuju wanita itu akan membuktikan pada pria baik itu jika ia bisa diberikan kepercayaan itu.
Virgou menyuruh Gomesh mengantarkan wanita itu dengan putranya. Gomesh mengayuh becak milik wanita itu.
Keringat membasahi tubuh pria raksasa itu. Ia tak menyangka jika mengayuh becak bisa seberat dan sesusah ini.
"Tuan, apa anda tidak apa-apa?" tanya Marni khawatir.
"Lumayan bu!" jawab Gomesh.
Pria itu nyaris tak bisa mengendalikan becak ketika jalanan sedikit menurun. Marni sampai bangkit dan menarik tuas tepat ditengah becak. Kendaraan itu berhenti, Arda nyaris menangis.
__ADS_1
"Tuan, biar saya saja," ujarnya.
Gomesh pun turun dan memilih berjalan kaki. Marni memintanya naik.
"Jangan Bu, biar saya jalan saja, tempatnya dekat kok," tolak pria raksasa itu.
"Naik saja pak tidak apa-apa. Saya pernah mengangkut penumpang dua kali lipat besarnya dari tuan," pinta Marni sekaligus menyuruh pria itu naik.
Gomesh akhirnya naik dan memangku Arda. Becak bergerak dengan perlahan lalu lancar hingga tak terasa sudah sampai pada ruko yang dibeli Terra untuk memperbaiki kehidupan Putri dan beberapa keluarga lainnya yang dipilih langsung oleh Terra sang pemilik Ruko.
"Ini tempatnya kan tuan?" tanya Marni.
"Iya,"
Gomesh turun Arda tertidur di pangkuan pria itu. Marni tak enak hati, ia ingin mengambil putranya. Gomesh menolak, ia menggendong bocah yang sudah yatim itu dan meletakan kepalanya di bahu. Arda malah memeluk leher Gomesh dan perlahan pelukan itu mengendur.
Mereka masuk, Gomesh langsung menidurkan ke alas kasur tipis. Walau beberapa barang memang sengaja diambil oleh penghuni sebelumnya. Gomesh tau akan hal itu, tadi atasannya langsung memberi perintah untuk melengkapi isinya lagi.
"Jadi apa ibu mengerti?" Marni mengangguk.
Gomesh pergi. Marni membersihkan ruangan itu dari debu. Mesin masih bisa bekerja dengan baik. Setrika uap juga sudah tersedia. Bahkan beberapa detergen dan pengharum pakaian juga masih ada.
Tak lama barang-barang datang. Satu tempat tidur besar datang berikut lemari plastik, panci masak, kompor gas dan kulkas juga televisi.
"Ini bannernya saya sudah pasang ya Bu!" sahut petukang.
Marni mengangguk ia segera melihat banner yang terpasang.
"Arda Laundry. Menerima cuci dan setrika uap ...."
Marni membaca tulisan yang tertera di spanduk yang terpasang. Para petukang pergi. Walau di sana ada beberapa toko membuka jasa yang sama. Tetapi Marni telah mendapatkan pelanggan pertama, ke dua, ke tiga dan seterusnya.
Usai menerima semua pakaian kotor dan mencatat nama-nama di bungkusan plastik pakaian kotor. Wanita itu menutup toko dan mengajak putranya untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di rumah tempel yang sudah lama menemani mereka ketika sang suami masih hidup.
"Mas ... alhamdulilah ... makasih ya, atas ajaran mas yang memintaku untuk terus bersabar akan ketentuan Allah. Allah mengijabah semua keinginanmu sayang," ujar wanita itu lirih ketika usai sujudnya.
Ia mengusap kepala putranya. Berkat buah baik sang putra yang mengingat kebaikan orang lain. Siapa sangka jika Allah mengabulkan semua apa yang dibutuhkan Marni melalui tangan Virgou.
bersambung.
jangan lelah berbuat baik. Allah itu Maha pengasih dan maha penyayang.
__ADS_1
next?