
Dua penjahat diserahkan pada polisi. Terra yang meminta Virgou menyerahkan pada yang berwajib.
"Tapi Te ...."
"Kak!" peringat Terra.
"Mama ... asyik tau nyiksa itu!" sahut Rion.
"Baby!" peringat Terra lagi.
"Nyonya," kali ini Gomesh yang bicara.
"Kakak kan orang baik. Kita serahkan pada polisi ya," tukas Terra tak bisa dibantah.
Darren hanya diam saja. Budiman pun menyerahkan semua pada Terra, Gisel tak masalah begitu juga Maria. Terlebih mereka melihat bagaimana kondisi dua penjahat itu yang babak belur.
"Sebentar lagi pesta pernikahan Baby, jadi jangan ada yang berbuat jahat ya!" pinta wanita itu.
Setelah dua penjahat itu sembuh. Keduanya pun diserahkan pada polisi. Kepolisian setempat hanya bisa menahan tanpa ada penyelidikan, karena memang bukti sudah cukup.
Resepsi pernikahan memang sudah di depan mata. Semua undangan sudah disebar. Layla menatap dua pelaminan di sana. Wanita itu tak menyangka jika pernikahannya juga akan dipestakan bersama dengan salah satu putra dari atasan suaminya.
"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Juno memeluk sang istri.
Juno memang dibebas tugaskan. Tetapi pria itu tetap saja sibuk mengurusi segala sesuatu. Malam pertama mereka sudah dilalui dengan baik. Juno makin mencintai istrinya ini.
"Aku harap jika nanti aku tak pulang berhari-hari karena kesibukan. Kau tak langsung marah dan mencari pelampiasan di luar sayang," Layla lalu menatap netra sang suami.
Wanita itu sangat tau kisahnya, kenapa sang suami sampai bercerai.
"Marwahku sebagai istri adalah menjaga hartaku, martabat dan juga kehormatanku," ujarnya.
Juno mencium kening istrinya. Mereka menatap ruangan yang sudah sangat indah dan begitu mewah. Bahkan dirinya dan sang istri telah melakukan foto prewedding. Gaun istrinya juga sangat cantik hadiah dari sang atasan, Haidar.
"Mereka Keluarga yang luar biasa ya Aa!" puji Layla ketika melihat gerombolan keluarga yang saling sayang.
"Tentu," jawab Juno yang merasa beruntung bekerja di sebuah keluarga yang saling memiliki satu dan lainnya.
"Jangan kaget dengan tingkah kami yang tiba-tiba absurd sayang,' lanjutnya.
"Jun!" panggil Budiman.
"Saya Tuan!"
Juno yang tadi memeluk istrinya langsung menghampiri sang ketua. Budiman adalah ketua dari SavedLived kedudukannya satu tingkat di atas Gomesh. Layla mengikuti langkah suaminya.
"Jun, kamu sudah pastikan proposal keamanan kita seluruh gedung pada pihak keamanan hotel?" tanya Budiman.
"Sudah Ketua, Ketua Gio dan Rio telah mendatangi pihak keamanan hotel. Mereka juga menyediakan alat detektor. Kami juga telah memeriksa seluruh ruangan yang telah disewa keamanannya!' jawab Juno.
"Baik, kalau begitu awasi anak buah yang lain. Ada bodyguard perempuan tolong bantu Nona Azizah dan Nona Saf!" titah Budiman.
"Laksanakan ketua!" sahut Juno sigap.
Pria itu menatap istrinya, Layla mengusap pipi sang suami. Ia mengangguk mengerti kesibukan suaminya.
"Pergilah, Layla akan bersama Kak Terra!' ujarnya.
Juno pun langsung menuju satuannya. Di sana Azizah tengah memberi perintah apa yang harus dilakukan pada bodyguard berjenis kelamin perempuan itu.
__ADS_1
"Dik!" panggilnya.
Azizah menoleh. Walau Budiman memanggilnya Nona, tetapi semua pengawal memilih memanggil Azizah dengan sebutan Adik.
"Kak, mereka sudah siap. Azizah kasih mereka tugas mengawal semua nona muda!" lapor wanita itu.
Azizah adalah pengantinnya, tetapi wanita itu masih saja membantu pekerjaan di SavedLived, Safitri pun ikut terjun bersamanya.
"Biar saya ambil alih, Adik sama Tuan baby saja," suruhnya.
Azizah mengucap terima kasih, Rion memang belum pulang dari kepolisian karena kasus penjambretan tas Sky kemarin.
"Kamu Claudia, jaga Nona Kaila dan Nona Dewi. Fokuskan perhatian kalian pada dua nona itu!"
"Siap Ketua!"
"Della, kamu jaga Nona Arimbi dan Nona Nai!"
"Siap!" sahut Della dengan sikap sempurna.
"Viola, kamu jaga Nona Maisya dan Nona Adiba!"
"Siap!"
Safitri mengangguk setuju, ia berharap akan banyak anak perempuan bekerja sebagai bodyguard nantinya. Wanita itu kini pergi ke sebuah ruangan khusus di mana semua anak di sana.
"Uma!" pekik Arsh.
Bayi sembilan bulan itu menaiki tubuh tinggi Safitri. Wanita itu memang suka sekali dipanjati oleh para bayi.
"Baby ... kamu kira Uma itu pohon pinang apa!" geramnya gemas.
"Uma ... nan ... Alsh ajat!" sahut bayi tampan itu.
"Sayang, kamu makan dulu!" perintah Dinar.
Wanita itu menjaga semua bayi bersama dengan Maria, Putri, Aini dan. juga Seruni. Bart sengaja membuka ruang khusus para bayi agar nyaman dan tak terganggu dengan hiruk pikuk pesta besok malam.
Harun dan lainnya tengah berdiskusi. Mereka ingin mempersembahkan sebuah pertunjukan yang pastinya menarik. Maryam dan lainnya pun ikut serta.
"Pa'a pita poleh banyi dandut?" tanya Bariana.
"Pastinya poleh!" jawab Harun.
"Atuh bawu selita selem aja ah!' celetuk Arraya.
"Bawu selita pa'a Ata'?" tanya Aisya.
"Yan pentolat teumalin?" lanjutnya.
"Biya, tan hantuna sepeunelna panyat Pahu!" sahut Arraya lagi.
Kini mereka pun duduk di atas karpet tebal. Tubuh mereka saling berhimpitan. Rupanya kisah hantu kemarin masih menjadi topik hangat para bayi yang memaksa bicara itu.
"Picala pa'a?" Arsh masuk ke dalam kelompok dan ikut duduk.
Safitri merekam pembicaraan mereka semua. Tentu gosip para bayi menjadi bahan hiburan, terlebih bahasa yang mereka gunakan.
"Tamu banti nayis woh!" peringat Arsyad pada Arsh.
__ADS_1
"Ndat ... atuh ndat nayis!" sahut Arsh yakin.
"Imi selita seulem!" kini Aaima menakuti Arsh.
Netra Arsh hanya membulat, ia memang belum tau cerita seram itu apa. Akhirnya Aaima dan Arsyad menyerah.
"Jadhi bedhini selitanya," ujar Arraya memulai kisahnya.
"Tan watu peultama datan pita pasih bi lumah Pipu Layla. Atuh seupenelna udah didatani," lanjutnya.
"Pama pentolat judha?" tanya Al Fatih.
"Butan pentolat pati sewet lambut panzan, mutana butih tayat teupanyatan pate bedat!' jawab Arraya.
"Atuh judha lihat itu!" sahut Arion.
"Sewetna matana teluan judha eundat?" tanya El Bara.
"Eundat ... batana peulum teluan," jawab Arion.
"Pati mutana sopot-sopot tulitna!" lanjutnya.
"Tulitna sopot?" tanya semua dengan mata membesar.
"Biya sopot, zatuh dithu satu-satu," lanjut Arraya.
"Pasa wowan beunitah pita selita hantu syih!" sela Fathiyya heran.
"Pestina selita teuntan teupahadiaan!' lanjutnya.
"Pahadia yan badhaibana? Pita tan peulum beunitah!" sela Al Bara.
Semua mengangguk setuju. Fathiyya juga ikutan mengangguk.
"Pati janan selita seulem ah ... banti wowan-wowan lali petatutan!" lanjutnya.
"Pati atuh pasih peunasalan Pama punia walwah!" sahut Bariana.
"Soba atuh pisa lihat judha!" lanjutnya.
"Wah wah pa ta?" tanya Arsh.
"Dlatula," jawab Arsyad asal.
"Dlatula pa'a?" tanya Arsh lagi.
"Ipu yan suta sisep lehen Mama pita," jawab Al Bara.
Al Bara tentu melihat ibunya yang lehernya dipenuhi tanda cinta, karena Lidya tak memakai hijab jika di rumahnya.
"Lehen Mama Iya pisisep dalatula?" tanya Aaima tak percaya.
"Biya Papa sawab beudithu!" jawab Al Bara disertai anggukan saudara kembarnya.
"Atuh atan putun ipu dalatula talo petemu!" seru Aaima tak suka pada sosok yang menghisap leher ibunya.
"Atuh judha pawu pihat dalatula ipu tayat pa'a wowanna!' sahut Maryam ikutan marah.
bersambung.
__ADS_1
Demian ... tuh mau dipukul Aaima sama Maryam! 🤣ðŸ¤
next?