
Azizah berjalan sambil mengelus perutnya. Beberapa orang membungkuk hormat ketika berselisih jalan dengannya.
"Siang Nyonya!" sapa salah satu karyawan ramah.
Hanya senyum kecil terbit dari bibirnya. Kesan dingin dan datar tetap terlihat. Tak ada yang mau menatap mata tajam wanita itu semenjak ia pertama kali menginjakkan kaki di gedung perusahaan ini.
"Sayang!" wanita itu menoleh.
Rion berlari mendekatinya. Senyum lebar yang begitu indah terbit dari bibir Azizah. Sangat beda dengan senyum yang ia berikan pada salah satu karyawan tadi.
"Cantik banget!' puji salah satu karyawan dengan berbisik.
Rion memeluk istrinya. Pria itu ternyata terlambat makan. Ia mengajak kembali Azizah untuk menemaninya.
"Aku belum makan siang. Temenin ya," Azizah mengangguk.
Keduanya bergandengan tangan. Rion duduk di salah satu kursi yang kosong. Pria tampan itu juga tak ada yang berani mendekat. Hanya kaum hawa yang menatapnya penuh pemujaan.
Azizah memesan makanan untuk suaminya. Ia juga memesan satu kudapan kecil. Setelah memesan, Azizah duduk di depan suaminya sambil meletakkan makanan di atas meja.
"Terima kasih sayang," ujar pria itu.
"Sama-sama Mas Baby,"
Azizah menemani suaminya makan. Ia pun memakan kudapan yang ia pesan tadi. Bilqis baru saja selesai makan. Gadis itu menatap wanita yang tadi duduk bersamanya tengah duduk bersama seorang pria yang begitu tampan.
"Mashaallah ...," Bilqis mengalihkan pandangan ke tempat lain agar tidak terus menerus menatap wajah pria tampan itu.
Azizah melirik gadis yang tadi duduk bersamanya, bersamaan dengan tatapan Bilqis.
Satu tetes bening jatuh di sudut mata gadis itu. Tatapan Azizah begitu tajam dan menusuk. Hati sang gadis seperti disayat gara-gara pandangan super tajam itu.
"Hiks ...!"
Bilqis mempercepat langkahnya keluar kantin. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia berlari ke taman dekat perusahaan.
"Huuuu ... huuu ... aku tidak bermaksud menggoda ... aku bukan pelakor ... huuu ... uuu ... hiks ... hiks!" tangisnya.
Gadis itu tersedu cukup lama di taman. Ia hampir saja tepat jika tidak melihat jam di ponselnya.
"Kau kenapa?" tanya salah seorang teman sesama karyawan.
"Nggak ... hiks ... apa-apa ... hiks!" Bilqis menjawab dengan sesenggukan.
Sementara Rion selesai makan. Pria itu tak mengetahui sama sekali apa yang terjadi. Pembawaan yang super cuek terhadap sekitar kecuali itu penting dan menyangkut keselamatan orang banyak.
"Sudah sayang?" tanya Azizah mesra.
"Sudah dong. Alhamdulillah kenyang," jawab Rion tak kalah mesra.
Azizah mengantar suaminya ke depan loby kantor. Langit membuka pintu, Rion mencium kening dan perut buncit istrinya.
__ADS_1
"Nanti aku jemput pulang," ujar pria itu lembut.
"Iya Mas Baby," sahut Azizah.
"Hati-hati bawa mobilnya Lang!" peringatnya.
"Siap Mama Baby!" sahut Langit membuat gerakan hormat.
Azizah berdecak lalu tersenyum. Langit terkekeh. Tapi kemudian ia cemberut karena Rion memelototinya.
"Cepat!" sentaknya.
"Iya Papa Baby!" jawab Langit menggerutu.
Mobil bergerak, tak lama satu mobil berhenti. Saf keluar dari dalamnya setelah dibuka pintu oleh Juan.
"Uma!" panggil Azizah manja.
Saf tersenyum, wanita besar tinggi itu merengkuh tangan adik iparnya. Azizah bergayut manja. Tak ada yang tau betapa berbedanya sikap Azizah ketika bersama keluarga.
"Nyonya!" beberapa pegawai membungkuk hormat pada keduanya.
"Mari Pak!" sahut Saf ramah.
Pembawaan Saf dan Azizah memang sangat berbeda. Safitri seorang bidan, ia tentu harus ramah pada semua orang. Berbeda dengan Azizah yang hanya ramah ketika saat kerja saja.
"Mau ke ruangan Abah?" tanya Azizah.
"Saf, Zah!"
"Kak Jhe!" sahut Saf pada Jhenna.
"Itu Pak Dar udah uring-uringan di dalam. Kamu bawa makanan?" Saf menunjukkan satu kantung keresek berisi makanan untuk suaminya.
"Aku kembali ke tempatku ya Uma," ujar Azizah pamit.
"Iya sayang," sahut Saf lalu mengecup perut buncit Azizah.
Sebuah ritual yang harus ia lakukan jika tidak ingin Azizah pasang mode ngambek dan mengadu pada Virgou.
Azizah kembali pada ruangannya. Wanita itu tak masuk IT. Kedudukannya sebagai manager di perusahaan itu sedang CEO utama tetap dipegang oleh Darren.
"Nyonya, ada karyawan baru bagian marketing pemasaran," lapor Dian sekretaris wanita itu.
"Lalu?" tanya Azizah bingung.
"Apa maksudmu aku harus tau siapa saja karyawan marketing?" tanya Azizah lagi.
"Bukankah ada bagian pengembangan karyawan yang dipegang oleh Pak Fedri?" lanjutnya masih bertanya.
Dian terdiam. Ia lupa jika Azizah tak peduli dengan apapun jika bukan dengan pergerakan data dan anjing cyber ciptaannya.
__ADS_1
"Maaf Nyonya!" ujarnya pelan lalu membungkuk hormat.
"Dian, jika soal karyawan baru atau masalah SDM perusahaan. Kau tak perlu melaporkannya padaku. Aku hanya manager bagian IT dan pengamanan data. Jadi semua seluk beluk karyawan itu bukan bagianku. Paham?"
"Paham Nyonya!" angguk Dian.
"Kembali pada pekerjaanmu. Aku lihat beberapa data yang error. Tolong revisi!" perintah Azizah lagi.
"Baik Nyonya!" Dian membungkuk hormat.
Gadis itu memukul pelan bibirnya. Ia lupa jika atasannya bukan wanita tukang kepo. Dian, merasa bersaing akan kedatangan karyawan baru yang cantik.
"Bilqis Sanjaya," gumamnya menyebut sebuah nama.
"Baru datang sudah menarik ribuan kumbang. Aku yakin, dalam waktu dekat penjualan ponsel dan chip data akan cepat terjual karena adanya gadis cantik itu!" lanjutnya iri.
Dian menatap berkas di atas mejanya. Ia menghela napas panjang, gaji besar dan jabatan tinggi memang jadi incarannya. Mengira menjadi sekretaris Darren, tetapi ia ditunjuk sebagai sekretaris Azizah. Wanita super dingin dan sangat tegas.
Tak terasa waktunya pulang. Berita jika bagian marketing berhasil menembus penjualan di atas dua digit membuat CEO langsung datang untuk memberi selamat.
Darren membawa istri dan juga adik iparnya. Rommy, Aden dan Jhenna ikut serta. Bilqis yang jadi sorotan karena kepiawaiannya.
"Terima kasih Nona Sanjaya. Anda telah memberi keuntungan besar pada perusahaan. Tetap pertahankan, akhir bulan akan ada reward bagi karyawan berprestasi!" ujar Darren memberi selamat pada Bilqis.
Gadis itu tersenyum, ia mengira Darren akan menjulurkan tangan padanya. Tetapi pria itu malah menakup tangan di dada. Bilqis menirunya, ia malu sendiri.
"Jaga mata dan kehormatan kerudungmu Nona," tekan Azizah ketika kakak iparnya berlalu.
Bilqis kembali mendapat tatapan yang menusuk. Sepasang mata gadis itu kembali mengembun, sungguh ia tak punya maksud menggoda siapapun.
"Saya tidak ...."
"Maka jangan memandang orang penuh pemujaan Nona!" lanjut Azizah.
Dua wanita beda status perkawinan itu saling tatap. Memang suasana ramai. Tapi aksi keduanya luput dari perhatian semua orang.
"Kau memang tidak menggoda siapapun. Tapi dari pandanganmu yang penuh pemujaan pada suami dan kakak iparku. Aku pastikan kau tidak akan bertahan lama di perusahaan ini!" ancam Azizah.
"Saya ... saya minta maaf Nona," ujar Bilqis lirih.
"Bagus, tetap bekerja yang bersih. Maka kau akan terus berjaya di tempat ini. Sama seperti Nyonya Puspita dan Nyonya Margarita pelopor marketing terbaik di perusahaan ini!"
Azizah memberi petuah pada seorang gadis. Ia menepuk pelan bahu Bilqis untuk memberi kekuatan pada gadis itu.
"Kok lama di dalam?" tanya Saf memandangi adik iparnya.
"Biasa Uma," jawab Azizah. "Ngurusin nyamuk dulu."
bersambung.
Wow ... Azizah ...
__ADS_1
next?