
Wahai sang pencipta malam yang duduk di atas kursi-Nya. Yang mencipta cinta dan mampu membuat semua orang lupa daratan.
Kau lah yang bekuasa di antara semua kuasa yang ada. Apa pun kata-Mu maka terjadilah kata-Mu.
Wahai sang pecipta malam atas kuasa-Mu matahari bergeser mengganti bulan. Atas kuasa-Mu juga waktu yang bergulir.
Aku mengetuk pintu-Mu dalam segala kehinaanku sebagai hamba-Mu.
Jika cinta ini baik untukku, wujudkan lah dalam ikatan halal atas nama-Mu ... jika cinta ini tak baik untukku ... maka segeralah hapus dan berikan pengampunan-Mu atas cinta.
Sungguh hamba tak ingin hidup sendiri, Ya Rabb!"
Dinar menyebut nama pria yang baru saja membuka tabir kelam hatinya. Ia juga meminta ampun atas segala kemarahan yang ia pendam pada orang tua yang membuangnya.
"Terima kasih kanda, kau mengingatkan aku pada maaf yang begitu berat aku lakukan," ujarnya bermonolog.
Ia selama ini tak mengingat perjuangan Terra bersama tiga adik hasil perselingkuhan ayahnya. Bagaimana luasnya hati wanita itu menganggap tiga anak yang tak berdosa memanggilnya mama. Bagaimana Terra memaafkan semua yang telah menyakiti hatinya. Hingga terciptalah keluarga besar ini.
"Allah memberi jawaban telah lama, namun aku baru menyadarinya," gumamnya lagi.
Besok pagi. Dinar membantu empat ibu yang bertugas bersama Azizah. Gadis itu juga memiliki tanggung jawab besar pada enam adiknya yang masih kecil. Lagi-lagi Dinar belajar dari sosok kuat itu.
"Hari ini kau mendaftarkan Adiba, Ajis, Amran dan Ahmad sekolah?" tanya Ibu Dwi pada Azizah.
"Iya Bu, saya akan mendaftarkan Alim juga," jawab gadis itu.
"Nanti bareng ibu ya," ujar Rahma.
Azizah mengangguk. Gadis itu bersyukur mendapat keluarga yang penuh dengan kasih sayang ini. Dinar telah menyiapkan bekal untuk semua adik.
Rahma juga ingin mendaftarkan tiga L di sana.
Telepon berdering. Ternyata Khasya menghubungi Rahma.
"Halo Assalamualaikum!" sahut wanita itu.
"....."
"Iya ibu, saya berencana mendaftarkan Lana, Lino dan Leno!" jawab wanita itu.
".......!"
"Baik ibu, nanti saya akan beritahu!" sahut wanita itu lalu mengucap salam dan menutup sambungan telepon.
"Ayo berangkat!" ajaknya.
Azizah menggandeng dua Ahmad dan Alim. Sedang Adiba menggandeng Ajis dan Amran. Sementara Aminah ditinggal kini digendong oleh salah satu pengurus panti. Tadinya bayi itu menangis tak mau ditinggal. Tetapi, Dwi mengalihkan perhatian bayi cantik itu dengan mainan dan membuatnya tak rewel.
__ADS_1
Usai mendaftar semua adik-adiknya. Adiba kembali ke panti bersama Rahma. Azizah sudah membayar penuh semua adiknya. Karena mereka yatim piatu, gadis itu mendapat keringanan bayaran. Lusa mereka baru bisa bersekolah.
"Adiba bisa langsung masuk kelas empat jika berhasil mengikuti ujiannya," terang kepala pesantren.
Adiba ingin mencobanya lusa, jika ia berhasil, maka ia akan langsung duduk di kelas empat sesuai dengan usianya. Sedang untuk Ajis dan Amran boleh langsung memasuki kelas satu sedang Ahmad dan Alim dilarang sekolah karena belum cukup umur. Tapi, dipersilahkan mendaftar sekolah agama. Bahkan Aminah juga bisa masuk.
Azizah lega, semua adiknya akan mendapat pendidikan yang layak. Ia akan menyerahkan semua pada kemampuan sang adik. Sebagai tulang punggung, saudaranya. Azizah akan berusaha mewujudkan cita-cita seluruh adik-adiknya.
Azizah sudah sampai di perusahaan Haidar. Gadis itu akan membetulkan komputering error dan mengembalikan beberapa akun divisi yang mati dibuat oleh Rion.
"Selamat pagi tuan baby!" sapanya pada Rion.
Pemuda itu berdecak kesal. Ia hanya tak mengerti mengapa semua orang kini suka memanggilnya itu.
"Bisa kau hilangkan panggilan terakhir itu Zah!" pintanya.
Gadis itu hanya. membungkuk hormat. Ia hanya terbiasa dengan sebutan itu, ketua mereka memanggil Rion dengan sebutan Tuan Baby.
"Saya hanya mengikuti ketua tuan," jawabnya ringan.
"Kau sudah datang Azizah?" Haidar datang rupanya pria itu tadi tengah memerintahkan sesuatu pada resepsionis.
"Selamat pagi tuan, saya baru datang," sahut gadis itu formal.
Ketiganya menuju ruangan. Azizah langsung masuk pada ruangan IT. Ia duduk di salah satu kursi dan memeriksanya. Mempelajari skema pertahanan data perusahaan itu.
Haidar dan Rion begitu takjub akan kegeniusan Azizah.
"Kok Ion jadi liat mama ya?" bisiknya pada sang ayah.
"Hmmm ... papa merasa begitu," sahut pria itu juga berbisik.
Keduanya meninggalkan Azizah dengan pekerjaannya. Rion ke ruang kerjanya. Sedang Haidar menuju perusahaan utama yang berjarak tiga kilometer dari perusahaan yang Rion tangani.
Sedang di tempat Demian. Dominic telah selesai mengurus semua pemindahan perusahaan utamanya.
"Alhamdulillah .. akhirnya perusahaan pusat kini berada di Indonesia!" ujarnya bersyukur.
"Perusahaan harus beroperasi dulu selama satu tahun paling cepat untuk bisa diumumkan pada khalayak ramai!" ujarnya bermonolog.
Pria itu mendatangi sebuah gedung yang di mana dua putranya bekerja di sana. Dua gedung sebelah perusahaan Demian di sanalah tempatnya. Calvin datang menghampiri pria itu dan mencium punggung tangan Dominic.
"Assalamualaikum dad," sapanya.
"Wa'alaikumussalam, Nak. Apa semuanya sudah beres?"
"Sudah Dad. Semua peralatan perusahaan sudah lengkap dan organigram perusahaan juga telah disusun," jawab remaja itu.
__ADS_1
Ini yang tidak diketahui Demian dan Jacob. Calvin membantu pemindahan perusahaan pusat di Eropa dengan melengkapi semua peralatan dan kebutuhan sebuah perusahaan. Bahkan remaja itu yang menangani semua tenaga ahli dari perusahaan di Eropa untuk melatih karyawan di sini. Dominic hanya membawa beberapa kepala staf divisi yang penting ke Indonesia. Sedang di Eropa seluruh pegawainya masih bisa bekerja seperti biasa. Dominic hanya mengubahnya menjadi perusahaan anak cabang.
Dua laki-laki beda usia itu memasuki perusahaan. Demian yang dari tadi mencari keberadaan asisten keduanya terkejut ketika datang bersama ayahnya.
"Jadi kau selama ini membantu daddy?" tanya Demian kesal.
Jac juga sebal pada Dominic yang merahasiakan semuanya.
"Aku yang memintanya merahasiakan semua sayang," sahut pria itu menepuk bahu dua putranya.
"Maaf, aku masih big boss di sini," lanjutnya mengingatkan.
Demian dan Jac mendengkus kesal. Tapi, keduanya senang, akhirnya mereka bersatu kembali dengan ayah mereka.
"Lalu di Eropa siapa yang mengawasi?" tanya Jac, "Apa masih Tuan Ferdinad?"
"Ya, masih dia. Pria itu sangat kompeten bukan?" Demian dan Jac mengangguk setuju.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Bibu Dinar, dad?" tanya Demian menaik-turunkan alisnya.
"Jangan kepo," jawab pria itu membuat putranya berdecak sebal.
"Daddy harus mendapatkan Bibu!" seru Demian ketika Dominic memilih pergi meninggalkan putranya.
Calvin kembali ke tempat duduknya. Jac mengikuti Demian.
"Apa benar daddy menyukai bibu?" tanya pria itu.
Demian menatap Jac malas. Seharian pria itu hanya meneriaki putrinya yang berulah sang istri menyerah jika berurusan dengan Aaima bayi cantik nan. bar-bar itu.
"Kau kemana saja selama ini?" tanyanya sarkas.
Jac berdecak sebal padanya. Hal ini membuat Demian melototinya.
"Besok kuserahkan Aaima padamu, biar kau tau bagaimana jadi ayahnya," ujar pria itu.
"Oh dengan senang hati!" sahut Demian sudah gemas membayangkan betapa bar-barnya Aaima di tangan pengasuhannya.
"Baby kau akan bersamaku besok," ujarnya dengan pandangan berbinar.
"Istriku pasti suka merawatnya dengan baik," lanjutnya.
Jac memutar mata malas, entah dari mana sifat bar-bar Aaima. Pria itu hanya bisa sabar jika bayi cantiknya itu berulah.
bersambung.
Jac lupa kalau istrinya juga bar-bar.
__ADS_1
next?