SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KARENA AKU PEREMPUAN!


__ADS_3

Azizah dan kawan-kawan membawa kemenangan besar bagi kaum perempuan. Semua berpelukan ketika masing-masing kepala pemerintahan menandatangani petisi perlindungan kaum perempuan dan mengusung hukuman berat bagi pelaku pelecehan.


"Terima Azizah, Arimbi!" pekik Gebbah.


Wanita malang itu menangis dalam pelukan Arimbi. Gadis itu memberikan kenyamanan dan kasih sayang besar agar Gebbah dapat keluar dari traumanya.


"Andai Kakakku ada, " gumamnya pelan.


"Apa?" tanya Gebbah yang merasa Arimbi mengatakan sesuatu.


"Aku memiliki Kakak yang luar biasa Gebbah dan ketika memelukmu aku teringat padanya," jawab Arimbi.


Gebbah tersenyum. Wanita malang itu tak bisa mendapatkan keturunan seumur hidup. Akibat perkosaan itu rahimnya infeksi dan harus diangkat.


"Semangat ya Geb!" ujar Azizah menenangkan gadis itu.


Beberapa wartawan merangsek masuk. Penjagaan ketat yang dilakukan oleh pihak PBB dan pengawal pribadi dari perusahaan SavedLived.


"Nona Azizah, kami dengar jika pelaku yang menyerang anda mendapat penanganan medis yang serius. Apa tanggapan anda?"


"Jika mengganggu singa. Jangan salahkan jika dia terluka!" jawab Azizah dengan sorot mata tajam.


"Nona, apa anda yakin jika kasus pelecehan ini tak akan ada lagi?"


"Saya yakin jika semua wanita di luar sana mau bertindak cepat dan mereka dilindungi hukum!"


"Nona, ada kabar beberapa bulan lalu polisi mendakwa korban perkosaan dengan tuduhan pembunuhan karena pelaku tewas. Apa tanggapan anda?"


"Inilah maksud saya perlindungan hukum tadi. Kamu berhak menjaga harga diri kami dan melawan jika terancam!"


"Lalu apa ada jalur hukum pada kasus seperti itu? Membela korban yang menjadi tersangka?"


"Itu sudah diurus oleh pihak yang berkepentingan. Itu bukan ranah saya. Saya hanya mengajukan gugatan agar hukum bertindak tegas pada kejahatan bukan korbannya!" sahut Azizah.


"Polisi selalu mengatakan jangan melakukan tindakan brutal, walau dengan tujuan untuk melindungi diri sendiri. Apa tanggapan anda?'


"Mungkin jika anaknya diperkosa, meminta putrinya pasrah saja," celetuk Tika kesal.


"Saya percaya kebenaran akan terungkap walau terlambat! Setidaknya wanita itu sudah menjalankan tugasnya melindungi diri sendiri dari kejahatan," sahut Azizah.


Para perempuan di sana mengangguk setuju, walau kebebasan terbelenggu tetapi mereka bisa mempertahankan kehormatannya. Kemungkinan di dalam penjara ia jauh lebih aman dibanding berada di luar sana.


Mereka berpisah. Saling melambaikan tangan dan memberikan semangat satu dan lainnya.


"Kalian itu berharga! Kalian pantas untuk hidup lebih baik lagi. Ada banyak peluang di luar sana, bergiatlah! Tuhan tidak pernah tidur!" ujar Anti memberi semangat.


"Thank you Azizah, Arimbi!"


Virgou membuka pintu mobil. Lima gadis masuk ke dalam. Lalu pintu tertutup, kendaraan roda empat itu bergerak bersama mobil-mobi juga motor yang mengawal mereka.

__ADS_1


Butuh waktu satu jam mereka sampai depan kastil, wartawan masih banyak berkerumun. Para pengawal langsung menjadi tameng untuk membelah para wartawan mobil masuk diiringi para pengawal dan gerbang ditutup perlahan.


"Tuan-tuan!" pekik para wartawan.


Tak ada tanggapan membuat pemburu berita kecewa. Mereka lagi-lagi pulang dengan tangan kosong. Para paparazi juga tak mendapat foto apapun dari bangunan mewah tersebut.


Semua turun dari mobil. Para bodyguard memakai kaca besar untuk pemantul cahaya agar tak ada yang bisa mengambil gambar.


"Assalamualaikum!" sahut Virgou ketika masuk ke dalam.


"Wa'alaikumusalam!' sahut semuanya.


"Kakak!" pekik Ella.


Empat remaja memeluk Arimbi erat. Gadis itu juga sangat merindukan adik-adiknya itu. Ella sudah kelas tiga SMA, Bastian kelas satu SMA, Billy baru masuk SMP, Martha kelas enam SD. Sayang, di negara mereka tidak ada sekolah akselerasi. Mereka diminta untuk membaur dengan teman biasa.


"Kalian belum berkenalan dengan Kak Azizah, Kak Tika, Kak Diah dan Kak Anti," ujar Arimbi.


Semua anak mencium tangan empat perempuan itu. Mereka tersenyum melihat betapa santunnya semua anak padahal keempatnya adalah bule.


'Mereka bule rasa lokal Kak," seloroh Arimbi.


"Sudah, ayo makan dulu. Kalian sudah nyaris satu harian di luar. Pasti di sana tidak diberi makan kan?" sahut Widya.


"Ya, kami hanya diberi makanan ringan," jawab Bart.


"Kau pikir negara-negara yang hadir tadi itu tak butuh biaya untuk memanggil mereka!" sahut Virgou.


"Hei ... kenapa berdebat!" sengit Widya kesal.


Virgou dan Bart cemberut. Sedang Leon, Frans dan Gabe hanya menghela napas panjang melihat dua pria yang selalu berdebat tak jelas.


Lastri menyiapkan makanan untuk suaminya dan juga Virgou. Sedang Lastri menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anak. Azizah dan lainnya dilayani oleh Widya.


"Tidak perlu Nyonya, biar saya sendiri," ujar Azizah menolak ketika Widya hendak menyendok nasi.


"Tidak masalah sayang. Kau diamlah dan panggil aku Mommy!" tukas Widya.


Akhirnya semua makan dengan tenang. Bart memang tak membiasakan berbicara ketika makan. Usai makan para maid baru membereskan meja. Anak-anak ikut bergabung dalam pembicaraan orang tua.


"Ini untuk Ella dan Martha. Kalian harus menyimak, juga terutama untuk Bastian dan Billy agar kalian lebih menghargai wanita!" sahut Widya ketika mereka ikut dalam obrolan.


"Mamamama!" Arsh merangkak memanjat di pangkuan Azizah.


Bayi tampan berusia delapan bulan itu dengan santai duduk dan meminum susu di dalam botol. Azizah gemas dan menciumi bayi itu.


"Jadi setelah perjuangan ini. Apa lagi yang kalian lakukan?" tanya Lastri.


Wanita itu duduk di sebelah suaminya. Begitu juga Najwa. Leon dan Frans tengah berbahagia di usia mereka yang sudah tak muda lagi masih diberi kepercayaan seorang anak.

__ADS_1


"Menjalani hari seperti biasanya, Nyo ...."


"Panggil aku Nini!" potong Lastri.


"Nini," Lastri mengangguk.


"Seperti biasanya. Hanya saja, tiga teman adik saya ini mungkin yang berubah," lanjut Azizah.


"Kenapa?"


"Mereka akan bekerja di kantor PBB untuk UN Women. Penanganan kasus yang dialami oleh perempuan," jelas Bart.


Widya menatap dua putri dan dua putranya yang sudah beranjak dewasa. Di negara barat tentu kasus pelecehan terjadi bersamaan dengan kasus perundungan. Ia bersyukur keempat anaknya luput dari kejadian mengerikan itu.


"Mommy hanya memberi saran untuk kalian berempat. Bagi yang perempuan, jaga diri dan jaga sikap. Boleh ramah tapi jangan samakan semua orang. Tindak tegas sekecil apapun kejahatan!" terang Widya.


"Untuk kau Bastian dan Billy. Ingat, kalian memiliki kakak dan adik perempuan kalian juga punya Mama yang juga perempuan. Jaga kami!" pintanya.


"Apa kalian mengerti?" lanjutnya.


"Iya Mommy!' sahut keempatnya.


"Mommy begini karena Mommy adalah perempuan. Mommy harap kalian mengerti bagaimana perempuan itu!" tukasnya.


"Apa ada lanjutan dari rapat sidang PBB?" tanyanya kemudian.


"Tidak. Tadi langsung keputusan dan semua pemerintah asal para delegasi setuju akan merubah undang-undang yang berlaku di negara mereka khusus untuk melindungi kaum perempuan!" jawab Virgou.


"Syukur lah!' sahut semua wanita lega.


'Kami akan pulang lusa," ujar Virgou.


'Kok cepet?' tanya Martha kecewa.


"Baby, semua kakak di sini bekerja," jawab Bart memberi pengertian.


"Ah ... mana besok sekolah ... sebelum pulang main dulu ya Kak!' pinta Martha.


Arimbi mengangguk setuju. Hal itu membuat empat anak bersorak dan membuat adik bayi mereka terganggu.


"Bicit!"


Semuanya melipat bibir mereka. Azizah menepuk paha montok bayi tampan itu agar kembali terlelap.


bersambung.


Karena Othor perempuan ... maka harus ada di pihak perempuan!.


next?

__ADS_1


__ADS_2