SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Pertemuan


__ADS_3

Pagi itu Amira membuka rolling door gerai laundry-nya seperti hari sebelumnya. Dia langsung membenahi tempat itu dan mengaktifkan semua alat yang dibutuhkan. Dia mengambil beberapa pak baju yang sudah dilaundry dan menatanya di rak penyimpanan baju yang sudah siap diambil pemiliknya. Hari ini beberapa orang pelanggannya akan datang untuk mengambil pakaian mereka dan menyerahkan pakaian kotor untuk dilaundry.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Beberapa pelanggan sudah datang untuk mengambil dan menyerahkan baju kotor mereka.


"Pagi, Amira." Beberapa pelanggan menyapanya saat memasuki gerainya.


"Pagi..." Amira menjawab sapaan mereka dengan senyuman tersungging di bibirnya yang mungil.


Amira memang selalu ramah pada setiap pelanggan meski tak semua pelanggan memperlakukannya dengan baik.


"Bajuku sudah selesai?" tanya seorang wanita yang membawa sekantong besar baju kotor.


"Sudah. Tunggu sebentar, saya ambilkan."


Amira menyerahkan baju-baju yang sudah dikemas rapi dalam sebuah plastik. Wanita itu mengambilnya lalu menyerahkan kantong baju kotornya.


"Ini baju kotornya." Amira mengambil bungkusan itu dan membawanya untuk ditimbang.


Menjelang arang pelanggan mulai berkurang. Di tengah kesibukannya dia tetap memantau keadaan ibunya melalui telepon.


"Ibu, gimana sekarang? Masih sakit kepalanya? Batuknya sudah berkurang? Jangan lupa minum obatnya."


Amira mengkhawatirkan keadaan ibunya yang semakin hari semakin parah. Dia ingin sekali membawa ibunya ke dokter spesialis agar mendapatkan perawatan yang lebih baik, tapi keadaan keuangannya tak mendukungnya untuk melakukan itu Pendapatan dari gerai laundrynya hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan membeli obat pereda sakit untuk ibunya. Itu sebabnya dia tak berani memiliki pegawai untuk membantunya di gerainya itu.


Untuk membeli kebutuhannya sendiri dia harus mengandalkan uang tip dari pelanggan. Dia pun harus mengubur impiannya untuk bisa melanjutkan pendidikannya.


Hari-harinya dia habiskan di gerai laundry itu dan mengurus ibunya Dia sangat bahagia saat pelanggan ramai, meskipun itu artinya dia harus bekerja lebih keras demi kepuasan pelanggannya.


Saat dia sedang sibuk berjibaku dengan cucian terakhir, tiba-tiba dia melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan gerainya. Tiga orang pria turun dari mobil itu. Satu orang berjalan di depan dan dua lainnya di belakangnya, sepertinya mereka adalah pengawal dari pria yang berada di depan mereka


Salah satu pengawalnya maju mendekati meja konternya.

__ADS_1


"Tolong cucikan jas ini. Lakukan dengan cepat!" Pria itu menyodorkan sebuah jas pada Amira.


"Maaf, tuan. Kami sudah mau tutup. Jika tuan mau, tuan bisa meninggalkan jasnya di sini. Besok siang bisa diambil kembali," Amira menjawabnya dengan ramah.


"Tidak bisa! Kerjakan sekarang!" Pria itu membentak Amira sambil membelalakkan matanya.


Amira sangat terkejut dibuatnya. Meski pelanggannya tak semua ramah padanya, tapi baru kali ini Amira dibentak oleh orang yang bahkan bukan pelanggannya.


Keterkejutannya tak membuatnya merasa gentar. Dia berusaha menenangkan diri dan tetap menggunakan akal sehatnya.


"Sekali lagi saya mohon maaf, Tuan. Jam kerja kami sudah selesai. Jika Tuan mau, saya akan mengerjakannya besok pagi. Atau Tuan bisa mencari gerai lain yang masih buka."


Pria tampan yang tadi berada di depan maju mendekati Amira. Dia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan


"Apa ini cukup?" tanyanya dengan lembut.


Mata Amira membelalak saat melihat lembaran uang itu. Jumlahnya berpuluh kali lipat dari biaya mencucikan baju yang biasanya. Bayangan ibunya muncul tiba-tiba. Tanpa banyak pertimbangan dia mengambil jas itu dan mulai melakukan cuci kering.


Amira sudah tak memikirkan kelelahan yang dirasakannya. Dia berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar orang-orang yang tak menyenangkan itu segera pergi dan dia bisa mendapatkan uang itu. Dengan yang itu dia berencana untuk membelikan makanan enak dan obat untuk ibunya.


"Dasar mata duitan! Begitu melihat uang, apapun akan dilakukannya," cibir pria itu dalam hati.


Semakin diperhatikan wanita itu semakin terlihat cantik dan menarik. Kelincahannya dalam bekerja menunjukkan bahwa dia bekerja secara profesional.


"Wanita yang cantik," gumamnya.


Tak berselang lama Amira sudah menyelesaikan pekerjaannya dan terlihat sedang mengemas jas itu dalam plastik, yang sebelumnya telah dipasangi gantungan baju. Dia menyerahkan jas yang sudah dicucinya pada pria yang berada di depan konternya.


"Ini, Tuan. Jasnya sudah saya cuci." Amira meletakkan jas itu di atas mejanya.


Pria itu melepas plastik kemasannya dan mengambil jasnya, lalu dikenakannya jas itu. Dia memperhatikan jas yang dipakainya lalu menciumnya.

__ADS_1


• Lain kali jangan berikan pewangi yang wanginya norak seperti ini!" Pria itu melangkah meninggalkan tempat itu diikuti kedua pengawalnya.


Amira menghela napas panjang dan mengambil lembaran uang itu. Dia segera merapikan tempat itu dan menutup gerainya.


Saat dia keluar, hari sudah mulai gelap dan terdengar suara guntur. Amira berlari menuju tempat pemberhentian bis dan menunggu bis yang akan membawanya pulang.


"Aku harus segera sampai di rumah," batinnya.


Meski penuh sesak dia memutuskan untuk menaiki bis itu. Sesampainya di halte dekat rumahnya, dia berlari menuju sebuah gerai makanan, dia memesankan steak dan salad kesukaan ibunya. Lalu menuju apotik yang tak jauh dari gerai itu. Setelah semua ada di tangannya, dia bergegas menuju rumahnya.


Ibunya sangat senang saat melihat makanan kesukaannya ada di hadapannya.


"Apa uangmu cukup untuk membeli semua ini?" tanyanya.


"Cukup, Bu. Tadi ada yang mencucikan jas dan memberi uang yang banyak."


"Oh ya? Harusnya kamu tak membeli semua ini. Kamu harus belajar menabung agar kamu bisa melanjutkan kuliahmu."


"Nggak apa-apa, Bu. Lagipula ini kan tidak setiap hari. Ibu juga butuh asupan makanan yang bergizi."


"Maafkan ibu karena sudah tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantumu," ucap ibunya lirih dan menyiratkan kesedihan.


"Sudahlah, Bu. Jangan dipikirkan. Ini bukan masalah besar. Ibu jaga saja kesehatan ibu. Serahkan semuanya sama Mira. Lagipula Mira kan udah cukup dewasa, jadi aku harus belajar menghasilkan uang dan berbakti pada ibu. Sekarang makan dulu, ya?"


Amira meletakkan piring berisi steak bersama mangkok salad di depan ibunya.


"Ibu makan, ya? Nanti kalau sudah selesai panggil Mira, ya? Mira mau istirahat di kamar."


Amira melangkah menuju kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya yang penat. Pikirannya menerawang kembali pada kejadian sore tadi.


"Siapa pria tampan itu? Sepertinya dia orang kaya. Tapi apa yang dilakukannya di sudut kota yang sepi itu? Semoga dia kembali dan menjadi langgananku."

__ADS_1


Amira tersadar dan berusaha menepis pikirannya.


"Mana mungkin orang sekaya dan setampan dia akan kembali ke tempat sepi itu. Dia pasti punya banyak pembantu yang siap mencucikan bajunya. Lagipula apa istimewanya geraiku? Dia pasti akan memilih gerai laundry yang besar dan terkenal."


__ADS_2