
dengan segelas kopi susu, dan Irfan menghampiri aku ikut duduk di teras rumah.
“Aku tahu kamu masih trauma dengan apa yang terjadi semalam, sebenarnya dari awal aku sudah punya firasat soal itu semua, dan mungkin nanti ada yang lebih besar mudah – mudahan semua itu kejadian”, kata Irfan, aku meneguk kopi susuku dulu baru aku menanggapi kata – katanya.
“Kita beli gembok rumah aja yuk sekarang biar aman, dan apa yang kamu bilang soal pembantu itu benar”, kataku.
“Tapi inget yah kata – kataku dulu, jangan pernah hubungan fans aku siapapun orang dan apapun kejadiannya, apalagi tahu masalah ini, kamu sendiri tahu yang namanya fans orang semacam apa, dan posisi kita berdua, bukan fans dan idola, tapi adalah dua sahabat yang sudah seperti keluarga dan saudara sendiri, kita berdua sama – sama butuh kasih dan sayang juga yang enggak pernah di dapat dari orang lain juga”, kata Irfan.
“Fan nanti jam 10 kita ke Notaris lagi kan, sebelum berangkat karena masih jam 7 pagi, kamu mau kopi susu juga enggak”, tawarku pada Irfan.
“Aku buat sendiri saja kopinya”, kata Irfan masuk ke dalam rumah, dan dia membuka lemari dapur yang berwarna hijau lalu mengambil saset kopi susu di sana, dan langsung membuatnya, ketika sedang membuat kopi terlihat papaku keluar kamar dan menegurnya.
“Oh yah Fan kamu sama Rianti beli bubur sana mumpung jam segini orangnya masih mangkal di belakang rumah gang situ”, kata papaku.
“Iyah pa”, kata Irfan mengangguk dan kemudian, dia membawa keluar kopi susunya sejenak mengobrol dulu denganku, barulah kami berdua mandi dan membeli bubur ayam yang di suruh oleh papaku, untuk kita semua sarapan, dan sambil ngobrol juga.
Ketika sudah selesai sarapan, aku dan Irfan berjalan ke gang yang menembus ke arah jalan raya di belakang rumahku, dan kami berjalan menuju ke arah rumah makan yang menjual bubur ayam, aku duduk di kursi yang masih kosong sedangkan, Irfan yang bersama si penjual tersebut untuk memesan di bawa pulang.
Dalam keheningan, dan dalam diam aku, aku mengambil Hp di dalam tasku dan kemudian memandang foto lama yang masih terpampang di galeri, foto – foto di mana semua keadaan masih normal dan tidak seperti sekarang ini, Irfan duduk di sebelahku, dan kemudian aku mengajaknya ngobrol sejenak.
“Fan selama ini aku bela kamu dari hujatan netizen apakah aku sikapnya berlebihan juga, Cuma kamu yang tahu isi pikiranku, aku melakukan semua ini, bukan karena aku merasa dan berpikir mendewakan kamu aku bela kamu, dan karena aku ingin di puji karena aku punya sahabat seorang artis terkenal, dan aku menganggumi kamu, karena kamu sendiri yang bilang yang di kagumi itu cuma Allah, keadaan sekarang ini sudah enggak normal, terutama di rumah, sudah bukan lagi suasana rumah yang kayak dulu, yang fokusnya aku sendiri Cuma menulis tapi yang lain – lain juga, masalah menulis dan masalah apa yang aku dapat selama ini dari karir dan perjalanan hidup aku sebagai penulis, aku menceritakan apa adanya dengan orang lain tanpa di lebihkan atau di kurangi, mungkin mereka berpikir aku orang yang pansos, tapi aku enggak seperti itu, yah emang di Jakarta ini aku belum banyak orang yang mengenal, tapi semua itu perlahan – lahan, dan demi Allah, aku bukan seperti mereka, yang memperalat kamu untuk mencari ketenaran mentang – mentang kamu sendiri orang tenar, mereka berpikir begitu, tapi kamu yang menilai kamu Irfan, pagi ini aku mau ketemu produser yang emang tertarik dengan novel aku untuk di jadikan sinetron tapi itu semua, karena rencana Allah, semua hanya aku serahkan sama Allah, dan buat apa juga aku bersikap sombong di dunia, semua cuma titipan Allah, yang aku butuhkan cuma orang yang mampu membaca isi hati aku Irfan”, kataku panjang lebar.
“Aku berharap mama bisa jalan lagi dan papa luka basah diabetesnya sembuh, setelah itu semua akan kembali normal seperti dulu lagi, kalau memang aku pernah ada salah dengan orang lain aku minta maaf, tapi selama ini aku merasa enggak pernah nyakitin orang satu kali saja, mungkin emang aku pernah khilaf dengan sikapku sendiri juga, karena kita semua mendapat karma”, kataku.
“Ri…., selama ini sikap kamu, sudah benar, tapi terus – terang, aku boleh kasih pendapat tentang sikap mama kamu dulu waktu sehat”, kata Irfan.
“Dia sering salah paham karena adanya kamu pernah hubungan dengan fans aku walau sekali kan, karena itu jangan pernah sekali hubungan dengan fans aku, bisa – bisa sama mama kamu, papa kamu aku yang di anggap jelek, dan kamu juga, masih ingat acara jumpa fans waktu itu, padahal dari aku dan keluargaku sendiri ngundang kamu, enggak pakai yang namanya bayar – bayar tapi mama kamu sempat kan mengira aku ini orang yang matre waktu kita awal kenal karena masalah uang, dia enggak sengaja baca wa dari fans aku itu, karena itu dulu aku suruh kamu blokir dan kalau perlu enggak usah lagi sekarang ini juga kamu buka blokirannya, terus – terang Rianti, aku sendiri menjadi korban perasaan karena kelakuan fans aku hampir saja di mata mama kamu aku orang yang enggak baik sama kamu, tapi setelah dia melihat tulisan wa aku, mama kamu akhirnya percaya kan sama kamu, karena itu Rianti yang jadi masalah fans aku itu hanyalah orang – orang yang merugikan ke aku secara pribadi juga di luar masalah urusan harta kamu Ri, dan aku enggak sedikit pun juga mau niat jahat sama kamu Ri”, kata Irfan.
“Aku percaya sama kamu Irfan, dan yang jadi masalah pada akhirnya bukan orang yang fans lovers kamu atau hatters kamu tapi orang – orang yang mau cari untung di mana ada kesempatan karena mata duitan semua”, kataku menanggapi dengan nada suara agak sedikit emosi dan aku menangis sambil menunduk, Irfan mengusap pundakku dan aku menangis di pundaknya.
“Selama ini aku enggak tahu harus hubungi siapa saja”, isakku.
“Teman aku kuliah seolah bukan orang yang benar – benar mau menganggap teman, bahkan mereka selama ini enggak pernah angkat telepon aku, acuh, kalau aku galau dan stress dan menghubungi aku kalau perlu saja, dan itu ada maunya urusan mereka sendiri, bukan mau melihat apa yang aku rasakan dan bagaimana keadaan aku, cuma kamu yang mau melihat itu semua Irfan, dan wajar saja hal itu menjadi sebuah alasan kalau aku bela kamu seperti apa, aku bukan karena halu atau cewek gatelan yah, tapi karena aku bisa menilai sendiri, mana yang baik dan mana yang buruk, kita bertemu juga karena jalan Allah, apakah kamu menilai aku adalah sebagai perempuan yang tukang ngejar – ngejar orang, merendahkan dirinya sendiri, justru mereka kan fans kamu yang enggak punya harga diri, bukan aku, apakah kamu menilai dan melihat aku begitu, aku yakin kamu tahu siapa aku gimana”, kataku dengan suara tegas.
“Rianti aku paham, bahkan cara kita bertemu juga beda dengan mereka, aku enggak mikir begitu kok sama kamu, kamu percaya sama aku kan”, Irfan mengusap pipiku dan mengelap air mataku yang menetes di pipi.
“Aku yang emang hubungi kamu duluan, dan kalau emang masalah ini suatu saat pahitnya akan menjadi masalah pelik, aku akan bawa masalah awal perkenalan kita seperti apa di depan publik buktinya sekarang ini di depan media atau wartawan aku sudah menyebut kamu itu sahabat aku, dan dari sana orang lain yang menilai sendiri seperti apa”, kata Irfan.
“Iyah benar sekali lagi memang bukan masalah fans lovers kamu atau orang yang enggak suka kamu, tapi orang yang mau cari untung karena ada maunya demi kepentingan pribadi”, kataku.
Akhirnya bubur ayam itu, sudah jadi, aku dan Irfan tinggal membawanya pulang, dan setelah selesai sarapan, waktu jam 10 sudah terlihat di jam dinding dekat meja makan, aku dan Irfan kembali ke kantor Notaris dengan berkas yang di perlukan untuk di bawa olehnya, dan kemudian Notaris itu memberikan surat tentang pembagian keuangan antara Notaris dan penjual, yaitu 20 persen sama – sama.
__ADS_1
Selesai dari kantor Notaris aku langsung menuju ke arah kantor penerbit di antar oleh Irfan, dan di kantor penerbit, ketika aku baru saja masuk ke dalam ruangan rapat, di sana sudah ada Sekar bagian editor cover buku sudah duduk sambil mengutak – utik laptopnya.
“Yang lain mana”, ? tanyaku.
“Mas Rudi sebentar lagi juga sampai”, jawab Sekar sambil matanya tetap fokus ke arah layar laptop, dan Mas Rudi adalah orang dari tim editor juga.
“Tadi saya baru dari Notaris juga di antar oleh Irfan kesininya”, kataku bercerita singkat.
“Dia sering main ke rumah kamu yah, saya tahu kamu lagi butuh banget ada orang di sebelah kamu”, timpal Sekar.
“Saya tahu masalah kamu, dan di satu sisi lain juga mencari keuntungan dari persahabatan kamu sama Irfan, tapi kalau orang yang tujuannya baik pasti akan di lindungi Allah”, kata Sekar kemudian.
Tidak lama kemudian, seseorang yang di sebut – sebut dengan panggilan Mas Rudi, akhirnya masuk, ke dalam ruangan tersebut, dan kemudian, dia duduk di depan kami semua, sambil menaruh berkas di atas meja.
“Produser yang pernah juga gebrak dari novel penulis di penerbit kita ini, Pak Enggar, sebentar lagi akan kesini untuk ketemu Mbak Rianti”, kata Mas Rudi.
“Dia lagi dalam perjalanan sekarang ini”, katanya menambah kata – katanya.
“Kita tunggu Mbak Anggi dulu tim event penerbit kita, untuk memulai rapat dengan Pak Enggar”, kata Mas Rudi lagi.
“Ngomong – ngomong dengan masalah Mbak Rianti sekarang ini juga mudah – mudahan bisa kuat yah, dan apalagi kita semua tahu, kalau mama Mbak Rianti itu stroke dan papa Mbak Rianti juga diabetes basah kakinya jadi susah jalan, sehingga di rumah, masalahnya juga keungan yang kurang pemasukkan, bukan cuma keluarga Mbak yang sebenarnya menurut saya sendiri juga enggak ada hak untuk ikut campur, tapi pemasukkan menjadi kurang, karena masalahnya papa juga sudah jarang aktif di kampus kan”, kata Mas Rudi.
Waktu makan siang, akhirnya tiba, dan rapat akhirnya selesai dengan cepat juga, aku berjalan ke arah Starbucks Coffee yang cuma letaknya di sebelah gedung kantor penerbit ini dan kemudian aku menelepon Irfan di sana, aku mengajaknya ngobrol sambil menikmati kopi latte yang aku pesan di sini.
“Jadi tadi sih intinya bahas tentang film itu kapan tayangnya”, kataku bercerita singkat.
“Oh yah Rianti hari ini nanti malam kita syuting sinetron laga itu lagi yah, karena kan eposidenya belum selesai kita di sana sampai 5 episode Ri”, ! seru Irfan.
“Yah udah nanti berangkatnya aku bareng kamu”, kataku lembut.
“Terus masalah beli tanah di Depok gimana, kapan ke Notaris lagi, aku juga enggak mau ada banyak tangan juga, apalagi keluargaku sudah jelas mereka seperti apa, dan gimana masalah orang fisioterapi yang baru mamaku”, ? tanyaku.
“Kita hari ini ke rumah saki khusus stroke yah”, jawab Irfan.
“Yah udah kita ketemuan aja di sana yah, aku naik taksi dari sini”, kataku mengakhiri pembicaraan, dan kemudian aku menaruh Hp di dalam tasku kembali, aku menghabiskan kopi latte dan croissant yang sama – sama aku juga pesan, dan kemudian aku pergi keluar dari kafe itu, untuk mencari taksi yang kosong, ketika aku mendapat taksi yang kosong, aku langsung mencegatnya, menyuruhnya berhenti di pinggir jalan dan aku langsung masuk ke dalamnya.
“Kita ke rumah sakit khusus stroke yah”, ! seruku, dan ketika berada di dalam taksi, aku mengirim pesan whatsapp kepada Irfan.
“Irfan ini aku udah otw ke rumah sakit stroke kamu susul aku ke sana yah”, kataku.
“Yah udah aku siap – siap yah sekarang”, balas Irfan.
__ADS_1
“Aku udah di dalam taksi”, balasku lagi, baru saja aku menaruh Hp di dalam tasku kembali, si supir mengecoh perhatianku dengan menegurku tiba – tiba saja.
“Mbak ini, Mbak Rianti yah penulis Novel Hati Untuk Selamanya, yang novel pertama Mbak, dan yang kedua apa gitu judulnya, Cantika”, kata supir itu.
“ Saya ini hobi baca novel lho mbak”, ! serunya kemudian.
“Saya pikir mas enggak tahu saya, orang saya kan baru saja mengembangkan sayap saya juga sebagai penulis”, balas Rianti ramah.
“Ini saya beli novel mbak di toko buku”, katanya sambil menyetir mobil satu tangannya mengambil buku di dekatnya dan kemudian memberikannya kepadaku, untuk di perlihatkan kepadaku.
“Saya minta di tanda tanganin yah di bukunya yang tanda tangan asli dari mbak”, ! serunya kemudian.
“Emangnya kalau saya sendiri, bukan asli apa”, ! balasku, dan mengambil pulpen dari dalam tas, lalu menaruhnya buku itu di sebelahku.
Tiba waktunya aku sudah sampai di tujuan, aku turun dari mobil taksi, dan membayar tagihan taksi tersebut, lalu duduk di ruang tunggu, tidak lama kemudian, aku melihat Irfan dari kejauhan, sedang berjalan menghampiriku, dan duduk di sebelahku.
“Ri firasatku, sudah pasti Om Hasan, akan ganggu kamu lagi mungkin juga aku, kalau tahu aku bantu kamu untuk cari fisioterapi baru, karena si Gina kampret itu sepertinya sudah ngomporin jauh mereka semua, tapi aku enggak peduli apapun, aku tetap bela kamu, dan kamu aku lindungi”, kata Irfan.
“Kita sama – sama hadapi yah fan”, balasku singkat akan ucapannya itu.
Aku melihat Irfan menghadap ke arah bagian informasi untuk mencari orang fisioterapi di rumah sakit ini, dan dia berbicara dengan suster yang bernama Saskia dan kemudian, Saskia seperti sedang berbicara serius dengan Irfan, aku mendengar sayup – sayup dari jauh apa katanya tersebut.
“Ada teman saya mas, namanya Suster Atin saya panggil orangnya dulu yah”, kata Saskia dan kemudian, dia terlihat sedang mencari seseorang di sana. Aku yang menunggu apa yang di lakukan Irfan, tetap duduk di kursi ruang tunggu, jenuh mulai menghantui perasaanku, aku mulai mengutak – utik Hpku, dan membuka Instragram, ini adalah hasil yang luar biasa dari apa yang aku jalani selama ini, dan hidup itu adalah menjalaninya saja, sesuai apa yang Allah berikan kepada manusiaNya, dengan usaha selama masih berada di muka bumi, karena pada akhirnya semuanya pun adalah menjadi sesuatu yang sesaat bukan untuk selamanya, rezeki apapun itu adalah sudah ada yang membuat skenarionya dalam hidup, sang sutradara sekaligus produser yang ceritanya tidak mungkin orang bisa mengeditnya yaitu Allah.
Pengikut di Instragram aku sudah diikuti oleh orang 2 juta, bahkan mau mencapai 3 juta pengikut, aku tersenyum, rupanya di balik pahit, dan pelik kehidupan yang aku jalani sekarang ini ada juga sisi positif, yang aku alami dalam waktu bersamaan.
Irfan berjalan ke arahku, kembali dan duduk di sebelahku, lalu aku menceritakan hal itu kepadanya.
“Alhamdulilah Irfan, kamu lihat pengikut aku sudah mau 3 juta pengikut”, ! seruku dengan suara pelan, dan mataku berkaca – kaca, lalu kemudian ada sesuatu yang juga ingin aku juga ungkapkan, karena tiba – tiba saja menyusup ke dalam hatiku, meskipun sebenarnya, sebelum kejadian semua, sebelum aku mengalami punya orang tua yang dua – duanya sakit, sudah aku rasakan lama, bahkan mungkin secara Irfan juga merasakannya, bahkan bisa jadi lagi lebih dari apa yang aku rasakan.
“Irfan, sebenarnya aku sudah lama pengen tanya hal ini sama kamu, dan sekarang memang baru terlihat kalau teryata fans itu siapapun orangnya memang orang yang sama, kamu selama ini menyampaikan ke orang lain tentang arti berbuat kebaikan kepada orang lain, di umbar di media manapun aku dengar aku bilang begitu, tapi aku paham, hal itu sendiri bukan seperti apa yang kamu rasakan dalam hati kamu sendiri, maksudnya lagi – lagi tentang fans kamu, yang hanya mempergunakan nama kamu, mentang – mentang kamu orang terkenal, sebenarnya begini mungkin kamu sudah tahu akan cerita ini juga waktu aku pernah ikut syuting acara Kebajikan itu”, kataku.
“Masalah penonton bayaran itu yang teryata adalah orang – orang yang teryata komplotan Tania”, aku menyambungkan kata – kataku sambil mendesah nafas, dan kemudian menunduk lalu menegakkan kepalaku lagi.
“Sebenarnya kamu tahu sesuatu tentang Tania kan, yang aku enggak tahu”, ? tanyaku kemudian, sambil menatap tajam Irfan.
“Yah itu benar, aku tahu rahasia tentang dirinya sebenarnya, dan hal itu aku enggak saja aku pergokkin”, akhirnya Irfan mengakui apa yang selama ini dia simpan dalam hatinya, dan aku baru tahu akan hal ktu.
“Tania itu kan orang yang mau masuk grang final untuk jadi penyanyi tapi gagal kamu tahu hal itu kan, dan sejak saat itu emang, sebenarnya adalah orang yang tukang ngomporin orang di media social untuk menjadi hatters artis manapun, bukan cuma itu saja, sesuatu yang membuatnya kuat, adalah dia dan mamanya membayar orang lain, untuk membantu melakukannya, dan tutup mulut akan semuanya, dia pernah ngaku kan kenal orang di studio aku dulu pernah syuting Kebajikan yang sama kamu, dan kamu di dorong sama penonton bayaran dan teryata itu teman Tania”, kata Irfan.
“Emang dia suka mengumpulkan penonton bayaran untuk membuat jelek nama artisnya, bahkan wartawan yang membuat berita itu menyimpang, dan fans itu bekerjasama dengan orang semacam Tania, dan itu adalah fans aku, makanya sebenarnya yang jadi masalah kita sama – sama mengalami bukan soal tentang fans atau hatters tapi soal orang yang mencari untung untuk uang, dan mereka orang yang sebenarnya mata duitan dan mau menguasai harta, apakah namanya
__ADS_1