
"Apa?! Jadi, Azizah ke Jepang selama dua minggu?" teriak Kean tak percaya.
"Kakak ... aku ikut!" teriak Satrio.
"Kau mau kupukul!" teriak Herman.
"Ayah ... Kak Azizah sendirian di sana, pasti kaget dan butuh teman," ujar Satrio.
"Tapi ya tidak dengan kamu!" teriak Herman lagi.
"Udah ah ayah, jangan teriak-teriak!" peringat Khasya.
"Jadi kapan kau berangkat sayang?" tanyanya pada gadis yang telah bersiap dengan kopernya.
"Nanti malam Bunda!" jawab gadis itu.
"Nanti ada perwakilan dari perusahaan yang menjemput Azizah, seorang perempuan kok," sahut Darren memberitahu.
Kini Azizah ada di rumah Terra bersama enam adiknya juga Lana, Lino dan Leno. Mereka sedih karena kakak mereka pergi cukup lama.
"Kak," rengek Adiba.
"Adiba gimana kalo kakak nggak ada?" keluh anak perempuan itu.
"Sayang, kamu nggak boleh memberatkan langkah kakakmu, ini semua demi masa depan kalian," tegur Virgou.
"Tapi kami tak pernah ditinggal lama, Daddy," ujar Ajis kini.
"Tata ... tata!" Aminah meminta gendong kakak perempuannya.
Azizah menggendong dan menciuminya. Alim dan Amran memeluk kakaknya.
"Kakak cuma sebentar kok," ujarnya menenangkan adik-adiknya.
"Kak!" panggil Lana.
"Sini!"
Semua anak pada merengek pada Azizah termasuk para perusuh.
"Ata'Ijah ... pawa oleh-oleh yan banat ya!" pinta Bariana dengan bibir mencebik.
"Iya Baby," sahut gadis itu.
"Atuh mawu Ata' Ijah pulan benan pelamat!" sahut Harun bijak.
Azizah terharu. Gadis itu mengecup semua bayi. Bahkan Kaila jadi manja dengan gadis itu begitu juga Dewi.
"Kakak baik-baik ya di sana, jangan lupa makan dan shalat!" ujar Dewi.
"Iya baby!"
Semua anak bermain. Azizah membantu Terra memasak. Maria menyuruh gadis itu duduk dengan tenang.
"Sudah duduk saja, biar Mommy yang kerja!"
"Mommy," rengek gadis itu.
"Diam dan duduk!" titah Maria tak bisa dibantah.
Akhirnya Azizah duduk. Ia harus berangkat pukul 21.09. Dengan menggunakan pesawat jet pribadi milik Darren. Karena bosan, ia memilih bermain bersama anak-anak.
__ADS_1
"Kakak nggak pernah main gerobak sodor kan?" Azizah menggeleng.
"Kita main itu!" ajak Dimas.
Tim dibentuk. Azizah bersama dengan Rasya, Dimas, Affhan dan Sean. Sedang tim yang lain ada Kean, Satrio, Rasyid dan Al. Yang lain menjadi pemandu sorak.
"Yang jaga tim Kak Zizah!"
Gadis itu kesal, ia salah pilih gambar. Namun, ia menjadi penjaga gawang paling akhir. Pertandingan dimulai. Sorak-sorai penonton berseru.
"Ayo kak ... tangkap Kak Kean!" teriak Kaila.
Dimas berhasil mengenai Kean. Remaja itu berdecak kesal. Lalu Satrio bisa masuk dan nyaris membobol gawang jika saja Azizah tak langsung berlari dan hendak menangkapnya.
"Kakak ... weeee!" ledek Satrio.
Satrio merentangkan tangannya. Remaja itu seperti sengaja ingin disentuh oleh Azizah.
"Mas jangan modus!" teriak Rasya.
"Sat!" peringat Haidar.
Satrio mendengkus kesal. Padahal ia ingin ditangkap oleh Azizah. Gadis itu kesal dengan pikiran mesum remaja di depannya. Ia lalu tersenyum, menaruh kedua lengan di saku celananya. Azizah menggunakan kakinya.
"Kakak curang!' pekik Satrio.
Remaja itu berlari ketika ada sela, tapi Azizah yang tengah menjaga Rasyid, berlari dan menabrak tubuh besar Satrio.
Bugh! Keduanya nyaris jatuh. Satrio memeluk tubuh Azizah tak sengaja. Sepasang mata lagi-lagi menatap gusar. Tapi ini pertandingan, jadi tak ada yang protes dengan apa yang dilakukan Satrio.
Skor imbang antara tim Azizah dan tim Kean. Kini Kean yang berjaga. Rasya mengecoh Rasyid yang menjadi penjaga utama. Azizah masuk dengan mudah. Lalu Dimas masuk bersama dengan Rasya, keduanya dikepung.
"Kebakar!" pekik dan Rasyid juga Al.
"Ayo Kakak!" ujarnya menantang.
"Kak Kean!" sahut Affhan menginjak garis.
"Sial!' gerutu Kean.
Remaja itu bingung, Rasyid pindah jalur dan hendak mengenai tubuh Affhan.
"Eit ... nggak kena?!" ledek remaja tanggung itu.
"Affhan lari saja!" pekik lalu mengorbankan dirinya.
Tim Azizah menang telak, Affhan bisa membobol gawang.
"Hayoo udahan mainnya, makan dulu!" pekik Terra.
Semua akhirnya berhenti makan. Azizah ditarik oleh seseorang, jarinya disematkan cincin. Azizah menatap siapa penyemat cincin itu.
"Ingat, kau sudah diikat!" ujarnya lalu meninggalkan gadis itu yang bingung.
Waktu berlalu. Azizah pun pergi, semua adiknya sudah tertidur. Darren dan Virgou mengantarkan gadis itu ke bandara pribadi milik Bram. Kepergian Azizah bersamaan dengan datangnya Bram. Makanya mereka memilih penerbangan malam hari untuk Azizah.
"Hati-hati di sana Zah!" ujar Darren melepas karyawan terbaiknya itu.
Azizah membungkuk hormat. Ia pun lalu menuju pesawat jet yang akan membawanya ke Osaka, Jepang.
Ketika di pesawat, ia melihat jari manisnya. Sebuah cincin sederhana. Gadis itu menggeleng pelan tak percaya dengan semuanya.
__ADS_1
"Mungkin maksud Tuan agar aku tak kecentilan saja di sana!" gumamnya.
Pesawat jet terbang landas. Darren dan Virgou menunggu kedatangan pesawat yang membawa Bram dan juga Kanya.
"Sayang, apa kau lihat tadi?"
Darren menatap manik biru, ia mengangguk dan tersenyum. Virgou juga tersenyum.
"Aku masih menunggu, Daddy, biarkan saja dulu," Virgou mengangguk.
"Yang penting Azizah sudah diikat!" sahutnya santai.
Tak lama Bram dan Kanya datang. Keduanya tampak kelelahan.
"Assalamualaikum, nak!"
"Wa'alaikumussalam!"
Keempat orang itu pun langsung menuju mobil, semua koper sudah di bagasi. Tak lama kendaraan itu pun meninggal teras lobby bandara.
Pagi menjelang. Semua sibuk dengan aktivitas mereka. Dominic datang menjemput semua akan mengikuti foto prewedding.
"Jadi sudah jadi gaun pengantinnya?" tanya Bart.
"Sudah, dad," jawab Dominic.
Kini semua pun pergi ke studio foto Dinar sudah dijemput oleh Lidya dan Demian. Dinar begitu cantik dengan gamis krem dan Khimar coklat tua. Wajahnya di rias sederhana oleh Saf.
"Kita pake foto outdoor saja!" ujar Haidar mengusulkan.
Semua setuju. Dominic sangat tampan ketika mencoba baju pengantinnya. Dinar juga sangat cantik. Lidya sampai tak mau melepas pelukannya.
"Bibu," rengeknya.
"Sayang," sahut Dinar mengecup kening calon menantunya itu.
"Bibu, aku juga minta cium!" rajuk Safitri.
Dinar terkekeh, ia tak keberatan jika mencium semuanya. Ayah dan Ibu Dinar juga ada di sana.
"Aku minta kau datang ke perusahaanku besok!" titah Herman pada Hardi.
Pria itu mengangguk setuju. Rina menatap suaminya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membicarakan sesuatu," ujar Herman menenangkan.
"Azizah sudah sampai Jepang dan sekarang tengah menerangkan apa itu anjing cyber," ujar Darren setelah menatap ponselnya.
Virgou dan Terra mengangguk. Usai berfoto, mereka semua menuju panti dan makan di sana. Ibu-ibu panti sudah memasak besar untuk semuanya.
Sedang di Jepang. Azizah begitu memukau semua orang. Bagaimana ia menciptakan sebuah virus yang malah menjaga keamanan data perusahaan.
"Anda yang terbaik Nona!" puji CEO perusahaan itu.
"Apa anda sudah menikah?" Azizah memperlihatkan cincin di jari manisnya.
Pria itu tampak kecewa dan meminta maaf. Azizah hanya tersenyum dan mengangguk. Kini ia duduk di sebuah komputer inti. Ia memasukan dua belas anjing cyber yang berpatroli di setiap kubikel data komputer.
bersambung.
wah ... siapa yang makaikan cincin ke Azizah?
__ADS_1
next?