
Virgou benar-benar marah. Pria dengan sejuta pesona itu berubah jadi sosok yang begitu menakutkan. Tak ada yang berani menatapnya bahkan Gomesh dan Budiman.
Haidar menyingkirkan Terra. Wanita itu pasti akan cepat tersulut jika melihat kebengisan kakak sepupunya itu. Berita Sandra yang coba meracuni otak Dimas dengan Video pornonya sampai ke telinga orang tua.
"Virgou, urus perempuan itu!" titah Herman sangat dingin.
"Mas," Khasya sangat menyesal menceritakan hal itu. Walau ia tak bercerita, Rando tentu sudah melaporkan semuanya.
"Jangan khawatir Ayah, aku pastikan dia tidak bisa melihat matahari seumur hidupnya!" janji Virgou dengan mata berkilat marah.
"Daddy!" pekik Lidya.
Wanita bertubuh mungil itu tak menghiraukan wajah seram ayah kesayangannya itu. Ia memeluk Virgou, tentu satu hal yang diinginkan Lidya. Daddynya tak berlaku kejam.
"Daddy," panggilnya lembut.
Hati Virgou yang sempat terbakar, melunak. Lidya adalah pengobat hatinya, Herman juga ikut dipeluk oleh Lidya.
"Ayah .. Iya sayang Ayah," ujarnya tulus.
Herman menghela napas panjang. Hatinya yang juga sangat ingin menghancurkan Sandra hingga ke tulang sumsumnya batal akibat pelukan Lidya.
"Sudah, kita memang harus memberitahu tentan edukasi itu," ujar Khasya.
"Tidak!" tolak Virgou, Herman dan Gomesh bersamaan. Budiman setuju dengan tiga pria itu.
Semua perusuh ada di halaman belakang, David dan Seruni mengajak mereka bermain bersama Maria, Aini dan Putri juga Puspita. Jac dan Gio tentu harus menemani mereka. Banyaknya anak, membuat para ibu kewalahan.
"Daddy, Ayah?"
"Ayah dan Daddy tidak apa-apa sayang," ujar Herman menenangkan putri kesayangannya itu.
Khasya lega, wanita itu memang meminta Lidya pulang cepat akibat kisah Dimas yang hendak diracuni pikirannya oleh mantan sekretarisnya. Lidya sendiri merasa marah pada wanita bernama Sandra itu.
"Gomesh!" panggil Virgou.
"Baik Tuan," sahut Gomesh membungkuk hormat.
Lidya menatap pria raksasa itu. Gomesh menenangkan putri atasan, cinta pertamanya itu.
"Dia hanya saya usir dari kota ini seumur hidupnya sayang," jelas pria itu.
Lidya hanya bisa pasrah. Tak ada yang boleh menyentuh keluarganya, Terra saja harus ditenangkan oleh Haidar, jika tidak. Ibunya itu pasti malah memperkeruh suasana. Terra sama jahatnya dengan Virgou dan Herman jika menyangkut semua anak-anaknya.
Gomesh bersama Budiman. Darren dan Saf belum pulang karena mereka harus membeli makanan yang diminta para perusuh.
"Papa, Daddy!" Kean datang bersama dengan Sean.
Al tentu bersama Dominic, mereka berdua berada di sebuah kota. Daud datang bersama Dinar dan tiga putranya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Virgou.
"Daddy, dildo itu apa?" tanya Kean polos.
Daud yang seorang dokter tentu tau alat apa yang disebut oleh saudaranya itu. Ia hendak membuka mulut tapi Virgou langsung memarahi Kean.
"Dari mana kau dapat kata-kata itu?"
"Dari beberapa karyawati bergosip," jawab Kean benar-benar polos.
Herman gemas melihat putra dari sepupu keponakannya itu. Ia berdecak, Kean itu memiliki keingintahuan yang tinggi. Remaja itu sama dengan Satrio yang cepat penasaran dengan perihal yang tidak ia ketahui.
"Daddy!" rengek Kean kesal.
"Itu alat yang bentuknya sama dengan burungnya laki-laki!" jawab Virgou pada akhirnya.
Kean sempat berpikir lama. Lalu matanya melebar, ia langsung memasang wajah jijik.
"Kenapa dengan wajahmu Baby?" tanya Herman penasaran.
"Itu cewek bilang suka jilatin benda itu kek permen," jawab Kean begitu gamblang.
Kean mual, remaja itu memang paling tidak bisa berpikir terlalu jauh. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana. Daud dan Sean langsung menangani saudaranya itu.
Calvin tentu berada di perusahaan Haidar, remaja tampan itu tengah menangani sebuah rapat jurnal. Bram yang menyuruhnya.
Sandra tengah menenangkan dirinya. Gadis itu mengacak kamar sewanya. Ia berteriak kencang, lalu menangis di pinggir ranjang..
Ia sangat-sangat malu luar biasa. Video mesum yang ia gunakan untuk meracuni otak atasannya yang polos malah jadi bumerang untuknya.
"Mestinya aku langsung beraksi memberi obat perangsang pada Dimas jika tau begini!" sungutnya kesal.
"Aarrggh!" pekiknya kesal.
Tok! Tok! Tok! Sebuah gedoran keras di pintu membuat Sandra terkejut.
"Sandra buka pintu!" teriak sang pemilik kos.
Dengan malas ia pun berdiri dan membuka pintu. Matanya terbuka lebar ketika melihat Gomesh dan Budiman di depan pintu kamar bersama ibu pemilik kamar sewanya.
Dua pria yang sudah berumur tapi masih begitulah tampan dan gagah itu berdiri dengan pandangan dingin.
"Kami memintamu pergi dari kota ini selamanya Sandra!" ujar Gomesh begitu enteng.
Sandra tentu tak bisa melawan. Ia bukan tidak tau siapa keluarga pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
"Jika kau masih sayang dengan masa depanmu tentunya," lanjut Budiman dengan nada mengancam.
Sandra pun harus pergi, ia mengambil semua barang-barang dalam dua koper besar dan juga ranselnya.
__ADS_1
"Hiduplah lebih baik di kota itu. Jadi wanita terhormat dan menikahlah!" saran sekaligus perintah dari Budiman.
"Itu juga kalau ada laki-laki baik yang mau denganmu!" lanjutnya menyindir.
"Bertobatlah Sandra. Siapa tau. Tuhan mengubah hidupmu lebih baik ke depannya," nasihat Gomesh bijak.
Gadis itu menggeret satu tas besarnya. Gomesh membantu mengangkat yang lainnya. Pria raksasa itu memastikan jika Sandra pergi dari kota ini selamanya.
Satu taksi dengan supir yang sangat dikenali Budiman. Leo akan mengantarkan gadis itu ke sebuah kota yang jaraknya ratusan kilometer dari sini untuk memulai hidup barunya. Kendaraan roda empat pun bergerak perlahan lalu meluncur dengan kecepatan sedang.
"Huuffhh!" keluh Budiman sambil menggeleng.
"Kenapa ketua?" tanya Gomesh.
"Karir bagus, malah disia-siakan hanya untuk meraih posisi dengan cara haram," jawab Budiman dengan nada sesal.
"Manusia kadang mengambil jalan pintas, Ketua. Mereka lupa hukum yang akan ia dapatkan nanti di akhirat," sahut Gomesh.
"Mungkin dengan meminta ampun pada Allah, semua masalah akan selesai. Karena Allah yang memang maha pengampun. Tapi, ia lupa jika belum minta maaf pada orang yang ia sakiti dan lukai hatinya," ujar Budiman panjang lebar.
Kini mereka berdua pergi dari sana. Pemilik kamar kos berkipas uang. Wanita itu sangat berterima kasih sekali pada dua pria yang memberinya bayaran sepadan dengan memberitahu keberadaan Sandra.
"Maaf San, ibu terpaksa jujur pada dua pria itu. Ibu butuh uang ini untuk berobat suami ibu," monolognya.
Sementara di hunian Virgou. Dimas meminta maaf pada ayahnya karena masalah Sandra tadi.
"Sudah tidak apa-apa. Kamu memang tidak salah Nak. Tapi lain kali, harus bergerak cepat ya. Jika kau berkutat terlalu lama, takutnya kau yang terseret," nasihat Herman.
"Iya Yah," Dimas memeluk sang ayah.
"Sebentar lagi ulang tahunmu. Kau mau dirayakan di mana Baby?" tanya Herman lagi.
"Di rumah saja Ayah. Saudara Dimas banyak, mereka saja sudah cukup menghibur," jawab remaja itu.
Herman mengelus sayang putranya itu. Dimas sangat mirip dengan mendiang kakeknya, Hardi Triatmodjo.
"Te, jika kau mau lihat wajah kakekmu. Kau pandangi saja Dimas. Hardi Triatmodjo sangat mirip dengan adikmu itu," ujar Herman ketika Terra ada di sisinya.
"Te nggak masalah dengan wajah Baby Dimas Ayah. Tapi tadi kenapa Te mesti disingkirin sih!" protes wanita itu.
Herman hanya menghela napas panjang. Terra tampak mendumal panjang pendek.
"Mama ... teunapa pajahna seupelti paju yan pidat bisetlita?" tanya Maryam heran.
"Buntin Mama peultemu denan nanat sisilan yan Yuyut pilan teumalin," sahut Al Bara.
Bersambung.
Iya Baby Bara, ada nanat sisilan namanya Sandal eh Sandra.
__ADS_1
Next?