
Andika menyerahkan proposal yang didapatnya dari Santi tadi.Zulkarnain meraih map warna kuning itu lalu membukanya lembar demi lembar.
"Gimana menurutmu?"Zulkarnain menutup Map tersebut lalu meletakkan kembali ke atas meja.
"Tidak ada masalah Bang"Andika. mengangguk yakin"Konsep proposalnya sangat meyakinkan jadi menurutku jauh dari kemungkinan untuk rugi"
Zulkarnain mengangguk pelan"Baiklah"Ia membuka kembali Map tersebut lalu mensign lembaran-lembaran kertas itu.Zulkarnain menyerahkan kembali Map itu kepada Andika.
"Aku percayakan projek ini kepadamu"
"Tapi Bang,aku kan masih baru mulai kerja"
"Nggak apa-apa,aku yakin kamu pasti bisa.Tolong jangan kecewakan aku"
Andika tersenyum penuh semangat,ia bangkit lalu membungkukkan badannya "Terimakasih Bang"
Zulkarnain manggut-manggut sambil tersenyum tipis.
__
Santi melempar tasnya ke atas meja,ia menghempaskan pantatnya ke sofa empuk di ruang kerja Pak Sanusi.Pak Sanusi memberi kode kepada sekretarisnya untuk keluar,sang sekretaris mengangguk paham.Ia keluar setelah memberi hormat,tak lupa juga memberi hormat kepada anak Bos meskipun tak dihiraukan.
"Kenapa niii?datang-datang wajahnya kok ditekuk gitu"Pak Sanusi menghampiri putrinya.
Santi mendengus kesal,tangannya terlipat di dada"Kesel banget aku Pa"
"Projectsnya gagal?"Tatapan lekat menyorot ke wajah Santi.Pak Sanusi memang sangat tidak menyukai kegagalan.Santi menyerahkan Map Kuning yang sudah di tanda tangani oleh Zulkarnain.
"Semua berjalan lancar Pa"
"Lalu kenapa kesel?"Pak Sanusi memeriksa isi Map tersebut.
"Semua yang aku rencanakan gagal Pa,aku kan pengen menggaet CEO GRAND GOLDEN GROUP dengan kecantikanku.Biar semua jalanku lebih mulus dan lebih mudah"
__ADS_1
"Awalnya aku sudah percaya diri karena CEO GRAND GOLDEN GROUP adalah teman seangkatanku.Tapi ternyata dia malah melimpahkan semua urusan projects kita kepada adiknya"
"Coba Papa bayangin,gimana nggak kecewa aku?kayak diremehkan"
"Hmmmm begitu rupanya"Pak Sanusi manggut-manggut,sesuatu terbersit di kepalanya untuk membantu putrinya melancarkan aksinya"Papa akan bantu kamu,tapi Papa tidak suka jika kamu hanya setengah-setengah melakukannya"
"Maksud Papa?"Santi mengernyitkan keningnya.
"Nanti malam ikut Papa"Pungkas Pak Sanusi tanpa menjelaskan apapun.Santi berusaha menerka apa yang dipikirkan oleh Papanya.Tapi ia buntu.
__Seperti yang sudah dijanjikan,Pak Sanusi membawa putrinya ke suatu tempat.Dipedalaman Ibu kota yang terpencil.Pak Sanusi memarkirkan mobilnya ditepi jalan yang agak sepi,lalu ia membawa masuk anaknya ke dalam semak belukar.
"Kita mau kemana Pa?"Tanya Santi bergidik ngeri.Karena hari sudah gelap jadi mereka hanya menggunakan pencahayaan sinar rembulan yang masih belum membulat sempurna.
"Sttt diam dan ikuti saja Papa"Pak Sanusi menjawab dengan setengah berbisik.Meskipun Santi rada kesal tapi ia tak membantah.
Kurang dari lima belas menit Mereka melihat sebuah rumah dari bambu yang ukurannya tidak terlalu besar.Penerangannya pun hanya memakai lampu minyak.Sungguh jauh dari kata wah di zaman yang serba canggih ini.
Pak Sanusi membawa Santi masuk ke halaman Rumah itu yang hanya memakai pagar dari bambu.
"Rumah siapa ini Pa?"
"Nanti juga kamu akan tahu"Lagi-lagi Pak Sanusi bukan memberikan jawaban tapi malah teka-teki.
Pak Sanusi menyeru salam lagi,tiba-tiba daun pintu rumah itu terbuka perlahan.Santi merasa bulu kuduknya meremang karena tidak ada orang yang muncul dari balik pintu.Jadi pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Masuk"Terdengar suara serak seorang perempuan.Pak Sanusi memberi kode agar Santi ikut masuk dengannya.Meskipun teragak-agak,Santi tetap patuh kepada Sang Papa.
Kedua Ayah dan anak itu masuk semakin ke dalam Rumah berdinding bambu itu.Dan disudut ruangan mereka melihat seorang wanita tua duduk bersila dengan banyak sesajen di hadapannya.Juga terdapat kuali besar berisi air dan bunga-bungaan.
Wangi bau kemenyan yang dibakar menyeruak ke sekitar ruangan.Pak Sanusi mengajak duduk putrinya di atas tikar pandan tepat dihadapan wanita tersebut.Santi merasa risih dengan ruangan kumuh tanpa kursi itu.Apalagi disuruh duduk di bawah,rasanya ia ingin keluar saja.
Melihat anaknya diam tak bergeming,Pak Sanusi melototinya sebagai kode agar cepat duduk.Mau tak mau Santi pun duduk melantai di samping Papanya.
__ADS_1
"Ada apa datang kemari?"Tanya Nenek tua bersuara serak itu.
"Emmmm kami butuh bantuanmu Mbah"Jawab Pak Sanusi takzim"Putriku ingin menggaet seorang Laki-laki Mbah"
"Putrimu cantik,pasti itu bukan masalah yang sulit"
"Laki-laki itu sepertinya menjaga jarak dari putriku Mbah"Pak Sanusi menjelaskan,Mbah Sumi manggut-manggut tanda mengerti.
"Apa kamu mau aku pasangkan susuk?"Mbah Sumi menatap lurus wajah Santi.
"Susuk?Apa bisa menjamin kalau Zul akan langsung menyukaiku?"Santi rupanya kurang yakin.Mbah Sumi tertawa menyeringai.
"Kalau tidak mumpuni,kamu bisa membakar rumahku ini"Mbah Sumi menantang sekali.
Pak Sanusi menyikut putrinya sebagai amaran agar tidak bicara sembarangan lagi.Santi melengos,ia memang kurang percaya dengan hal-hal semacam ini.
"Bagaimana?Mau?"
"Mau Mbah,saya akan membayar berapapun yang Mbah inginkan"Pak Sanusi cepat menjawab,ia takut kalau Santi yang menjawab akan membuat tersinggung Mbah Sumi lagi.
Mbah Sumi manggut-manggut,ia memberi kode kepada Pak Sanusi agar keluar meninggalkan dia dan Santi berdua saja.
Melihat Ayahnya pergi,Santi ingin ikut,tapi dilarang oleh Pak Sanusi.Dengan agak ketakutan Santi berhadapan dengan Mbah Sumi seorang diri.
Mbah Sumi Mengambil kain jarik dan diberikannya kepada Santi"Pakailah,kamu akan ku mandikan bunga tujuh rupa sebelum aku pasangkan susuk"
Dengan setengah hati,Santi mematuhi perintah Nenek tua itu.Mbah Sumi merapalkan mantra, jemarinya berputar-putar di atas kuali yang berisi air dan bunga-bungaan itu.Setelah itu ia bangkit mengambil gayung kuno yang terbuat dari batok kelapa.Mbah Sumi menyiram kepala Santi dengan tidak berhenti merapalkan mantra.
Tujuh kali siraman,Mbah Sumi menyudahi memandikan Santi dengan air kembang tujuh rupa.Lalu ia mengambil sesuatu dari kotak kayu.Ia mendekati Santi,sebuah jarum mengkilap diujung jarinya.
Mbah Sumi memantrai jarum itu lalu menusukkannya ke kening Santi.Santi meringis menahan sakit.Tidak berhenti disitu,Mbah Sumi Mengambil lagi jarum kecil itu lalu ditusukkan ke pipi Santi serta dagunya.
Setelah selesai,Mbah Sumi meminta Santi untuk menutup tubuhnya dengan memakai pakaiannya kembali.Santi patuh,ia merasa aneh karena bekas tusukan itu sudah tidak terasa sakit lagi.
__ADS_1
"Kamu harus ingat pantangan dari susuk itu,tidak boleh makan sate,tidak boleh lewat dibawah tempat berjemur pakaian,dan tidak boleh menyentuh apalagi memakan daun kelor "
"Daun kelor ??"