
BRAKKK!!!
Pintu berhasil dibuka dengan paksa.Lisa beringsut mundur hingga tubuhnya bersandar ke hulu tilam.
"Lisa,,,Kamu tahu Lucy pergi kemana?"Andika langsung menginterogasi Lisa.Lisa melihat semua penghuni rumah kecuali Ayahnya berkumpul mengelilinginya.
"Tolong jawab Kak"Nouval memohon agar Lisa bisa mengatakan kemana tujuan kepergian Lucy?
Tapi Lisa bertahan dengan diamnya,jika ia buka mulut maka rencananya untuk membunuh orang yang menodainya akan gagal.
"Lisa,jangan diam!!kalau kamu tahu tolong katakan"Laras turut bicara.Lisa menakup wajahnya diantara kedua lutut yang dipeluknya.Ia memutuskan untuk diam dan tidak menatap mata orang yang sedang menginterogasinya.
"Kenapa dia tidak mau menjawab?"Bu Ijah mulai kesal.
"Karena dia yang menginginkan Lucy membunuh seseorang"Jawaban Bu Minah langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya.Lalu kembali menatap Lisa ingin mendapatkan kepastian.
"Benarkah itu Lisa?"Andika mendekati keponakannya.Ia duduk di samping Lisa lalu mencengkram kedua bahunya."Katakan padaku bahwa apa yang dikatakan Nenek mu itu tidak benar??Katakan Lisa"Andika sudah tidak tahan,ia menaikkan nada suaranya agar Lisa mengakui.
Lisa menangis,ia tergugu sampai tubuhnya bergetar.
__ADS_1
"Aku tidak menyuruhmu menangis,aku ingin kamu jawab kemana Lucy pergi?!!"
"Percuma,meskipun dia mengatakan Lucy akan membunuh siapa.Kita tetap tidak akan tahu dimana dia berada?"Lagi-lagi argumen Bu Minah membuat tanda tanya besar.
"Buk tolong jangan buat aku tambah bingung,AKHHHHHH"Andika membanting bantal untuk melampiaskan kekesalannya.
"Sabar Tuan"Mumun dengan sigap mengusap punggung majikannya.Ia jadi ngeri sendiri melihat Andika marah.
"Lucy tidak akan menunjukkan kekuatannya ditempat umum,Dia akan mencari tempat sepi untuk melakukan aksinya.Jadi meskipun Lisa mengatakan siapa buruannya Lucy.Kita tetap tidak akan tahu tempat eksekusinya."
"Tapi setidaknya kita tahu apa alasan Lucy?Dan yang paling tahu hal ini adalah Lisa"Laras mengeluarkan argumennya.Semua mata kembali tertuju kepada Lisa yang tetap memilih diam.Sangat tidak mungkin ia jujur.
"Aku kebelet nih,ikut yuk"Ajak Antok kepada Danu dan Vicky.
"Pipis disitu aja gih"Danu mengangkat dagunya menunjuk dinding pagar tembok pembatas sekolah.
"Busyet,ini tempat rame.Bisa-bisa aku dipanggil guru BP."
"Yah mau gimana lagi,toilet kan tempat sepi.Takut aku"Danu bergidik ngeri.Antok melihat ke sekeliling.
__ADS_1
"Kayaknya dia nggak masuk sekolah deh"
"Kamu yakin?"Tanya Vicky tak percaya.Antok mengangguk cepat.
"Ayok ikut,aku juga mau Pup"Antok memaksa teman-temannya.
"Hisss kau ni Tok,pakai Pampers aja biar aman.Mau pipis kek mau pup tinggal ngetden."Danu tetap enggan untuk ikut.
"Awas ya,aku nggak bakalan nebengin kalian lagi"Antok mengeluarkan ancaman.Danu jadi takut juga dengan ancaman Antok.Dia nggak mau kalau harus berdesak-desakan naik angkot pulang pergi ke Sekolah.
Matanya bertembung dengan Vicky yang merasakan hal yang sama.Akhirnya keduanya mengangguk setuju untuk ikut Antok ke toilet.
Lucy tersenyum kecut karena kesempatan yang ia tunggu-tunggu datang juga.Ia terus memantau Antok dan teman-temannya.Begitu Antok masuk ke dalam toilet,dan kedua temannya memilih menunggu diluar.Karena mereka pikir di luar aman.Ada beberapa orang lalu lalang.
WUUUUSSSSSS.....
Lucy melakukan gerakan tercepatnya menyambar dua tubuh yang sedang berdiri dengan was-was.
Sedangkan Antok sama sekali tak merasa kalau kedua temannya sedang mengalami perjalanan yang kilat seperti perputaran waktu ke masa lalu.
__ADS_1