SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERSIAPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Satrio menatap Adiba yang makin hari makin cantik. Dua bulan lagi ia akan bersanding dengan gadis itu.


"Dek," panggilnya pelan.


Adiba menoleh, semburat merah menyeruak di pipi sang gadis. Adiba sangat malu, hatinya berdebar jika bertemu dengan calon suaminya itu.


"Sayang," panggil Azizah.


"Ya Kak!" sahut Adiba.


Gadis itu segera mempercepat langkahnya. Azizah kerepotan dengan para bayi yang tak berhenti mengganggunya.


"Babies," kekeh Adiba dengan senyum lebar.


"Mama ... beusbdbshansuduhehsusjwushshausushshsh!" oceh Ryo tak jelas.


Faza sedang bermain dengan bonekanya. Hasan dan Hapsa asik merambat bersama Nabila, Sabila dan Horizon.


"Amah!" panggil Ozon pada Azizah.


"Apa Baby?!" sahut wanita itu gemas.


"Amah ... mih pa'ah?" tanya bayi bermata biru itu menunjuk satu mainan.


"Itu robot Baby," jawab Azizah.


"Au bobot!" pinta bayi tampan itu.


Azizah mengambil robot dan meletakkannya di lantai. Semua bayi mengerubunginya.


"Zozon ... ita itahtan euleta yut!" suruh Faza.


"Ama inih!" lanjutnya menggandengkan bonekanya bersama robot.


Azizah menggaruk kepalanya. Mereka terlalu bayi mengerti perihal menikah itu.


'Wah ...!" semua bayi bertepuk tangan.


"Imi Apah Lapo!" seru Hapsa menunjuk boneka sebagai Pablo.


"Bobotna pistli Apah Lapo!" angguknya.


Semua bayi mengangguk setuju. Azizah dan Adiba tertawa mendengarnya. Satrio yang ditinggal calon istrinya memilih pergi ke kamar dan sedikit beristirahat.


Masih pukul 16.30. masih lama untuk berbuka.


"Jangan tidur sayang!" peringat Haidar pada Satrio.


"Lurusin pinggang Papa," rengek pemuda itu.


"Yah ... baru begitu aja udah minta lurusin pinggang," ledek Haidar.


"Atuh inin lulusin pindan judha!" Arsyad masuk kamar Satrio dan merebahkan dirinya di atas tubuh pemuda besar itu.


"Atuh judha!" Aaima masuk dan naik ke ranjang.


Kedua bayi itu kegelian karena Satrio menggelitik mereka. Akhirnya, mereka diminta turun oleh Haidar.


Satrio, Arsyad dan Aaima bergandengan. Ryo naik tangga dengan dengkulnya. Bayi itu memekik, liurnya meleleh. Haidar menggendongnya.


"Ate ... puyuntan Atuh!" pekiknya marah.


Haidar mengabaikan permintaan bayi tampan itu dan menyembur perutnya. Gelak tawa terdengar, semua bayi heboh dan minta diperlakukan sama.

__ADS_1


"Apah ... atuh judha!" sengit Arsh.


Batita itu juga mau dimanja oleh Haidar. Haidar tak keberatan sama sekali.


"Ayo mending ngaji!" suruh Layla.


"Biya Mumi!" seru semua bayi kompak.


Rasya dan Rasyid membantu semua adiknya mengaji. Dewa dan Dewi turut serta begitu juga Kaila.


Sedang Harun cs membentuk kelompok sendiri. Tentu tanpa Bariana di sana. Bocah cantik itu seperti mengerti jika ia berbeda. Domesh dan Bomesh hanya melihat-lihat saja. Berbeda dengan Fael dan Angel yang malah membaca surah Fatihah.


"Pasih lama tah butana?" tanya Fatih lalu meraba perutnya yang tiba-tiba berbunyi.


"Wah ... punyi pa'a ipu?" seru Zaa, Nisa dan Chira berbarengan.


"Punyi tasin ladhi pemo binta bituluntan matanan," jawab Maryam.


"Yeyut pita lada sasinna?" tanya Aaric tak percaya.


"Lada, soba panya pama Ata' Tean!" angguk Maryam lalu menunjuk Kean.


Semua bayi tentu menoleh padanya. Pemuda itu tentu saja antusias dengan seringai jahilnya.


"Iya cacingnya banyak loh ... jadi kalo laper mereka pada rame demo minta makan!"


"Wah ... pa'a meuleta beulantem pas matanan tuyun?" tanya Aaima penasaran.


"Pemirsa ... ada kericuhan saat seseorang sedang membagikan takjil gratis untuk para pejalan kaki. Akibatnya satu orang mengalami luka serius akibat penyerangan itu!"


Sebuah berita ditayangkan di sebuah stasiun televisi. Di sana tampak kericuhan yang telah dikendalikan oleh banyak aparat kepolisian.


"Korban akibat desakan para pejalan kaki yang juga mau menikmati takjil gratis ini!" lanjut pembawa acara.


Semua bayi mengusap perutnya. Fatih bingung sendiri karena perutnya tiba-tiba berbunyi keras.


"Baby sini maem ini dulu," Dinar memberikan satu potong kue bolu kukus pada bayi tampan itu.


Fatih, menggigitnya pelan dan mengunyahnya setelah membaca basmallah.


"Wah ... pasti rebutan kalo dikit-dikit kek gitu!" ujar Kean.


"Baby!" peringat Dinar.


Kean cemberut, padahal ia ingin menggoda adiknya. Bolu habis, tak ada kendala yang tidak diinginkan Fatih.


"Sasinna pidat lusuh," ujarnya lega.


"Buntin peulum lapan," sahut Aaima.


"Ayo lanjut ngajinya!" seru Layla galak.


Semua anak kembali pada kakak-kakak mereka. Kean mengajari Dewa memakai nada bayyati dalam lantunan membaca Alquran.


Suara indah Kean memang membuat siapa saja menyukai dan jatuh cinta.


"Siapa jodoh putra-putraku ya?" gumam Puspita.


Baik, Kean, Calvin, Affhan belum menunjukkan kekasih mereka. Kean sangat polos dengan pikiran yang hampir sama dengan para perusuh paling junior di sana. Begitu juga Sean, Al dan Daud yang berusia sama dengan Kean.


Satrio satu-satunya pemuda yang sudah berpikiran dewasa karena mau menikah. Tetapi, ia sama polos dengan anak-anak lainnya.


"Amah ... buta ... ipu zazan badlib!" teriak Zaa.

__ADS_1


"Bukan adzan sayang. Itu hanya orang mengaji di masjid," ujar Lastri menjawab.


"Oh ... putan bedut badlip?" tanya Chira.


"Bukan Baby," jawab Lastri mencium gemas bayi-bayi itu.


Najwa memangku Vendra. Bayi tampan itu menyandar dengan perut bundarnya. Mulutnya tak berhenti menguyah.


"Baby nggak puasa ya?" ledek Kaila.


"Susasa!" pekik Vendra tak terima.


"Itu ngunyah apa?" tanya Kaila sengit.


"Imih betas sahun," jawab bayi itu.


Najwa terkekeh. Akhirnya bedug maghrib terdengar. Semua langsung berbuka dengan yang manis-manis.


Setelah berbuka, mereka berwudhu kemudian melaksanakan sholat maghrib. Dominic yang menjadi imam mereka.


Sementara di pesantren, Leon berbuka puasa bersama para anak santri. Semua pernak-pernik pernikahan sudah rampung dan mencapai 90%. Hanya tinggal pelaksanaan saja. Undang telah dibagikan.


"Alhamdulillah, makasih Tuan ...."


"Panggil saya Daddy ya. Karena Fabio dan Pablo adalah putra saya juga," pinta Leon pada Hapsa.


Gadis itu tersenyum, memang semua keluarga calon suaminya begitu dekat satu dan lainnya. Mereka saling menyayangi.


"Baik Daddy," ujarnya tersenyum.


"Bagaimana, apa masih ada yang kurang?" tanya Leon lagi.


"Ini sudah lebih dari cukup Dad," jawab gadis itu dengan binaran mata bahagia.


'Baiklah kalau begitu," angguk Leon antusias.


Akhirnya semua selesai. Hari minggu nanti adalah pelaksanaan pernikahan keduanya.


"Hindari percakapan di telepon, baik chating selain perihal yang penting!" peringat Leon.


"Iya Daddy," angguk Hapsa dan Aisyah.


Dua gadis itu mengantar Leon sampai mobil. Setelah kendaraan roda empat itu beranjak. Aisyah memeluk kakaknya.


"Kak, kita akan menjadi seorang istri sebentar lagi," ujar Aisyah.


"Iya dek ... kita harus sering bersujud agar diberi kemudahan ya," sahut Hapsah.


Mobil Leon masuk gerbang. Mansion Bart, Pablo dan Fabio baru saja sampai dan turun dari mobilnya. Mereka buru-buru karena sebentar lagi masuk waktu isya.


"Sudah makan semua?" tanya Lastri.


"Sudah Ma," jawab Pablo dan Fabio berbarengan.


Setelah berwudhu, mereka segera merapatkan shaf.


"Allahuakbar!" seru Demian yang menjadi imam sholat isya.


Bersambung.


selamat berbuka puasa Readers ❤️😍😍


next?

__ADS_1


__ADS_2