
“Irfan”, Bu Hani mulai ingin menasehati Irfan sambil mengusap rambutnya.
“Mama kamu dulu juga pernah ngobrol sama saya, mengenai awal kamu jadi artis, dia bilang Insya Allah Irfan kuat jadi artis, karena artis banyak cobaannya, yang di maksud oleh mama kamu itu adalah orang yang hujat kamu di media sosial, tapi menurut saya pribadi bukan itu juga masalahnya, Fan, netizen itu orang yang justru enggak tahu apa – apa, kadang komentar mereka hanya iseng, kalau pun benar – benar menghujat pasti ada sebab dan alasannya, seperti yang terjadi dengan Fiza”, kata Bu Hani dan kemudian menarik nafas lalu, memulai kata – katanya lagi.
“Dan semua itu bisa jadi terjadi karena dari fans kamu sendiri”, ! tegas Bu Hani kemudian.
“Fans itu garis besarnya yah, yang saya tahu memang orang – orang yang mau cari untung dari artisnya, apakah kamu pikir fans adalah orang yang tulus, orang yang tulus itu bukan fans, mereka sebut fans sejati, menurut saya enggak ada fans sejati, sejati mengidolakan, karena obsesi bukan karena kasih dan sayang, padahal manusia itu butuhnya kasih dan sayang, orang yang paham akan apa yang di rasakan, fans emang gitu, mereka karena adalah orang yang sebenarnya, orang biasa, tapi dekat dengan artis, apalagi kalau orang itu sudah gila harta, itu mata mereka bisa berubah jadi iblis, dan masalahnya fans itu sendiri, emang tergolong, justru mereka yang pansos”, kata Bu Hani.
“Dan selama ini, apa yang mereka lakukan terhadap kamu, kamu tahu sendiri kan fans itu seperti apa”, kata Bu Hani lagi.
“Ketemu kamu minta foto dan menulis caption yang intinya buat kepentingan pribadi mereka sendiri, terus apa yang mereka lakukan juga sama kamu, mereka mengatas namakan kamu, dengan info – info bohong sehingga orang lain yang enggak tahu mereka kira itu kamu, bilang ke orang lain di sebarin, kalau DM kamu, itu enggak usah panjang – panjang karena katanya, enggak suka, kalau kamu DM panjang – panjang karena katanya kamu, bilang itu halu, lebay, padahal enggak ada kata – kata semacam itu dari mulut kamu kan, sendiri, itu karangan mereka semua, karena mereka itu berlomba mau nyosor sama kamu, dan fans itu orang yang menjatuhkan harga dirinya sendiri, dengan semacam itu, berbuat gossip dengan mengatas namakan orang lain, hanya ingin memiliki, sendiri, cinta buta, dan bukan orang yang emang mau memberikan seseorang itu kasih dan sayang karena Allah, tapi mungkin enggak semua fans begitu, dan orang di luar sana, beramsusi yang jelek itu kamu, mereka enggak percaya kalau kamu menyebarkan kebaikan kepada mereka, karena fans gila kamu itu, sebaiknya saran saya di bubarkan saja, cari fans yang baru, yang di jalan Allah, bukan yang sekarang ini apalagi adminnya Mira”, ! tegas Bu Hani.
Irfan tahu, kata – kata Bu Hani menusuk hatinya, tapi kata – katanya juga untuk kebaikannya, dia menangis sejadinya, walau dia laki – laki, aku menenangkannya, karena apa yang aku rasakan itu sama.
“Dan karena masalah itu juga, yang ada dalam pikiran Mira, dengan kerjasama bersama Om Hasan, dia bisa dapat untung, apalagi Tania itu kenal wartawan nakal yang rupanya wartawan nakal itu juga adalah kenalan juga Mira, dan itu kan yang di katakan oleh Rendy, namanya Vina, rasanya aku pengen kasih pelajaran ke mereka semua, aku enggak takut, walau posisi aku, dan kita semua ini, lagi di keroyok sama orang banyak seperti ini, kita bisa hadapi sama – sama”, kataku dengan suara keras juga seperti Bu Hani.
Tidak lama kemudian, mama Vinda, menyusul ke rumah kontrakan, dan memberikan uang kontrakan untuk setahun dulu dengan Bu Hani, dan kemudian ikut duduk mengobrol bersama, mama Vinda juga mengajak bicara Irfan.
“Kamu telepon Rendy sekarang suruh mala mini ke rumah kontrakan Rianti, tempat mengontrak”, kata mama Vinda.
“EMANG DASAR FANS GILAAAA ENGGAK PUNYA OTAK YANG PENTING OBSESI MAKANYA JADI BEGINI, SAYA AKAN BUBARKAN ADMIN MIRA SEKARANG JUGA, DAN SAYA SERTA IRFAN SIAP JADI SAKSINYA DI PENGADILANNNN”, !! tiba – tiba saja mama Vinda, yang tidak pernah, berteriak – teriak menjadi berteriak – teriak hingga suaranya keras, terdengar keluar rumah, sampai ada tetangga yang mendengarkan, bernama Yuni, dan Yuni pun yang mendengar menjadi bertanya kepada kami semua yang ada di dalam rumah.
“Ini ada apa yah, karena masalah keluarga Rianti itu”, ? tanya Yuni.
“Mbak Yuni, saya pesan ke mbak yah, tolong kasih tahu satpam jangan terima sembarangan tamu mulai dari sekarang, karena ini masalahnya sudah hukum, Rianti emang pindah ke sini sementara dengan mama dan papanya, untuk perlindungan dari kita semua sementara, dan Rianti bersembunyi di sini sementara”, jawab mama Vinda.
“Iyah oke”, Yuni dengan kata – kata yakin akan memegang amanah dari mama Vinda.
“Yah emang pada dasarnya fans itu terobsesi dengan ketampanan artisnya juga, gila dengan obsesi, apalagi kalau sudah masalah uang mereka akan cari untung juga di sana, mereka itu berpikir kesempatan mumpung dekat dengan artis, jadi bisa ikut terkenal makanya lakuin ini semua, apa enggak selama ini sebenarnya saya merasa terkekang dengan para fans gila itu, apalagi mereka fans yang bukan di jalan Allah, mereka berpikir kalau dekat dengan saya bisa dapat untung, nanti foto kalau sama saya, abis tuh di posting di Instragram, hanya karena biar pengikutnya banyak di Instragram mereka, apa saya ini boneka dengan kelakuan mereka itu, dasar fans perempuan enggak punya harga diriiii”, !! sentak Irfan dengan nafas tersenggal berat.
“Abis tuh kalau ada Dm yang masuk orang konsultasi mereka, nyebarin ke orang lain saya adalah orang yang enggak suka di DM panjang – panjang karena itu terlalu berlebihan, sehingga orang lain berpikir kalau saya orang yang sombong, bukan hanya itu, kalau ada berita yang enggak enak di posting di Instragram dan bilang kata mama saya”, !! teriak Irfan kemudian.
“Irfan, aku paham, nanti kita jebloskan Mira, Om Hasan dan fans enggak punya harga diri kamu itu semuanya ke penjara”, timpalku dengan nada suara ikut terbawa emosi juga, tidak lama kemudian, Rendy tiba di rumah kontrakan, dan mulai memberikan kabar baru yang di dapatkan olehnya.
“Saya baru dapat kabar yang baru dari tim saya, kalau sertifikat itu teryata memang di rumah Mira, tapi waktu kami selidiki ke rumah Mira, di sana dia udah enggak ada di rumah, mungkin dia ngumpet di rumah kerabatnya, dan Om Hasan sendiri, juga enggak di rumah, tapi saya dapat scanning percakapan antara Tania dan Mira di via whatsapp, bahkan Om Hasan juga Elin”, kata Rendy.
Aku membaca percakapan tersebut yang sudah di print out oleh pengacara Rendy, dan di sana benar – benar membuat aku semakin naik darah membacanya.
Mira : Elin, Irfan itu kan artis terkenal ganteng lagi yah, jangan sampe lepas deh tuh orang juga, kan uangnya juga banyak, kita bisa memiliki Irfan tanpa harus di miliki oleh orang lain dan dapat untung, kalau kita terus nyebarin berita hoaks tentang Irfan, biar aja, kalau netizen makin koar – koar, terus kita berantem di sosial media, kita juga jadi makin terkenal sebagai fans Irfan karena support Irfan
Elin : Iyah Mir benar jangan sampai lepas, tapi Rianti itu penghalang buat kita, untung saja dia punya masalah keluarga yang kita bisa ambil untung dari situ.
Mira : Tenang aja Om Hasan itu urusan saya ama Tania dan juga Vina, nanti kita sebarin Irfan dengan berita hoaks agar keuntungannya semakin banyak, tinggal bayar Vina saja sebagai wartawan.
Mira : sertifikat Rianti juga ada di tanganku, enggak ada yang tahu juga, dan aku tahu di mana Om Hasan juga sekarang.
Tania : jagain dengan baik yah tuh surat rumah, biar aku juga bisa dapat bagiannya.
“Mulai besok saya dan Irfan, akan ke kantor management artis, nanti saya mau bilang fans lovers lama atas nama admin Mira saya mau bubarkan, Irfan untuk sekali laginya, nanti akan umumkan ke publik kalau Rianti bukan fans tapi sahabat”, kata mama Vinda, yang juga sudah mulai emosi dengan keadaan juga, aku menangis tersedu karena sakit hati dengan semua orang yang tega hanya karena harta.
“Ri…., kamu istirahat saja sana, kalau ada apa – apa langsung ke rumahku saja”, pesan Irfan sebelum Irfan dan yang lainnya meninggalkan rumah kontrakan.
Sebelum tidur, di kamar baruku, yang luasnya tidak jauh berbeda, dengan kamarku yang lama hanya saja perbedaannya, di sini, di dalam kamar, ada kamar mandi pribadi, seperti kamar mandi, di dalam kamar mamaku, dan di dalam kamar mama dan papaku yang baru sama, ada kamar mandinya.
Rumah ini punya tiga kamar di lantai satu dan dua kamar di lantai dua, satu kamar mandi lantai dua dan di lantai bawah ada tiga kamar mandi, satu kamar mandi dekat ruang keluarga untuk tamu, dan yang posisinya, menghadap ke arah kamar untuk tamu, dan dua kamar mandi di dalam kamar, untuk pribadi.
Sebelum tidur, aku sholat Isya lebih dulu, dan kemudian aku menangis di atas sajadahku, mengadu kepada Allah, dengan apa yang aku alami ini, dan aku tidak tahu, rasanya ingin mengeluh kepada siapa lagi, kalau bukan kepada Allah, aku sudah tahu, terkadang Irfan belum tidur, walau sudah jam 11 malam, aku menelepon Irfan dari kamarku, di rumah kontrakan, dan dia mengangkat teleponnya.
__ADS_1
“Halo asalamualaikum Irfan”, kataku.
“Walaikumsalam”, balas Irfan.
“Aku, ke rumah boleh enggak Fan, aku pengen ngobrol sama kamu, kamu belum tidur kan”, ? tanyaku.
“Yah udah aku buka pintu pagar dulu yah sekarang”, jawab Irfan sambil mengakhiri pembicaraan denganku.
Dengan pakaian rumah, aku ke rumah Irfan, aku melihat Irfan sudah membukakan aku pintu dan mengajaknya mengobrol di dapur sambil minum kopi susu, dan makan cemilan, bakwan yang di goreng sendiri oleh Irfan.
Irfan memang sama mama Vinda itu jago masak, bahkan cici Putri, kecuali, koko Evan dan cici Alina, aku membantu Irfan menggoreng bakwan, sambil mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada Irfan.
“Ini mungkin salahku juga Fan, aku minta maaf kalau ada salah kata – kata atau ucapan, seharusnya dari awal, aku enggak perlu ikut acara yang ada fans kamu di situ, dan asal kamu Irfan, sebenarnya, mama aku waktu yang acara makan di PIK itu, mama aku melarang ikut, karena ada fans kamu, dan dia emang lihat di hp aku, kalau dia bisa – bisanya, Mira itu invite grup aku di Instragram, dan memang minta uang 300 ribu, padahal kan dari kamu sendiri enggak kayak gitu, aku tahu, kamu waktu itu undang aku juga, tapi gratis, dan sebenarnya aku mau datang, tapi karena fans kamu aku dilarang, dan untungnya, aku memang enggak jadi datang, dan katanya memang di sana ada masalah, coba kita sama – sama pikirkan, setiap kali di situ ada fans, di situlah timbul masalah siapapun orangnya, Irfan kita sama – sama ambil pelajaran, kita boleh sayang kepada orang lain, tetapi dengan mengikat silaturahmi di jalan Allah bukan obsesi yang gila, hingga lupa diri, dan membuat sombong, seseorang, lupa kepada sang pecipta, karena mendewakan manusia”, kataku panjang lebar.
“Ri…”, Irfan memulai kata – katanya, dan terlihat dia juga ingin curhat kepadaku, air matanya menetes, mengingat tentang dirinya sendiri juga.
“Dari awal aku bertujuan hanya ingin berbuat kebaikan kepada orang lain, aku bisa jadi seorang indigo yang mendampingi Kak Aji itu kebetulan saja, tapi mungkin ini salah dari pemikiranku sendiri, waktu di awal aku puncak karir, aku memang pada saat itu, aku mudah goyah dengan hujatan orang lain yang enggak suka sama aku, padahal itu resiko aku jadi artis, dan aku selalu curhat dengan fansku, dan teryata musuhku itu adalah fansku, bukan hatterseku, seharusnya, aku enggak mudah percaya begitu saja dengan kebaikan orang lain, hanya karena aku hatinya rapuh, hanya karena kata – kata keras orang lain, kamu tahu sendiri, di rumah aku memang, dengan mama agak jarang dia berkata keras kepadaku, kecuali papa, tetapi di sini aku ambil pelajaran, orang yang keras bukan berarti niat nyakitin, dan kadang yang lembut bisa nusuk dari belakang, pada waktu itu, aku emang belum kenal kamu, dan sebenarnya, aku justru banyak belajar tentang hidup sejak kenal kamu, dunia ini emang keras kenyatannya”, kata Irfan.
“Dan sebenarnya, aku juga harus siap hadapi kenyataan ini juga, aku anak laki – laki, dan seharusnya aku bisa menerima adanya kekerasan dalam hidup, hidup seorang laki – laki juga memang keras, apalagi kalau sudah menikah, tapi kesalahan bukan untuk di tangisi, namun di ambil pelajarannya, untuk menjadi lebih baik, kamu besok ikut sama aku yah, ke management artis, untuk kita bahas masalah fans lovers yang baru dengan admin yang baru, yang lama mama bilang bubarkan saja, karena masalah sertifikat rumah kamu sendiri, juga aku baru dapat kabar dari Rendy, kalau memang di cari di rumah Mira juga sudah ada, mereka masih mencari, tapi yang penting kamu sudah aman sama aku di sini, kalau nanti aku pergi syuting dan kemana – mana, kamu ikut aja, yang penting di rumah juga sudah Mbak Atin yang jagain mama dan papa kamu, dan aku juga punya firasat, keluarga kamu akan buat fitnah ke aku, dan fans lovers aku semakin menjadi cari kesempatan yaitu Mira, mereka berlomba untuk cari perhatian aku, tapi enggak berpikir lagi, aku manusia, dan bukan boneka, yang di perlakukan seenak perut, yang penting kita sama – sama bela satu sama lain”, kata Irfan panjang lebar.
“Yah udah aku mau tidur dulu yah sebagian bakwan aku bawa ke rumah yah buat cemilan di kamar”, kataku dengan kata santai.
“Iyah besok tapi siap – siap yah jam 10 kita sudah harus jalan, dan nanti cari gembok untuk rumah kontrakan kamu juga”, sahut Irfan.
Keesokan harinya, selesai sholat subuh, aku mulai membersihkan rumah, dan Mbak Atin sehabis mama sarapan seperti biasa, melakukan fisioterapi dengan mama, dan sekitar pukul 9 pagi, aku bersiap – siap untuk pergi bersama, Irfan, tapi aku berpesan kepada, mama, papaku, serta Mbak Atin untuk jangan bukakan pintu siapa saja, yang ke rumah, dan pintu rumah di kunci saja, aku juga berpesan kalau hari ini aku akan membeli juga gembok rumah.
Aku duduk bersama Irfan di jok belakang mobil pribadi Irfan, sedangkan mama Vinda, di depan, arah tujuan yang mau di tuju adalah ke arah Tangerang Selatan, Irfan sendiri sedang menelepon Ferdi orang di bagian management artis tersebut, di kantor itu.
“Halo asalamualaikum Mas Ferdi nanti kita ngobrol di ruang pertemuan yah”, kata Irfan.
“Saya lagi dalam perjalanan, menuju ke kantor management artis, dan di sini saya, juga bersama Rianti, penulis yang waktu itu jadi bintang tamu Kebajikan, nanti kita ceritanya bareng – bareng saja di sana”, Irfan mengakhiri pembicaraannya dengan Ferdi.
Berapa menit kemudian, akhirnya, aku dan Irfan juga mama Vinda, tiba di kantor studio tersebut, aku mengikut langkah kaki Irfan, yang menuju ke arah lift, dan menuju ke arah lantai tiga, dan ketika sudah berada di lantai tiga, aku dan Irfan serta mama Vinda, menghampiri Ferdy yang sudah menunggu kami bertiga, dan aku yang memulai ceritaku lebih dulu, barulah di sambung mama Vinda dan Irfan.
“Yah kalau begitu di bubarkan saja fans lovers yang sekarang ini, nanti biar saya bantu cari admin yang baru, rata – rata memang watak seorang fans pada dasarnya, kebanyakkan seperti Mira, mereka itu intinya karena terlalu obsesi, makanya melakukan hal semacam ini, apalagi tahu masalah keluarga Rianti tanpa sengaja”, kata Ferdy.
Bab 6. Masalah Yang Semakin Panas.
“Yah lebih baik secepatnya”, kata Irfan.
“Tapi gini Irfan, mau enggak untuk sementara waktu, istilahnya kita buat dulu saja seperti jebakan untuk Mira, agar ada bukti di penegak hukum nantinya, dengan apa yang di lakukan Mira, terhadap masalah kamu pribadi di luar masalah Rianti, dan dari sana nanti, siapa saja, yang kerjasama dengan Mira, akan kena juga batunya, kamu menghilang dulu sementara untuk sebulan saja dulu, kalau netizen ada yang penasaran biar aja mereka tebak – tebak sendiri, dan pada saat kamu nongol, begini kata kamu kenal dengan Fiza salah satu netizen yang bisa jadi saksi di masalah ini semua, karena menurut saya permasalahan ini semua, bukan soal sertifikat Rianti yang di curi oleh Pak Hasan saja, tapi jadi ruwet karena ada orang yang membuat drama keadaan ini semua demi keuntungan pribadi, masalahnya saya tahu Irfan, secara pribadi kamu dan fans, mereka yang hanya gila obsesi tanpa berpikir panjang baik dan buruknya, dan sekarang coba saya boleh ketemu dengan Fiza dan Indah, tolong hubungi kedua orang itu”, kata Ferdi.
“Nanti kita bahas dulu di rumah secara kekeluargaan, masalah Indah dan Fiza, saya akan hubungi Indah sekarang kalau begitu”, kata Irfan, aku hanya mengangguk dan ikut mendengarkan yang di bahas oleh Irfan dan Ferdy.
Dan dalam perjalanan pulang, aku mendengar Irfan sedang berbicara dengan Indah, di telepon ketika sedang berada di dalam mobil.
“Halo asalamualaikum, Indah”, sapa Irfan.
“Walaikumsalam”, balas Indah.
“Indah kamu bisa ke rumah saya sekarang, saya tunggu pagi ini, kita mau bicara kekeluargaan, masalah ini semua”, kata Irfan.
“Yah oke”, Indah mengakhiri teleponnya.
Di tempat yang berbeda dengan aku dan Irfan juga mama Vinda, Indah segera bersiap – siap untuk ke rumah Irfan, dia sudah siap, akan resiko apapun, untuk sebagai saksinya, persoalan ini semua, dan ketika Indah baru saja menaruh Hp ke dalam tas, dia tanpa sengaja membaca postingan Instragram, yang di sebarkan oleh Mira, matanya terbelalak kaget dengan kata – kata tersebut.
INDAH SAFITRI @INDAHSAFITRI FANS IRFAN SANTOSO YANG BERHALUNASI MAU MENIKAH DENGAN IRFAN SANTOSO, DAN SEKARANG DIA MENCULIK IRFAN SANTOSO JUGA KERJASAMA DENGAN FANS IRFAN NGAKU SAHABAT RIANTI PUTRI ANGGORO PENULIS PANSOS
__ADS_1
Kata – kata itu otomatis, mengundang netizen untuk berkomentar, dan Indah menjadi sangat geram, dan panas akan hal tersebut, tapi di satu sisi lain, hal ini semakin menyadarinya kalau ada seseorang yang juga harus di lindunginya bukan hanya Irfan tapi juga Rianti, dia men screenshot kata – kata itu dan di kirim ke Irfan, bahkan menyimpannya di dalam galeri hpnya.
Emosi yang semakin meledak, membuat Indah berteriak sendiri di dalam kamarnya.
“Bangsattttttt”, !!! teriaknya keras, hal itu mengundang Rini ibu dari Indah yang mendengar, masuk ke dalam kamar, Indah dan kemudian, dia menangis di pelukkan, Rini mengadu semua apa yang di rasakan oleh, Indah mengenai fans lovers tersebut, dan tentang Mira juga, dan teryata yang putus hubungan persaudaraan dengan Indah itu hanya Mira saja, tapi bukan yang lainnya, sebenarnya lebih tepatnya, adalah Mira, yang sedang tidak di akui oleh keluarga lagi, oleh keluarga Indah.
Selama ini, memang Mira, itu tinggal seorang diri di tempat kosnya, dia sudah tidak tinggal bersama orang tuanya, sejak dia menjadi admin fans lovers Irfan tersebut, dan Mira memang sengaja mengumpulkan orang – orang yang butuh uang tapi dengan cara tidak halal, orang – orang yang gila obsesinya, tapi tidak peduli akan perasaaan artisnya, orang – orang yang menduakan Allah, mendewakan manusia, hanya kecintaan yang terlalu tinggi, terhadap ketenaran seseorang, dan orang yang mata duitan, suka mencari untung dari orang lain, apalagi perlu di aku Irfan Santoso.
Adalah sosok artis, yang punya wajah tampan, bukan hanya tenar sebagai host pendamping Aji yang sebagai host Kebajikan, tapi dia punya kelebihan indigo, atau orang – orang yang bisa melihat, yang orang umum tidak bisa melihatnya.
“Kita semua sangat tahu siapa itu Mira bu….”, keluh Indah, sambil menangis tersedu.
Pada saat mengatakan hal tersebut, Indah tertegun sejenak, membayangkan hal yang sudah lama terjadi, di antara keluarga mereka semua, pada saat Mira, di usir dari keluarga besar, bahkan rumahnya sendiri, karena pernyataan Mira yang menyakitkan, ketika dia baru saja ikut fans lovers tersebut dan jadi admin di sana.
“Wajar saja, aku ikut di fans loversnya Irfan Santoso jadi admin lagi, dia ganteng, indigo, aku bisa ikut terkenal tapi harus susah – susah kerja, enak cari yang praktis langsung terkenal walau numpang terkenal sama orang lain, abis tuh dapat duit, daripada aku di tagih terus sama orang yang aku beli rumahnya karena belum lunas”, kata – kata Mira yang kurang ajar membuat Deswinta ibunda dari Mira dan Rayi bapak dari Mira dengan tajam juga sikap mereka mengusir Mira dari rumah.
“Prakkkkkkk”,
Satu tangan Indah waktu itu langsung menampar wajah Mira, dan kemudian, Indah dengan keluarga lainnya, langsung sepakat membuat surat pernyataan putus hubungan dengan Mira, bahkan orang tua Mira sendiri tidak mau mengakui dirinya anak, mencoret dirinya sebagai anak kandung di pengadilan.
Akhirnya Mira tinggal seorang diri, di rumah kontrakan, karena adanya hal tersebut, dan yang di tempati sekarang sampai saat ini rumah kontrakan Mira, seorang diri, dia ikut fans lovers itu, juga untuk bayar uang sewa, tapi dengan cara kerja yang tidak sehat, dan tidak halal.
“Jadi keberadaan Mira sekarang ini belum di ketahui”, ? tanya Rini.
“Iyah bu”, jawab Indah singkat.
“Aku siap – siap dulu mau ketemu sama Rianti, Irfan dan lainnya tentang masalah ini semua, karena aku siap jadi saksi yang akan bela yang benar bukan yang salah, aku juga akan mengakhiri hidup sebagai boneka Mira dan fans gila pengikut Mira itu juga”, kata Indah.
Dia mencium tangan, Rini dan kemudian, meninggalkan rumah, Indah melangkah meninggalkan komplek perumahannya, dan kemudian, dia berdiri di pinggir trotoar untuk mencegat taksi yang kosong dan berhenti di depannya, dan kemudian Indah, langsung menyebut nama alamat yang akan di tuju olehnya.
“Komplek Mawar Sari Cengkareng Yah”, kata Indah.
“Blok F no 5 “, kata Indah lagi, dan memberikan alamat tersebut, kepada supir taksi itu, yang kemudian mengantar Indah ke alamat yang di tuju olehnya, dan dalam perjalanan menuju rumah Irfan, Indah langsung menelepon Irfan.
“Irfan, saya udah otw ke rumah yah”, kata Indah sambil kemudian mengakhiri pembicaraan dengan Irfan.
“Lha ini bukannya Mbak Indah Safitri yang kemarin di Instragram tersebar itu yah beritanya, apa benar gitu mbak”, ? tanya supir tersebut.
Rupanya, apa yang di sebarkan oleh Mira, sudah menyebar luas kemana – mana, dan untung saja si tukang taksi ini hanya menanyakan baik – baik perihal berita tersebut.
“Itu hoaks, itu bohong justru pelaku yang sebenarnya adalah Mira, dan bapak tahu siapa Mira itu, terus – terang, sekarang saya akui secara pribadi saya sendiri, di luar masalah ini semua, Mira itu sepupu saya yang sudah putus hubungan dengan keluarga, karena banyak melakukan penipuan, bahkan sudah kurang ajar terhadap keluarga hanya karena fans lovers yang di gawangi olehnya sama gilanya dengan Mira, wajar saja pemimpinnya itu Mira”, nada suara Indah yang sedang emosi mulai tinggi.
“Mbak, kalau pakai emosi saya enggak ngerti jadi maksudnya gimana”, ? sahut supir taksi itu.
“Jadi gini ceritanya, Rianti itu penulis yang benar – benar sahabat Irfan Santoso, awal mereka berkenalan aja, bukan Rianti yang ngejar Irfan tapi, Irfan yang menghubungi Rianti lebih dulu pada saat dia mau beli bukunya, dan emang Rianti itu dia posting bukunya, untuk promosi yah bukan pansos, seperti apa yang di nyatakan oleh Mira di artikel caption Instragram, itu semua karangan dia sendiri saja, dan kalau mau bapak percaya saya punya bukti percakapan pertama mereka yang saya simpen juga, itu pun saya menyimpannya atas izin dari Irfan, atau boleh saya hubungi dulu orangnya biar yakin sekarang di depan bapaknya”, ! tegas Indah dengan suara keras dan kemudian menghubungi Irfan di depan supir taksi tersebut.
“Halo asalamualaikum Irfan”, sapa Indah.
“Ini ada tukang taksi yang enggak sengaja nanya tentang artikel di Instragram yang di tulis juga captionnya sama Mira, apa perlu yah saya tunjukkin ke dia, percakapan awal waktu kamu beli buku Rianti dulu”, ? tanya Indah.
“Yah coba tunjukkin saja”, jawab Irfan sambil mengakhiri pembicaraan dengan Indah, dan Indah langsung menunjukkan kata – kata tersebut, yang akhirnya si bapak supir taksi itu percaya dengan kata – kata Indah.
“Jadi sekarang masalah yang sebenarnya gimana Mbak Indah”, ? tanyanya lagi.
“Keluarga Rianti itu cuma kuasai aset dan hartanya Rianti, padahal rumah itu atas nama orang tua Rianti dan milik pribadi, bukan warisan, Om Rianti, curi sertifikat rumah di Tangerang Selatan, yang di bawa kabur sampai sekarang entah kemana, terakhir kabar dari pengacara sudah berpindah tangan dengan orang lain, bisa jadi dengan Mira, sebab Mira itu justru kerjasama dengan keluarga Rianti, buat keuntungan dia sendiri, saya mau klarifikasi semuanya sekarang di sini yah pak”, kata Indah dengan nada suara masih emosi dan hatinya masih panas.
“Apa yang di lakukan Mira terhadap Rianti itu juga sama dengan apa yang di lakukan Mira terhadap Irfan dan mama Vinda ibu dari Irfan serta managernya juga, terhadap Rianti, Mira ingin memecah belah hubungan baik Irfan, dia ambil kesempatan emas di kala Irfan di tuduh oleh keluarga Rianti menghasut Rianti, untuk ganti orang fisioterapi, yang awalnya orang fisioterapi mama Rianti adalah perantara dari keluarga Rianti, padahal itu semua di lakukan justru dari awal sudah ada tanda – tanda kalau mau menguasai harta, Om Hasan suka datang ke rumah Rianti untuk minta uang, sedangkan sosok fisioterapi mam Rianti seperti mata – mata di rumah yang di kirim oleh Desi sepupu Rianti, bahkan mama Rianti stroke karena di guna – guna oleh Tania sepupu dari Rianti juga, yang memaksa keluarga Rianti untuk menjauhi Irfan dengan cara apapun, mereka memaksa kehendak terhadap Rianti dan harus tunduk dengan apa yang mereka, bahkan di dzolimi kalau ada penolakkan dari Rianti dan keluarga, dan Tania itu sendiri, adalah seorang artis yang gagal, dan sejak dia gagal jadi artis, dia kenal wartawan nakal namanya Vina, dan Vina itu juga teryata kenal dengan Mira, bahkan Mira sendiri juga kenal dengan Tania bahkan penonton bayaran yang di suruh dorong Rianti di studio bernama Evan, Ria, dan Eka itu semua adalah teman Tania juga, yang sengaja juga di luar masalah Rianti mereka di bayar untuk menjelek – jelekkan nama artis yang program Tv, agar kalau nanti netizen tahu ada penonton bayaran ratingnya turun, dan perihal masalah Mira, saya tahu semua kebusukkan dia di luar masalah Rianti sendiri juga, terhadap Rianti, dia memanipulasi Rianti dengan cara apa, mama Rianti mau ngomong sama mama Irfan hpnya malah di sadap dan dia yang angkat di bilang Rianti dan keluarganya gila, bahkan di bilang sudah tidur, setelah itu, Mira itu minta uang 3 juta pada Rianti yang katanya mau bantu cari dukun santet untuk Hasan memanfaatkan emosi Rianti yang waktu itu bilang mau santet Hasan, bukan hanya itu saja, Hp Rianti di sadap untuk balas Dm di Instagram Irfan di kala dia mengirim Dm pada Rianti di tulisnya begini Rianti itu orang gila, dan setelah itu dia juga menyebarkan berita hoaks tentang Irfan sendiri
__ADS_1