SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SANG PEWARIS BAB 126 Permintaan Lisa


__ADS_3

"Zul,,kamu ikuti saja kemauan Ibu mertuamu"Bu Ijah menyela percakapan diantara dua orang yang sedari tadi beradu argument"Dia lebih mengerti keadaan anakmu"


Bu Minah menatap sendu dua cucunya"Jika kita bawa ke Rumah Sakit,Dokter tidak akan menemukan gejala apapun Zul.Malah bisa jadi keanehan ini akan menjadi bahan untuk penelitian.Karena anakmu istimewa"Wanita tua itu mengutarakan alasan.


"Aku tidak mau kehilangan mereka Bu"Keluh Zulkarnain.


"Aku juga tidak mau Zul,mereka satu-satunya keturunanku,keluargaku,darah daging ku.Jika aku bisa menukar nyawaku sebagai tebusan,aku akan melakukannya dengan sukarela"


"Lalu kita harus bagaimana Bu?"Zulkarnain sudah pasrah.


"Kita tunggu saja sampai mereka sadar"


Bu Minah memantapkan keputusan akhir yang mau tidak mau Zulkarnain harus menyetujuinya.


"Aku akan disini menemani mereka,kalian istirahatlah"Bu Minah duduk di bibir kasur tepat disamping Lisa.


Zulkarnain melemparkan pandangan kepada Bu Ijah, Bibiknya mengangguk sebagai kode.Zulkarnain akhirnya meninggalkan mertuanya menemani anak-anaknya di kamar.


____


Malam merambat dengan begitu lambat,Zulkarnain berbaring dengan gelisah.Ia tidak bisa melenakan matanya dikarenakan terlalu mengkhawatirkan keadaan putri-putrinya.Ingin sekali ia ikut menjaga si kembar,tapi keinginan Ibu mertuanya tidak berani ia bantah.


Ketika adzan subuh berkumandang,Zulkarnain segera membersihkan diri dan melakukan kewajibannya kepada Allah SWT.Setelah itu segera ia mendatangi kamar si kembar untuk mengetahuinya perkembangannya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,Zulkarnain langsung masuk ke dalam kamar yang tak terkunci.Ia melihat Ibu mertuanya sedang membelai rambut Lucy sambil lalu meniup ubun-ubunnya.Hal yang sama ia lakukan kepada Lisa.


Zulkarnain berjalan perlahan menghampiri,Ia duduk di bibir kasur tempat Lisa terbaring."Apa tidak ada perkembangan Bu?"


Bu Minah hanya menggeleng pelan"Seharusnya Lisa sudah siuman,karena keadaannya jauh lebih baik dari Lucy"


Zulkarnain menatap kedua putrinya dengan penuh kepedihan "Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka Bu?"


Bu Minah terdiam,ia membelai pipi Lisa lembut"Hanya ada satu cara"


Zulkarnain terhenyak,seperti sebuah harapan yang bisa ia gapai.Seperti terjerat kegelapan yang diberkahi cahaya penghilang keputus-asaan."Apa itu Bu?"Zulkarnain bertanya penuh harap.


"Kita harus mengorbankan salah satunya"


"Apa???Tidak!!!aku tidak mau"Zulkarnain menolak keras.


"Jika tidak kita akan kehilangan mereka"


Zulkarnain menatap Bu Minah dengan lekat,meskipun tatapannya tak berbalas.


"Salah satu dari mereka harus meminum darah saudarinya sampai tak tersisa,maka yang meminum darah saudarinya akan bisa diselamatkan."


"Itu sangat kejam sekali Bu"


"Hanya itu cara yang ada"


Zulkarnain mengeleng-gelengkan kepalanya,ia tidak bisa menerima keputusan ini.Dia ingin keduanya hidup bukan hanya salah satunya.


"Kau pikirkanlah dengan matang,atau kau akan kehilangan keduanya"Sambung Bu Minah,Zulkarnain bangkit dan meninggalkan Bu Minah dengan hati yang nelangsa.Tak mungkin dia mengorbankan salah satu Putrinya untuk kehidupan putrinya yang lain,meskipun ia setuju nantinya.Siapa yang akan dikorbankan?? keduanya adalah putri kesayangannya.


Zulkarnain terserempak dengan Nouval yang baru saja menuruni loteng,"Papa??Darimana?"Nouval menengok sekilas ke balik punggung Papanya.

__ADS_1


"Dari kamar Kakakmu"Jawab Zulkarnain pendek.Ia pun menghempaskan pantatnya kekursi makan yang tersedia.


"Mereka nggak masuk sekolah hari ini,karena sakit"Zulkarnain menjelaskan sebelum ada yang bertanya.


"Sakit lagi??sakit apa sih Pa kok selalu sakit"Tanya Nouval begitu polosnya.Zulkarnain bingung mau menjelaskan apa,ia diam seribu bahasa.


"Padahal Kak Lucy kan sakti,kok bisa sakit ya?"


"Namanya juga manusia,ciptaan Tuhan.Lucy memang sakti tapi pasti punya kelemahan"Laras mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Nouval sambil sibuk menata makanan di atas meja.Nouval manggut-manggut tanda mengerti.


Zulkarnain terkesima dengan penjelasan Laras,ia jadi teringat ucapan putrinya terakhir mereka bertemu.Dia menyebut nama Laras sebagai calon Ibu yang baik.


Niken yang menyadari suaminya sedang memandangi Laras sampai lupa untuk mengedipkan matanya,jadi cemburu.Ia menyenggol lengan suaminya dengan menahan geram.


Zulkarnain jadi gelagapan,ia pun mengambil roti untuk menutupi ke saltingannya.


"Mau pakai selai apa Pak?"Laras bertanya dengan lembut membuat Zulkarnain makin grogi.


"Tidak perlu bersikap berlebihan sama suami orang"Timpal Niken seraya bangkit mengambil Roti dari piring Zulkarnain dan mengolesinya dengan selai coklat kesukaan suaminya.


"Begitu aja cemburu"Sahut Laras manyun.


Disaat itulah Bu Minah hadir diantara mereka,ia duduk ditempat biasa diantara Bu Ijah dan Laras.


"Bagaimana anak-anak Bu?"Zulkarnain tetap melontarkan pertanyaan yang sama.Bu Minah hanya menggeleng pelan.


"Mungkin sebentar lagi Lisa akan sadar,aku mau makan dulu,Lapar"Jawab Bu Minah.


___


Dengan tekad yang kuat,Lisa mendail nomor Andrew.


"Hallo"Andrew menjawab dari seberang.


"Kamu dimana?"Tanya Lisa ingin tahu.


"Dirumah,lagi siap-siap untuk pergi ke sekolah"


"Bisa bertemu sebentar"


"Sekarang?"


"Iya"


"Kenapa nggak di sekolah aja?"


"Aku absen sekarang"


"Kenapa?"


"Aku akan kasih tahu kamu,mangkanya datang sekarang ya"


"Kemana?"


"Ke Rumahku,aku tunggu di belakang Rumah"

__ADS_1


"Maksudnya gimana nih?"Andrew merasa aneh dengan permintaan Lisa.


"Datang saja,tapi lewat pintu belakang.Aku mohon"


Tak ada jawaban dalam beberapa saat.


"Mau ya?"


"Emmmm baiklah tapi nggak lama kan?"


"Nggak"


"Ok!"


"Thanks"


Sambungan dimatikan.Lisa tersenyum penuh arti,ia bangkit meraih hodinya lalu keluar diam-diam lewat pintu belakang.


***


Dengan perasaan was-was Lisa menunggu Andrew di halaman belakang rumahnya.Ia takut pertemuannya dengan Andrew akan diketahui oleh penghuni rumah yang lain.


Tak berapa lama,Andrew muncul dari balik pintu pagar belakang yang sengaja Lisa buka sejak tadi.Agar mempermudah Andrew masuk.


"Ada apa sih?kok mau ketemuan ngumpet-ngumpet gini?Kayak orang pacaran yang lagi backstreet aja"Andrew mengomel panjang lebar namun Lisa hanya menanggapi dengan senyuman.Ia meminta Andrew untuk duduk di kursi panjang yang tersedia disana.


"Drew....aku mau minta maaf sama kamu"Lisa mengawali percakapannya.


"Untuk apa?"


"Karena sejak kita kenal aku selalu menyusahkan dirimu,malah maksa kamu untuk jadi penjaga ku agar aku bisa selalu dekat denganmu"


Andrew hanya mengangguk pelan.


"Kamu serius suka sama Lucy?"


Pertanyaan Lisa langsung membuat raut wajah Andrew berubah.Lisa menghela nafas panjang,ia melemparkan pandangannya ke daun-daun pohon akasia yang mengelilingi rumahnya.


"Tolong jaga Lucy ya Drew,karena kamu menyukainya pasti kamu bisa menjaga dia dengan baik"


"Kamu kok ngomong gitu sih,kayak orang mau mati saja"Celutuk Andrew.Lisa tersenyum sumbang.


"Lucy nggak pernah bercinta sebelumnya,dia tertutup tapi baik.Dia pendiam tapi penyabar.Hatinya lembut dan pikirannya dewasa.Bagi orang lain dia aneh,tapi bagiku dia istimewa"


"Dari penglihatan orang-orang aku yang selalu melindunginya,tapi faktanya dia yang selalu melindungiku"


Lisa menjedah kalimatnya,tangannya menggenggam erat tangan Andrew"Tolong jangan pernah kamu kecewakan dia"


Andrew seperti terhipnotis oleh tatapan Lisa yang nampak membendung tangisannya.Meskipun ia tidak mengerti apa yang terjadi,tapi kepalanya mengangguk pelan menandakan kesanggupan.


Lisa tersenyum puas melihat jawaban Laki-laki yang sangat ia kagumi.Ia menarik kepala Andrew lalu mendaratkan ciuman ke bibir laki-laki itu.


Mata Andrew membulat sempurna mendapat perlakuan yang begitu agresif dari Lisa.Meskipun itu hanya sekian detik,tapi cukup untuk membuat meriang seluruh badannya.


"Pergilah"Lisa bangkit lalu masuk ke dalam Rumahnya.Andrew pun belum sempat mengatakan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2