
Khasya memeluk Ariya dengan penuh kasih sayang. Bima dan lainnya datang ketika mendengar pulangnya salah satu saudari mereka.
"Jadi pria itu menyundutmu jika tak diberi ciuman?" tanya Bambang menahan amarahnya.
"Pertama dicubit kecil. Ketika beranjak empat belas tahun, dia melakukan itu," jelas Ariya.
"Jadi Kakak dibawa lari sama Mama Ena, setelah nyaris diperkosa?" Ariya mengangguk membenarkan.
Khasya memeluk erat putrinya yang ketika pergi begitu bahagia. Memiliki ayah dan ibu berkebangsaan asing, terlebih sepasang suami istri itu sangat sayang anak-anak.
"Sayang, kau sudah membalas mereka kan?" tanya Khasya pada suaminya.
"Tentu sayang. Kini mereka tidak memiliki apa-apa. Semua aset dan harta harus disita oleh Bank," jawaban Herman menenangkan Khasya.
Terra melihat banyaknya bekas pukulan dan sundutan rokok. Ia sangat yakin jika Ariya kini mengalami trauma hebat. Lidya memastikan dalam pelukannya. Ariya meraung hingga tak sadarkan diri.
"Mama ... Kak Ariya sudah diperkosa," ujar Lidya lirih.
Terra, Khasya dan lainnya menutup mulutnya. Herman mengepal tangannya keras. Rupanya hukuman yang ia berikan terasa kurang.
Ariya dibaringkan di kamarnya. Lidya menangani gadis itu. Wanita hamil itu mencopot baju Ariya, terdapat banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Lidya menutup mulut.
"Astagfirullah!" ujarnya sedih sekali.
"Nak?" Terra dan Khasya tentu sedih.
"Kak Ariya dilecehkan secara brutal Ma," ujar Lidya lirih.
"Apa benar putriku diperkosa?" tanya Khasya dengan tatapan kosong.
Lidya memeriksa keseluruhan. Di sekitar pangkal paha Ariya memang terdapat beberapa bekas luka.
"Tidak sampai menembus selaput daranya Bun, tapi kekerasan itu membuat Ariya trauma sampai sekarang," jawab Lidya sedikit menghela napas lega.
Setelah memasang baju yang dikenakan Ariya, gadis itu terbangun. Lidya kembali memeluknya.
"Aku kotor Lid," Lidya menggeleng kuat.
"Tidak Kakak masih suci!' tekan wanita itu.
"Kakak sangat kuat, hingga trauma kakak bisa dilalui begitu baik. Walau kakak masih ada ketakutan, tetapi semua normal," jelasnya lagi.
"Kami bersamamu sekarang Nak. Jangan khawatir," ujar Khasya menenangkan anak gadisnya.
Semua bayi mengerubungi Ariya kembali. Mereka yang sangat ingin tau apa yang terjadi.
"Ata', teunapa padhi Ata'pinsan?" tanya Arraya.
Ariya tentu tidak mengerti bahasa mereka. Kaila menterjemahkan bahasa adik-adiknya.
"Oh ... astaga, mereka menggunakan bahasa bayi?!' seru Ariya gemas bukan main.
Lambat laun Ariya mengerti bahasa bayi. Khasya senang melihat Ariya tak lagi berwajah muram. Para bayi mengobati ketakutan gadis itu.
Rio menatap dalam sosok yang baru hadir di sana. Pria itu memastikan jika apa yang ia rasakan adalah murni rasa sebenarnya.
__ADS_1
"Netranya masih memendar luka yang begitu dalam. Apa aku sanggup menyembuhkannya?" tanyanya dalam hati.
Juan menatap pandangan rekan kerjanya. Rio termasuk pengawal sesi kedua, pria itu datang ketika Rasya dan Rasyid lahir.
"Kau akan sulit mendapat gadis itu Rio," ujarnya memperingati.
Rio menoleh, mukanya sedikit memerah karena malu dipergoki tengah memandangi seorang gadis cantik.
"Juan,"
"Nona Ariya pasti akan dilindungi penuh oleh Ayah. Kau tidak akan bisa menyentuhnya sebelum kau membuat gadis itu jatuh cinta," terang Juan lagi.
Rio menurunkan bahunya. Sebuah keinginan untuk mendapatkan sang gadis sudah diberi rintangan begitu berat.
"Nona Ariya baru saja dilukai begitu dalam. Pasti ia tidak akan percaya penuh jika ada yang mencintainya secara tulus," lanjut Juan mengingatkan.
Rio menghela napas panjang. Itu yang sulit. Pria itu masih ragu dengan apa yang ia rasakan sekarang.
Selain Rio, ternyata Remario tengah mengamati Ariya. Tak ada yang spesial dalam pandangannya kecuali perasaan iba. Pria itu memutuskan pandangannya. Bayangan mendiang istrinya masih kuat dalam ingatan pria itu.
"Yah, aku besok mau pergi ke daerah H, pinjam bodyguard mu," pinta pria berusia hazel itu.
"Boleh," angguk Herman.
"Eh ... bukankah kau punya pengawal sendiri?" tanya pria tua itu.
"Ah ... aku lupa!" Remario menepuk keningnya.
Ariya menatap sosok pria yang berbicara dengan ayahnya. Sosok tampan tentu idola semua perempuan. Netra hazel milik pria yang belum ia kenal. Pria itu tersenyum ramah.
Gadis itu mengangguk kepalanya begitu juga Remario. Tidak ada jabatan tangan, Ariya masih takut dengan pria asing.
Rio menatap pandangan gadis yang baru saja ingin ia perjuangkan. Tatapan Ariya pada Remario membuat ia harus menyerah kalah.
"Dia menyukai Tuan Sanz," gumamnya lirih.
Remario pergi bersama tiga pengawalnya. Ariya menggeleng pelan, ketampanan Remario memang membuat gadis mana saja akan terpesona.
'Aku tidak pantas. Sungguh, aku tidak pantas dengan siapapun!' tekannya bermonolog dalam hati.
Sore menjelang, Herman memenuhi janjinya memberikan satu ruko untuk usaha Ariya. Gadis itu menatap bangunan yang akan menjadi pusatnya berkarya.
"Ini terlalu besar Yah," cicitnya lirih.
'Ini pantas untukmu sayang. Kau harus buktikan pada ayah!" tekan pria itu.
Ariya memeluk ayah angkatnya itu. Kesalahan terbesarnya meninggalkan sepasang suami istri yang begitu mencintainya.
"Makasih Ayah. Ariya pasti buktikan pada Ayah, jika Ariya mampu!" ujar gadis itu.
Herman mengangguk. Tak lama beberapa etalase dan benda-benda yang diperlukan Ariya berdatangan. Herman memodali penuh putrinya itu.
Memang Ariya diperlakukan berbeda. Semua saudaranya sukses di bidang mereka dengan usaha sendiri. Tidak ada yang iri, bahkan mendukung keputusan Herman.
"Besok kau bisa membeli bahan-bahan untuk perhiasanmu sayang," ujar Herman lembut pada Ariya.
__ADS_1
Ariya mengangguk, ia sudah punya aksesnya untuk itu. Bahkan kualitasnya sangat baik dengan nilai grade A bintang lima.
"Rio, Glen dan Ferdy. Kau mengawal Ariya ya!' perintah Herman pada tiga pria bersetelan hitam-hitam.
Ketiganya membungkuk hormat. Ariya sedikit mengeratkan tangannya.
"Hanya sementara saja sayang. Kami kekurangan personel bodyguard perempuan," ujar pria itu menenangkan putrinya.
Ariya pun mengangguk, ia pasti percaya pada keputusan sang ayah. Sementara di sebuah benua di sebuah kota.
Seorang wanita mendatangi sebuah distrik tahanan penjara. Boxter ditahan karena pemalsuan sertifikat data dan banyak lagi. Herman benar-benar menghabisi pria itu.
"Apa yang kita lakukan Heiter?" tanya Boxter lirih.
"Kau yang bersalah, kenapa bertanya padaku?" desis wanita itu tak mau tau.
"Aku sudah menggugat cerai dirimu!' Heiter menyodorkan sebuah map.
"Kau mau bercerai setelah aku miskin?' desis Boxter marah.
"Oh ... ayolah!' Heiter memutar mata malas.
"Putrimu harus memiliki ayah yang kuat dan hebat juga kaya raya!" lanjut wanita itu memandang remeh pria yang menatapnya marah.
"Kau tak punya apa-apa Boxter!'
"Aku tidak akan menceraikanmu!" teriak pria itu ketika Heiter memilih pergi.
Wanita itu tak peduli. Ia naik sebuah mobil mewah, di dalam putrinya tersenyum manis di bangku belakang. Heiter duduk di sisi kiri kemudi.
"Apa kalian siap?" tanya pria tampan yang ada pada kendali mobil.
"Siap!" teriak keduanya senang.
Mobil bergerak, Heiter tersenyum bahagia sepanjang perjalanan. Netra pria pengemudi mobil melirik spion tengah memandang sosok cantik yang duduk manis di belakang.
Kedua mata bertemu, Angel mengerling genit dan membasahi bibirnya dengan lidah, menggoda pria yang mengemudi.
"Sayang, apa kau mau membelikan aku bunga?" pinta Heiter mesra pada pria mengemudi.
"Sayang. apa kau juga mau?" tawar sang pria pada Angela.
"Of course Daddy!" pekik Angel senang.
Dua buket bunga cantik berada di tangan dua perempuan yang tak kalah cantiknya dengan bunga. Heiter memagut pria itu penuh napsu. Angela menatap cemburu, tapi ia segera merubah mimiknya ketika sang ibu menatapnya bahagia.
Malam tiba, Heiter baru saja terlelap setelah bercinta dengan hebat dengan suami barunya. Pria itu turun dari ranjang. Menutup pintu perlahan. Kakinya beranjak pada sebuah kamar.
"Hon ...."
Pintu terbuka, tiba-tiba tubuh besar pria itu seperti ditarik ke dalam kamar. Tak lama, di kamar itu terjadi peristiwa yang tak kalah panas dengan kamar sebelumnya.
Bersambung.
Dah ... pas kan ...
__ADS_1
next?