SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
WE ARE BROTHERS


__ADS_3

Sean, Al dan Daud adalah kembar identik yang lebih mirip Terra. Sedang Nai mirip sang ayah, Haidar.


Tiga pemuda berusia sembilan belas tahun itu sedang menikmati kopi buatan Sean. Daud adalah seorang dokter spesialis jantung termuda. Sedang Al dan Sean pengusaha yang meneruskan pekerjaan ayah mereka.


"Mas Trio, Kak Kean sama Kaka Cal belum datang ya?" tanya Al sambil melihat jam mainan yang ia beli dulu ketika waktu TK.


'Weh ... jam tangan kamu antik Bro!' seru Daud melihat jam tangan itu masih muat di lengan saudara kembarnya itu.


"Habis aku kalo pake yang mahal suka ilang. Jadi sayang aja," jelas Al.


"Oh ... Gue kira Lu nggak mampu beli," sahut Daud.


Sean datang membawa tiga piring nasi goreng buatannya sendiri. Lalu ia pergi lagi ke dapur membawa tiga piring sisanya. Tak lama Kean, Cal dan Satrio datang.


"Mana makanan!" seru Kean langsung duduk.


Pemuda itu menyambar piring yang ada di meja. Daud menahan tangan Kean yang hendak menyuap nasi.


"Ih ... apa sih!" sungut Kean protes.


"Berdoa dulu Kak!" peringat Daud.


"Hehehehe!' Kean hampir lupa.


Setelah berdoa mereka menyuap nasi goreng sama-sama. Hari jumat ini Sean ingin berbagi. Ia mau menggratiskan semua menu kafenya usai sholat Jumat. Maka itu semua saudaranya ada di sini.


"Daddy tau nggak ya kita ngilang?" tanya Satrio tiba-tiba.


"Sejak kapan Daddy nggak tau kalo anaknya ilang?" sahut Al.


"Palingan entar lagi Papa Gio, Papa Dahlan atau Papa Fio ada di sini!' lanjutnya lalu menandaskan nasi goreng di piringnya.


"Eh ... gimana habis ini kita main-main!' ajak Calvin.


'Kemana?" semua kompak bertanya.


"Ke markas mafia," bisik Calvin menjawab sambil matanya melihat keadaan.


"Kamu gila!" protes Sean tak setuju.


"Ck ... ayolah ... masa Satrio aja dulu yang berhasil membombardir markas itu!" bujuk Calvin lagi.


Jiwa muda mereka langsung bergolak. Adrenalin mereka terpacu. Sean belum mengumumkan makanan gratis semua menu di kafenya.


"Tapi niat baik gue gimana?" tanyanya gusar.


"Kamu serahin sama Kak Lorry dan tim lah!' ujar Calvin memberi ide.


"Gimana?" tanyanya lagi.


Sean meremas jari jemarinya. Ia begitu gugup, begitu juga yang lainnya. Sebenarnya Calvin juga tak kalah gugup.


"Takut dimarahin Mama," cicit Al.


Enam pemuda itu tentu sangat sayang pada ibu mereka. Tetapi, sebuah ide penuh tantangan telah diungkapkan. Mereka benar-benar ingin berpetualang.


'Masa cuma Sky sama Bomesh aja yang sering berpetualang!?" bujuk Calvin lagi.


"Oke deal. Tapi kalo dimarahin, kita hadapi bareng-bareng ya?" sahut Satrio.


"Oke!" seru lainnya setuju.

__ADS_1


Mereka pun bergerak cepat. Satrio tetap bagian kemudi dengan Kean menjadi jokinya. Sedang yang lainnya di belakang.


"Kalian siap?!"


"Siap!" seru semua kompak.


Mobil bergerak, tentu saja keberadaan mereka tercium. Kean adalah putra seorang mafia begitu juga Calvin. Sedang Sean, Al dan Daud, ibu mereka adalah perusak distrik D dan seorang hacker handal. Satrio? Ayahnya paling ditakuti semua orang bahkan mafia paling kejam tunduk pada pria itu.


"Trio, kita diikuti di jarak dua meter!' seru Kean melihat spion.


"Weh ... kita jumatan dulu keles!" seru Al mengingatkan saudaranya.


"Ah!!!" pekik semua kesal.


Akhirnya, mereka membelokkan kendaraan di sebuah masjid besar di pusat kota. Beberapa pria berpakaian serba hitam langsung mengikuti. Sean kesal, ia memberi kode pada lima saudaranya yang lain.


"Berpencar!" Sean menggunakan bahasa isyarat.


Kean dan Al mengambil wudhu di keran paling ujung, yang lain bergerak ke arah lain. Para pengawal mengikuti.


Sedang di tempat lain. Virgou mengendus rencana para remaja yang beranjak besar itu. Pria sejuta pesona tentu sangat terasah kepekaannya.


"Kau mau bermain dengan Daddy Babies?" seringainya mulai sebal.


"Oke ... Daddy turuti!" lanjutnya.


"Dahlan, minta semua pengawal menjauhi anak-anak!' perintah Virgou.


'Maaf ... tidak mau Tuan!" tolak Dahlan lalu mematikan saluran headsetnya.


"Anak sialan!" teriak Virgou kesal.


"Eh ... tapi kalo ada apa-apa sama anak-anak?" Virgou mulai ngeri sendiri.


"Daddy mau kemana?" tanya Arfhan.


"Daddy mau jumatan di tempat lain sayang," jawab pria itu lalu mengecup putra angkatnya.


"Kamu jagain semuanya ya!' lanjutnya memberi perintah.


Pria itu berjalan santai. Terra melihat kakaknya bukan menuju masjid bersama yang lain curiga. Wanita itu mengikuti kakak sepupunya itu secara diam-diam.


Virgou menaiki Jogger milik Saf dan juga helm Sinchan. Perlahan, motor itu melesat keluar. Terra bergegas menaiki motor ninja milik Putri.


"Mama pawu teumana?" seru Della tiba-tiba.


Jangan tanya bayi-bayi lain. Mereka semua ada bersama para ayah dan ibu mereka.


"Mau pergi Baby,'' jawab Terra.


"Itut!" Della memasang wajah garang.


Terra gemas, ia menyambar kain panjang dari jemuran didekatnya. Lalu mengangkat Della dan menggendongnya di dada. Terra sengaja menghadapkan bayi itu ke depan.


"Siap Baby?"


"Siyap Mama!" seru Della semangat.


Terra menggeber motor besar itu. Melesat mengeja Jogger yang dikendarai Virgou. Hanya butuh dua puluh menit. Terra berhasil mendapatkan di mana kakak sepupunya berada.


'Ke masjid pusat kota? Ngapain?" tanyanya.

__ADS_1


"Shoyat sumat tali Ma!" jawab Della.


Terra memilih memarkirkan motor tak jauh dari Jogger. Ia turun menuju kedai kecil dan makan di sana.


"Wah pasti di sana seru nih!' ujar Terra ketika melihat jam tangannya.


Sholat Jumat selesai. Semua orang keluar dari masjid. Tentu saja keramaian membuat Terra kesulitan mendapatkan Virgou.


'Ah itu mereka!' sahutnya senang.


'Mama sepet Mama! Daddy nait moton Muma ladhi!' seru Della malah ikut antusias.


Terra berlari ke motornya. Ia pun menaikinya setelah mengenakan helm dengan benar. Dalam sekejap, jalanan ibu kota terjadi kejar-kejaran antara pengemudi mpv dan beberapa pengendara motor.


Di villa Bart memaki semua pengawal yang tidak becus menjaga Virgou. Bahkan Gomesh ikut kena semprot pria gaek itu.


"Grandpa!" peringat Khasya sedih.


"Jangan membelanya Khasya!' teriak Bart.


"Susul dan seret mereka pulang anak sialan!" lanjutnya memberi perintah.


Gomesh langsung bergerak, ia juga tak menyangka tuannya bisa lepas dari penjagaan. Semua anak menangis karena buyut mereka emosi dan marah besar.


"Ayo sini-sini, jangan ganggu Grandpa dulu ya," ajak Dinar pada semua anak.


"Ata' Della judha ilan ... hiks!" adu Rinjani.


"Apa?" tanya Bart makin emosi.


"Siapa yang berani menculik cucuku!" lanjutnya marah.


Pria gaek itu tak sabaran. Ia menuju mobil, Budiman, Haidar dan Fio mengejarnya.


"Mau apa kau?" desis Bart.


"Ikut!"


Budiman mengambil alih kemudi. Bart duduk di sisi pria itu. Lalu lainnya naik di bangku belakang.


"Daddy nggak ikut?" pertanyaan konyol terlontar dari Demian pada ayahnya.


"Ck!" Dominic berdecak sebal.


Sementara di jalanan, Satrio berhasil mengelabui para pengawal dan lolos dari pengejaran.


"Hahaha ... kalian berurusan dengan shadow Angel, papa-papa pengawal!" tawanya meledek.


Sementara itu Rion menatap pergerakan semua keluarga yang saling berkejaran.


"Sayang ... kamu mau ikut?" tawarnya pada sang istri.


"Lagi hamil gini?" Rion mengangguk.


"Ayo lah!" sahut Azizah langsung mengikuti langkah suaminya.


"Babies ... kita ketemu di gerbang markas mafia ya!" seru Rion lalu menekan pedal gasnya.


Bersambung.


Huuwwaaaa!

__ADS_1


next?


__ADS_2