SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
THE SNIPER 2


__ADS_3

Kedatangan Rodrigo tentu diketahui Virgou. Pria dengan sejuta pesona itu langsung mendatangi perusahaan Herman. Walau ia sangat tau jika Herman mampu menghadapi Rodrigo. Tetapi Virgou ingin sekali melihat bagaimana mafia yang ia tau itu berhadapan dengan ayahnya.


"Aku ingin lihat cecunguk itu berhadapan dengan Ayah," monolognya dengan seringai menyebalkan.


"Tuan!" Gomesh mengitili dia dan jangan lupa Satrio dan David.


"Ah ... kalian nggak asik!" gerutunya sebal.


"Mau ke ayah kan?" tanya Pablo dan Fabio bersamaan.


"Kalian urus perusahaan!" titah Virgou.


"Ikut!" Satrio tak mau kompromi.


Bahkan David dan dua ajudan kepercayaannya tak peduli. Semua mau ikut. Akhirnya dengan wajah kesal Virgou mengijinkan semua ikut dengannya.


Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua pekerjaan memang sudah rampung. Terlebih waktu makan siang akan datang. Gomesh membawa mobil tuannya dan berisi lima orang di dalamnya. Hanya butuh waktu sepuluh menit Jeep putih milik Virgou berhenti di depan lobi perusahaan.


Virgou berjalan cepat tak peduli dengan resepsionis yang menyambutnya. Semua mengikuti langkah cepat pria sejuta pesona itu.


"Ayah!" panggil Virgou ketika masuk ke ruangan pria kesayangannya.


Herman menoleh, wajah datar dan bengis berubah lembut dan penuh kasih ketika menatap orang yang masuk. Rodrigo dan Norman terpana melihatnya.


Virgou melirik pria yang duduk memandangi ayahnya. Virgou berdecih tak suka.


"Ehem," Herman menormalkan wajah datarnya.


"Silahkan lanjutkan Tuan Andriano!" ujarnya tegas.


Rodrigo menelan saliva kasar. Kini ia berhadapan dengan BlackAngel, ia sangat mengenal sosok bermata biru yang duduk di sisi Herman. Bahkan ada The Giant di sana.


Rodrigo kembali mereview kerjasama yang ia sodorkan. Memang perusahaan miliknya baru lah tumbuh, tetapi ketika melihat semua rekap kerja dan bagaimana perusahaan itu bergerak selama dua dasawarsa itu sangat gemilang dan mampu bersaing.


"Baiklah ... aku akan memberi suntikan dana pada proyek ini. Sebesar dua puluh persen!" putus Herman ketika melihat peluang yang ada.


Rodrigo tak menyangka hal itu ia sangat gembira luar biasa.


"Apa itu benar Tuan?" tanyanya.


"Tentu ... jika dilihat prospek ke depannya sangat menguntungkan dan bisa dinikmati dalam jangka waktu lama," jelas Herman lagi.


Kali ini Virgou mengangguk setuju. Ia juga mau berinvestasi dengan bisnis yang ditawarkan mafia kelas tiga itu.


"Bawa proposal ini ke perusahaanku nanti sore!" titahnya.


"Baik Tuan!" sahut Norman dan Rodrigo bersamaan.


Mereka berjabat tangan setelah Herman menandatangani kontrak. Pria itu begitu tegas dengan semua persyaratan yang ia ajukan.

__ADS_1


"Ayah ... lapar!" rengek Satrio.


"Kita makan Baby," ajak Herman pada semuanya.


Rodrigo sudah pergi dari ruangan itu. Pria itu menuju sebuah restoran internasional. Sedang Herman membawa semua anaknya ke kantin perusahaan Terra.


Empat mobil bergerak. Rodrigo yang baru mau masuk restoran melihat pergerakan mobil. Memang jarak restoran dan perusahaan Herman sangat dekat. Iringan mobil mewah menandakan jika pemilik perusahaan pergi dari sana.


"Tuan?" panggil Norman.


"Ikuti mereka yuk!" ajak Rodrigo kemudian.


Butuh waktu lima menit mereka mencari keberadaan mobil-mobil mewah itu. Beruntung empat mobil tadi berhenti di lampu merah. Semua kendaraan bergerak setelah lampu hijau menyala. Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sampai di perusahaan Terra.


"PT Hudoyo Grup?" Rodrigo membaca plang perusahaan.


"Cari tahu!" titahnya kemudian.


Melalui internet di ponsel Norman. Tentu pria itu tak kesulitan mencari tahu perusahaan yang didatangi mereka itu.


"Ini perusahaan milik keponakan dari Tuan Triatmodjo Tuan!" sahut sang supir yang membawa mereka.


"Oh ya?"


"Benar Tuan. Bahkan ada satu perusahaan yang bergerak bidang keamanan data yakni Hudoyo cyber tech!" jawab supir itu lagi dengan nada bangga.


Norman memberikan ponsel yang berisi artikel perusahaan yang dimaksud. Rodrigo berdecak kagum. Betapa hebatnya perusahaan itu bahkan masuk sebagai perusahaan cyber pertama dan terbesar di dunia.


"Tuan Andriano? Kau mengikuti kami?" tanya Kean yang mengenal mereka.


Rodrigo tersenyum ramah. Ia mengira Kean adalah DeathAngel atau ShadowAngel, putra dari BlackAngel.


"Saya hanya penasaran Tuan Black Dougher Young," ujar Rodrigo sok akrab.


Kean tentu tak bisa melarang orang yang kepo dengan keluarganya. Virgou menggandeng tangan putranya itu, sedang Satrio menggandeng pria idamannya, Gomesh.


"Tuan?" Herman mengernyit heran.


"Tuan ijinkan saya ikut makan bersama anda," pinta Rodrigo setengah memelas.


Herman menghela napas panjang lalu ia pun mengangguk. Mereka duduk dengan meja berjejer. Kantin tentu dibuat sepi oleh semua pengawal. Darren datang bersama Azizah.


"Ayah, Daddy, Papi!" seru Azizah lalu mencium tangan ketiga pria itu begitu juga pada Gomesh.


"Papa," rengek Azizah pada pria raksasa itu.


"Duduk sayang," pinta Gomesh lalu membisikkan sesuatu pada Azizah.


"Oh ya?" tanya wanita yang sedang mengandung itu.

__ADS_1


Gomesh mengangguk. Mereka pun duduk. Semua mata menatap tajam Rodrigo dan Norman. Tentu dua pengawal pria itu tak bisa berkutik dan hanya ikut makan di meja yang tak jauh dari meja tuannya.


"Silahkan ini menunya Tuan," ujar pekerja kantin.


Usai memesan menu. Mereka makan dengan tenang. Selesai itu, baik Rodrigo dan Norman seperti mati kutu.


"Mungkin sebaiknya kalian langsung ikut saya ke perusahaan untuk kerjasama itu!" sahut David mengingat.


"Ah ... iya," sahut Norman tergagap.


Rodrigo dan Norman tak mengenal David. Namun jika melihat kemiripan David pada Virgou diyakini jika David saudara dari pria berjulukan BlackAngel itu.


Malam berlalu, Rodrigo sebenarnya senang karena mendapat dua kerjasama sekaligus. Kini ia duduk di balkon dengan tatapan menerawang. Jika di negaranya, ia tentu sudah bermandi peluh dan mengerang nikmat bersama beberapa wanita bayaran. Pria itu sedikit tertohok dengan ucapan resepsionis tadi.


"Katanya hotel ini berkelas. Tapi tak bisa menyediakan yang aku minta!" ledeknya menghina.


"Apa yang anda minta itu bukan sesuatu yang berkelas Tuan!" ujar sang gadis dengan tatapan galaknya.


Rodrigo membaca name tag yang terdekat di dada gadis itu. Baju formal dengan warna coklat tua. Tidak ketat dan sangat sopan.


"Sashiana L.," gumamnya menyebut nama gadis yang menatapnya galak.


Rodrigo kembali mengingat apa yang dikatakan gadis itu hingga membuatnya berpikir panjang di balkon sekarang.


"Kawasan berkelas tidak menyediakan perempuan yang bisa dimasuki siapa saja Tuan!" ujar sang gadis tegas dengan pandangan jijik padanya.


"Apa terlalu kotor?" ujarnya berpikir.


Pria itu sangat penasaran. Ia ingin sekali berbincang dengan gadis yang sangat membuat ia sangat kesal. Ia keluar dari kamar mewahnya. Mencari keberadaan sang resepsionis.


Sashi tengah berganti tugas dengan rekannya. Gadis itu mendapat lembur hari ini. Memang ia butuh uang untuk pengobatan sang ibu yang kini berada di rumah sakit. Walau semua biaya sudah diringankan oleh hotel di mana ia bekerja. Tetapi ada beberapa treatment yang membutuhkan dana besar untuk itu.


Sashi duduk di kantin dengan makanan soto ayam dan nasi putih. Ia cukup kelaparan hingga tak sadar sosok pria tampan duduk di depannya.


"Hai," sapa Rodrigo.


Sashi menoleh, gadis itu berdecak kesal dan melanjutkan makannya. Jika biasanya Rodrigo tak perlu susah payah mendapat seorang perempuan. Kini ia harus berusaha sangat keras mendapat perhatian dari Sashi yang memandangnya dingin.


"Leo ... awasi Rodrigo Andriano!" titah Virgou di mansion miliknya.


"Baik Tuan. Dia tengah berusaha menggoda karyawati hotel milik Tuan Pratama!" lapor Leo.


"Awasi jika bertindak, tendang dia!" titah Virgou tegas.


"Baik Tuan!"


bersambung.


Ah ...

__ADS_1


Next?


__ADS_2