
Bart dan seluruh keluarga mulai mempersiapkan diri. Dua hari lagi mereka berpuasa. Terra merasakan perubahan besar setelah salah satu putrinya sudah tidak tinggal lagi dengannya.
"Ada apa sayang?" tanya Haidar.
"Te nggak nyangka jika putri kita sudah menikah sayang," jawab wanita itu parau.
Haidar mengecup pelipis istrinya. Waktu memang tidak bisa dicegah. Kini dua bayi kembarnya sudah bersekolah taman kanak-kanak. Bahkan Gino telah masuk kelas satu SD.
"Anak-anak juga sudah tambah besar," lanjutnya.
"Kita tambah tua sayang," kekehnya lagi.
Haidar mengeratkan pelukannya. Ia juga sudah mulai mempersiapkan putra-putranya menggantikan posisinya sebagai CEO.
Darren sudah memiliki asisten baru. Rommy telah pensiun, putrinya menggantikan dirinya bekerja sebagai asisten kedua. Sedang putri dari Aden juga menggantikan pria itu menjadi vice CEO.
Jabatan Devina Adenia Putri menjadi buah bibir di seantero kantor. Usia gadis itu baru dua puluh tahun lebih muda dua tahun dibanding Rematha Adi Sofyan, putri dari Rommy.
"Ayo, kita turun sayang," ajak Haidar.
Mereka turun bergandengan. Hunian besar itu sudah penuh dengan anak-anak yang hendak ke sekolah dan bekerja. Harun, Bariana, Azha, Arraya dan Arion tentu tidak lagi memakai bahasa mereka. Mereka sudah berusia enam tahun.
Di bawah mereka masih ada Della, Lilo dan Seno, Ari dan Aminah yang berusia lima tahun. Lalu disusul oleh Arsyad, Aaima dan Fathiyya juga yang berusia empat tahun setengah. Kemudian Rinjani, Maryam, Aisya, Fatih, Al dan El, Bara, Dita, yang berusia tiga tahun setengah. Kemudian, Zizam, Izzat berusia tiga tahun, Arsh, Alia, Fael, Angel, Xierra, Meghan, yang berusia dua tahun setengah disusul Zaa, Nisa, Chira, Aarav, Aaric, Alva, Sena berusia dua tahun.
Vendra, Zora, Horizon, Nabila, Sabila, Hasan dan Hapsa juga Faza baru sembilan bulan.
Harun memakai seragam sekolah dasar dengan dasi merah. Puspita berkali-kali menciumi putra bungsunya itu.
Harun menikmati ciuman sang ibu. Bocah itu duduk dipangkuan wanita yang melahirkannya.
"Mommy," rengek Bariana pada ibunya.
"Pa'a sih Ata' Baliana teunapa Ommy selalu dipelintah?" ketus Maryam yang tak suka salah satu ibunya dipersulit.
"Kakak nggak suka brokoli, tapi Mommy masih kasih!" rengeknya.
"Tan ipu badhus Ata'!" sahut Aisya.
"Iya ... sama kayak wortel yang kamu nggak suka!" ketus Bariana.
"Baby!' peringat Rion.
Semua anak akhirnya pergi ke sekolah. Della yang menjadi pengawas ulung bagi semua adiknya. Balita itu selalu saja bisa menggagalkan usaha adik-adiknya mengerjai para bodyguard yang baru saja bergabung.
"Atuh au lelenan Ata'!" pekik Aarick kesal.
"Janan duyu Baby!' peringat Della.
"Tolamna palu pipatein tapolit!" lanjutnya.
"Tapoyit pa'a Ata'?" tanya Rinjani.
"Tapolit ipu sesenis pahan timia peumpeulsih ail tolam!" jelas Della.
"Baby ... ayo latihan!" ajak Dahlan pada Della.
Balita itu tentu sigap, Della mampu menjalani rintangan yang diberikan oleh Dahlan. Bahkan bayi itu mampu melempar pisau-pisau kecil tepat sasaran.
__ADS_1
"Tuan Fael!" teriak Dian berlari mengejar Fael.
Fael tergelak, di tangannya ada sepatu entah milik siapa yang hendak ia lempar ke kolam.
"Apah Sesel!" pekik Zaa.
Bayi satu tahun itu menggulingkan pot bunga besar. Entah dari mana tenaga bayi itu. Sedang saudara kembarnya bertepuk tangan menyemangati. Lastri menghela napas panjang.
"Putriku!" keluhnya.
"Umih ... Aav peltan!' teriak Aarav yang melompat dari kursi. Luisa berbinar melihat dua bayinya ikut mengerjai para pengawal.
"Mereka sehat ... mereka sehat!' serunya terharu.
"Tinti Sosa!" panggil Aaric genit.
Dinar berdecak mendengar nada itu. Putranya yang paling ajaib tak jauh beda kelakuannya dengan semua saudaranya.
"Babies ... makanan!"
"Holeee!" pekik semua bayi.
"Peulhenti!' Arsh merentangkan tangan. Semua bayi diam tak bergerak.
"Pita susi tanan Pulu!' perintahnya.
Para bayi bergerak menuju keran pendek dekat taman. Para pengawal tentu harus mengawasi mereka agar tak terjadi main air.
Setelah cuci tangan, barulah mereka makan dengan tenang. Xierra menyuapi Alia dengan telaten.
"Sama-sama sayang," ujar Maria.
"Mumi ... tutu!" pekik Hasan pada ibunya.
Layla menyodorkan botol susu pada putra dan lainnya. Bayi sembilan bulan memang sudah bisa makan makanan pendamping. Seruni sudah menyiapkannya.
Setelah makanan habis, para bayi barulah tenang. Mereka tidak lagi mengganggu para pengawal.
"Ata' ... peubental ladhi puasa ... tatana pita eundat poleh matan pama binum ya?" tanya Aaima pada Arsyad.
"Biya ... tatana judha bedhitu!" jawab Arsyad.
"Api ... Api!"
Meghan berjalan tertatih dan mendekati ayahnya. Dahlan memangku putra tunggalnya itu. Tak lama bayi tampan itu terlelap dalam pangkuannya.
"Sama Abi aja, kamu kalem Baby," Rahma gemas dengan putranya itu.
Dahlan mengecup cepat kening istrinya. Rahma tersipu dibuatnya.
"Mas,"
"Aku merindukanmu sayang," goda Dahlan.
"Ih ... mas ... malu!" bisik wanita itu ingin sekali mencubit pinggang ramping suaminya itu.
Dahlan masih bertubuh tegap dan tak mengalami gembur. Pria itu menjaga tubuhnya.
__ADS_1
"Apa kita hanya punya anak satu sayang?" tanya Dahlan terkekeh.
"Anak kita banyak sayang," ujar Rahma lalu menatap semua bayi yang kini mulai mengantuk.
Dahlan terkekeh, besok pertama puasa semua ayah yang akan menjaga anak-anak mereka. Felix, Dahlan, Gio, Hendra, Juno dan Juan akan membantu para pengawal mengawasi anak-anak mereka.
"Tadi saja putri tuan besar sudah melakukan aksinya. Padahal dia baru satu tahun," lapor Rahma.
"Putri ketua melakukan hal yang lebih seru sayang," kekeh Dahlan mengingat bagaimana Angel masuk guci," kekeh pria itu kembali mengingat.
Rahma tertawa lirih, lalu ia melihat bagaimana Luisa malah semangat ketika salah satu anaknya berhasil mengerjai pengawal.
"Astaga ... Nyonya Luisa!' Layla menggeleng melihat tingkah wanita itu.
"Tidak apa-apa sayang, itu menandakan jika Zora pintar," ujarnya.
Dari semua bayi memang Zora bertubuh mungil. Bayi mau satu tahun itu memanjat tubuh kekar Exel dan tidur dalam pelukan pria tampan itu.
"Dia akan cepat memberimu menantu Nyonya!" kekeh Layla.
Luisa berdecak, namun ia langsung tersenyum. Berharap jika usianya panjang dan melihat sepasang anaknya itu menikah nanti.
"Aku yakin kau akan memilihkan yang terbaik untuk mereka sayang," ujar Luisa sendu.
"Nyonya," Layla merasa bersalah.
"Tidak sayang ... kau tidak salah," ujar Luisa.
"Aku minta jaga mereka seperti kau menjaga Hasan dan Hapsa ya!' pintanya lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Nyonya ...."
"Mumi ... Fatih mawu bobo!" teriak Fatih yang kesal ingin tidur.
Rosa mengambil alih bayi tampan itu lalu menggendongnya. Tak lama Fatih terlelap dalam gendongan pengawal cantik itu.
"Apah Cicel!" Rinjani mendatangi Michael lalu meminta gendong.
Michael dengan sigap mengambil bayi cantik dan menidurkannya dalam gendongan.
"Jika sudah nyenyak bawa mereka ke kamar ya!" pinta Najwa.
"Iya Nyonya!' sahut semua pengawal yang menggendong para bayi.
Bersambung.
Eh ... udah gede aja Harun.
mau masuk season baru sang pewaris nih.
Novel Judul THE BIG FAMILIES.
Mengisahkan petualangan baru para perusuh paling junior.
Aksi Harun yang kelas satu SD.
next? New novel ya! apa tetap di sini?
__ADS_1