
Irfan turun, dari mobilnya, dan langsung memesan pesan banyak mie rebus, yang bukan untuk orang di rumah saja, melainkan Rendy yang mau datang ke Villa kami, dan dia juga memesan minuman teh Tarik panas, yang juga orangnya berjualan di sebelahnya, setelah itu Irfan membawanya masuk ke dalam mobil, lalu melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Villa.
Setibanya di Villa, kami semua langsung menyantap makanan tersebut, dalam waktu bersamaan Rendy, datang dan ikut makan sambil menjelaskan tentang penyelidikannya itu mengenai informasi terbaru lagi dari timnya.
“Rendy itu kita baru beli tadi, mie rebus dekat sini, yang jualan teryata ramai juga”, kataku sambil menyuap makanan ke dalam mulut.
“Inget kamu, mau ke Villa ini juga, jadi gimana informasi barunya”, ? timpal Irfan.
Rendy menyuap dulu makanan ke dalam mulutnya, dan baru dia mengatakan apa yang di ingin di ucapkannya kepada kami semua.
“Jadi begini Fan”, Rendy ingin memulai kata – katanya.
“Dari laporan tim, Elin di cari ke rumahnya, enggak ada, tapi tetangga sana sempat ada yang pergokki, kalau dia pergi bawa tas, ransel sama jinjing sama dua orang perempuan juga satu laki – laki udah yang setengah tua gitu, sekitar umur 50 ke atas”, Rendy menjelaskan kepada aku dan yang lainnya.
Aku sudah bisa menebak, mereka kemana pergi, dan laki – laki itu adalah Om Hasan, aku mendengarkan, apa yang di ucapkannya, benar – benar, buat aku merasa lemas, dengan semua kata – kata Rendy.
“Yah begini jadi saya menduga, kalau memang, sertifikat yang di rumah Pak Hasan, sudah berpindah – pindah ke orang lain, karena Pak Hasan sendiri, itu komplotan dengan Mira, Tania, Desi juga Elin, dan emang pas waktu itu tim kami ke Bandara Soekarno Hatta, dan di sana kami juga dapat laporan ada saksi pegawai yang melihat mereka juga pergi ke arah tujuan Jakarta Palembang dengan penerbangan jam 8 pagi” kata Rendy melanjutkan ucapannya.
“Dan menurut keterangan hasil penyelidikkan, sebenarnya masalah Tania artis gagal itu sendiri di luar masalah ini, selama ini emang Tania dan ibunya Ratna, mereka itu sengaja orang – orang yang mencari hatters artis agar mereka naik daun, dan bisa di kenal jadi mereka terkenal dengan cara enggak halal gitu, dan mereka bisa dapat fans juga di bayar bukan murni, bukan hanya itu, mereka itu orang yang sering berbohong kepada orang lain agar di puji”, Rendy meneruskan pernyataanya sambil menyuap makanannya lagi ke dalam mulut.
“Jadi intinya apa sertifikat itu di serahkan kepada Ratna”, tanyaku.
“Bisa jadi begitu”, jawab Rendy.
“Saya sudah menduga kalau cerita tentang manager artis yang bernama Laras Putrid dan artis penyanyinya itu juga adalah Amelia Putri, adalah bohong”, kataku melanjutkan ucapanku.
“Mereka mau mendoktrin mama dan papa, seolah mereka orang yang paling benar sedunia, padahal belum tentu begitu, waktu itu saya penasaran, saya coba DM Instragram Kak Amelia langsung dan langsung di balasnya olehnya, katanya justru mereka yang berulah, jadi pada saat audisi untuk ikut satu team manager dengan Kak Amelia, emang dari penilaian itu enggak cocok suaranya Tania, namun di balikkin cerita managernya yang sombong, padahal menurut Kak Amelia sendiri Kak Laras orang yang baik hati”, kataku bercerita panjang lebar.
“Terus terang, sebenarnya aku agak kenal dengan Laras, dia orangnya emang baik, dia suka berbagi juga dengan orang lain, dan ramah, tapi emang kalau seleksi satu team maneger dengan dia itu peraturannya agak ketat, bukan masalah sombong, yah mereka tuh tipe orang yang menjelekkan orang lain dan ngomporin juga emang”, timpal Irfan.
“Penipu sinting” gumanku sambil menyuap lagi makanan ke dalam mulutku.
Rendy melihat waktu di layar Hp, dan kemudian dia berpamitan pulang, sedangkan aku dan Irfan melanjutkan obrolan di depan Tv.
“Sebenarnya kadang aku merasa enggak tenang, dengan keadaan yang belum benar – benar selesai begini”, keluhku.
“Mereka bisa saja masih meneror ke tempat ini juga Fan”, kataku lagi.
“Kamu tahu kan mereka tuh ibarat punya seribu mata”, aku meneruskan ucapanku.
“Aku merasa hidup enggak tenang, selama mereka masih belum menghilang dari kehidupanku”, aku menangis dan tidak kuat menahan batin apa yang aku rasakan ini, selama ini terhadap sikap keluargaku yang sangat menyakitkan bagiku.
“Mungkin emang sebaiknya putus hubungan saja dengan mereka, melalui surat pernyataan, dan surat itu di keluarkan ketika, sertifikat yang asli sudah kembali ke tangan kamu, dan kalau mereka masih meneror akan di gugat untuk selanjutnya”, kata Irfan.
“Lebih baik aku bersama kamu, mama Vinda, dan papa Rizal, cici Putri di banding mereka semua”, timpalku.
“Aku udah terlalu sakit dengan apa yang mereka lakukan padaku, dan mudah – mudahan mereka dapat balasan yang benar – benar lebih dahsyat dari apa yang mereka lakukan padaku selama ini, buat aku udah seperti hampir kayak orang gila”, aku melanjutkan kata – kata dengan perasaan yang sangat emosi mengingat mereka semua.
“Aku paham Ri”, sahut Irfan.
Ketika kami berdua sedang mengobrol, mama Vinda keluar dari kamarnya, dan menegur aku yang masih duduk di depan Tv bersama Irfan.
“Rianti”, tegur mama Vinda.
__ADS_1
“Mama”,
“Papa”,
“Udah tidur Ri”, ? tanya mama Vinda.
“Iyah tadi udah pada masuk kamar”, jawabku.
“Mama mau keluar beli cemilan, sekalian kalau mereka juga mau ngemil”, kata mama Vinda.
“yah udah biar saya tanyain dulu”, kataku mulai melangkah ke arah ke dalam kamarku, dan aku membuka pintunya, aku berdiri di ambang pintu melihat ke arah mereka, yang nampaknya masih mengobrol sambil baringan di tempat tidur.
“Mama”,
“Papa”, tegurku.
“Mama Vinda, mau beli cemilan, mau nitip”, ? tanyaku.
“Sosis bakar boleh tuh mau mama”, jawab mama.
“papa pengen gorengan aja”, timpal papaku.
“Yah udah aku mau es kopi aja juga”, sahutku.
Baru saja, aku mau membalikkan badanku, dan mulai melangkah ke arah keluar kamar, mama dan papa memanggilku, untuk masuk ke dalam kamar dan mengajak aku bicara, dan aku menuruti mereka.
“Mudah – mudahan tempat ini aman, dan enggak ada gangguan keluarga sebenarnya yang kasihan itu kamu nak, mereka mau harta kita doang, bahkan ngadu domba kamu sama mama dan papa, padahal kami sebagai orang tua yang lebih tahu kamu daripada mereka”, kata mama.
Aku tertegun mendengar kata – kata mama, dan baru saja ingin mendengar kata mama dan papaku selanjutnya, dari luar mama Vinda sudah mengetuk pintu sambil memanggil namaku.
“Yah mama Vinda”, ! seruku dari dalam kamar dan membuka pintunya.
“Jadi nitip apa”, ? tanya mama Vinda.
“Kalau saya sih es kopi aja”, jawabku.
“Mama sama papa nitip juga makanan sih papa gorengan dan mama sosis bakar”, kataku lagi.
“Mama Vinda, Irfan kalau belum tidur suruh ke kamar yah, kami mau bicara dengan Irfan”, ! sahut mama.
“Iyah belum, nanti saya kasih tahu dia yah”, sahut mama Vinda, sambil membalikkan badan, dan aku menutup pintu kamar kembali, aku mengajak mereka mengobrol lagi, entah kenapa bagiku, kata – kataku, seperti menimbulkan sebuah firasat yang tidak enak berada dalam hatiku, aku hanya tertegun duduk di samping tempat tidur mereka, dan kemudian menoleh ke arah mereka sesuatu yang tersirat di hati, akhirnya aku ungkapkan juga.
“Sebenarnya maksud mama dan papa apa ngomong begitu”, ? tanyaku sambil menundukkan kepala.
“Kalau Irfan belum tidur, suruh ke sini kita mau ngomong juga”, kata mama, belum lama kemudian, setelah mamaku mengucapkan hal itu, Irfan akhirnya tiba di kamar mereka, dan duduk di sampingku.
“kenapa mama Reina”, ? tanya Irfan.
“Papa Anggoro”, mata Irfan melihat keduanya dengan penuh penasaran, dan pada akhirnya mama yang angkat bicara lebih dulu sambil menelan ludahnya.
“Ini masalah umur enggak ada yang tahu orang, apalagi yang muda, kalau emang ada apa - apa sama kami berdua, atau salah satu dari kami, kami berdua nitip Rianti sama kamu yah”, mama.
“Iyah apalagi papa juga kakinya basah diabetes”, sahut papaku.
__ADS_1
Aku kembali tertegun mendengar kata – kata itu, keluar dari kamar mama dan papa, dan sambil melamun berjalan ke arah kamarku, dan kemudian mengambil laptop, kembali menulis novelku, agar mampu membuang pikiranku yang sekarang ini sedang kusut.
Ketika aku tengah menulis, Irfan terdengar membuka pintu kamarku sedikit dan melongo ke arah dalam kamar, dan dia terlihat terdiam sejenak, barulah masuk ke dalam kamarku, dan berdiri di sebelahku, Irfan memerhatikan wajahku yang sedang galau sebenarnya namun sedang menulis juga.
Irfan terlihat dia membaca pikiranku, dengan terdiam tidak bicara sejenak namun pada akhirnya dia bicara kepadaku, menegurku seakan memang sudah paham apa yang tersirat di dalam hatiku.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan saat ini, dan sebenarnya aku juga tahu kalau, kamu nulis pikiran kamu, bukan ke tulisan kamu tapi ke tempat yang lain, dan aku mengerti apa yang kamu rasakan itu berat banget, kalau orang terdekat kamu itu mendzolimin kamu, bahkan mau kuasai harta kamu gitu, curi sertifikat rumah kamu, uang kamu, buat kamu tertekan di dalam rumah kamu sendiri, dan bikin kamu stress, dengan keadaan mama kamu, juga, padahal semua dalangnya adalah mereka, dan lagi – lagi mereka, untung saja, mama orang yang stroke tapi memorinya masih bagus, walau aku perhatikan kadang lupa dan inget, terus kadang bertingkah agak sedikit kayak bayi, tapi masih bisa bersikap biasa, karena kadang, ada orang stroke yang benar – benar otaknya mengecil, karena menurut orang di luar sana, rata – rata yah memang penderita stroke, yah aku tahu, dan yang aku alami sendiri, biasanya kadang emang mereka suka bertingkah kayak anak kecil, dan kadang suka depresi akan keinginan yang belum terpenuhi, suka kadang pikun juga, tapi untung mamaku belum seperti itu, memorinya masih bagus, pada waktu di cek dia kadang hanya lupa sedikit kalau yang sudah lama yang baru masih ingat”, kataku panjang lebar.
“Dan kadang suka histeris juga”, aku meneruskan ucapanku.
“Tapi sekarang udah enggak pernah kayak gitu lagi sih”, aku melanjutkan kata – kataku.
“Orang stroke itu harus dalam keadaan atau suasana yang tenang, karena setahuku, pas moodnya lagi enggak bagus, dia bisa ke bawa emosi suasana yang hawanya lagi enggak enak juga, apalagi ada kiriman gaib dari keluarga kamu juga, kadang yang iblis itu manusia bukan yang enggak terlihat, dan lebih jahat dari pada setan”, Irfan memberikan nasehat sedikit.
“Kamu tahu istilah puter giling”, Irfan duduk di pinggir tempat tidurku, dan aku mulai fokus untuk mendengarkan apa yang di katakan oleh Irfan.
“Semacam kayak pelet juga tapi bukan pelet jadi mereka mendoktrin seseorang ke otak seseorang, itu lewat makanan, dan itu yang di lakukan sama keluarga kamu, mencari juga kesempatan di mana mama kamu ada siklusnya dia suka lupa ingat”, Irfan meneruskan ucapannya.
“Yah udah Fan, aku jadi inget tadi kamu di panggil sama mama dan papa di kamarnya, kamu masuk saja sendiri, sama mama Vinda ke sana, kalau belum tidur, aku mau lanjutin nulis dulu”, kataku kemudian.
“Oke”, ! seru Irfan.
Laki – laki, itu kemudian beranjak dari pinggir tempat tidur, yang baru saja di dudukkinya, dan kemudian meninggalkan kamarku, sedangkan aku melanjutkan tulisanku, sebenarnya kadang di waktu tidak berbuat apa – apa di dalam kamar sendiri, ingin rasanya mengobrol dengan teman aku, seperti teman kuliahku dulu, tapi mereka tidak jauh bedanya dengan keluargaku yang hadir karena ada maunya, akhirnya ku putuskan, aku mematikan laptop untuk mencurahkan isi hati hanya kepada grup penulis di whatsapp grup saja itu pun dengan mereka aku tidak pernah cerita mengenai keberadaanku sekarang ini di mana, kadang menaruh kepercayaan dengan orang lain tidak sembarangan orang lain juga, aku hanya menceritakan apa yang ku rasakan dan yang ku alami saja, dan tiba – tiba saja ada chattingan dari Debby seperti dia sendiri mendapat informasi namun belum jelas.
“Rianti apa benar tuh yah, tapi saya juga Cuma dengar – dengar aja, ah bisa saja gossip lagian juga sumbernya dari grup di whatsapp mama kamu dulu, kan dia sejak stroke juga udah enggak pegang Hp kan”, kata Debby.
“Itu teman mama saya gimana kamu bisa kenal Deb”, ? tanyaku.
Dari sorot mataku membaca kata – kata dari chattingan Debby mulai ke arah serius, aku penasaran ada hubungannya apa Debby dengan teman mamaku, selama ini pun kalau ketemu di kantor penerbit tidak pernah cerita apapun.
“Jadi Ri ceritanya terus – terang, temanku itu anak teman mama kamu, dan aku baru tahu dari dia itu juga cerita dari mamanya, pasti mama kamu kenal dengan Diah kan, dan teman aku ini adalah anaknya Tante Diah itu, nama temanku adalah Chika”, jelas Debby padaku.
“Dia cerita, katanya kamu itu di hasut oleh Irfan, tapi apa benar begitu, rasanya aku enggak percaya aku tahu Irfan orang yang kayak apa sama kamu”, Debby meneruskan kata – katanya.
Ketikan Debby di tulisan whatsapp aku perlihatkan pada Irfan, dan Irfan mulai berpikir dengan kata – kata, entah kenapa rasanya dia seperti ada sesuatu hal yang amat di cemaskan olehnya, aku yang duduk di sebelahnya, hanya menunggu kata - kata darinya, keluar dari mulutnya, dengan perasaan resah, takut kalau memang terjadi lagi teror, akhirnya mereka tahu lagi di mana aku bersembunyi dengan mama dan papaku.
“Aku takut ada mata – mata lagi”, guman Irfan.
“Tapi aku mau telepon dulu malam ini Rendy”, Irfan meneruskan ucapannya dan mulai mencari nama Rendy di dalam kontak Hpnya, dan kemudian dia langsung meneleponnya, dan saat itu Rendy tetap mengangkat telepon, walau dari suaranya terdengar dia sudah nampak mau tidur.
“Halo asalamualaikum Rendy”, sapa Irfan di telepon
“Walaikumsalam”, balas Rendy.
“Ren, saya jadi ikut panik juga lagi kalau begini ceritanya, kamu udah baca kan chattingan di whatsapp grup teman mama Reina, ada kata – kata hasutan dari saya, padahal kamu tahu sendiri Ren, enggak ada hasutan dari siapapun dan apapun, dan saya tahu ini fitnah dari keluarga Rianti, yang menjurus nantinya akan meneror lagi, dan saya jadi penasaran kenapa bisa Debby ngomong gitu kan pas, ada sumber awal orang yang ngomong lebih dulu, dan Debby juga bukan orang yang tahu jelas ceritanya, dan hanya kita yang tahu, di sini saya benar – benar jadi tahu juga semua orang terdekat Rianti mau di singkirkan dengan cara apapun, saya enggak masalah secara karir nama saya jadi jelek, karena saya bukan orang yang egois memikirkan diri sendiri, justru saya lebih sangat memikirkan apa yang di rasakan oleh Rianti dan saya tahu, sejak kejadian itu, juga Rianti dan orang tuanya, sudah benar – benar enggak mau pisah sama saya dan keluarga saya, yang di anggapnya sebagai pelindung mereka”, kata Irfan panjang lebar.
“Fan, fitnah terbesar sekalipun yang kamu rasakan itu karena kamu sebagai pelindung Rianti, jadi itu resikonya, yah sekarang begini saja, saya coba selidiki Debby ini coba saya bicara dengan dia dan mamanya, itu sumber dari siapa, jangan – jangan bisa jadi emang dasar si grup whatsapp teman mama Reina itu tukang orang nambahin keributan juga”, sahut Rendy.
“Yah saya minta nomornya Debby yah sama Rianti”, Irfan mengakhiri pembicaraan dengan Rendy, dan mendengar kata – kata itu aku langsung mengirim nomor whatsapp Debby kepada Irfan melalui Hp mama yang aku pegang, karena mama sudah lama tidak pernah untuk pegang Hp lagi juga.
“Sekarang semuanya yang awalnya terlihat manis, dan sebenarnya busuk terbongkar semua, pantas saja, emang benar teman mama aku, kalau ke rumah juga cuma ada maunya mereka semua, kamu mau tahu apa Fan”, kataku.
“Mereka cuma mau memanfaatkan aku aja, mentang – mentang, aku kenal dan berteman dengan seorang artis apalagi punya kelebihan yang orang indigo, dasar mereka enggak jauh beda sama fans kamu Fan”, aku menyambungkan lagi kata – kataku, sambil mengambil cemilan yang aku taruh di sebelah kananku.
__ADS_1