
Sore menjelang, Virgou datang bersama Budiman dan Gomesh. Tiga pria itu seperti shock setelah melewati apa yang baru saja terjadi.
"Mas, minum dulu," ujar Gisel lalu memberi air putih pada tiga pria itu.
"Duduklah dan ceritakan apa yang terjadi?" ujar Bart.
Virgou, Gomesh dan Budiman duduk, mereka seperti menghela napas panjang.
"Tadi kejadian yang benar-benar tak bisa masuk di akal," ujar Virgou.
"Kami menemukan mumi hidup,' lanjutnya.
"Apa maksudmu? Fir'aun masih hidup?' tanya Bart tak percaya.
"Bukan Fir'aun Grandpa ... tapi manusia sudah seperti mumi. Tubuhnya kaku seperti kayu, tapi masih bernapas. Bahkan ketika kami datang, dia menoleh pada kami!' jelas Virgou.
"Ah ... andai tadi boleh difoto!" sahut Budiman.
"Kenapa kau tak foto?" tanya Bram.
"Nggak boleh Pa!" sahut Budiman.
"Yang lebih mengerikan adalah, mumi berjenis kelamin pria itu tengah memutar simpul sihir sambil merapal mantra," ujar Virgou yang membuat semua bergidik ngeri.
"Lalu apa sekarang masih hidup?"
"Kombespol terpaksa menembak jantungnya sampai tiga kali membaca takbir. Baru mumi itu mati," jawab Virgou.
"Apa kasus ditutup?" Virgou mengangguk.
Polisi melepas kita dan menyelidiki kasus kanibalisme yang mungkin terjadi sekitar 1947. Karena ada tiga tengkorak tergantung dan sebagian menjadi fosil," jawab Virgou.
"Mungkin keluarga tiga orang itu sudah tidak ada lagi," sahut Gomesh.
Kombespol Rikwanto mendatangi keluarga Dougher Young. Pria itu mengatakan jika kasus terpaksa ditutup, Adiba menatap empat sosok yang tersenyum padanya.
Levina Sarah Van Deighill mendekati gadis itu.
"Kau sudah tenang ... pergilah!" pinta Adiba.
Semua menoleh, Adiba seperti menatap orang lain, gadis itu terus membaca doa yang ia tahu. Kekuatan setan memang sangat menggoda manusia. Bagaimana setan bekerja agar manusia lalai pada Tuhannya.
"Kau gadis yang kuat, Nak," pujinya.
"Terima kasih,' lanjutnya.
Wanita itu menggandeng dua anak kembarnya, sang pria mengangguk dan akhirnya mereka pun menghilang. Suasana mendadak sejuk. Mereka seperti tersadar akan sesuatu.
"Astagfirullah ... kenapa seperti kita baru terbebas dari sesuatu ya?" pekik Gio.
"Simpul sihir sudah terbuka. Alhamdulillah, Adiba paling kuat dari kita semua. Terima kasih ya sayang," ujar Kanya.
Gadis itu dicium oleh Terra. Wanita itu tentu sangat berhutang budi pada Adiba. Berkat gadis itu dua anak kembarnya selamat.
Satrio menatap gadis yang akan ditunggu besarnya itu. Remaja yang sudah menjadi pemuda itu hanya bisa menatap gadis pujaannya.
"Sudah, yang penting kita belajar agar memperkuat iman kita terhadap sang pencipta," ujar Maria.
Semua pun mengangguk lega. Deni meminta maaf pada semua atas kejadian yang sangat luar biasa ini.
"Sudahlah, ini memang sudah digariskan. Arion dan Arraya memang dipanggil untuk membebaskan Sarah dari simpul sihir itu," ujar Bart.
"Oh ya, kemungkinan kami akan langsung pergi ke Eropa, kami akan mengajak Alya ikut serta karena Juno memang bertugas untuk mengawal semua anak-anak saya!' lanjutnya.
__ADS_1
"Layla sudah menjadi bagian dari kalian. Kami tentu harus melepaskannya," ujar Deni.
Akhirnya semua bisa bernapas lega. Garis polisi dibuka, anak-anak perempuan banyak yang kembali ke rumah itu.
"Udah nggak serem lagi. Malah sekarang nyaman dan adem," ujar Sania.
Bart mengelus kepala salah satu putri angkatnya itu. Leon dan Frans sudah berkali-kali menelepon dirinya. Dua pria itu ingin bertemu dengan semua adik-adiknya.
"Jika kalian sebagian tinggal di Eropa mengurus masjid dan pondok pesantren yang baru kami bangun, apa kalian mau?" tanya Bart.
"Kami mau Papa, asal Papa percaya pada kami!' jawab Lia.
Bart memeluk anak-anak itu. Entah dari mana rasa sayang itu muncul tetapi, pria itu sudah mulai takut kehilangan mereka.
"Tapi, nunggu kalian lulus dari ponpes di sini ya!" ujarnya mulai posesif.
Azha, Harun dan Bariana kini duduk di dekat Arraya dan Arion. Bukan tiga batita itu saja. Maryam, Aisya, Al Fatih, Fathiyya, Aaima, Arsyad, Al dan El Bara juga duduk di sana.
"Zadhi watu peultama datan Salah ipu Syudah datanin tamu?" tanya Azha.
"Butan datan, Pati nundu pi palit bintu!" jawab Arraya.
"Tamal pita udah banas ya peubelum Ata' Pida naji,' lanjutnya, Arion mengangguk membenarkan.
"Watu ipu tata Ata' Tean tamu pate pahasa peulanda?' tanya Harun.
"Badhaibana pisa?" lanjutnya.
"Eundat pahu ... pahu-pahu atuh pisa aja!" jawab Arion juga tak mengerti.
"Eh ... tata Apah Palen, Daddy mutul pentolat woh!' ujar Maryam.
"Butan pentolat Yan pisonjot!" sahut El.
"Atuh eundat peulnah pihat pentolat?!" sahut Arsyad.
"Tata Apah, pentolat ipu peulpuat dali tulan pelulan!" jawab Maryam.
"Tulan pelulan?" tanya Al Bara kini.
"Biya tulanna tatana pudah zadhi posil!" ujar Maryam sok tahu.
"Posil pa'a?" tanya Fathiyya.
Samudera, Benua, Sky, Domesh san Bomesh hanya mendengar cerita adiknya itu begitu juga Ajis, Amran, Ahmad, Alim, Aminah, Leno, Lino, Lana dan Ari. Mereka juga sebenarnya tak begitu nyaman ketika awal datang. Hanya saja mereka tidak tau jika dua adik mereka yang menjadi sandera makhluk halus itu.
"Jadi sebenarnya, menurut Baby Ay, Sarah itu orang atau hantu?" tanya Samudera.
"Eundat pahu Ata'. Wowan ipu banana Salah pan sepil dithu nomonna!' jawab Arraya.
"Anatna judha tembal ... pati bitenbat pama teuntala Sepan!' lanjutnya.
"Biya, tatana Judah bedhitu!' sahut Arion mengiyakan perkataan saudari kembarnya.
"Syantit eundat Salah ipu?" tanya Al Fatih.
"Syantit tadan-tadan ... pati suta natutin, batana suta teluan peundili!" jawab Arion kini.
"Uh ... soba Baliana judha itut pihat Salah pas teluan matana!" sahut Bariana sok berani.
"Pemana Ata' bawu napain?" tanya Aaima.
"Bawu Ata' puan matana zauh-zauh!" jawab Bariana.
__ADS_1
"Aya peulnah puan mata Salah yan sopot,' sahut Arraya.
"Telus ... Salahna namut eundat?" tanya Arsyad penasaran.
"Uh butan namut ladhi. Pita hampil dizambat untun Ata' Dipa datan telus nolon pita tanan Salah bitopon!'
"Dipotong Baby," ralat Sky.
"Iya ... batsudna ipu!'
"Motonna pate pa'a?" tanya Aisya penasaran dan setengah takjub.
"Pate tanan Ata' Adipa ... eh ... pita beulum pilan tanan Ata' ipu pilu!" ujar Arion mengingat.
"Atuh yan pilanin!' ujar Al Fatih.
Bayi belum dua tahun itu langsung mengunjungi ayahnya. Ia mengatakan apa yang dikatakan kakaknya.
"Tangan Kak Adiba dipakai memotong tangan Sarah?" bayi tampan itu mengangguk kuat.
Semua pun kini ke kamar Adiba. Herman mengambil tangan sang gadis kecil, Adiba terkejut hendak menyembunyikan ruam yang membuatnya kini panas dingin itu.
"Kenapa nggak bilang?" tanya pria itu tak suka.
"Maaf Ayah," cicitnya.
Terra dan Khasya menangis melihat tangan Adiba yang membiru. Azizah sampai tak mau melihat tangan adiknya itu. Herman kembali mengambil garam dari sakunya. Pria itu membaca doa dan membalurkan garam itu pada tangan Adiba yang membiru.
'Aaaahh!' pekik gadis itu kesakitan.
"Istighfar, Nak!" suruh Herman.
"Astagfirullah hal'adzim!' teriak Adiba. "Sakit Ayah!'
"Terus istighfar, Nak!'
"Huuuu ... sakit ... sakit!" pekik Adiba kesakitan.
Virgou langsung mendekati dan memeluknya erat, pria itu terus membisikkan istighfar pada gadis itu. Adiba memekik sambil beristighfar.
"Alhamdulillah!' ujar Herman ketika lengan gadis itu tak sebiru sebelumnya.
"Itu tadi mengapa Ayah?" tanya Terra sambil mengusap air matanya.
"Tangan Adiba nyaris busuk karena bercampur dengan sesuatu yang memang tak boleh ia sentuh. Namun berkat kekuasan Allah, semua sudah bisa dikembalikan," jawab pria tua itu.
Semua bernapas lega. Akhirnya semua benar-benar sudah berlalu. Adiba tertidur lelap. Ia tak lagi menahan kesakitan.
Malam tiba semua tidur dengan tenang. Sosok remaja tampan menatap gadis yang makin hari makin cantik itu.
"Dik ... berat sekali hari ini kau lalui. Maaf Mas Satrio ternyata tak bisa menjagamu," ujarnya penuh sesal.
Remaja itu mengecup kening Adiba. Memang salah, tapi Satrio sudah mengikat kuat gadis itu dengan cincin di ibu jarinya.
Adiba membuka mata, ia mengusap cincin di jarinya.
"Berkat cincin dari Mas Satrio lah, Adiba kuat dan berani perpanjangan Allah ada di cinta Mas Satrio," gumam gadis itu pelan.
Bersambung.
Ah ... ternyata cinta Mas Satrio karena Allah yang melindungi Adiba.
next?
__ADS_1