SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PULANG


__ADS_3

Besok semua pulang. Ella, Bastian, Billy dan Martha sedih bukan main. Mereka ingin kakak-kakaknya tinggal bersama mereka.


"Huuu ... kakak di sini aja ya hiks ... hiks!"


"Babies ... kami banyak kerjaan di sana," terang Arimbi meminta pengertian.


"Huuu ... kakak hiks ... hiks ...," Widya juga sedih ditinggal para remaja..


Persoalan Fernandez diselesaikan secara damai. Pria itu hanya ingin salah satu keturunan dari Dougher Young menjadi miliknya.


"Menikahlah ... enak tau menikah!" seru Bart kesal bukan main.


"Tapi Satrio bukan anakmu, jadi boleh buat aku!' seru Fernandez.


"Dia punya bapak namanya Herman Triatmodjo ... kau tau siapa dia?!" sahut Bart kesal bukan main.


"Ya, anaknya juga banyak ... jadi ...."


Bart tak tahan dan menghajar pria itu hingga dipisahkan oleh Gabe dan Michael. Satrio mendatangi Fernandez dan menolak mentah-mentah keinginan pria itu menjadi putranya.


"Apapun yang kau minta aku berikan sayang," ujar pria itu penuh permohonan.


"Maaf, tapi ayahku jauh lebih kaya dibanding denganmu," tolak Satrio tegas.


Hal itu membuat Fernandez menangis tersedu. Bart jadi sedih dibuatnya, sebenarnya koleganya itu baik hati dan penyayang. Satrio tak peduli, ia tentu lebih memilih ayahnya dan ayah-ayahnya yang kini menunggu mereka pulang.


"Adopsi anak saja," Fernandez menolak.


"Tidak, aku tak mau mengambil anak yang tak jelas asal-usulnya!"


Akhirnya Gabe membawa Fernandez ke sebuah panti asuhan di pinggir kota. Pria itu begitu takjub melihat banyak anak-anak, juga bayi-bayi.


"Kusarankan, ambil anak dari bayi lalu didik dia seperti mau mu tuan," sahut Gabe memberi saran.


"Tapi siapa yang merawatnya?" tanyanya dengan netra berbinar menatap bayi-bayi yang sangat tampan dan cantik.


"Ini kembar sepasang tuan," sahut salah satu petugas.


Fernandez langsung mendekati boks bayi sepasang. Netra mereka hitam pekat dengan kulit kemerahan rambut juga pirang.


"Mereka semuanya cantik dan tampan ...!' seru Ferdinand setengah merengek.


"Ada berapa bayi di sini?"


"Ada sembilan bayi tuan," jawab petugas.


"Apa ada yang bersaudara dengan mereka?" tunjuk pria itu pada anak-anak berusia dua dan tiga tahun.


"Ada tuan, itu Juan dan Diego lalu adiknya yang kembar sepasang ini. Lalu Gloria dan adiknya yang ini baby Shaza ...."


Petugas menjabarkan siapa saja kakak beradik di antara mereka. Pria itu mengambil empat bersaudara yakni Juan, Diego dua anak belum bernama karena ibu meninggal ketika melahirkan sedang ayah mereka entah kemana.

__ADS_1


"Aku menamainya Rios dan Sabrina," ujar Fernandez dengan mata berbinar.


Empat anak diadopsi dan langsung memakai nama belakangnya Fernandez. Pria itu mengucap terima kasih pada Gabe dan meminta maaf atas kegaduhan yang ia perbuat.


"Katakan pada Satrio aku masih sangat mencintainya ... jika ia butuh ayah baru ... aku siap jadi ayahnya!' tekan pria itu.


Gabe hanya menghela napas panjang. Akan sulit melepas Herman, bahkan Gabe jika bersama pria itu tak mau berpisah.


"Tuan, jika boleh jujur aku mau menukar ayahku dengan ayah dari Satrio," aku Gabe dalam hati.


Pria itu menceritakan semuanya pada Bart dan dua ayahnya, yakni Leon dan Frans, kecuali isi hatinya.


"Dasar Fernandez, dia kira dia bisa mengalahkan Herman Triatmodjo," keluh Bart.


"Nini, Nai pulang dulu ya," ujar Nai pamit pada Lastri dan Najwa.


Dua wanita itu sedih. mereka memeluk para remaja perusuh senior.


"Hati-hati ya sayang," ujar keduanya.


Semua remaja mengangguk, lalu memeluk Widya. Bart juga pergi bersama delapan cucunya. Ia mendatangi dua menantunya.


"Aku harap dalam waktu dekat mendapat kabar bahagia dari kalian," ujar Bart berdoa.


"Aamiin, doakan saja dad," ujar Lastri.


Semua koper tersusun di bagasi. Tak lupa oleh-oleh. Mereka berangkat malam hari dan semua anak-anak tidur juga Widya yang tengah mengandung delapan minggu. Sedang Najwa dan Lastri menginap di kastil itu.


"Kalian segeralah pulang, kasian anak istri sendirian," titah Bart.


Ketiganya saling berpelukan dengan ayah dan juga keponakan juga cucu mereka.


"Bye Daddy ... assalamualaikum!" pamit Gabe melambaikan tangan.


Semua melambaikan tangan. Koper-koper sudah di bagasi pesawat. Semua sudah duduk di dalam dan pesawat pun lepas landas.


Di Indonesia pagi menjelang, aktifitas dilakukan seperti biasa. Para perusuh juga tengah melakukan kesibukannya yakni merusuh para bodyguard.


"Om Puno ... Ayi bambil mopil-mopilan bunya Ajha!" adu Arion.


Juno menengahi para perusuh yang hendak tawuran sesama saudara.


"Tamuh!" pekik Harun


"Tamuh!" pekik Azha.


"Babies!"


Terra menegur dua bayi yang sedang berseteru. Namun melihat ada dua kelompok bayi yang saling berhadapan membuat Terra menghela napas panjang.


Bariana dan Arion ada di pihak Azha yang merasa terzolimi. Sedang Arraya ada di pihak Harun.

__ADS_1


'Kok jadi kek mo tawuran sih?" dumal Terra pelan.


"Mama Alun matal!" adu Azha dengan mata menggenang.


"Biya Mama ... pasa mopilan Ajha bipuan te tolam peulenan!" adu Arion.


"Iya mama!" sahut Bariana membenarkan.


"Mama, butan bedhitu tezadiana!" sela Arraya mencoba memberi alibi pada saudaranya.


"Meuleta peuleputan bainan ... tlus bomilanna teulempan te polam!"


"Yang mana yang benar ini?" tanya Terra.


"Mama tami yan beunal ... talena suala tami palin banat!" sahut Bariana tegas.


"Mama ... Pisa pihat bicipiti!' seru Arraya memberi saran.


"Bicipiti?" tanya Terra tak mengerti.


"Biya Mama ... pataw pisa pihat bi plesmat sonpel bunya Apah Palen!" ujar Arraya makin tak di mengerti Terra.


"Sudah ... sesama saudara itu tak boleh berantem!" ujar Terra makin pusing dengan perkataan bayinya yang makin di luar nalar.


"Mama ... telus yan falah badhaibana?'


"Maafin aja!" sahut perempuan itu.


Akhirnya para bayi kembali bermain dan meminta Juno mengambil mobil yang terlempar ke kolam.


Rion pulang setelah tiga hari di luar kota. Ia pulang bersama Langit, Hendra dan Lucky. Terra langsung menyuruh mereka untuk istirahat. Para bayi dilarang mengganggu kakaknya yang kelelahan.


"Makasih mama," ujar Rion yang sudah sayu matanya.


Pemuda pun langsung ke kamarnya. Tak lama Sky, Bomesh, Benua, Domesh dan Samudera pulang. Haidar juga datang untuk makan siang.


"Apa baby sudah pulang?" tanya pria itu setelah mengecup kening istrinya.


"Sudah, baby langsung istirahat, kasihan dia kelelahan," ujar Terra.


"Tapi dia belum makan," sahut Haidar khawatir.


"Katanya sudah tadi di perjalanan, mereka makan kue serabi yang di jual di pinggir jalan," jawab Terra.


Haidar mengangguk. Lalu ia duduk dan mengawasi para perusuh. Terra menceritakan kejadian tadi dan perkataan Arraya.


"Apa plesmat sonpel?" tanya pria itu dan ditanggapi gendikan bahu Terra.


bersambung.


ah ... apa lagi tuh besmat sonpel?

__ADS_1


next?


__ADS_2