
Para orang tua meminta maaf pada para perusuh karena tadi sempat mengabaikan mereka.
"Babies ... jangan marah dong," rayu Puspita gemas dengan para bayi yang kepintarannya di luar logika.
"Pidat pa'a-pa'a Mommy, tan pudah piasa talo pita eundat bipelatitan!" sindir Harun sarkas.
"Baby," rajuk para wanita.
Makan usai, mereka hendak pulang. Rion tetap duduk di sana bersama istri dan sepuluh adik Azizah. Ari berada di gendongan pemuda itu, bayi itu sudah terlelap.
"Baby, kami pulang ya," ujar Haidar pamit.
"Besok kita cari rumah untuk kalian semua," lanjutnya.
"Iya Papa," sahut Rion.
Haidar mengecup bayi besarnya, begitu juga Terra. Wanita itu masih berat melepas Rion yang kini sudah lepas dari tanggung jawabnya. Lalu ia melihat semua putra dan putrinya.
"Ah ... kalian kenapa cepat besar sih!" protesnya sebal.
"Ma ... jangan menyalahi qodo dan qodar," sahut Satrio.
"Kalo nggak mau kami besar ya jangan dibesarkan, dikecilkan saja," lanjutnya mencibir.
"Baby," tegur Rion.
"Maaf Kak," sahut Satrio langsung.
"Sekarang kita nyari cewek kek Kak Azizah di mana nih?" tanya Kean yang patah hati.
"Kamu masih kecil Baby!" seru Herman tak suka.
"Jangan mikir mau buru-buru menikah!" lanjutnya.
"Bunda yakin, akan bermunculan Azizah-Azizah lain yang pasti selera kalian Babies," sahut Khasya.
Kanya dan Bram mengecup Rion dan Azizah bergantian. Semua melakukan hal yang sama. Virgou yang paling lama memeluk Rion, pemuda itu kembali menangis di dada pria sejuta pesona itu.
"Daddy,"
"Baby, jangan kasar sama istri ya," pinta pria itu.
"Ingat, Azizah telah menyelamatkan nyawa adikmu," bisik pria itu. "Ada luka panjang di kakinya."
Rion mengangguk, tentu ia tahu. Pemuda itu sangat kesal waktu itu para ayah menyodorkan gadis itu pada adik-adiknya yang remaja.
Rion sudah menyukai Azizah ketika pertama kali melihatnya berlatih di markas SavedLived. Perlahan mobil-mobil sudah pergi dari halaman panti. Semua masuk kembali ke kamar. Biasanya, semua adik-adik tidur bersama kakaknya begitu juga sekarang tapi plus Rion.
"Mas Baby tidur di atas saja, biar Azizah di sofa ini," ujar Azizah.
Rion mengangguk setuju, kamar itu memang sangat besar dengan kasur yang digelar. Semua sudah terlelap di atas kasur. Rion merebahkan dirinya di sana, sedang Azizah merebahkan diri di sofa.
Sementara di rumah Terra, mereka baru saja sampai. Sean dan Daud menggendong Rasya dan Rasyid sedang Arraya dan Arion digendong oleh Nai dan Al.
Terra masih kehilangan sosok bayi besar yang selalu di bawah ketiaknya. Ia masih kecarian Rion di kamarnya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Haidar.
"Pa ... Baby ... pa," ujar wanita itu dengan mata basah.
Haidar memeluk istrinya. Pria itu juga merasa kehilangan Rion, baru kemarin bayi besarnya itu merengek minta suap. Kini sudah menjadi suami, ia malah terkekeh mengingat hal itu.
"Papa kenapa tertawa?" tanya Terra.
"Papa hanya membayangkan betapa beratnya Azizah mengajari bayi besar kita itu sayang," jawab pria itu.
Terra ikutan terkekeh membayangkannya. Lalu kini ia sadar, Rion memang harus menikah, Azizah adalah jodoh yang cocok untuk putranya itu.
"Sebentar lagi Nai, lalu Sean, Al kemudian Daud," ujar Terra.
"Lalu Rasya, Rasyid ... Arion dan Arraya," lanjutnya.
"Kita tambah tua, tapi masih ingin tambah anak," kekeh Haidar.
"Sepertinya, Arion dan Arraya adalah anak pengunci, sayang," sahut Terra.
"Apa gagal lagi?" Terra mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.
"Ah ... tidak apa-apa, cucu kita sudah enam sayang," ujarnya. "Bisa jadi nanti nambah lagi."
Terra mengangguk. Haidar mengajak istrinya masuk kamar, lalu dia menepuk keningnya.
"Kenapa tidak kita bawa semua anak-anak itu ke rumah ini ya, Baby mana bisa mencetak bibirnya kalau tidur di sana!" pekiknya sadar.
"Oh iyaa ya!" sahut Terra.
Keduanya saling menatap, lalu mereka tersenyum penuh arti, akhirnya kamar itu tertutup rapat, entah apa yang keduanya lakukan.
"Apaan sih!"
"Kenapa tadi nggak bawa semua anak ke mansion!" pekik pria dengan sejuta pesona itu kesal.
"Loh apa hubungannya?" tanya Puspita sengit.
"Nanti Baby mau nganu gimana kalo semua adiknya tidur di satu kamar?" Puspita pun langsung bengong.
"Ah ... iya juga ya?" sahut Puspita.
Wanita itu mengusap wajah putra bungsunya. Ia mengecupnya pelan. Kean dan Calvin sudah besar.
"Sebentar lagi dua putra kembar kita akan mendapatkan tambatan hatinya," ujarnya.
Virgou duduk di sisi istrinya. Ia juga menatap sang putra yang makin lama makin pintar dan rusuh tentunya.
"Iya, kita hanya dititip sementara untuk menjaga mereka," sahut pria itu.
"Sayang, sepertinya putra kita hanya sampai di Harun saja," ujar Puspita.
"Hmmm apa pembenihan yang kemarin gagal lagi?" wanita itu mengangguk dengan wajah menyesal.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Lagi pula perusuh kita sudah banyak. Kau tidak lihat tingkah mereka barusan?" Puspita terkikik geli.
__ADS_1
"Aaima dan Fathiyya tak ubahnya bayi laki-laki lainnya. Masih mending Maryam dan Aisya," ujar Virgou.
"Jangan salah Dad, Maryam itu sangat cerdas jika berkelit mengerjai para pengawal," ingat wanita itu.
Virgou terkekeh, ia berharap masih hidup ketika mengantar semua keturunannya menikah nanti, tapi usianya sama tua dengan Herman hanya berkisar beberapa tahun saja.
''Sayang, jika aku pergi suatu saat nanti ...."
"Jangan mendahului rencana Allah, sayang!" potong Puspita.
"Tolong jangan katakan apapun soal kematian!" pintanya memohon.
"Kita jalani saja hidup ini. Jikapun nanti waktu itu datang, biar itu datang. Aku tak mau bersiap, aku tak mau berandai-andai!' lanjutnya.
Virgou menatap wanita yang begitu ia cintai. Lalu bibirnya menyesap bibir istrinya begitu lembut.
"Mau usaha buat anak lagi sayang?" ajak pria itu dengan napas menderu.
"Mau!" angguk Puspita.
Keduanya pun masuk ke kamarnya. Mereka melakukan ritual suami istri.
Di Mansion Herman. Tampak pria. itu berdiri di balkon sambil menghisap cerutunya, Khasya mengerti jika sang suami sudah begitu, maka pria itu tengah menghilangkan semua pikiran kalutnya.
Khasya mendekat, Herman langsung mematikan cerutunya. Wanita itu memeluk suaminya erat.
"Apa masih kepikiran Baby sayang?" tanyanya.
Herman menghela napas panjang. Ia mengangguk pelan.
"Aku merasa jika sebentar lagi harus merelakan Arimbi dan Satrio menikah," ujar pria itu.
"Masih ada Dewi, sayang," ujar wanita itu mengingatkan.
"Sayang, jujur. Aku berharap usiaku sampai pada Dewi bahkan Fathiyya menikah nantinya!" sahut Herman.
"Tapi kau tau berapa usiaku sekarang sayang," lanjutnya mengingatkan.
"Sayang, tolong jangan katakan apapun," pinta Khasya langsung sedih.
"Maaf, istriku. Tapi kau harus menghadapinya, jika waktu tiba nanti. Tolong jaga semuanya seperti ini. Jadilah kekuatan bagi semuanya, aku yakin, Terra dan Virgou akan begitu terpukul jika aku tiada nanti," pinta pria itu sekaligus menduga.
"Sayang ...."
"Istriku, berjanjilah. Jangan menangis ketika aku tiada nanti, jadilah pilar terkuat bagi semuanya!" pinta Herman lagi.
Khasya menatap netra lamur pria yang sangat ia cintai. Perlahan ia mengangguk, saat itu pasti akan datang, ia harus bersiap untuk semua keluarganya.
"Insyaallah sayang, jika Allah juga memanjangkan usiaku," ujar wanita itu.
bersambung.
bonus visual Harun remaja
__ADS_1
😍😍😍🥰
next?