
Hari sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Pesawat baru saja lending di bandara pribadi milik Bart. Rio dan Hendra yang menjemput mereka. Wajah-wajah lelah tampak dari semua. Bart tak banyak bicara, besok-besok ia tak mau lagi pulang pergi seperti ini.
"Besok kalau PP seperti ini aku nggak mau ikut!" dumalnya sengit.
"Ih ... yang suruh ikut kemarin siapa?" sahut Virgou kesal.
Semua sudah melarang pria gaek itu tetapi Bart ingin sekali ikut dan menemani cucunya ke dewan tertinggi dunia itu. Hanya butuh waktu tiga puluh menit mereka sampai ke mansion Virgou.
"Kalian istirahat dulu. Besok baru kalian pengawal kami akan antarkan kalian ke rumah masing-masing," ujar Virgou.
Tiga teman Arimbi mengangguk. Ketiganya masuk kamar dan langsung tidur. Azizah dan Arimbi juga sama.
Puspita terbangun dan melihat kedatangan suaminya.
"Maaf aku membangunkan mu sayang," ujarnya minta maaf.
"Tidak apa-apa sayang. Aku senang kau pulang dengan selamat," ujar Puspita menyambutnya.
Keduanya saling memeluk dan mengecup bibir. Tiba-tiba Puspita ingat dengan gosip para perusuh tadi pagi. Wanita itu langsung tersenyum.
"Ada apa kau tersenyum?" tanya Virgou curiga.
"Kau tau ... kepintaran anak-anak kita sudah melampaui batas," ujarnya.
"Kenapa lagi dengan mereka?" tanya Virgou mulai gemas.
"Kita digosipi oleh para bayi. Katanya, kenapa jika Papa dan Mama berduaan tidak ada pihak ketiga yakni setan," jawab wanita itu.
"Astaga ... anak-anak itu!"
Virgou gemas dengan apa yang ia dengar. Ia sudah merindukan percakapan absurd para bayi lalu ia mengingat Arshaka, putra Gabe.
"Arsh anak Gabe juga di sana sama. Dia bayi sendirian dan memaksa bicara seperti orang tua," kekeh Virgou.
"Sayang ... aku boleh punya anak lagi nggak?" pinta Puspita.
"Astaga, sayang ... aku sudah terlalu tua," tolak Virgou.
"Ayo lah ... satu lagi, perempuan ... ya, ya," bujuk Puspita.
"Sayang ... itu Aaima, Maryam, Bariana, Angel dan lain-lain bukan anakmu?" Puspita cemberut.
"Tapi mereka susah sekali dibawa. Orang tuanya pelit!" adunya kesal.
"Apalagi Fael dan Angel. Ayah ibunya menyebalkan sekali!" lanjutnya.
"Sayang ... ayolah!" rengek Puspita lalu memulai mengecup dada Virgou.
"Astaga sayang ... aku baru pulang dan kau langsung minta?" ledek Virgou.
"Ayo sayang," ajak Puspita dengan gaya sensual.
Milik Virgou sudah tegang dari tadi. Tanpa basa-basi, pria itu menuruti keinginan istrinya, menanam benih yang baik agar tumbuh penerus baru.
Sedang di kamar lain. Haidar baru selesai menyemai bibit. Adanya bayi-bayi baru membuat keduanya gemas sendiri, terlebih Arion dan Arraya sudah tidak mau dianggap bayi lagi.
"Kita buat negara sayang," kekeh Haidar.
"Iya sayang ... aku kesal sama Lidya dan Safitri yang pelit nggak bolehin anak-anak di sini. Padahal Saf bentar lagi mau lahiran," sahut Terra sebal.
"Sepertinya Kak Virgou dan lainnya sudah pulang," ujar Haidar.
"Biarkan saja. Besok baru kita ketemu,"
__ADS_1
Terra menarik suaminya dan kembali melanjutkan bercocok tanam.
Pagi hari menjelang, Khasya dan Seruni sudah ada di dapur menyusun sarapan. Aliyah sedang bersama ayahnya di teras belakang rumah.
"Masih terlalu pagi dibawa keluar sayang," ujar Herman ketika membawa cangkir kopinya.
"Dibiasakan kena embun Yah," sahut Dav.
"Assalamualaikum, selamat pagi!"
Bart muncul dengan wajah segar. Pria itu cukup tidur dan bangun pagi dengan senyum terukir.
"Wa'alaikumusalam, pagi juga Grandpa," sahut semuanya.
Seruni menghampiri dan memberi kecupan di pipi pria itu. Khasya mengecup punggung tangan Bart.
"Daddy mau kopi?" tawarnya.
"Boleh sayang. Terima kasih," ujar Bart.
Pria itu mendatangi Herman dan Dav. Herman langsung memberikan pelukan pada Bart sedang David memberi ciuman untuk kakeknya itu.
"Hai bayi ... kau sudah bisa apa?' kekeh Bart pada Aliyah.
"Dia belum satu bulan Dad. Kau berharap Rinjani sudah lari sprin?!" sahut Herman mencibir.
Bart berdecak sebal. Dav memutar mata malas. Keributan yang sudah biasa jika berkumpul. Khasya mengantar kopi dan sandwich untuk Bart.
"Daddy sudah minum air putih?'
"Sudah sayang. Terima kasih ya,"
Khasya mengangguk lalu pergi dari sana. Hanya butuh waktu mansion sudah penuh dengan manusia. Semua berkumpul dan melepas Diyah, Anti dan Tika untuk pulang. Arimbi mengucap terima kasih pada tiga perempuan itu.
"Makasih ya atas keberanian kalian. Oh ya, aku baru saja dihubungi pihak UN Women, kalian Senin depan diminta melapor dan ditempatkan sebagai staf eksekutif mereka sebagai perwakilan di Indonesia," ujar Arimbi.
"Tak masalah, Kakak mau tutup akun sosmed kakak. Jadi nggak pusing sama semua itu," ujar Azizah santai.
Ketiga gadis pulang diantar oleh Dahlan dan dua rekan lainnya. Kini Azizah sudah dikerumuni para bayi.
"Sebentar lagi adik-adikmu datang, Nak," ujar Khasya.
Azizah mengangguk. Sebenernya ia mencari sosok tampan yang sudah banyak membantunya. Tetapi, sosok itu sepertinya tak ada. Rion memang sedang pergi keluar kota bersama adiknya Al. Haidar benar-benar melepaskan keduanya untuk memimpin perusahaan secara penuh, sedangkan ia hanya bekerja di balik layar.
"Kak Ion lagi keluar kota Kak," ujar Nai yang sepertinya mengetahui siapa yang dicari Azizah.
"Ih ... spasa yang nyari Kak Ion," cicitnya lirih.
"Bener nih nggak nyari Kak Ion?" goda Nai.
Pipi Azizah bersemu merah. Semuanya terkekeh melihat kelakuan gadis itu. Tak lama enam adik Azizah datang bersama tiga adik angkatnya.
Mereka berpelukan erat melepas rindu. Selama kasus ini berlangsung, Azizah memang jarang sekali berkumpul dengan semua adiknya.
"Kakak ... kangen," rengek Ajis.
"Kakak juga kangen kalian," sahut Azizah.
Aminah tak mau turun dari pangkuan kakak perempuannya itu. Dinar begitu bangga dengan adik satu pantinya.
"Bibu, nanti semua adik-adik nginep di sini!' ujar Maisya.
Gadis itu ada kuliah siang, makanya ia memilih berangkat sedikit siang bersama saudara kembarnya.
__ADS_1
"Nggak boleh!" sahut Dinar.
"Bibu pelit!" sahut Maisya cemberut.
"Dinar!" tegur Khasya.
Dinar cemberut, ia suka dengan sembilan adik Azizah itu. Selain mereka penurut mereka juga cerdas.
Sedang di teras belakang. Terjadi keributan antara perusuh.
Ada tiga kelompok mereka berdebat dan perdebatan terjadi gara-gara David.
"Papi ... tenapa Baby Jani bijeumul ... baby butan pucian!" tegur Maryam.
Saf membiarkan semua anaknya, begitu juga Lidya.
"Itu karena Baby butuh sinar matahari buat pertumbuhannya," jawab David.
"Beumuana talo eundat tena batahali eundat pumbuh?" tanya El Bara dengan mata membulat.
"Iya,"
"Mama Iya palin teucil ... pa'a Mama puluna eundat peulnah bizemul pi malatali?" tanya Aisyah.
"Pisa jadhi beuditu ... puntin Nenet puluna eundat zemul Mama pi mahatali!" sahut Al Fatih.
"Eundat muntin ... Mama Iya teucil talna tata Ata' Tean eundat peulnah matan sayun!" sahut Bariana.
"Mama atuh judha teusil," lanjutnya.
"Talo Papa Gom peusal talna teulalu lama bizemul!"
"Ah ... Papa Gom itu anak raksasa yang turun ke bumi!" sahut Dav menyeringai jahil.
Herman dan Bart sudah berdecak dengan perkataan pria yang tengah menggendong bayinya itu.
"Papa anat latsasa?" tanya Bariana tak percaya.
'Iya, lihat saja, Papamu paling besar dari kami semua!" sahut Dav lagi.
"Bas Satlio peusal ... pa'a buluna Tate Heyan latsasa?" tanya Arion.
"Ya ... Kakek Herman dulu adalah raksasa yang dikutuk!"
"Dav!" tegur Bart.
"Pitutut pa'a Papi?" tanya Azha bingung.
Kali ini Dav tak bisa menjawabnya. Hingga.
"Ah ... atuh pahu!" teriak Al Fatih.
"Pa'a?" tanya semuanya.
"Inat selita Ata'Pijah pentan balin tundan eundat?" semua mengangguk.
'Mah ... ipu ... Pati tenapa Tate Heyan eundat padhi patu ya?"
Herman melotot pada Dav. Sedang pria itu sudah melarikan diri.
"David!" teriak Herman.
bersambung.
__ADS_1
Astaga ... David 🤦
next?