
Pagi menjelang, semua orang sibuk mengurusi segala sesuatunya. Beberapa tetangga datang untuk mengurusi dua jenazah yang hendak di mandikan.
Halaman Bram ditutupi tirai. Sania dan Hapsa dimandikan di sana. Seruni, Dinar dan Rahma ikut memandikan keduanya.
Rahma menekan bagian perut dan mengangkat pundak agar kotoran mayit keluar. Hal itu perlu dilakukan agar mayit benar-benar dalam kondisi bersih.
Bagian dada hingga lutut jenazah Hapsa ditutup dengan kain tipis. Hal itu melindungi aurat jenazah agar tak terlihat. Secara perlahan membolak-balikkan tubuh ke kiri dan kekanan, menyemprotkan air secara perlahan agar semua kotoran bersih.
Usai membersihkan kotoran. Rahma mulai membasuh jenazah seperti berwudhu.
Kemudian rambut jenazah dikeramas. Setelah itu dikeringkan dengan handuk bersih. Rambut jenazah dipintal jadi tiga bagian.
"Siram dengan kapur barus!' ujar Rahma lalu beberapa ibu melakukan apa yang dikatakan Rahma.
Setelah dimandikan sebanyak tiga kali. Beberapa ibu mulai menggotong jenazah dan diletakkan di atas kain kafan yang telah disiapkan.
Rahma begitu cekatan membungkus Hapsa. Lilo menatap ibunya dengan tatapan kosong.
"Baby jangan di sini ya ... ayo!' ajak Lidya.
Para ibu hamil diminta menyingkir. Lidya menggandeng tangan Lilo.
"Mama, Mamana Ilo tot pibuntus?" tanya bayi itu lirih.
"Mama Lilo dipakaikan pakaian terakhir Baby," jawab Lidya sedih.
"Ayo makan dulu," ajak wanita itu.
"Eundat lapan Mama," tolak Lilo lemah.
"Baby harus makan sayang. Ayo!' Lidya menekan satu titik lalu Lilo mengangguk, ia tiba-tiba lapar.
Semua jenazah telah dikafani. Mereka dinaikkan ke dalam keranda. Dua ambulans sudah tersedia dan siap mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
"Itut!" teriak Seno ketika semua laki-laki dewasa pergi mengikuti jenazah.
"Papa itut Papa!" pinta Seno sedih pada Raka.
"Ayo!' ajak Raka kemudian.
Hal tersebut membuat semua perusuh paling junior ikut.
"Pita judha itut!' sahut Harun.
Akhirnya semua balita ikut kecuali ibu hamil. Kanya, Terra, Khasya ikut serta.
Butuh dua puluh menit sampai di pemakaman keluarga. Virgou membawa telah menyiapkan sebuah lahan dekat masjid yang dibangunnya.
"Liang lahat sudah siap Tuan!' lapor Dahlan.
Virgou tak banyak bicara. Ia hanya mengangguk. Lalu dua keranda turun dan digotong oleh beberapa bodyguard Raka, Rion dan Darren ikut sert menggotong keranda itu.
"La illa ha ilallah!' seru para penggotong keranda.
Sampai mereka di dua lubang yang digali secara berdampingan. Keranda di turunkan. Raka masuk ke dalam lubang bersama Rion. Lalu Darren turun ke lubang satunya bersama Gio.
__ADS_1
Jenazah diletakkan di dalam tanah. ikatan di atas kepala di lepas. Kepala dimiringkan dan diganjal dengan tanah.
"Allahuakbar Allahuakbar!" Rion melantunkan adzan.
setelah adzan, Darren bergantian melantunkan adzan untuk jenazah Sania. Tanah diuruk untuk menutupi tanah setelah diganjal dengan papan. Darren, Rion, Raka dan Gio memadatkan tanah sambil menginjak-injak tanah. Keduanya keluar lalu diteruskan oleh petugas makam yang lain.
Gino berdiri bersama empat adik sepupunya yang lain. Lilo, Seno, Verra dan Dita. Dita paling muda. Bayi mau dua tahun itu menatap kosong dua gundukan tanah.
Bayi itu berjalan perlahan. Lilo menahannya.
"Mawu temanya Det?"
"Mama pudah pitibun Ata', sadhi pidat muntin banun ladhi," jawabnya.
Lilo mengikuti langkah adik sepupunya lalu disusul Verra, Seno dan Gino. Para orang tua membiarkan kelima anak itu berjalan ke makam ibu mereka. Siapa sangka jika semua bayi ikut serta.
"Mama ... peumamat tindhal ... hiks ... wawau Mama sahat Mama atuh doatan pial masut suldha," ujar Dita lirih.
"Biya Mama ... tamih tawu Mama sahat talena Mama teulpatsa ... hiks!" sahut Seno lalu mengusap kasar pipinya yang basah.
"Semodha pita peultemu ladhi pi suldhana Allah ya Ma ... pay pay ... sasayamutatattitum!"
Bunga ditaburkan. Gino yang melakukannya lalu semua adik sepupunya.
Dita melambaikan tangan pada dua gundukan tanah. Semua bayi melambaikan tangan. Para orang tua sibuk mengusap air mata yang tak berhenti mengalir.
"Ayo sayang, sebentar lagi hujan!" ajak Gio.
Semua pria memenuhi pemakaman. Para ibu tidak ikut kecuali. Terra, Khasya dan Kanya.
Sri, Via dan Santi adalah pengawal wanita baru yang hadir di tengah-tengah keluarga super kaya itu. Mereka juga sibuk menyeka jejak basah.
"Nona, sini saya gendong," Via menjulur tangan pada Maryam.
Bayi itu pun diangkat lalu disusul bayi lainnya. Tanah cukup gembur hingga membuat semua sepatu mereka kotor.
"Dadah Mama!" Dita melambaikan lagi tangannya lalu memeluk erat Axel yang menggendongnya. Pengawal yang baru juga bergabung dengan keluarga Terra ini tadinya tak menyukai anak-anak. Tetapi Arsh yang suka mengerjainya membuat pria itu jadi mencintai semua bayi.
"Doain Mama Baby, ' ujarnya lalu mengecup pelipis Dita.
Semua pulang ke mansion Bram. Suasana masih berduka, anak-anak yang biasanya ramai kini sepi.
"Papa sudah bilang ke Paman kalau Bibi sudah meninggal?" tanya Raka pada Zhein.
"Sudah, tapi mereka biasa saja. Malah terkesan marah karena hukuman untuk mereka jadi bertambah," jawab Zhein menghela napas panjang.
Semua anak dimandikan ketika pulang dari makam. Tak ada yang bersuara atau berceloteh ria. Seakan mengerti keadaan, bahkan Arsh yang biasa usil nampak tenang.
"Subhanallah ... kenapa tenang sekali?" ujar Karina sedikit kesal.
"Babies ... kenapa tidak main?" tanyanya pada semua bayi.
"Mama ... pita ladhi peulduta!' sahut Arion memutar mata malas.
"Biya mih Mama ... lada-lada aja!" geleng Harun.
__ADS_1
"Babies ngaji aja yuk!" ajak Seruni.
"Ayut Mama!' seru semua bayi.
Bariana, Bomesh, Domesh, Fael dan Angel hanya jadi penonton. Mereka duduk bersama tetapi hanya mendengarkan saja.
"Alsh papal Fatihah!' seru bayi itu.
Arsh memulai membaca kepala Al Qur'an. Walau konsonan katanya banyak yang salah. Tetapi, bayi itu benar-benar hafal.
"Mashaallah tabarakallah!' seru Seruni senang bukan main.
"Baby Arsh pintar sekali!" pujinya.
"Tan Alsh au sadhi saji Paypi Amih!' sahut Arsh bangga.
"Laabaitallah mumah labait ... labaitalla ... syalitalatalabait!'
Semua tersenyum lebar. Arsh memang paling bisa mencairkan suasana. Akhirnya semu anak kembali ceria.
"Lidya," panggil Zhein..
"Iya Papa,' sahut wanita hamil itu.
"Papa hanya percaya pengasuhan Gino dan adik-adiknya padamu. Papa yakin, kau bisa menyembuhkan trauma mereka sayang," ujar pria itu.
"Insyaallah Iya akan jaga mereka Pa," sahut Lidya berjanji.
"Terima kasih sayang ... terima kasih!"
Zhein memeluk Lidya, ia tidak tau apa yang ia lakukan tanpa keluarga yang saling menyayangi ini. Ia sangat menyesal dulu tak pernah mendekatkan diri.
Usai makan siang, semua anak diminta tidur. Acara pengajian akan terus diselanggarakan selama tujuh hari ke depan.
"Kita pakai restoran Nini Last aja Pa," ujar Raka.
"Iya jadi kita tak perlu repot masak," sahut Karina setuju.
Lastri mengangguk bersedia. Wanita itu segera memerintahkan anak buahnya untuk mengirim makanan sebanyak seribu porsi selama seminggu ini.
"Jangan lupakan para perusuh itu!" sahut Bart.
"Kalian tau mereka jika tak diikut sertakan mendapat bingkisan makanan!" lanjutnya setengah mendumal.
"Iya Grandpa!' sahut Raka.
"Huh ... entah siapa yang mereka tiru itu!' keluh Bart lagi.
Tentu saja semua menatap pria gaek itu. Bart sampai melotot ketika ditatap sedemikian rupa.
"Kalian ini memang nanat sisilan!' gerutunya kesal.
Bersambung.
Grandpa biangnya sisilan ya?
__ADS_1
next?